Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Tebak Berhadiah



“Gue sendiri nggak habis pikir, apa yang dipikirkan Ferdinan! Bisa-bisanya minta rumah mama. Lebih parahnya lagi, dia mau memberikannya pada Rio. Enak aja, jelas gue nggak terima!”


Akhirnya, Frans berhasil meledakan kekesalan yang sejak tadi merecoki pikirannya. Sedikit plong tapi belum semuanya.


Rainer terlihat acuh, dia justru memandangi hitamnya langit yang bertaburan bintang. Mereka berdua tengah berada di taman, tidak peduli jika jarum jam sudah lewat dari pukul 10 malam.


Setelah para tamu kebesaran mereka pergi, Frans dan Rainer justru kembali ngerumpi di taman. Frans sengaja meminta Rainer untuk menemaninya menikmati rokok. Padahal dia hanya butuh teman cerita yang bisa memberinya saran.


“Udahlah berikan saja, lagian kamu bisa nyari rumah lain, kan?”


Frans menoleh ke arah Rainer. “Itu artinya, aku harus merelakan kenanganku bersama mama hilang begitu saja?”


“Kalau kamu merasa keberatan, belikan aja rumah lain. Dengan harga yang sama dengan rumah itu. Kamu kan sultan! biasa juga, beli rumah dengan sekali jentikan jari.” Rainer tahu jelas, seberapa banyak aset pria itu. “Jangan pelit-pelit, nanti kuburannya sempit. Nggak salah kok memberi. Mengharapkan balasan dari Allah yang lebih banyak, juga tidak salah. Yang salah itu, lo tahu hidup saudara lo sengsara, tapi lo yang kaya enggak mau bantuin!” Rainer meninju lengan Frans di akhir kalimat. “Jangan-jangan lo pelit juga sama Lula?” mendadak Rainer teringat bagaimana Lula meminta untuk dibelikan baju saat mereka liburan ke Semarang.


Frans tidak merespon, dia justru mengepulkan asap rokoknya ke udara. “Entah, rasanya nggak rela saja kalau mereka hidup bahagia dengan uang hasil warisan mama..”


“Harta nggak bakal lo bawa mati juga sih. Apalagi lo belum punya anak. Kalau lo mati besok, harta itu akan berhenti di rekening, mereka akan bingung mencari pewarisnya! beda kalau lo berikan ke orang yang membutuhkan. Mungkin, mereka akan mendoakan yang baik-baik saat kamu tahu metong! intinya, setidaknya uangmu tidak berhenti di bank.”


“Semprul, lo!”


“Jangan dibikin pusing. Hidup secukupnya, yang penting istri ajak keliling dunia cus ayo berangkat.” Rainer terbahak cukup keras saat melihat ekspresi Frans saat ini.


“Jangankan keliling dunia, ke surge pun gue temani!.”


“Sok iyes lo! salat aja pas Idul Adha doang! minta hadiah surga!”


"Tahu aja, Lo! itu juga karena gue ikut korban!"


"Kan, kan, riya'!"


Frans tak henti tertawa, sesaat kemudian hening mengambil alih situasi.


“Minggu depan datang enggak?” tanya Rainer, saat teringat undangan reuni alumni SMA Barracuda.


“Ke mana?”


“Anak-anak ngadain reuni.”


“Lo datang enggak?” tanya Frans, dia ngikut aja, asal ada teman pasti berangkat.


“Tergantung diizinin enggak sama bundanya Lula.”


“Kalau gitu, aku juga nunggu izin turun dulu dari Lula.”


“Idih, ikut-ikutan!”


Frans mematikan api rokoknya saat melihat bayangan Lula mendekat ke area taman. Saat ia menyapa gadis itu justru berhenti di pintu penghubung.


“Ayah, Lula butuh selimut?” rengek Lula yang enggan mendekat ke arah mereka.


“Selimutmu di mana?” tanya Rainer.


“Udah dibawa ke rumah Daddy.” malam ini mereka berdua memang sengaja menginap di rumah Rainer.


“Ambil saja di kamar Ben.”


“Kamar Ben dikunci, Yah.” Lula menjawab cepat.


“Ya, sudah ambil di kamar bunda. Di lemari tumpukan paling bawah.”


“Bunda udah tidur, Lula takut nanti ganggu, kasihanlah!”


Frans yang mendengar obrolan mereka berdua beranjak dari posisinya. “Istriku ngasih kode, dia kedinginan butuh pelukanku,” kata Frans pelan, penuh percaya diri. Lantas kemudian beranjak meninggalkan Rainer, menghampiri Lula yang berdiri di bibir pintu penghubung.


“Ayo aku angetin!” ajak Frans berbicara dengan setengah berbisik di depan wajah Lula.


“Nggak mau Daddy bau rokok!” tolak Lula.


“Iya? ya sudah aku janji gosok gigi dulu, biar bisa puas ngangetinnya.”


Lula menahan tawa, pipinya terasa hangat hanya dengan cekalan tangan Frans di pergelangan tangannya.


“Jangan pegang-pegang, tanganku ikut bau rokok!” Lula memberi peringatan saat Frans menuntunnya menuju kamar.


“Nanti aku cuciin, aku mandiin sekalian juga tidak masalah.”


“Dasar meesum!”


Semakin Lula kesal, Frans justru semakin bahagia, sebab wajah imut itu semakin menggemaskan di saat Lula sedang emosi..


Pintu kamar sengaja dikunci oleh Frans. dia tidak ingin momen bermanja-manjaan dengan Lula dilihat oleh orang lain. Itu privasi!


Frans menahan tawa, saat melihat selimut motif dino ada di atas ranjang. Ternyata benar dugaannya, selimut adalah alasan dibalik Lula yang menginginkan dirinya masuk kamar.


Frans berdehem kasar, lalu melangkah menyusul Lula yang sudah berada di dalam kamar mandi, pura-pura saja tidak tahu, pasti juga akan mendekat sendiri istrinya itu. Ternyata sedamai ini dicintai oleh seorang wanita. pikir Frans sembari mendorong pintu kamar mandi.


“Boleh ngomong sesuatu?” izin Frans setelah berdiri di depan Lula.


“Kenapa?”


“Kamu cantik malam ini," ya, menurutnya Lula terlihat cantik ketika makan malam bersama keluarga besarnya tadi.


“Malam ini saja? kemarin enggak?” balas Lula dengan nada protes.


Frans terkekeh. “Aku nyadarnya baru sekarang!”


Lula yang sudah menyelesaikan urusannya kembali masuk kamar, meninggalkan suaminya, tanpa ingin membahas masalah perasaan lagi. Tiba di dalam kamar, terdengar suara ketukan pintu. saat Lula membuka pintu tampak Rainer mengantarkan selimut untuknya.


“Makasih, Ayah.” Lula menutup kembali pintunya. “Dia tidak tahu saja kalau aku hanya alasan supaya Daddy lekas naik.” Lula mengakhirinya dengan tawa. Dia merasa terganggu sekaligus penasaran mendengar suami dan ayahnya tertawa keras di taman.


Frans yang memergoki Lula bersikap demikian hanya bisa menahan untuk tidak menegur. “Tidur yuk, Sayang!” ajak Frans yang sudah mengganti pakaiannya dengan kaus oblong.


“Iya, Daddy sudah mengantuk? Kalau aku sih belum.”


“Ya sudah yang penting kita naik ranjang dulu, perkara nanti jadinya seperti apa, yang penting naik aja dulu.” Frans menuntun Lula yang malu-malu kucing, dia yakin pasti pipi Lula terasa panas.


Keduanya kini masih terjaga, saling memeluk tanpa kata. Sesaat kemudian Frans seperti disik-sa oleh gairahnya sendiri. Tidak tahan untuk tidak membuka kancing piyama istrinya.


“Atasnya saja boleh?” rayu Frans, yang sudah tidak tahan.


“Daddy bahaya, deh! Lepasin pelukannya aku nggak bisa napas!”


“Lula ….”


Lula justru terkekeh mendengar suara Frans yang sudah berubah serak. “Atas saja, ya!”


“Hem …” kata Frans tak sungguh-sungguh. Mana bisa dia menahan kalau Lula sudah menunjukan tubuh se-xy itu padanya.


“Dad!” panggil Lula.


"Kenapa lagi, cepat buka!" kata Frans, sungguh dia sudah tidak sabar untuk meneguk suussu dari sumbernya langsung, yah meski dia tahu sekuat apapun dia men-nge-nyot kenyataanya air bewarna putih itu tidak akan keluar dari sumbernya.


“Tebak dulu, tahu enggak Lula habis ngapain?”


“Ngapian?” Frans sedikit menjauh, menatap Lula dalam minimnya pencahayaan.


“Tebak dulu?” minta Lula, enggan memberitahu suaminya.


“Apa?”


“Lah, iya tebak aku habis ngapain?”


“Habis ce-bok.” Frans berusaha menebak, soalnya Lula habis selesai dari kamar mandi.


“Kurang tepat.”


“Pup?”


“Tambah jauh.” balas Lula,.


“Apa?!”


“Tebak dulu!”


“Kalau benar dikasih apa?” tanya Frans.


“Kasih tubuhku.”


Tentu saja jawaban itu membuat Frans begitu bersemangat untuk menebak. “Kluenya apa tadi?”


Lula diam berpikir.


“Buruan kluenya apa!" Frans terlihat tidak sabar.


“Hape.” Lula menjawab singkat.


“Aku habis ngapain?” Frans mengulangi klue pertama yang sempat diberikan Lula. “Habis foto selfie.”


“Salah.”


“Dengerin music.”


“Em kurang tepat.”


“Lihat foto kita tadi?”


“Bisa jadi, tapi kurang spesifik.”


“Apa sih?” tanya Frans. dia mulai kesal saat jawabannya tak kunjung benar.


“Nonton?”


“Ya, bisa jadi.," kata Lula menjawab begitu bersemangat.


“Nonton drakor?”


“Bukan.”


“Nonton dracin?”


“Ih Lula enggak suka.”


“Nonton video anak-anak panti.”


“Jauh lagi.”


“Nonton Bo—kep?”


Lula tidak merespon jawaban frans. Dia terbahak sambil menahan perutnya yang terguncang.


“Iya?” kini giliran Frans yang bingung saat Lula tertawa begitu renyah.. “Kamu nonton bo-kep?” tanya Frans, dengan mata melotot tajam.


“Iya, tadi enggak sengaja kepencet.”


Satu sentilan mendarat di kening Lula, membuat gadis itu meringis kesakitan. “Mulai nakal ya!” Frans terlihat kesal. “Harusnya kamu bilang sama Daddy, biar daddy temani nonton!”


“Pak uztadz tolong pak ustadz suamiku nakcal! Mau nonton Bo-kep!” Lula mengadu, dengan nada dramatis.


“Mana videonya?”


“Udah Lula hapus!”


“Jangan diulangi ya, lihat milik suami aja belum masak iya liat milik orang lain.” Frans tidak marah, dia menasehati Lula secara halus.


“Coba lihat punya Daddy!”


Sahutan dari Lula membuat mata Frans membulat sempurna. Sekarang kah waktunya dia menunjukan asetnya pada Lula. Ujarnya dalam hati.