
Hari Minggu adalah hari santai bagi Lula, biasanya dia akan bangun lebih siang dari hari-hari lain. Namun, khusus untuk hari ini, sepertinya akan menjadi weekend yang berbeda.
Surya matahari di luar sana masih malu menampakan sinarnya. Tapi, Lula merasa ada yang tidak beres dengan tubuhnya. Tubuhnya terasa ngilu, pegal, serta tenggorokannya terasa begitu kering.
Lula berusaha mengingat kejadian apa yang menimpanya. Sampai akhirnya, saat tangan kanannya bergerak untuk menyingkap selimut, Lula justru menemukan sikut seorang pria bertengger di atas perutnya.
Tubuh Lula membeku, pelan-pelan, meski rasanya susah ia menoleh ke arah sisi kanan. Menemukan wajah Frans yang terlelap, bersandar di lengannya, menggunakan tubuhnya sebagai guling.
Lula menelan ludahnya kasar. Bisa-bisanya dia bermalam dengan Frans. “Di mana ini?” tanya Lula, saat merasa asing dengan kamar yang ditempati.
Sejujurnya Lula tidak pernah masuk ke kamar suaminya yang ada di lantai dua. Jika ada keperluan biasanya dia hanya berdiri di depan pintu. Apa jangan-jangan ini kamar pria itu? Dilihat dari gayanya yang simpel sepertinya ini memang kamar Daddy? lantas bagaimana bisa aku tidur dengan pria ini!
“Dad?!” Lula berusaha menenangkan diri, lebih baik dia mencari kebeneran dulu dari pada berteriak-teriak tidak jelas. “Daddy!”
“Hm ….”
Sayangnya pria itu hanya berdehem, dan kembali memeluk tubuhnya, justru kini semakin erat dan membuatnya kesulitan bergerak.
“Dad? Aku bisa hamil kalau kamu terus mendekapku!” Lula memperingati. Dia tidak ingin pria itu menyulut gairahnya.
“Daddy enggak ngapa-ngapain kamu, kok. Cuma peluk aja!” sahutnya dengan mata terpejam. "Udah tidur lagi!" titahnya, menepuk lembut lengan Lula.
“Milik pria kalau pagi biasanya bangun. Kalau sampai milik daddy bangun, gimana?! Jadi, sebelum semuanya terjadi, jauhkan tangan Daddy dari tubuhku!” Lula menjelaskan.
“Lima menit lagi!” pinta Frans sedikit memohon.
“Daddy ....”
“Sumpah, Lula lenganmu enak! Jadi lima menit lagi, ya … empuk, kenyal.”
Lula merasa geli sendiri merasakan tangan pria itu meraba-raba tubuhnya. Dia berusaha bersikap manis supaya tidak membangunkan sesuatu dibalik kolor kitam yang dikenakan pria itu.
“Awas saja kalau bangun! Lula tinggalin!” ancam Lula.
Frans tidak menjawab, dia justru memeluk semakin erat tubuh Lula, kepalanya terus bergerak mencari posisi ternyaman. Hingga dia kembali nyenyak, sambil memeluk Lula.
Meski masih mengantuk, tapi Lula tidak bisa seperti ini terus. Perutnya bisa memberontak jika tidak kunjung diisi. Usai mendengar napas teratur dari suaminya, perlahan Lula menjauhkan tubuhnya dari Frans. Sebisa mungkin tidak menimbulkan suara, Lula berjalan keluar kamar.
Tiba di luar kamar Lula kembali mengingat kejadian semalam. Sepertinya dia terlalu mengantuk, hingga tidak mampu mengingat kejadian apa yang pernah ia lewati bersama pria itu.
Merasa putus asa, Lula memilih melangkah menuju kamar, dia ingin mandi lalu melaksanakan kewajibannya. Ini hari minggu dia tidak memiliki agenda apapun. Dan dia ingin membuat makanan special untuk suaminya itu. Dia yakin Frans akan menyukainya.
Lula sengaja menambahkan mozzarella di atas adonan pizza, ditambah cabe bubuk banyak-banyak, supaya rasanya lebih nendang. Ya, Lula penyuka makanan pedas. Rasanya tidak selera jika tidak ada cabe dalam masakannya.
Hampir pukul 8 pagi, sarapan sudah tersaji di atas meja makan. Tinggal menunggu lima menit lagi pizza yang dipanggang juga akan matang sempurna. Kini tinggal menunggu pria itu turun dan makan bersama.
Suara langkah yang terdengar membuat Lula mendongak menatap ke arah pria yang saat ini berjalan menuruni anak tangga. Pria itu sudah terlihat rapi, rambutnya terlihat basah tanda dia baru selesai mandi. Jangan lupakan senyumnya yang tampak cerah pagi ini.
“Apa tidurmu nyenyak?” tanya Frans ketika sudah berada di samping Lula. Matanya menatap ke arah meja makan, begitu banyak makanan tersaji di sana.
“Nyenyak. Tapi terasa pegal semua!” Lula menjawab ringan. "Ayo makan, Dad!" ajaknya.
Senyum Frans semakin lebar, dia mengambil duduk di samping Lula, bersiap menikmati sarapan. “Kalau mau bonus lebih gede, nanti malam kamu bisa temani Daddy tidur lagi. Bonusnya gede, kan? sepuluh juta, anggap saja itu upah lembur.”
Lula menarik napas dalam, ada benda tak kasat mata menghujam tepat mengenai dadanya. Sekarang dia ingat, tawaran suaminya yang meminta ditemani tidur satu malam, dan pria itu akan memberinya bonus 10 juta jika dia mau.
Semalam Lula dalam kondisi setengah mengantuk tentu saja menyetujui permintaan Frans. Lagian hanya tidur, mereka tidak melakukan apapun. Tapi paginya, kenapa dia seperti terhina dengan ucapan pria itu. Bukankah itu sama hal nya dengan wanita malam di luar sana. Menemani tidur lalu menerima upah?!
Lula tersenyum ironis. “Aku rasa itu yang pertama dan yang terakhir, Dad!” jawab Lula, yang berhasil menghentikan gerakan tangan Frans yang hendak meraih gelas minumnya. Pria itu menoleh, menatap Lula lekat, dia butuh penjelasan dari perkataan Lula.
“Kamu yakin?”
“Iya. Uang 10 juta tidak sebanding dengan risikonya. Aku masih kecil, resiko hamil besar jika kita terus tidur bersama. Kalau ada bayi di antara kita, akan sulit untuk mengakhiri pernikahan tanpa dasar ini.”
“Begitu?” satu alis Frans terangkat, demi apapun dia tidak pernah memikirkan memiliki bayi, apalagi dengan Lula. Melihat kerepotan Rainer, dia takut tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anaknya.
“Yah, aku rasa begitu.” Lula mengambil piring, lalu meletakan di depan suaminya. “Lebih baik kita makan dulu!” ucapnya berusaha mengalihkan topik pembahasan.
Kali ini Lula tak banyak bicara, dia menikmati menu sarapan di depannya dengan tenang. Sedangkan Frans, terus menatap Lula, menunggu istrinya berbicara yang bisa menenangkan pikirannya yang mendadak rumit ini.
Setelah selesai makan, Frans membantu Lula meletakan piring yang sudah dicuci. Mereka bisa melakukan pekerjaan bersama, tapi tetap saja kedua bibir mereka saling terkunci rapat.
Lula kembali masuk ke kamarnya setelah merasa semuanya sudah bersih. Dia kembali berbaring di atas ranjang, sepertinya tidurnya semalam memang terganggu. “Kenapa aku terlihat hina sekali. Semalam 10 juta? Aku memang butuh uang, tapi tidak dengan menemaninya tidur.” Lula masih kesal sendiri dengan keputusannya semalam. Seandainya dia waras, dia tidak akan mengambil keputusan yang akan merugikan dirinya.
Sedangkan di lantai atas, Frans sedang berjalan mengelilingi kamar. Dia bingung kenapa Lula justru kembali mendiamkannya. "Apa jangan-jangan uang pemberianku kurang banyak?" pikir Frans.
Suara mobil yang berhenti di depan rumah, membuat Frans menilik lewat jendela kamar. Sebuah taksi berhenti tepat di depan rumahnya. Tak lama kemudian ia melihat bayangan tubuh Rainer keluar dari taxi tersebut. “Ngapain pria itu datang?!”
“Kacau!” umpat Frans, saat melihat Zahira dan Ben turut serta. Jangan sampai mereka tahu kalau dia dan Lula tidur terpisah.