Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Barang Pengganti



Motor sport BMW warna hitam berhasil membelah jalanan padat kota Jakarta. Lula yang duduk di balik tubuh Frans, sengaja mengambil jarak. Meski hubungan mereka sudah membaik, dia tidak ingin terlalu menempel dengan pria itu.


Lula begitu menikmati pemandangan malam di balik helm yang dikenakan. Tanpa protes, ke mana pria itu akan membawanya pergi, karena ia merasa jalan yang dilewati bukanlah jalur menuju rumah.


Frans sendiri tengah fokus menatap jalan, mengemudi dengan tenang. Tidak terburu-buru, pelan-pelan seakan tidak rela motor mereka tiba di tempat tujuan.


Motor Frans dihentikan oleh rambu lalu lintas yang menyala merah. Posisi mereka tepat berada di barisan paling depan, sampai tidak lama kemudian, sebelum lampu kembali menyala hijau, sebuah motor mensejajari motor yang ditumpangi mereka berdua.


Tepat saat itu juga, Lula menatap ke sisi kanan. Menangkap sepasang manusia tengah mengobrol sambil becanda di atas motor. Lula mengenali suara itu, sayangnya Lula tidak mengenali siapa wanita yang memeluk pria itu.


Tidak perlu diragukan lagi karena mata Lula masih normal, dari plat nomor dan warna motornya Lula hapal dengan benar. Dia tahu siapa pria itu.


Lula menarik napas dalam-dalam, menahan rasa tak nyaman yang mendadak muncul. Ia meyakinkan jika dirinya tidak akan merasa sakit hati. Lula hanya kecewa karena di sini, posisinya hanya seperti cadangan saja. Sampai-sampai ia berpikir, mana ada pria yang mau menerima dirinya dengan tulus. Bahkan, si Daddy mau bersamanya karena juga membutuhkannya, memerlukannya sebagai barang pengganti tokoh utama.


'Tidak ada yang mau sama Lo, LULA!' bisikan itu seakan menyadarkannya.


Lula nyaris terjungkal ketika Frans menarik tuas gas secara mendadak. Pria itu tiba-tiba melajukan motornya dengan kencang hingga memaksa Lula untuk sedikit maju, berpegangan dengan ujung jaket pria itu.


Lula berharap Frans tidak menyadari siapa yang tadi ditemuinya. Entah kekasih atau apa, tapi kalau mereka belum memiliki hubungan, tidak akan mungkin si wanita memeluk tubuhnya erat.


“Makanya duduknya jangan jauh-jauh nanti kalau jatuh Daddy nggak tahu gimana?”


Lula tidak menanggapi, pikirannya masih terbayang pada sosok pria yang ia pikir lugu, tak tahunya dia beneran suhu. “Dad! Jalan-jalan yuk!” Lula berusaha mengalihkan pikirannya. Tidak penting apa yang dilakukan pria itu di luar sana.


“Ke mana?”


“Terserah, Daddy. Lula lagi pengen jalan-jalan.”


“Gimana kalau ke rumah Eyang?” tawar Frans.


“Itu bukan jalan-jalan, Dad!”


“Tapi kan Eyang lucu pasti nanti kamu bisa tertawa kalau ketemu eyang.”


Apa mungkin tawa dari Eyang bisa menariknya dalam kegembiraan. Lula menggeleng, yang ada dia akan semakin tertekan karena harus berpura-pura mencintai pria ini. “Enggak. Lula cuma pengen jalan-jalan saja.”


Jelas saja Frans tidak tahu ke mana akan membawa Lula pergi. Sebagian waktu dalam hidupnya digunakan untuk bekerja, jadi sulit untuk berpikir. Paling-paling tempat kenangannya bersama Priscilla dan dia sedang tidak ingin mengingat itu.


“Kamu mau ke mana? Daddy tidak tahu tempat main anak muda zaman sekarang.”


“Ke mana saja, asal jangan ajak aku check-in hotel.” Lula menyahut cepat.


Frans terpingkal, kembali menurunkan laju motornya. “Ya, sudah kita pulang saja! Daddy lapar, belum makan.”


“Aku belum masak.” Ya, Lula belum memasak, tadi siang dia lupa karena sibuk membereskan pakaian yang tidak terpakai.


“Kalau begitu biar Daddy yang masak.” Frans menyanggupi, berharap Lula akan menyanggupi keinginannya.


“Kenapa kita nggak beli sate, atau bakso saja. Sepertinya enak.”


“Boleh, tapi dua mangkok ya!” Lula berkata penuh semangat.


“Sepuluh mangkok juga boleh.” Frans menyahut, seraya menghentikan laju motornya. Dia sama sekali tidak tahu tempat makan bakso yang rasanya enak itu di mana. Biasanya ia akan masuk ke restoran dengan Priscilla, tapi selama dia tinggal di Jakarta, belum pernah datang ke restoran bakso. Frans berniat membuat aplikasi petunjuk jalan, siapa tahu ada restoran bakso yang rasanya enak.


“Daddy ngapain?" tanya Lula. "Udah kita makan di sana saja!” Lula menunjuk warung pinggir jalan, yang sepi pengunjung. Hanya warung tenda, minim penerangan.


“Kita tidak tahu itu enak atau tidak Lula," tolak Frans, sedikit menoleh ke arah Lula. "Terus nanti, kalau pakai daging mayat gimana? Nyari aman saja lah!”


Lula menarik napas dalam-dalam sebelum berkata, “Daddy, bayangin deh! Warung bapak itu sepi sekali, kan? Lula nggak tahu gimana dia bisa dapat uang. Gimana kalau cicilannya besok sudah jatuh tempo? Apa Daddy tidak kasihan. Udah ayo masuk ke sana saja. Siapa tahu dia memang lagi butuh uang!”


"Itu hanya pikiranmu saja, Lula!"


Lula turun dari atas motor. Berdiri di samping Frans yang masih setia duduk di atas motornya. "Tidak ada salahnya kita makan di sana. Toh Daddy juga lapar, kan?"


Frans berpikir cukup lama, hingga dia tidak menyadari kalau Lula sudah menyeberang jalan, menghampiri warung tenda penjual bakso. Dan akhirnya, mau tidak mau, Frans menuruti permintaan Lula, dia menyusul dan memarkirkan motornya di samping tenda.


Lula menyambut penuh kegembiraan kedatangan suaminya. Senyumnya terlihat lepas dan tulus, lengannya mengapit tangan Frans, bergelayut manja layaknya pasangan romantis masa kini. Dia lupa jika tadi sempat bersedih karena melihat Elkan menggandeng gadis lain.


Setelah memesan bakso, Lula kembali duduk di depan Frans. Demi mengusir kesunyian karena Frans tengah sibuk dengan ponselnya, Lula pun tak mau kalah. Dia membalas pesan dari bunda Zahira yang bertanya ingin oleh-oleh apa dari Semarang karena kebetulan mereka sedang jalan-jalan.


Lula tersenyum lega, dia senang sekali karena masih mendapat perhatian khusus dari sang bunda.


[Boleh minta baju yang banyak? Enggak usah bermerek yang penting pas buat Lula.] Baju di lemari tinggal beberapa potong, jadi Lula memutuskan meminta oleh-oleh itu.


Sayangnya bunda Zahira tidak membalas, dia hanya membaca pesan dari Lula.


[Banyakin piyama ya, Bunda!] Lula mengirimkan pesan singkat lagi.


[Kukabulkan permintaanmu!] Bundahara.


Lula tersenyum cerah membaca pesan itu. Dia menyimpan ponselnya saat pesanannya datang. Dia tidak memesan sepuluh mangkok, dia memesan bakso spesial yang ada di sana.


"Kenapa senyum-senyum?!" tanya Frans merasa aneh melihat senyum istrinya yang terlihat menggelikan.


"Malam ini Daddy ganteng!" sahut Lula, asal, tangannya sibuk mengelap perlengkapan makan dengan tisu. Lalu menyerahkannya pada sang suami.


"Kamu suka?" reflek Frans bertanya.


"Aku suka Daddy yang ganteng, tapi tidak saat wajahnya berubah killer!"


Frans menggeleng lambat-lambat. Tidak tahu rasanya berharap sekali Lula memujinya. "Mari kita makan!" kata Frans menutup obrolannya. Mulai menyuap kuah bakso.


Sedangkan Lula terus berceloteh, bercerita ke mana-mana. Dan malam ini, Lula sama sekali tidak menyebut nama Priscilla, seakan benar-benar berniat menjauhkan Frans dari wanita itu.


Mereka berdua tidak menyadari, jika sedari keluar rumah seorang pria tengah mengikutinya, mengambil potret kebersamaan mereka berdua. Entah sudah bidikan ke berapa yang jelas gambar-gambar itu akan mematik amarah siapapun yang melihatnya.