Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Women On Top



Darah Frans mendidih melihat komplotan pria, seangkatannya mendekati Lula. Sayang sekali dia tidak bisa mencegah hal itu terjadi. Terlebih lagi, Lula begitu menanggapi setiap pertanyaan yang mereka lemparkan, seakan sengaja membuat dirinya terbakar api cemburu.


Topik perbincangan malam ini, bukan lagi tentang janda atau teman mereka yang masih single. Melainkan tentang, anak Rainer yang sudah tumbuh dewasa, lengkap dengan wajah ayunya.


Meski terlihat jelas tubuh gadis itu tidak semenarik wanita pada umumnya. Tapi, Lula memiliki pesona sendiri yang semakin lama dilihat, maka pria itu tak akan cepat merasa bosan.


“Lula, masih ingat Om, enggak?!” Seseorang dengan jaket kulit yang terlihat begitu modis, bertanya pada Lula.


Jangan harap debaran jantung Frans mereda, dia semakin tak kuasa menahan rasa cemburunya.


Sedangkan gadis itu, terlihat diam memikirkan, wajah Lula yang seperti itu membuat teman-teman ayahnya merasa gemas.


“Rain, pengen kujadikan menantu boleh, nggak. Tapi sayang oey anakku baru 13 tahun. Nanti jatuhnya jadi bronies.”


“Enggak, enak aja!” Rainer menolak tegas.


Lula tersenyum tanpa dosa. Tanpa sadar jika tanggapannya itu memancing emosi sang suami, yang berdiri sepuluh meter darinya.


“Ingat nggak sih Lula?!” pria itu kembali melemparkan pertanyaan.


“Ingat, dong! Ini om Apid, kan?” Lula menjawab yakin, sebab cuma dia selalu menghubungi ayah selain Daddy Frans. Konon saat duduk di bangku SMA mereka selalu bersama.


“Ih, Rain! Kamu cerita apa saja ke Lula?!” protes David, bisa-bisa Lula menyebut nama panggilan eyang Ano untuknya.


“Yang jelas bukan cerita keemesuuman Lo yang selevel sama Frans!”


Lula terkekeh mendengar sang ayah menyebut nama menantunya dengan geram. Mendadak Lula kepikiran, apa jadinya jika dia mengumumkan hubungan pernikahannya dengan Daddy Frans? Pasti gempar.


Frans yang sedari tadi menyaksikan kini turut bergabung. Seketika perhatian mereka berpindah ke arah Frans.


“Kita tampilkan jomblo paten abad ini!” seseorang memberi sambutan, penuh dramatis yang memancing gelak tawa orang sekitar, termasuk Lula yang terbahak sembari menutup mulutnya dengan tangan.


“Eh, jangan gitu!” seseorang menasehati, dengan nada menghina. “Rain, anak Lo berapa?” tanyanya kemudian.


“Oteewe tiga, dong!” kata Rainer penuh percaya diri.


“Kamu berapa, Vid?!” berganti pada David yang berdiri di samping Lula.


“Dua.” David menjawab singkat.


“Kamu Jack?”


“Tiga.”


“Gue empat. Aldo anaknya tiga! Nah ini 40 tahun masih jomblo!” candaan mereka semakin menjadi. Tak peduli dengan wajah Frans yang berubah masam.


“Kalau jomblonya kaya Daddy, pasti cepat lakunya! Bener, kan, Dad?!” Lula turut membela.


“Bener!” Frans menyahut penuh semangat.


“Yang penting kamu jangan mau ya, Lula ... Sekalipun Daddy mu ini kaya raya. Jangan sampai kamu kepincut buat jadi sugar baby-nya.”


“Lula juga nggak mau, Om! Niat Lula kan jadi istrinya bukan jadi sugar baby-nya!”


“Wadidaw! Payah nih anak lu Rain!”


“Udah biarin saja, lebih baik kita nyari minum!” Rainer menyela, tak ingin mereka menyadari hubungan mereka yang sesungguhnya. Rainer membawa mereka berlalu, membiarkan Frans mengurusi putrinya. Setelah ini, pasti Frans akan memujiku, karena sudah begitu pengertian dengan nasib Lula dan dirinya. Pikir Rainer.


“Kenapa datang nggak ngasih kabar?” tanya Frans masih dengan jarak yang sama seperti saat ada rekannya.


“Mau ngasih kejutan sama, Daddy.” Lula menjawab polos.


“Daddy cemburu ya? Cie-cie, cemburu! Wajahnya merah tuh, kaya tomat!” goda Lula. Membuat Frans semakin kesal.


“Mana ada sih cemburu. Kaya ABG lagi pacaran saja. Kita kan menikah! mau kamu se-ganjen apapun dengan mereka, nyatanya juga dia nggak bisa milikin kamu!”


“Daddy percaya nggak sama Lula?”


“Percaya, kalau kamu cinta aku!”


Lula tersenyum cerah. “Udah sana, Lula mau ambil makanan.”


“Enggak mau aku temani?” tawar Frans.


“Enggak. Lula udah gede, udah bisa ambil sendiri.”


“Okay. Hati-hati, telepon Daddy kalau ada apa-apa.” Frans melanjutkan menemui rekannya, meninggalkan Lula sendirian.


Lula melangkah mendekati meja panjang yang berisi sajian makan malam. Pertama kali yang diserbu adalah minuman. Lula mengambil jus orange yang disediakan di sana, sambil mengamati kue apa saja yang tersaji.


Baru saja Lula memasukan kue ke mulutnya, terdengar suara panggilan menyapa pendengaran. Beruntung saja Lula bisa mengendalikan lidahnya, jika tidak pasti tersedak kue talam yang baru saja masuk.


“Ih, Tante! Ngagetin Lula deh!” protes Lula dengan mulut penuh kue.


Wanita itu tersenyum simpul. “Gimana kabar kamu Lula?”


“Alhamdulillah, sehat.” Tentu saja Lula mengeluarkan senyum yang biasa ditampilkan, menunjukan rasa bahagia yang sedang melingkupi hatinya.


“Wah, syukurlah. Tapi gimana rasanya tidak diakui?”


“Maksud Tante Secil apa?”


“Semua tamu undangan yang hadir, bahkan tidak ada yang tahu kamu istrinya Frans.”


“Masalahnya di mana? Memang belum saatnya mereka tahu.”


Jawaban Lula memancing tawa Priscilla. “Kau tahu artinya apa?”


Lula tidak merespon, seakan memberi ruang wanita itu untuk menjelaskan padanya.


“Itu artinya selamanya dia tidak akan serius dengan pernikahanmu.”


“Ya, itu terserah kami. Dan lagi mau serius atau tidak, lagian tidak ada hubungannya sama Tante.”


“Jelas ADA! DIA MASIH CINTA SAMA AKU. Kamu tidak ingat perjanjian dengan Levin? Kau pura-pura lupa?!” kata Priscilla semakin menggebu-gebu memancing amarah Lula.


Jelas saja Lula ingat. Tapi, Daddy tidak akan menuruti permintaan mereka. Kalaupun aku hamil, kita akan merawat bersama. Pikir Lula, meyakinkan diri.


“Cepatlah hamil, dan melahirkan! Supaya Frans segera kembali ke pelukanku!”


“Itu tidak akan terjadi Tante!” Lula menyahut dengan nada marah.


Priscilla justru merasa senang melihat ekspresi Lula saat ini. Kakinya melangkah lagi mendekati Lula, lalu berbisik di samping telinga gadis itu. “Kamu sudah hapal, kan? Frans itu sangat suka kalau aku di atas tubuhnya. Lakukan gerakan memutar lalu masukan dengan kasar dan dalam. Kamu akan mendengar jeriitannya yang begitu sensuaal.”


Tentu saja Lula marah, dia benar-benar membayangkan apa yang dikatakan Priscilla, tapi yang melakukan bukan dia, melainkan wanita itu.


“Kau tahu itu namanya gaya apa? sini aku beritahu ... Women on top!”