
Wajah Frans sampai pucat setelah berhasil merebahkan tubuh Lula di ranjang ruang IGD. Tangannya bergetar hebat melihat Lula yang pingsan, kini sedang ditangani oleh dokter jaga. Rasa bersalah menyelinap; bisa-bisanya dia mengabaikan Lula yang merintih kesakitan sedari tadi.
"Pak Frans tunggu di luar ya!" minta seorang perawat. "Biarkan dokter memeriksa kondisi mbak Lula." perawat itu menjelaskan supaya Frans lekas keluar dari ruang IGD.
Tidak ingin menghambat kinerja tenaga medis, Frans pun menurut. Dia melangkah gontai menuju kursi tunggu yang ada di depan ruang IGD. Sungguh dia tidak bisa memaafkan dirinya sendiri apabila terjadi hal-hal buruk dengan Lula. Gumpalan-gumpalan darah yang mengotori lantai kamar mandi, mendadak melintas dalam pikirannya.
Sebenarnya apa yang terjadi? kenapa tiba-tiba pendarahan, atau—dia hanya datang bulan biasa. Pikirannya terus memikirkan hal-hal buruk. Kalau sampai benar Lula pendarahan, itu artinya dia hamil. Lalu—kenapa Lula tidak memberitahuku?
Kepala Frans rasanya mau pecah memikirkan hal itu. Tunggu! tunggu! tunggu! sampai Lula sadar dan dia harus menjelaskan kepadaku. Frans sebisa mungkin menenangkan diri. Dia mengambil duduk, seraya menunggu dokter yang tengah memeriksa kondisi Lula keluar dari ruang IGD.
Ramones Hospital sudah terlihat sepi, mengingat ini sudah lewat dari pukul 9 malam. Rainer juga dipastikan sudah pulang ke rumahnya. Frans bingung harus berbuat apa saat ini, sebelum menanti penjelasan dari dokter.
Namun, mendengar dokter meminta seorang perawat untuk memanggilkan dokter kandungan, feeling-nya sudah tidak baik. Frans kembali masuk ke ruang IGD, dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Lula. "Pak Frans, silakan keluar dulu!" usir seorang perawat yang masih berjaga.
"Aku mau melihat kondisi Lula!" paksa Frans yang ingin menerobos masuk melewati perawat.
"Mohon maaf, Pak! Silakan tunggu di luar dulu, dokter sedang memeriksa kondisi mbak Lula. Dan kita harus mengabari pak Rainer perihal ini."
Frans berhenti memberontak, dia mengernyit saat mendengar sekilas penjelasan perawat. "Kenapa harus Rainer?!" Sarkasnya.
"Dia walinya Lula, Pak! Beliau yang bertanggungjawab atas kesehatan Lula saat ini."
Frans emosi, dia menarik kerah seragam hijau yang dipakai perawat itu. "Kenapa harus Rainer, AKU SUAMINYA!" Niat hati ingin dilibatkan dalam setiap apa yang dialami Lula saat ini, akan tetapi pria itu lupa jika mereka masih menjalin ikatan tersembunyi.
Perawat di depan Frans justru mengernyit bingung, membuat Frans langsung salah tingkah saat menyadari dia salah bicara. Dia langsung menjauhkan tangannya dari seragam hijau yang dikenakan perawat.
"Jadi, apa yang terjadi dengan Lula?" tanya Frans setelah mampu menahan diri supaya tidak marah.
"Begini, Pak. Mbak Lula mengalami pendarahan, kita butuh dampingan dokter kandungan untuk memeriksa rahimnya apakah sudah bersih atau belum."
Frans memejamkan mata erat, tangannya menjambak rambutnya kuat-kuat, kesal, marah, kecewa kini bercampur menjadi satu. Dia sama sekali tidak tahu kalau Lula hamil. Kenapa gadis itu tidak memberitahunya! Astaga Lula! pria itu meninju udara kosong di depannya.
Frans benar-benar murka saat ini. Namun, saat kakinya melangkah berniat mendekati bilik yang ditempati Lula. Dia bisa mendengar istrinya itu tengah berbicara dengan salah seorang perawat yang juga tengah bertugas.
"Jadi saya keguguran, Mbak?" tanya Lula dengan suara bergetar.
"Kok bisa, sih, Mbak. Perasaan, aku enggak hamil."
"Bukan tidak hamil, Mbak. Mungkin karena usianya masih kecil, jadi mbak Lula belum menyadari."
Penjelasan perawat yang cukup singkat itu membuat Frans lega. Tapi jika Lula lebih smart, harusnya dia menyadari kalau sedang telat datang bulan. Apalagi mereka pernah melakukan hubungan intim, harusnya Lula lebih waspada. Astaga! emosi Frans kembali memuncak memikirkan hal itu. Tapi saat dia hendak meluapkan amarahnya terhadap Lula. Pintu ruangan terbuka lebar, sosok mertua sekaligus sahabatnya muncul dengan wajah panik.
Rupanya, Rainer masih berada di rumah sakit, sepertinya baru selesai melakukan operasi sesar terhadap pasiennya.
"Apa yang terjadi?"
"Kata perawat Lula pendarahan." Frans menjawab singkat.
"Pendarahan? kok bisa?"
Jangankan Rainer, Frans sendiri yang tinggal satu atap tidak tahu kenapa Lula bisa pendarahan.
Saat tirai disingkap oleh Rainer, sedetik kemudian terdengar suara tangis Lula. Perempuan itu menangis sejadi-jadinya, sambil memeluk tubuh ayahnya.
Sekejap kemudian Frans menyadari satu hal, yang dibutuhkan Lula saat ini adalah pelukan. Bukan makian yang akan menghakiminya.
"Udah tidak papa!" hibur Rainer, berusaha meredakan tangis Lula.
"Tapi sakit, Ayah ... perutku sakit banget!" adunya diiringi rengekan kecil.
"Kalau begitu nanti ayah suntikan pereda nyeri!"
Kini Frans menyadari, sebagai suami dia masih banyak kekurangan. Dan apa niatnya tadi? memaki Lula?! Bahkan Lula saat ini sedang kehilangan calon anak pertama mereka, dia bersedih. Tapi Lula jauh lebih bersedih saat ini.
"Udah-udah, yang ikhlas ya—kan, kakak enggak tahu kalau sedang hamil!" Rainer berusaha menenangkan putrinya, mengusap surai hitam milik Lula.
Hingga, ketika Frans bergabung bersama mereka. Tangis Lula layaknya hujan yang tiba-tiba berhenti. Gadis itu justru memaksakan senyum ke arahnya. "Daddy, panik ya? ah, maafin Lula ya... tapi sekarang Lula udah baik-baik saja kok."
Dadanya semakin nyeri ketika mendengar Lula mengucapkan itu. Apakah dia harus pura-pura tidak tahu? Setidaknya Lula tidak akan menangis lagi untuk sementara waktu.