
Biasanya, Lula tak kuat begadang. Gadis itu selalu tidur tidak kurang dari pukul sembilan malam. Tapi karena ini tempat baru untuknya dia jadi kesulitan untuk tidur nyenyak. Sebentar-sebentar terbangun.
Apalagi setelah mendapat panggilan suara dari Levin di jam sebelas malam. Lula jadi sulit untuk memejamkan mata. Ada niatan untuk membangunkan Frans, tapi mengingat pria itu pasti juga lelah, dia pun mengurungkan niatnya, beralih untuk menonton link yang tadi siang dikirimkan Elkan.
Lula merasa geli saat mendengar pertanyaan dari Elkan. Itu semua karena bibirnya berbicara pada Frans dan dia ... tidak menyadari jika Elkan berada di sampingnya.
Pria itu tak henti berjuang, bahkan sudah hampir sepuluh kali Elkan mengirimkan pesan singkat yang berisi kalimat bujukan supaya dia jujur tentang statusnya.
"Serah kamu deh, El! tapi thank you film-nya bagus banget aku suka." Lula mengetikan pesan singkat saat film itu sudah selesai di tonton. Tanpa ia sadari suara adzan sudah berkumandang, itu artinya Lula begadang hingga pagi.
Lula memutuskan untuk keluar kamar, supaya tidak tergoda dengan empuknya bantal yang bisa saja membuatnya terlena dan kembali terlelap. Saat tiba di dapur tidak ada siapapun di ruangan itu, biasanya ia akan menemukan bunda, sibuk membuat sarapan.
"Apa Daddy tidak punya ART?" Lula mendapati tempat itu kosong. Ia pun memutuskan untuk membuat menu makanan sendiri, selagi waktu masih senggang.
Pagi ini Lula bekerja lebih keras, dia harus mencari bumbu masakan untuk membuat nasi goreng. Sekali lagi, ini tempat baru untuknya jadi dia bingung di mana letak bumbu-bumbu masakan itu.
Setelah selesai membuat nasi goreng, Lula lekas masuk ke kamar, bersiap untuk sekolah. Meski Lula berniat pergi ke UKS setelah sampai di sekolah, tapi dia tidak boleh terlambat datang dan dijemur di depan pagar. Diam-diam dia sudah menyiapkan alasan yang tepat supaya guru nya mengizinkan dia untuk istirahat di UKS, disminore.
Lula sudah siap dengan baju batik serta bawahan warna putih. Bunda Zahira sengaja membuat jahitan bajunya sedikit longgar, karena tak ingin memamerkan lekuk tubuh Lula ke pria di luar sana.
Tiba di meja makan, Lula mengambil sepiring nasi goreng buatannya. Ia sengaja memelankan acara mengunyah, menikmati rasa pas dari nasi goreng buatannya. Hingga suara langkah kaki Frans menghentikan gerakan tangan yang hendak menyendok. Dia menoleh ke arah pria itu, terlihat sudah rapi dengan celana abu serta kemeja putih. Sedangkan jas dan dasinya masih menggantung di lengan kiri.
“Sarapan buat Daddy mana?” tanya Frans seraya meletakan jas nya di atas kursi.
“Enak aja! Beli sendiri sana atau bikin telur ceplok! Daddy kan nggak suka sarapan pakai nasi,” sahut Lula. Lalu kembali memasukan sesuap nasi goreng ke dalam mulut.
“Jahat banget La!” cibir Frans, seraya melepas kancing dipergelangan tangan, dia ingin membuat menu yang cocok untuk dimakan saat sarapan.
“Udah ditransfer belum, Dad? Jangan lupa aku udah 10 hari jadi istrimu, kamu bon aku 50 juta, loh!” Lula sedikit berteriak, berbicara dengan Frans yang sudah tiba di kawasan dapur.
“Kirim nomor rekeningmu ke nomor daddy!” jawab Frans.
Mendengar jawaban Frans, Lula lekas berlari, menyusul pria itu ke dapur. Dia langsung memeluk tubuh pria itu dari belakang, tanpa peduli reaksi terkejut yang ditunjukan Frans saat ini.
“Serius Daddy?” tanya Lula, mengintip wajah Frans dari balik tubuh pria itu. “Serius, enggak?” ulang Lula saat tak kunjung mendapat respon apapun dari Frans.
“Yes!” ucap Lula semakin mengeratkan pelukannya di dari pinggang Frans. "Makasih, Daddy! Terima kasih!" kata Lula begitu ekspresif.
Lula begitu senang mendengar akan mendapatkan uang 50 juta. Setelah pulang sekolah nanti ia akan membawa uang itu ke rumah sakit. Memberikan uangnya pada mbak Wulan, petugas administrasi Ramones Family. Supaya rumah sakit segera mengambil tindakan atas pasien bernama Emily yang hendak melakukan operasi usus buntu. Ya, Lula ketemu Emily baru kemarin, saat berkunjung ke rumah sakit.
“Sana minggir, nanti kamu terlambat ke sekolah!” usir Frans, risih ketika tangan Lula memeluk pinggangnya erat. Sayangnya gadis itu enggan beranjak, dia menuntun Frans supaya kembali duduk di meja makan.
“Nih makan! Lula udah kenyang, Dad, jadi Daddy nggak perlu bersusah-susah masak! Lula baik, kan?!” kata Lula polos.
“Bekas?” cibir Frans.
“Ada apa dengan bekasku? Aku nggak punya penyakit menular! air liur ku juga tidak mematikan! Daddy aja yang makai barang bekas, oke, oke aja kok! Bahkan sampai nambah terus!”
Pria itu menatap Lula kesal, bisa-bisa Lula menyinggung masalah kehidupannya. Meski hatinya menolak, Frans tetap mengambil sendok yang tadi digunakan Lula, menyendok butiran nasi di atas piring.
“Enak juga nasi gorengnya,” gumamnya mengiringi langkah Lula yang berlari memasuki kamar.
Tak lama berlalu Frans tersentak oleh teriakan Lula yang baru saja keluar dari kamar.
“Daddy nomornya udah aku kirim! Aku tunggu ya, jangan sampai lebih dari jam dua siang,” pesan Lula. Lalu kembali meninggalkan Frans di meja makan.
“Mau ke mana kamu?” tanya Frans penasaran.
“Berangkatlah!” jawab Lula tanpa menoleh ke arah Frans.
“Berangkat? Naik apa?”
Lula berbalik, sejenak ingin menjelaskan pada pria itu. “Naik motor pacar! Kan sekarang Lula punya pacar! Bye Dad!” Lula melambaikan tangan, langsung menghampiri sosok pria yang sudah berada di depan pintu rumah utama.
Karena rasa penasaran yang begitu tinggi, Frans pun mengikuti langkah Lula, dia ingin tahu selera pria idaman Lula itu seperti apa. Namun, dari balik gorden tempat ia mengintai, Frans tidak bisa melihat wajah pria itu, karena tertutup oleh helm full face.
“Apa bibirnya monyong! Aku harap tidak! Bisa gampang men*cium Lula kalau bener-bener monyong!” mengintai lagi, kebetulan pria di atas motor itu tengah membuka kaca helmnya. "Tetap saja nggak kelihatan bibirnya." mendadak Frans gelisah berjalan mondar-mandir seraya membayangkan Lula ber-ciuman. "Bisa gawat kalau Rainer tahu. Tidak bisa dibiarkan!"