
Waktu dan lokasi pertemuan sudah ditentukan usai Lula menghubungi gadis bernama Claudia yang tidak bukan adalah kekasih Elkan. Menyebalkan sekali, karena sekarang justru Lula lah yang wajib menunggu gadis itu.
Pandangan Lula tertuju ke arah meja. Sebuah kotak kecil sebagai hadiah sudah tergeletak manis di sana. Silakan berkata Lula bodoh! karena itu memang benar. Tapi jangan harap setelah ini dia akan mengulanginya lagi. Tidak akan! karena dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, ini untuk terakhir kalinya ia diperbudak oleh Elkan.
Jika bukan demi pernikahannya dengan Frans, ia pun tidak akan berkorban sejauh ini. Memilih mengabaikan Elkan.
Helaan napas panjang terus Lula lakukan, mereka membuat janji pukul tiga sore, tapi gadis itu belum menampakkan batang hidungnya. Padahal saat ini sudah pukul setengah empat.
Lula berusaha mengusir rasa bosannya dengan memainkan ponsel. Sedikit terhibur ketika jemarinya membuka aplikasi tok-tok. Sayangnya, ketika sedang asyik menonton fokusnya teralihkan saat seorang gadis tiba-tiba duduk depannya, tanpa izin, hingga lula kebingungan benarkah gadis ini yang dulu ditemuinya. Kenapa wajahnya beda jauh? Yang ini lebih terlihat dewasa dan cantik.
“Waktuku tidak banyak, aku berharap kamu tidak buang-buang waktuku!” ketus wanita itu, tak ada sikap ramah sama sekali. Bahkan enggan untuk sekedar basa-basi terlebih dahulu.
“Ya, aku paham. Calon model papan atas seperti kamu, mana mungkin memiliki banyak waktu luang,” balas Lula, diselingi tawa kecil.
“Ya, itu kamu tahu. Ingat ya, waktuku tidak sebanyak kamu.”
Lula mengerti dan paham, mungkin itu juga yang membuat Elkan mencari sandaran lain untuk berbagi. Karena kekasihnya sibuk dengan dunianya sendiri.
“Baik. Aku tidak akan membuang waktumu.” Lula menegakan posisi duduknya, bersiap berbicara serius dengan kekasih Elkan. Tangannya meraih kotak kecil di depannya, kemudian menyerahkan hadiah itu pada Claudia. “Selamat hari jadi pacaran ya!” Lula tersenyum sumringah, sama seperti ketika dia memberikan kejutan kepada keluarganya. Dia dituntut profesional supaya Claudia tida curiga padanya.
“Kemarin itu ... aku tidak bermaksud membuatmu terkejut, tapi benar yang dikatakan Elkan, aku bukan kekasihnya." Lula mengullum senyum, meski rasanya ingin segera pergi dari tempat ini. "Aku teman sebangkunya. Dan kita tidak memiliki hubungan serius selain itu.” Lula memerhatikan dengan seksama setiap perubahan raut wajah Claudia.
“Elkan sering cerita tentang kamu. Hampir setiap jam pelajaran," sambungnya dusta. "Ternyata kamu jauh lebih cantik dari yang pria itu ceritakan. Kamu begitu serasi dengan Elkan. Sebenarnya, sejak kemarin aku ingin menjelaskan kepadamu. Tapi aku terserang demam, aku absen dua hari." Lula mengulurkan tangannya ke arah Claudia. "Kenalin nama aku Lula. Misalkan kamu tidak percaya dengan pengakuanku hari ini, silakan tanya sama teman sekelasku. Mereka akan menjawab kalau kita berdua hanyalah teman sebangku,” penjelasan Lula cukup panjang dan jelas, cukup lega usai melihat Claudia menerima uluran tangannya.
"Claudia." Wanita itu menjawab singkat seiring genggaman tangannya yang mulai terlepas. “Kalau benar begitu, maukah kamu menjaga El buat aku? kamu bisa jadi mata-mataku untuknya. Laporkan padaku jika dia berbuat macam-macam.”
Lula ingin sekali berteriak, tidak Elkan! Tidak pula kekasihnya, sama-sama menyusahkan. Tapi kali ini dia tidak ingin diperbudak lagi, dia akan menghindari Elkan dan kekasihnya. “Clau, maaf ya, bukannya aku tidak ingin membantumu. Tapi, sebentar lagi aku ada ujian nasional tentu kita akan sibuk dengan jadwal pelajaran tambahan. Takutnya aku akan lupa menyampaikan laporan padamu. Dan—kamu tenang saja! Setiap Elkan macam-macam, aku akan menegurnya.”
Tidak dipungkiri dari cara berpikir, sepertinya gadis itu lemah di bidang akademik. Mungkin karena Claudia terlalu sibuk dengan profesinya. Jadi, mana sempat belajar.
"Okay." Claudia membalas singkat.
Meski rasanya tidak nyaman berada di sini cukup lama. Lula tetap menunggu Claudia yang tengah menikmati makanannya. Hingga piring di atas kosong, gadis itu berpamitan pada Lula.
“Makasih traktirannya ya, Lula! Ini kadonya aku bawa! aku akan menghubungi Elkan malam ini, bye!”.piy Claudia.
Lula masih memerhatikan Claudia yang berjalan menjauhinya, sampai bayangan gadis itu menghilang di balik pintu lift. Lula merogoh saku almamater, meraih ponsel dan mengirim pesan singkat pada Elkan.
[Tugasku selesai. Kamu harus pegang
janjimu.] tulisnya kemudian mengirimkan ke nomor Elkan.
Berbeda dengan Claudia, lula justru memilih naik eskalator untuk turun ke lantai satu. Dia berjalan pelan, seraya memerhatikan kondisi sekitar. Dia begitu menikmati keramaian mall tersebut.
Hingga suara music dari area permainan menahan langkahnya. Lula memerhatikan para gadis yang sedang bermain dance. Bibirnya tersenyum simpul melihat kelincahan para gadis itu. Ia ingin sekali mencoba, tapi jika dia mendekat sekarang, antara diusir atau mereka yang akan pergi usai melihat kedatangannya. Lula menyadari, karena mereka masih satu almamater dengannya. Jadi Lula memutuskan untuk menyaksikan dari kejauhan.
Mungkin koin mereka sudah habis jadi tak lama kemudian mereka meninggalkan permainan arkade itu. Tempat itu kosong, tidak ada yang menggunakan lagi. Lula berpikir sejenak, seraya memandangi kelap-kelip lampu di sana. Daddy memberinya kartu kredit. Pasti bisa digunakan untuk membeli koin. Sepertinya tidak akan masalah jika dia mencobanya.
Lula berjalan mendekati konter pembelian koin. Beberapa koin kini ada dalam genggaman, Lula lekas mendekat ke arah arkade dance-dance revolution itu.
Ini hal baru untuk Lula, dan untuk pertama kalinya dia mendatangi wahana permainan seperti ini. Dia lebih suka ke pasar malam atau ke pegunungan, pantai sebagai tempat hiburan. Bahkan, di usianya 7 tahun sang ayah pernah membawanya ke gunung Bromo, melihat Bimasakti di sana.
Lula memasukan beberapa koin, lalu bersiap memainkannya. Babak pertama berhasil diselesaikan baik oleh Lula. Tapi hasilnya kurang memuaskan karena ada ketukan yang tidak tepat. Lula pun penasaran ingin mendapatkan hasil sempurna. Dia kembali memainkan ulang permainan itu. Kali ini Lula sengaja melepas alas kaki dan tas-nya. Dia ingin melihat seberapa mampu dia mendapatkan score.
Kaki Lula mulai berjinjit-jinjit, bergerak mengikuti tanda panah yang memberikan petunjuk di mana dia harus menginjakan kaki. Gerakan kakinya mulai lincah, napas Lula mengepul di udara, perlahan wajahnya dipenuhi peluh.
Dentuman music masih mengalun keras, Lula enggan berhenti. Dia tetap menggerakan kedua kakinya seirama dengan ketukan. Lula seperti kehilangan control, suara-suara mereka yang merendahkan mendadak mengaung dalam pikirannya. Seolah menakuti Lula, hingga membuat Lula semakin emosi.
Ketika music itu berhenti dan layar menunjukan kalimat ucapan untuknya, Lula bersandar di pegangan besi bagian belakang. Mengontrol napasnya yang menggebu. Lula terkejut saat terdengar suara tepukan tangan yang mendadak begitu riuh. Seketika lula menoleh ke balik tubuhnya.
Banyak orang di sana, terutama ibu-ibu yang sedang mengantar anaknya bermain. Pujian terlontar dari bibir mereka yang suka nyinyir. Di saat semua orang sudah berhenti bertepuk tangan. Ada satu orang yang masih memberikan tepukan tangan untuknya.
Lula tersenyum simpul, membungkuk menyambut pria yang kini berjalan menghampirinya. Malu, hingga dia rasa perlu menyembunyikan rona wajahnya.
“Aku baru sadar ternyata aku benar-benar menikahi anak kecil. Ayo kita lanjutkan mainnya!” bisik frans tepat di depan wajah Lula, pria itu melepas jas mahalnya, menggulung sedikit ujung pakaiannya hingga batas siku. Membuat Lula terheran-heran.
Dia lebih tampan dari biasanya. Pikir Lula. “Kok daddy ada di sini?” tanya Lula, penasaran.
“Harusnya daddy yang bertanya begitu ke kamu. Kok bisa kamu berada sini?”
Lula melirik ke arah ibu-ibu yang menunggu permainan mereka berdua. “Aku ada urusan.”
“Daddy juga ada urusan dengan teman Daddy.”
Lula pasrah, dia kembali memilih genre music apa yang hendak dimainkan bersama suaminya.
Mereka berdua terlihat seperti ayah dan anak. Terlebih tadi Lula memanggil pria itu dengan sebutan Daddy. Jadi mereka tidak akan percaya jika mereka sebenarnya adalah pasutri.
“Yang kalah wajib mijitin ya!” tantang Frans.
“Okay! Siap.” Lula menerima tantangan itu, dia sudah hapal dengan ketukan musiknya, ia yakin pasti akan memenangkan permainan itu.