
“Ugw, Daddy sudah sampai di Jakarta, ya? Sayangnya, Lula udah pulang duluan. Tadi dijemput sama om Zola. Kebetulan aku ada acara sama dia.” Lula beralasan, mengamankan posisinya saat ini.
“Acara, di mana acaranya Daddy mau jemput kamu?”
Lula membuang napas kasar. “Iya, Dad. Nggak usah jemput Lula, biar Lula pulang sama Om Zola saja!” Lula kembali berbohong demi keselamatannya. Dia bisa habis jika pria itu mengadu pada sang ayah.
“Begitu?!”
“Hem, iya. Daddy pulang saja!”
“Kamu? kalau begitu, kamu akan pulang jam berapa?”
Lula tampak berpikir keras, dia menatap ke arah Zola, untuk sekedar meminta saran.
“Mungkin jam sepuluh, Dad.” Lula menjawab saat melihat Zola memamerkan ke sepuluh jari-jarinya.
“Ya sudah, nanti Daddy akan menjemputmu di rumah Rainer jam sepuluh.”
“Emang harus malam ini ya, Lula ikut pindah. Besok saja gimana?” tawar Lula, dia masih enggan berpisah dengan kedua orang tuanya.
“Ya sudah, besok Daddy akan menjemputmu setelah pulang sekolah.”
Tanpa pikir panjang Lula menyetujui permintaan pria itu, yang penting posisinya aman untuk saat ini. Setelah berhasil menyimpan ponselnya Lula beralih menatap Zola lekat, memamerkan wajah sendu.
“Kenapa dia?” tanya Zola, penasaran.
“Baru saja pulang dari Singapura. Eh, tiba-tiba datang ke sekolah.” Lula menjelaskan, secara garis besarnya saja.
“Gitu?” selidik Zola. “Mau pulang sekarang?” tawarnya yang paham dengan posisi Lula saat ini. Dia takut juga dimarahin Frans.
“Nanti, ya. kita kan tadi bilang ke daddy kalau akan pulang jam 10. Jadi kita tunggu sampai jam 10 dulu baru kita akan pulang.”
“Itu, kan cuma buat ngibulin dia Lula!” ucap Zola kesal. “Setidaknya kalau kamu pulang sekarang, kamu bisa persiapan buat malam pertama sama dia!” goda Zola. "Cihuy! malam pertama, uh kecik-kecik jadi manten!" sambungnya yang langsung dihadiahi pukulan di kepala dari tangan Lula.
Memang sudah sepantasnya Zola berkata seperti itu, karena dia tidak tahu alasan Lula menikah dengan Frans. Lula berusaha memendam alasan itu rapat, menurutnya semakin sedikit yang tahu itu semakin baik.
“Kamu mau-maunya sih, Lul, nikah sama pria tua kaya gitu, kenapa tidak nyari yang seumuran saja!” protes Zola.
“Yang seumuran tidak mau denganku?” kata Lula, ringan, diakhiri senyuman masam dari bibirnya. “Yang tua lebih berpengalaman dalam menangani anak kecil sepertiku, Om!”
“Ck.” Pria itu berdecak pelan. “Aku rasa kamu menikah bukan karena cinta, dulu kamu tidak seperti ini, nggak mungkin kan perasaan cinta datang hanya dalam kurun waktu satu jam?.”
Tubuh Lula menegang, saat mendengar ungkapan kecurigaan Zola. Haruskah dia menceritakan pada pria itu! pikir Lula, mendadak bimbang.
Lula seperti tidak memiliki pilihan lain selain menceritakan semuanya pada Zola. Setidaknya pria itu tahu alasan yang sebenarnya dia menikah dengan Daddy Frans. “Lima juta dalam sehari.”
“Kan!” Zola mengusap wajahnya kasar. Mendadak wajahnya murka mendengar alasan Lula hanya demi sejumlah uang. “Kenapa nggak minta sama ayahmu saja? ini terlalu berisiko, Lula.”
“Ayah?! Kalau kita bisa mendapatkan sesuatu dengan cara sendiri, kenapa harus meminta bantuan orang lain?”
“Tapi pengorbananmu kan besar, Lul.” Zola tampak semakin kesal. “Tunggu! Tunggu, sampai kapan kamu akan melakukan ini?”
“Sampai aku lulus SMA.”
“Bodoh banget sih kamu, Lul!” sahut Zola semakin kesal.
“Kamu orang kesekian yang mengatakan aku bodoh. Jangan diulang-ulang lagi karena aku sudah tahu, Om!” kata Lula, sendu. “Lagian aku cuma mau membantu daddy Frans yang kebingungan saat ditinggal tante Priscilla. APA SALAH? Ck ... Melihat dia kalang kabut dan sedih ... Lula, tidak tega!” Lula menatap Zola lekat. “Kamu tahu sendiri, kan? bagaimana dulu mereka putus? Itu karena kesalahan daddy memarahi tante Priscilla. Penyebab marahnya Daddy karena aku,” kata Lula. Sudah berulangkali dia menceritakan itu pada Zola. “Dan parahnya lagi, kejadian itu membuat tante Priscilla pergi, lalu menikah dengan pria lain. Dari situ aku tersiksa melihat daddy main perempuan, menyesali keputusannya yang sudah memutuskan Priscilla. Andai hari itu aku tidak ikut dengan mereka, jika bunda tidak memaksa om Frans untuk menjemputku ke sekolah, hal buruk itu pasti tidak akan terjadi. Mungkin, mereka sudah bahagia bersama anak-anak mereka.”
“Itu bukan salahmu! Dasarnya aja tante Priscilla yang kekanak-kanakan!” kata Zola, membela Lula.
“Dan sampai di detik mereka hendak menikah, aku merasa sudah membuat kesalahan besar dalam hidup Daddy. Maka dari itu, selain mendapat uang lima juta, aku juga ingin sedikit menebus kesalahanku di masa lalu. Aku akan tetap diam di sangkar, menunggu ayah menemukanku. Lagian aku untung juga, setidaknya dengan uang itu, aku bebas menggunakan untuk apapun.”
“Kak Rainer tahu tentang ini?” selidik Zola.
Lula menggeleng tegas. “Di keluarga kita cuma aku dan kamu yang tahu. Jadi, tolong jaga rahasia ini. Cuma kamu yang bisa kupercayai.”
Zola berdecak pelan, dia tidak mengira jika Lula berkorban sebanyak itu hanya demi uang dan menebus rasa bersalahnya. Sekali lagi ini bukan salah Lula, benar katanya tadi, dasarnya saja Priscilla yang kekanak-kanakan, masa hanya karena cemburu dengan gadis kecil berusia sepuluh tahun, dia tega meninggalkan Lula di dalam sangkar burung. Meminta petugas untuk meninggalkan Lula di saat bianglala yang dinaiki Lula tengah berada di atas.
“Kalau dia menyakitimu, jangan mengadu pada kak Rainer. Lebih baik kamu datang padaku! Cerita ke aku, supaya hubungan persahabatan mereka tidak renggang, nanti kamu merasa bersalah lagi saat melihat ayah dan daddynya cekcok!.” Zola menatap Lula lekat. “Lula, tapi kalian suami istri! Pasti pria itu akan melakukannya! Semua lelaki itu sama!”
“Dia sudah berjanji tidak akan menyentuhku. Dia menyayangiku hanya sebagai anak angkatnya, tidak lebih.”
“Mustahil, Lula!”
“Kita buktikan saja!” tantang Lula. “Ingat jangan minta traktir aku. Meski uangku banyak, aku tidak akan mengeluarkan sepeserpun demi kamu!”
“Enggak akan! uangku sudah banyak!” celetuk Zola tegas. “Mau teriak lagi enggak?! kalau tidak lebih baik kita pulang sekarang!” tawar Zola.
“Tunggu! aku masih suka di sini,” minta Lula, lalu berlari kecil, menjauh dari posisi Zola, dia berteriak sekali lagi, sekuat tenaga, mengakhiri kesedihannya hari ini. Dan besok ia harus kembali ceria seperti biasanya.
Zola tak tinggal diam, dia mengikuti apa yang dilakukan Lula, membuang kesedihan karena jalinan cintanya diputus begitu saja oleh sang kekasih.
Setelah puas berteriak, Zola menuntun Lula untuk kembali pulang ke rumah. Lula akan aman saat sang Kakak melihat dirinya mengantar Lula.