
Awalnya Frans berniat menggunakan Maserati untuk mengantarnya ke rumah sakit Ramones. Tapi mendadak dia berubah pikiran, mengingat kemacetan yang tadi sempat menghentikannya saat perjalanan pulang.
Khawatirnya mereka berdua kembali terjebak macet. Hingga membuat perjalanan ke rumah sakit yang sebenarnya hanya beberapa menit itu, menjadi lebih lama dari biasanya.
"Tunggu di sini dulu!" Frans yang sudah berada di balik stir kemudi kembali keluar. Dia berlari menuju garasi untuk mengambil moge (motor gede) nya.
Sedangkan gadis yang duduk manis di dalam mobil itu belum paham apa yang terjadi saat ini. Otaknya masih bekerja untuk mencerna ucapan sang Daddy. "Pak Ken?" gumamnya. "Siapa pak Ken. Namanya sama dengan kakek?" Lula tersenyum miring. "Mendadak kangen sama kakek!"
“Lula, Ayo!” teriak Frans seraya mengetuk jendela kaca mobil.
Lula menaikan kedua alisnya, berusaha bertanya. “ Ayo ke mana? Daddy mau ajak aku ke mana sih? Coba katakan yang benar. Enakan naik mobil, kalau ngantuk bisa langsung mejem!”
Frans membuka paksa pintu mobilnya. Dia mengeluarkan tubuh Lula dari dalam mobil. “Lula!” dengan wajah yang sudah tertutupi helm, Frans menggunakan kedua tangannya untuk menangkup pipi Lula, berharap gadis itu bisa fokus dengan ucapannya. “dengarkan Daddy!" perintahnya. "Kita harus segera ke rumah sakit—Pak Ken, Em … maksudku Kakekmu! ugh sulit banget ngomongnya," dumel Frans. "Itu mantan suami nenek Oca, yang duda itu! Kakek Ken Adhitama, dia kena serangan jantung—
“Kakek?” Lula yang paham mulai cemas. Sedari tadi ia tidak paham karena Frans menyebutnya Ken. Dia pikir Ken rekan kantornya. “Daddy, buruan antar aku ke rumah kakek! Aku mau lihat kondisinya!” Lula menyentakkan tangan Frans. Saat dia berbalik hendak masuk ke mobil, segera Frans menahannya.
“Kita bakalan kejebak macet kalau naik mobil. Udah naik motor saja!” pinta Frans, sedikit memaksa. Dia tidak ingin mendengar kalimat penolakan dari Lula, hingga membuat perdebatan, dan berakhir waktunya terbuang sia-sia.
Tanpa pikir panjang, Lula bergegas naik ke atas motor. Bahkan tanpa bantuan Frans yang berusaha melepas jas kerjanya dan diberikan pada Lula. Gadis itu hanya memakai piyama, dia tidak memberikan waktu untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu, karena sudah panik.
"Kancingkan pengaitnya! Nanti kamu kedinginan!" kata Frans seraya membantu Lula mengenakan jas itu.
Lula masa bodoh dengan ucapan Frans, dalam pikirannya hanya ingin segera bertemu dengan sang kakek yang katanya terkena serangan jantung. "Buruan, Dad!" perintah Lula, yang langsung dituruti Frans.
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Frans dibuat sakit kepala dengan sikap Lula. Gadis itu terisak sambil memeluk pinggangnya erat, hingga dia nyaris kehilangan cara bernapas.
Beruntung dia mengenakan helm full face. Jika tidak pasti akan sangat malu dengan sikap Lula saat ini. Tubuhnya saja yang besar tapi tingkahnya sama seperti anak kecil. Cibir Frans, berkata dalam hati.
Tiba di area parkir rumah sakit, saat Frans baru saja mematikan mesin motornya, Lula langsung melesat memasuki bangunan mewah di depannya. Gadis itu tidak peduli dengan kondisi rambutnya yang seperti singa akibat terpaan angin. Tadi Lula begitu panik, sampai lupa mengenakan helm. Dan dari posisinya Frans hanya mampu menggeleng pelan.
Langkah Lula sudah hampir tiba di ruang ICU. Ia sempat bertanya pada perawat yang dikenali saat tadi berpapasan. Dan yang membuatnya semakin kacau, saat telinganya mendengar suara tangisan bunda Zahira. Wanita itu meraung-raung dalam dekapan sang ayah. Sambil mengucapkan kalimat tak jelas yang tidak bisa didengar baik oleh Lula.
"Ini salahku! ini salahku!"
Suara Zahira semakin jelas saat langkah Lula hampir tiba di depan mereka. "Bunda ..." panggil Lula. Dia tidak sabar ingin segera tahu kondisi sang kakek. “Bagaimana bisa penyakit kakek kambuh lagi, Bun?” tanya Lula. Membuat Zahira mendongak. “Gimana kondisi kakek saat ini?” Lula berusaha mendesak Zahira. "Kakek, Kakek ..." rengek Lula.
“Dia sedang ditangani oleh dokter. Duduklah!” sahut Rainer, dia tahu istrinya belum bisa menjelaskan apapun.
Menyadari rambutnya yang tampak seperti singa Lula berusaha menyisirnya dengan jari. Ia lalu mendaratkan tubuhnya di kursi, menunggu pintu ruangan terbuka lebar.
“Jangan salahkan bundamu, dia tidak sengaja! Dia keceplosan, mengatakan kalau kamu sudah menikah dengan Frans.” Rainer menjelaskan, sesuai dengan informasi yang didapat dari sang istri.
Air mata Lula jatuh bercucuran mendengar penjelasan singkat dari Rainer. Ia sedih melihat pria yang disayangi terkena serangan jantung. Lagi lagi dia harus menerima fakta dari keputusannya.
“Lula cerai aja sama Daddy, Lula pisah aja kalau semuanya jadi begini. Lula nggak mau nikah sama Daddy! Ini salah Lula! Andai Lula gegabah dan menikah dengan daddy, kakek nggak bakalan terkena serangan jantung.” Rancau Lula di tengah suara tangisnya, berulangkali tangannya mengusap air mata yang mengalir membasahi pipi. Tapi tetap saja, air matanya terus bermunculan, tak kunjung berhenti. Penyesalannya semakin memuncak, ia sampai bingung harus bagaimana menyikapi ini semua.