Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Cemburu



Wajah Lula sudah seperti macan yang tengah kelaparan. Emosinya membuncah, mengakibatkan dadanya bergemuruh begitu hebat. Melihat sang suami berpelukan dengan wanita lain, percikan api cemburu yang dipatikkan Priscilla semakin berkobar. Pria itu seakan sudah lupa dengan status ikatan pernikahan bersamanya.


Awalnya, Lula berniat mengajak Frans pulang ke rumah. Dia ingin bertanya sekaligus mempraktekan gaya WOT yang tadi diceritakan Priscilla.


Namun, justru disuguhkan dengan pemandangan tak mengenakan, membuat matanya mengeluarkan embun, yang menumpuk menjadi genangan air mata. Suaminya itu sedang berdansa dengan wanita lain. Tertawa lebar, bersikap genit pada gadis itu.


“Tidak bisa dibiarkan!” Lula melangkah semakin mantap, mendekati sepasang mata yang tengah berdansa. Dia mengesampingkan pandangan semua orang yang mengarah padanya. Dia ingin menarik pria itu dan memberinya hukuman.


Saat posisinya nyaris dekat dengan mereka, Lula justru menghentikan langkahnya. Ucapan Frans membuatnya membeku, ditempat.


“Aku sudah menikah. Aku hanya menuruti kemauanmu. Sebaiknya kita segera mengakhiri ini sebelum istri ku melihat kita berpelukan.”


Lula bisa mendengar dengan jelas ucapan Frans.


“Istrimu ada di sini?” tanya wanita yang bisa melihat jelas keberadaan Lula. Berbeda dengan frans yang kini membelakangi posisinya.


“Iya, dia ada di sini. Aku tidak ingin terjadi salah paham karena dia melihat kita.”


“Siapa? Kau boleh mengenalkannya kepadaku?”


Terdengar suara tawa Frans di sela suara alunan musik yang menggema. “Kau yakin ingin tahu?”


“Iya. Jelas aku ingin tahu. Apa dia sehebat aku? kamu tahu sendiri, prestasiku saat ini, dan mungkin gagalnya pernikahanmu dan Priscilla adalah pertanda, kalau kita memang ditakdirkan hidup bersama.”


“Sudah kubilang aku punya istri. Aku sangat mencintainya, aku tidak ingin dia salah paham kalau kamu terus melakukan ini padaku!”


Lula uang mendengar itu merasa lega.


“Frans … siapa wanita itu? aku ingin tahu!”


“Yakin?”


“Iya. Aku yakin wanita itu lebih buruk dari aku.”


Mendengar kalimat itu Lula merasa tidak percaya diri. Dia berniat mencegah perbuatan Frans yang ingin memberitahu.


“Dad!” seru Lula, yang berhasil membuat pria itu melepas pelukannya dari gadis tua yang berdiri di depannya.


Frans langsung menoleh ke sumber suara. Wajahnya menegang melihat Lula berdiri tegap di balik tubuhnya. “Hah, ka—kamu? ka—mu di sini? Sejak kapan?” tanya Frans.


Lula ingin sekali terbahak melihat wajah frans yang sudah pucat pasi. Pria itu sepertinya takut jika dirinya akan emosi dan marah-marah di tempat umum.


Padahal, mendengar pengakuan frans yang mengatakan jika dia mencintainya, itu sudah cukup menghapus rasa kesal atas kemarahannya mendengar perkataan Priscilla.


“Bisa antarin Lula pulang? Ayah sedang ada acara penting bersama temannya. Jadi—


“Owh, ayo! Ayo kita pulang!” tanpa menolak, tanpa mau mendengarkan penjelasan Lula lebih lanjut, pria itu lekas menuntun Lula keluar ballroom hotel.


Tak ada perbincangan apapun saat mereka berdua berjalan menuju parkir mobil. Hanya saja, Lula menikmati saat tangan Frans menggenggamnya begitu erat, seakan tidak menginzinkan dirinya terlepas.


Hingga mereka berdua sudah berhasil memasuki mobil. Frans memulai percakapan. “Kamu nggak suka ya pesta-pesta seperti itu? sepertinya kamu nurun dari bunda Zahira ya?”


Lula diam memasang wajah garang sembari menatap lurus ke arah jalanan depan. Mendadak kesal saat teringat dengan gaya favorit pria itu.


“Emang gue pikirin!”


Frans menoleh ke arah Lula, bisa-bisanya istri kecilnya, bicara seperti itu. Tapi lucu juga sih melihat bibirnya mengerucut. pikir Frans.


“Ya, sudah Daddy minta maaf. Itu yang terakhir kali. Lain kali daddy nggak akan dansa lagi sama cewek lain.” Frans pikir berdansa dengan sang mantan adalah kesalahan, dan membuat Lula merajuk seperti ini.


Dansa? Pikir Lula. Tiba-tiba muncul dalam benaknya ingin berdansa dengan pria itu. Tapi, tunggu dia ingin menuntaskan masalahnya dulu sebelum berdansa dengannya.


“Daddy sudah melakukan gaya apa saja sama tante Priscilla?”


“Lula ….” frans terkejut, kenapa bisa Lula membahas masalalu yang ingin segera dilupakan.


“Apa aja? Katanya Daddy paling suka gaya WOT? Benar, kan?” cecar Lula, mulai tidak terima.


“Kamu masih mau bahas ini?”


“Ya, emang harus, kan?”


“Siapa yang mengatakan ini? kamu bertemu wanita itu?”


“Iya, dia membahas gimana daddy saat di atas ranjang.”


“Buat apa kamu dengarin dia?”


“Emang Lula yang mau, kan enggak! dia sendiri yang bilang ke Lula!”


Frans membuang napas kasar, menginjak pedal rem, lalu menarik hand rem nya, saat berhenti di lampu merah. “Tatap Daddy!” perintah Frans tegas.


“Enggak mau, Lula kesal sama Daddy!”


“Tatap aku, Lula!” Frans berucap sedikit dengan intonasi keras. Berusaha memaksa gadis itu. “Kamu tahu masalalu Daddy, seperti apa. Bahkan tahu gaya pacaran Daddy dengan Priscilla kaya apa! Kalau kamu tidak mau menerima masalalu Daddy itu tidak apa-apa. Daddy bisa mengerti! Daddy juga tidak memaksamu untuk menuruti apa yang daddy mau.”


“Kenapa begitu? sudah dapat bekas, nggak pula dikasih nafkah batin. Kalau aku mau mencintai Daddy, berarti aku siap menerima risikonya.”


“Bilang aja mau!” lirih Frans seraya melepas hand remnya. Kembali melajukan mobilnya setelah rambu lalu lintas bewarna hijau.


“Apa? Tadi daddy bilang, apa?!”


Frans kelimpungan, rupanya Lula mendengar ucapannya tadi. “Hah? Tidak-aku tidak bilang apa-apa, kok!”


“Kalau begitu aku mau dansa!” tegas Lula, mendadak bersikap manja. “Masa iya dansa sama cewek lain, sama istri sendiri tidak.”


“Okay. Daddy telepon Ibnu dulu buat nyiapin makan malam romantis!”


“Tidak! Lula mau dansa di rumah.”


“Lula ….”


“Enggak mau?" Lula menoleh ke arah suaminya. "Ya sudah! turunin Lula di sini.”


Frans menghempaskan napasnya kasar. Ingat Frans, Lula baru 20 tahun. Batinnya, jangan heran kalau semua kemauannya harus dituruti dan wajib segera dilaksanakan!