Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Pujian Suami



Ken Adhitama, seorang duda beranak satu itu tengah merasakan kegembiraan yang meledak-ledak, tatkala melihat cucu perempuannya digandeng mesra oleh sang suami. Siapa yang tidak ingin melihat Lula bahagia? tentu hanya rival nya saja! bibirnya tersungging tulus mendapati Frans tersenyum ke arah Lula.


Beliau seakan tak peduli dengan almamater OSIS yang membalut di tubuh Lula, seolah menegaskan jika Qailula Suha masih berstatus sebagai siswi kelas XII.


Namun, setidaknya dengan apa yang terjadi saat ini, Ken tidak perlu khawatir lagi dengan masa depan Lula. Dia yakin Frans Agung Pagara, mampu mendampingi Lula melewati hari-harinya.


“Mari-mari! Ayo duduklah, kita sarapan bersama!” pria itu tersenyum lebar kepada Frans lalu berkata, “kalau usahamu sekeras itu, kakek jamin, suara tangisan bayi akan segera hadir.” nyeri dadanya lenyap, penyakit jantung yang kemarin menyerang menghilang begitu saja, pria itu justru terlihat bugar.


“Ka—kek ...” Gadis yang menjadi pemeran utama merengek dengan Pipi bersemu merah. Mereka tidak melakukan apa-apa tadi. Dia hanya latihan vocal.


“Apa Kakek mendengar?” Frans menarik salah satu bangku untuk istrinya, dia ingin terlihat begitu mencintai Lula. Seperti premis dari misi pernikahan konyolnya dengan Lula.


Sayangnya, Lula tidak begitu perduli. Dia justru mengambil duduk di samping Ken. Bergelayut manja di lengan pria tua itu.


“Jangan sampai anakku hamil di saat Lula masih makan bangku sekolah. Pasti akan sulit buat dia!” timpal Rainer, sendok di tangannya sudah mengacung ke arah Frans. Dia geram sekali dengan tingkah menantunya itu, sudah sedari tadi mereka bertiga menunggu mereka turun ke lantai satu guna menikmati sarapan. Tapi sepertinya, Frans sengaja menghemat waktunya dalam merengkuh kenik-matan. ( maaf ya kupenggal kata-nya, biar tidak kena ***)


“Kakek sama ayah mertua santai saja!” berkedip ke arah Lula. “Untuk sementara, aku minta Lula minum pil KB kok!” lalu melirik ke arah Rainer. “Aku menebusnya di apotik!” menjawab keterkejutan Rainer, yang dari pandangannya seakan bertanya kok nggak datang ke aku? aku spesialis kandungan!


Semburat kecewa terlihat di wajah Ken. “Ya, sudah buruan makan. Kasihan Lula nanti terlambat sekolah!” perintahnya mengakhiri obrolan.


Pagi ini di meja makan rumah mewah itu terdengar bising. Menurut Lula, hanya di saat berkunjung seperti ini, dia memiliki waktu banyak untuk sang kakek. Jadi, sebisa mungkin Lula berusaha menjalin keakraban. Bukan hanya pada Kakek Ken saja, pada Opa Abhi serta Kakek Ipam pun perlakuannya sama.


“Kakek mau control kapan? Biar Lula saja yang mengantar.” mungkin ini sudah pertanyaan ke sepuluh yang keluar dari bibir Lula.


“Masih dua hari lagi! tidak perlu, biar Bunda saja. Kamu pasti capek,” sela Zahira, menolak. Dia tahu kesibukan Lula di sekolah. Apalagi sudah kelas XII pasti akan banyak jam-jam tambahan yang mengharuskan Lula untuk ikut. Dia tidak pernah tahu, jika Lula mendapat gelar Sleeping Princess di kelasnya.


Lula pasrah, padahal dia ingin sekalian bertanya perihal kondisi Emily. Tapi jika sudah begini, lebih baik dia pergi ke rumah sakit di lain hari saja.


Di meja makan itu, hanya Frans yang bungkam. Sikap bawaan dari keluarga Pagara yang dilarang bicara ketika berada di meja makan terbawa. Telinganya berusaha mendengar, apa yang sedang mereka bicarakan tidak berniat menyahut atau larut dalam obrolan.


“Kamu Frans!”


Panggilan Ken membuat Frans mendongak, dia merespon dengan kedipan mata seraya meletakan alat makannya.


“Gimana dengan pekerjaanmu?” sambung Ken.


“Baik, Kek! Rencananya, Eyang mau meresmikan jabatanku bulan depan. Sejak pulang dari Singapura, Papa Ferdinan menyerahkan jabatannya padaku. Beliau memilih bergerak di balik layar.”


Senyum Ken semakin lebar, berbeda dengan Rainer yang memang sudah tahu dengan penetapan Frans yang berubah status menjadi Direktur Utama.


“Tanpa kamu sadari, itu rezeki Lula dari Allah yang dititipkan ke kamu!”


“Iya, tuh, Mass … berarti besok gajiku nambah, kan?” Lula menggoda, sambil menancapkan garbunya ke potongan buah. “Kakek memang baik, sudah membuat suami Lula sadar!” menyiapkan potongan buah itu ke mulut Ken. "Lula semakin sayang sama Kakek!"


“Uang jajan Lula jangan banyak-banyak, Frans! Aku justru khawatir! Gadis itu terlalu loyal, tidak peduli jahat atau baik orangnya.” itulah alasan Rainer membatasi uang jajan Lula selama ini.


“Ih, Ayah!” Lula memberi peringatan karena tidak terima. Frans pun jadi membenarkan ucapan mertuanya., contoh saja uang 50 juta kemarin yang entah digunakan untuk apa?


"Aku akan mencukupi kebutuhannya!" kata Frans penuh percaya diri.


“Sudah, lebih baik lanjutkan makan kalian! kasihan Lula keburu terlambat!” perintah Ken, menghentikan obrolannya pagi ini.


Frans menatap Lula yang sedang menyuapi Ken. Gadis itu tidak menyadari akan tatapan Frans yang menyiratkan tengah menilai penampilannya pagi ini. Rambut hitam Lula yang panjang, hari ini gadis itu mengikatnya karena ternyata ikat rambut yang bewarna cerah itu ketinggalan di kamar mandi kantor. Lalu, poninya sedikit menutupi kening.


Netra Frans sedikit turun, menemukan bulu mata lentik nan lebat. Lula memiliki hidung seperti Rainer yang besar tapi juga maju. Bibir Lula warna merah alami, sama sekali tidak dihiasi lipstick. Sepertinya Lula membiarkan begitu saja, hingga pikiran kotor pun muncul di benak Frans. Apa kalau dici-um dia hanya akan mencium aroma mint, dari pasta gigi, tentunya!?


Sialan! umpat Frans, seraya menggaruk tengkuknya yang menegang. Sejurus kemudian ketika kepalanya kembali mendongak ia justru dipertemukan dengan bagian dada Lula yang rata. Ia tersenyum geli teringat ketika tadi pagi memeluk Lula, merasakan lekukan pinggangnya yang ramping sempurna. Saat nona kecil itu berlari ke kamar mandi, dia menemukan kaki jenjangnya yang begitu indah. Lula tidak gendut, Tidak!Frans hanya bicara omong kosong! Lula memiliki bentuk tubuh yang cukup proporsional, tapi entahlah kenapa bisa dadanya seperti itu!


“Kamu gila, Frans!” celetuk Rainer memperingati menantunya. “Apa yang kamu pikirkan sampai membuat bibirmu tertawa tampa henti. Nggak takut enamel gigimu terkikis?”


Andai saja tidak ada Ken di sana pasti Frans sudah membalas habis-habisan ucapan Rainer. “Tidak, senyumku hanya menyiratkan kekaguman terhadap kecantikan istriku!”


Suara itu menarik perhatian Lula, jangan ada drama lagi di antara kita, ini masih pagi otakku belum bisa dikontrol dengan baik. Lula berkata seperti itu, tapi sayang tak sampai di pendengaran Frans, karena dia hanya mengutarakannya dalam hati.


“Apaan sih, Mas … jangan begitu, ih! Malu!” kata Lula, mencegah Frans melakoni dramanya terlalu dalam. Jangan sampai dia baper dan larut dalam peran yang tengah dilakoni. Sisi lain dalam dirinya seakan ikut memperingati.


“Baiklah. Nanti kita lanjutkan di rumah saja.” pandangan Frans beralih menatap Ken. “Kakek, apa boleh Frans hari ini bawa Lula pulang. Kebetulan sekali, nanti malam ada janji dengan guru private yang akan mengajarnya.”


Ken tersenyum simpul, kebahagiaan semakin menyelimuti hatinya saat mendengar betapa besar perhatian Frans terhadap Lula. Dia semakin percaya jika Frans benar-benar bisa menerima kekurangan Lula.


“Tidak masalah! Kakek setuju saja jika itu untuk kebaikan Lula!” Ken beralih menatap Lula, tatapan hangat dan penuh kasih sayang. Satu tangannya menepuk lengan sang cucu. “Lula, walaupun masa depanmu sudah terjamin. Kamu tidak boleh lepas dari tanggungjawabmu! Jangan sampai di hari tua nanti kamu menyesal karena tidak bisa menemukan jati dirimu yang sesungguhnya. Kamu boleh menikah di usia muda! tapi tetap ya, kamu harus berprestasi. Tugasmu sekarang, buat suamimu bangga karena sudah memilihmu! Contoh ayah dan bundamu!”


Ungkapan dalam itu mampu menggetarkan hati Lula. Perasaanya mulai kacau, bagaimana jika waktu perpisahan itu tiba? Lula seakan menggali kesalahan yang lebih dalam lagi dengan berbohong kepada mereka.