Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Boleh Aku Coba?



Dada Frans naik turun mendengar tangis bercampur suara yang keluar dari tape recorder. Kejutan, ini adalah kejutan untuknya. Segala hal yang tak pernah ada dalam benaknya kini dilakukan oleh Lula.


Ucapan terima kasih dari hati yang terdengar begitu menyedihkan. Itu mampu menggetarkan jiwanya, dia tidak tahu seberapa lama mereka mengenal. Tapi yang jelas, apa yang dilakukan Lula saat ini adalah sebuah kebaikan yang tidak akan merugikan siapapun. Justru akan membuat orang terkagum usai melihat semua itu.


“Jadi, sejak kapan? Kamu bertindak seperti ini?” Frans mencoba mencaritahu, cukup sudah mendengar ucapan terima kasih yang justru membuat kesedihan Lula makin jelas terasa.


Lula menyeka air matanya, berusaha menyudahi tangis, tetap saja tidak bisa, tangis itu masih terdengar lirih. “Kakek selalu bilang, sebaiknya ... Jika tangan kanan kita memberi, tangan kiri tidak perlu tahu.” Menatap Frans lekat, menegaskan jika dia tidak akan membocorkan apapun saat ini. “Jadi apapun yang aku lakuin Daddy nggak usah tahu. Biar nggak dikira riya!” jelas Lula.


“Bukan gitu konsepnya Lula sayang ...” kata Frans lembut, kali ini berusaha membantu Lula menyeka air matanya. Tiba-tiba saja dia teringat dengan uang gaji yang selama ini diberikan pada Lula. “Apa karena ini? Jelaskan pada Daddy, apa karena ini uangmu cepat habis?!” desak Frans, mulai menebak arah mengalirnya uang Lula.


“Ya,” kata Lula, pelan.


Frans tidak marah sama sekali. Dia justru tersenyum lepas mendengar penjelasan itu. Kenyataan yang diterima membuatnya tak kuasa untuk memeluk erat tubuh Lula. Entah sebagai ucapan syukur karena memiliki istri berhati baik, atau sebagai rasa gemasnya karena Lula pandai menyembunyikan rahasia ini. “Sejak kapan?”


Lula mendadak enggan membahas itu, dia memaksa Frans untuk melepas pelukannya. "Sana, jangan dekat-dekat! Nanti ada yang lihat!"


“Lula ....”


“Aku lapar, mau makan!” Lula hendak beranjak, tapi segera ditahan oleh Frans.


“Enggak, jawab dulu! Nanti Daddy antar ke kantin.”


Lula kembali duduk, lalu menjawab dengan suara lemah. “Sejak Lula naik kelas tiga. Saat bunda bawa Ben periksa, itu pertama kali Lula melihat seorang pria yang putus asa. Beliau tidak bisa membayar biaya rawat inap putrinya, dia duduk tak jauh dari Lula menunggu bunda dan Ben. Sejak itulah Lula merasa puas bisa meringankan beban mereka.”


“Berarti sudah lama?” Frans berusaha menebak.


"Belum, baru jalan 3 tahun."


“Ayah Rainer, tahu? em atau siapa saja yang tahu tentang ini?!”


“Mbak Wulan, Mbak Dyah, Zola, dan ... Levin.”


Mendadak aliran darah Frans mendidih mendengar nama Levin disebut istrinya. Sebenarnya apa hubungan pria itu dengan Lula, sampai tahu segala hal tentang Lula. Aku saja enggak!


“Bisanya mereka tahu tentang kamu tapi suamimu sendiri tidak! Tega sekali kamu sama Daddy! Kamu sengaja membuat jarak sama Daddy?!”


“Berbuat kebaikan tidak perlu diumumkan, kan?Untuk apa, juga!? Biar mereka tahu seberapa hebat diri kita?! Itu tidak akan membuat kita puas, ingin terus mendapat pujian setelah pujian pertama yang mereka lontarkan. Dan Lula tidak suka dengan itu!”


Frans bungkam, masih bingung harus menanggapi apa tentang sisi lain dari Lula. “Lebih baik kita pergi sarapan dulu!” ajak Frans setelah melihat Lula sedikit tenang.


Meski Lula masih diliputi perasaan sedih, ia tidak menolak, kakinya berjalan di samping pria yang sudah resmi menjadi suaminya. “Apa Daddy pernah kehilangan orang yang paling berharga? Gimana rasanya?” tanya Lula, berusaha memecah keheningan.


“Pernah, rasanya seperti ingin pergi menyusulnya.”


“Kenapa tidak menyusul, Tante Priscilla ada di Singapura.” Lula membungkam mulutnya yang ember. Dia sudah keceplosan mengatakan itu.


“Kamu tahu dia di Singapura? Dari siapa? Ayahmu?” cecar Frans, penasaran.


Mata Lula membulat sempurna. Dia, terkejut juga saat menyadari jika sang ayah sudah tahu tentang keberadaan Tante Priscilla.


Lula berusaha menutupi segala informasi tentang Tante Priscilla. “Asal nebak aja kok, Dad!” kilahnya membuat Frans membuang napas lega.


Mereka kembali fokus dengan langkah menuju kantin. Hening, tidak ada yang bersuara. Lula yang masih diliputi kesedihan enggan berkata-kata lagi.


“Mama,” lirih Frans, membuat Lula menoleh ke arahnya. “Saat mama pergi. Meninggalkan aku dan papa. Aku ingin menyusulnya. Waktu aku masih kecil begitu dekat dengan mama, aku merasa hidupku bergantung padanya. Sejak saat itu aku nggak mau lagi bergantung pada orang lain. Karena tahu sedihnya akan seperti apa.”


“Masih ada kakek Ferdinan, kenapa begitu? Daddy masih bisa bergantung padanya dulu, kan,” respon Lula, begitu ringan menanggapi cerita suaminya.


“Kakek, kakek! Dia sekarang mertuamu Lula. Panggil papa!” kata Frans dengan nada kesal, bisa-bisanya dia lupa dengan mertuanya.


“Ya, maaf. Belum terbiasa.”


“Mulai biasakan!” tegasnya.


“Kenapa harus? Kita tahu hubungan ini akan berakhir di mana?” Lula mendorong pintu kantin, mendekat ke arah penjual yang berada di balik etalase.


“Terserah.”


“Enggak ada makanan terserah.”


Frans menarik napas dalam, berusaha sabar. “Apapun itu yang kamu pesan akan kumakan!” sahut Frans, seraya mengeluarkan kotak kecil dari saku jaket.


Lula yang melihat suaminya mulai menyalakan api rokok hanya bisa mendengkus kesal. Kembali fokus ke arah meja etalase di depannya, lalu mengambil dua lolipop yang dipamerkan di atas toples. Setelah berhasil mengantongi permen


Lula memerhatikan cara Frans merokok, sungguh begitu menikmati sekali pria itu. Mendadak kes dengan suaminya. Pria itu enak tapi dirinya yang ikut menghirup asap rokok merasa sesak.


“Dad! Enak?” sembur Lula.


“Apanya?”


“Rokoknya?!”


“Lumayan, rasa favoritku.”


“Boleh aku coba?” pinta Lula.


“Enggak usah aneh-aneh!”


“Kenapa, Daddy aja boleh kenapa aku tidak?! Situ manusia, aku juga!”


Frans menunjukan tulisan kecil yang ada di kemasan rokok. “Baca sendiri!” perintahnya.


Lula bahkan sudah hapal dengan tulisan itu. Dia tersenyum miris lalu menarik napas dalam-dalam, jemarinya ragu-ragu mengangsurkan lolipop yang baru saja diambil dari saku. Dia ingat Frans pernah menangkis tangannya, hari itu.


“Lula tidak akan melarang Daddy untuk merokok. Memang benar kata Daddy waktu itu, bahkan saat Lula belum lahir Daddy sudah mengenal rokok. Tapi please, Dad! Puasa-lah saat berada di samping Lula! Ganti ini saja! Lula tidak tahan! Sama asapnya, bikin sesak napas!” Lula berusaha seramah mungkin, berharap jika pria itu tidak berkenan, setidaknya dia menganggap jika ini hanyalah candaan belaka.


Frans tidak merespon sama sekali. Dari raut wajahnya terlihat jelas pria itu sedang memikirkan ucapan Lula.


“Saat Lula kelas dua SMA, ada ... em, Lula menemui pasien penyakit paru kronis. Bukan pasien di rumah sakit ini sih. Dia tinggal di sekitar yayasan. Daddy tahu, beliau tidak ingin dibawa ke rumah sakit, padahal kata dokter pria itu mengidap kanker paru-paru efek dari rokok yang setiap hari dihi-sapnya, delapan bulan kemudian nyawanya tidak terselamatkan. Ngeri kan?" Lula menunggu respon dari suaminya. Saat tak menemukan jawaban Lula kembali berbicara dengan cerita lain. "Lula juga pernah dengar Daddy cerita tentang pengapuran plasenta. Aku kepo banget waktu dengar cerita itu, ngeri ... dan setelah aku tahu jawabannya. Sebagian besar penyebabnya adalah polusi asap rokok. Bisa Daddy bayangin, mungkin Daddy merasa nikmat setiap isa-pan rokok yang Daddy lakukan. Tapi negatifnya, mereka yang tidak mengenal Daddy bisa terkena imbasnya.”


Frans langsung mematikan putung rokoknya yang terselip di jemarinya, membuat Lula tersenyum cerah.


“Daddy mau makan dulu!” kata Frans saat melihat pramusaji mendekati meja mereka.


Kesal sih Lula, ternyata Frans sadar bukan karena ucapannya. Melainkan karena ingin menikmati sarapan. Nyerah, membiarkan suaminya menikmati sarapannya terlebih dahulu.


Mereka berdua makan dalam situasi tenang. Frans menyantap makanan yang dipesan Lula hingga habis tak tersisa. Setelah makanan itu habis Frans mengambil dompet di saku celananya. Beberapa detik berlalu, dia sibuk menatap isi dompetnya. Sampai tidak lama kemudian dia menyerahkan dua kartu untuk Lula.


“Warna hitam untuk kamu pribadi. Yang warna gold untuk membantu mereka yang kamu rasa perlu mendapatkan bantuan!” kata Frans, penuh perintah.


Lula yang masih menikmati sarapannya mendadak kaku. Dia melihat dua kartu di depannya. Melirik ke arah Frans yang menunggu dirinya lekas mengambil kedua kartu itu.


“Tidak perlu, Dad!” Lula berusaha menolak, dia masih mampu.


“Bukan cuma untuk kamu! Daddy hanya tidak tahu cara menghabiskan uang ini! dan Daddy percaya kamu bisa mengelolanya.”


“Dad!”


“Stt ...” Frans mendekatkan bibirnya ke arah Lula. Telunjuknya bergerak meminta Lula untuk mendekat. “Kamu istriku! Sudah menjadi kewajiban ku untuk memenuhi kebutuhanmu. Jangan sampai kamu kekurangan, meminta sama orang tuamu. Jika itu kamu lakukan, celakalah aku, karena tidak bisa memenuhi kebutuhanmu! Lakukan apa yang Daddy minta. Daddy bukan orang kikir!”


Jarak mereka kelewat dekat, hembusan napas yang menerpa wajah Lula membuat pipinya terasa seperti terkena sengatan aliran listrik. Dia mendadak salah tingkah saat tangan Frans menangkap tulang pipinya. Mengusap lembut sudut bibirnya yang terdapat sebutir nasi.


“Woey!” teriakan Rainer membuat sepasang manusia itu terjingkat. Memang jika tidak dilihat dengan benar mereka berdua seperti sedang berci-uman. Jadi Rainer sengaja mengageti mereka berdua.


“Asuuu, lu!” umpat Frans, emosi.


“Aku bubarkan dulu penghuni bumi dari pada mereka iri! Mentang-mentang kalian penganten baru dunia serasa milik berdua, yang lain disuruh mudik dulu ke planet Mars, gitu?! Gila Lo Frans maunya bermesraan terus sama anak gue!" Rainer melirik ke arah putrinya. "Kenapa Lula bolos sekolah?!” protesnya, saat Lula masih mengenakan seragam sekolah.