Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Ada Yang Hilang



Kehangatan yang menerpa kulit pipi, membuat Lula membuka mata lebar. Ia terperanjat, saat menyadari sinar matahari sudah menampakan diri seutuhnya.


“Astaga aku kesiangan!” hampir saja Lula melompat dari ranjang, jika saja sebuah tangan kekar tak segera menahannya.


“Bukannya semalam sudah berencana akan membolos?”


Suara serak dan menggoda mengisi gendang telinga Lula. Seakan disadarkan, saat mendapati pria itu, tengkurap tanpa sehelai kain yang menutupi badan. Pandangan Lula beralih menelisik tubuhnya, masih terbungkus rapi dalam kemeja biru cerah. Namun, kemeja ini bukan miliknya, tampak kebesaran.


Lula kembali merebahkan tubuhnya, meringsut dalam selimut tebal, saat kilasan kejadian semalam terbayang di kepalanya. Astaga, hilang sudah kepera-wananku? Darah, apa ada darah di atas sprei?! Bola mata Lula berputar-putar, menelisik dalam gelapnya situasi di bawah selimut. Dia sedang mencari tanda keperawanannya yang sudah hilang.


Sayangnya, Lula sama sekali tidak menemukan bukti apapun. Jangan sampai pria itu mengira aku sudah tidak virgin.


Pelan-pelan selimut yang dimanfaatkan Lula untuk bersembunyi terbuka lebar. Wajah Frans menyambut diiringi cengiran di bibirnya. “Semalam siapa yang nakal?”


Pertanyaan itu benar-benar mengingatkan Lula. Setelah sepenuhnya sadar, kenapa urat maluku baru terasa?


“Daddy, apaan sih! semalam Lula udah mau tidur, ya— Daddy yang maksa.” Lula menjawab lirih.


“Tapi, ikhlas kan?” tanya Frans, lagi.


“Maksudnya?”


“Iya, karena kamu sudah menjadi milikku sepenuhnya. Itu artinya, sampai kapanpun kita akan selalu bersama.”


“Dad? Kamu nggak curiga sama aku, kan?”


“Curiga? Kenapa?” Frans justru bingung dengan pertanyaan Lula.


“Enggak ada darah perawan. Apa Daddy bakal berpikiran buruk tentang aku?”


“Siapa bilang tidak ada? Banyak, tapi kamu nggak usah mikirin itu. Udah aku masukin ke mesin cuci, tidak akan ada yang tahu! Nanti tinggal jemur.” Frans menjelaskan.


“Dad?”


“Kamu pikir, aku tega membiarkan istriku tidur di atas seprei kotor?” Semalam setelah pergulatan yang cukup heboh, Frans memindahkan tubuh Lula ke atas sofa. Mengganti sprei yang terkena darah dengan yang bersih, dan tidak lupa ia memakaikan pakaian Lula, supaya tidak melulu memancing gairaahnya. Setelah semua bersih, Frans memindahkan gadis itu kembali ke atas ranjang. Mungkin, karena kelelahan Lula tidak menyadari apa yang semalam dia lakukan.


"Kenapa nggak di foto dulu, buat kenang-kenangan?"


Frans menggeleng mendengar ucapan Lula, menyebalkan sekali ucapan Lula! ucap Frans dalam hati. "Bagaimana kalau kita nyari darah perawan lagi, siapa tahu masih keluar darahnya!"


Satu pukulan melayang di lengan Frans usai mengatakan kalimat itu. Ketenangan mengambil alih sejenak, Lula terlihat sedang meyakinkan diri dengan ucapan Frans.


“Mau tidur lagi atau sarapan dulu? Tapi boleh juga sih kalau mau nyicil bikin baby.”


Lula tidak menggubris ucapan suaminya, bibirnya mengerucut, saat menyadari hari sudah begitu siang. “Daddy enggak bakal ninggalin Lula, kan?” tanya Lula dengan hati-hati.


“Enggak.”


“Kalau Lula hamil, gimana?”


“Ya, itu bonus untuk kita. Kamu jadi ibu dan aku jadi ayah. Bukankah itu yang diinginkan oleh pasangan yang sudah menikah.”


“Daddy enggak bakal menceraikan aku?” Lula takut, suatu hari pria itu akan kembali pada mantannya.


“Daddy nggak malu punya istri kecil kaya aku?”


“Kamu sendiri, malu nggak punya suami tua kaya aku?!”


“Kan, Lula yang bertanya duluan?”


Senyum Frans mengembang, tangannya semakin erat memeluk tubuh Lula. “Enggak dan tidak akan pernah malu, sudah memilikimu. Dan aku juga harus bisa, buat kamu bangga karena bisa memilikiku!”


Napas Lula semakin sesak saat Frans semakin kuat mendekap tubuhnya.


“Cinta itu tidak mengenal usia.” Frans menyambung ucapannya setelah bisa menangkap tangan Lula yang terus memberontak.


“Jangan-jangan cintanya Daddy masih sebatas cinta ayah kepada putrinya.”


Frans membalas tatapan Lula yang tertuju padanya. “Kalau kamu masih setia memanggilku dengan sebutan Daddy, tentu. Kecuali kamu menggantinya, pasti akan terasa berbeda!”


“Dasar! Daddy nakal! Udah tua juga!” Lula mencibir, sikap Frans.


“Ganti ya!? Ganti dengan sebutan sayang!”


Giliran Lula yang menampilkan wajah keberatan. “Ganti kakak saja!”


“Lula, sejak kapan aku menikah dengan mbak mu?”


“Aku bingung, Dad!”


“Sayang ....”


“Sa—Sayang ... ih nggak pantas, Dad!”


“Nyebelin.”


“Ya, udah aku panggil Frans aja gimana!”


“Nyerah, deh!” Frans beranjak dari ranjang.


“Sayang ... Kamu mau ke mana?”


“Kerja.”


“Ih, nggak jelas banget! Aku udah bolos masa dianggurin! Malah ditinggal kerja. Tahu gini tadi masuk sekolah.” Lula merajuk, yang justru terlihat menggemaskan di mata Frans.


Memang yang begini, tak ada duanya. Pikir Frans. “Ya sudah demi laga premier istriku yang sudah berani memanggilku dengan sebutan sayang ... Aku kabulkan permintaanmu!” Frans kembali duduk di tepi ranjang. “Terus ngapain kalau aku bolos kerja?”


“Ih, Sayang pura-pura oon deh!” Lula merentangkan kedua tangannya. “Peluk aku, erat-erat! aku cuma mau memastikan kejadian semalam bukan lah mimpi.”


Frans mendesah kesal, mana bisa hanya dengan pelukan. Tangannya pasti akan meminta yang lain terutama memainkan kedua bukit indah milik Lula. Sabar Frans, sabar, kesabaranmu sedang diuji. Nanti juga dia minta sendiri kalau udah ketagihan!


“Jangan macam-macam ya! Lula cuma ingin dipeluk aja!”


Ucapan itu mematahkan apa yang tadi dipikirkan Frans. “Kirain mau ibadah bareng aku. Pagi-pagi biasanya nikmatnya dua kali lipat, loh!”