Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Membengkak



“Kakak, kenapa kakak tidak pulang sih, kenapa main sama Om Frans nya lama sekali!” rengek Ben seraya menghambur memeluk Lula. Rupanya bocah itu merasa kehilangan akan sosok Lula.


Pelukan Ben membuat Lula membeku, begitulah mereka, jika dekat seperti Tom and Jerry. Jika, berjauhan tidak dipungkiri, Lula juga merindukan gangguan bocah itu, cerewetnya, usilnya, dan tawanya.


“Kakak tidak pulang. Kakak betah di sini!” Lula menjawab sambil membalas pelukan Ben. Membuat bocah laki-laki itu langsung melirik ke arah Frans.


“Om, kapan kakakku dikembalikan?! jangan lama-lama Ben kesepian tau!” menuntut Frans dengan wajah kesal. “Aku kesepian loh, Om beneran enggak ada yang dijahili!” keluhnya, dengan dramatis.


“Minta teman baru aja sama ayahmu! Pasti dengan senang hati ayah Rainer akan buatin Ben teman baru. Kakak Lula mah udah kontrak mati sama Om Frans.”


Rainer yang tengah membongkar koper dengan sang istri, melirik tajam ke arah Frans. Mereka sedang mengeluarkan oleh-oleh dari semarang, untuk siapa lagi kalau bukan untuk Lula, yang katanya meminta baju banyak. "Racun, Lo, ya!" sembur Rainer memaki menantunya.


“Duduk dulu, pasti kamu capek, kan? Kakak buatkan minuman dulu untuk ayah bunda.” Lula menuntun Ben supaya duduk di sofa.


“Nggak usah nanti biar bunda ambil sendiri! Anggap saja ini rumah bunda sendiri.” Rasanya aneh saja saat Frans memanggil Zahira dengan sebutan Bunda. Tidak pernah terbayangkan sedikitpun jika sahabatnya akan jadi mertuanya.


“Mendingan kamu duduk! Bongkar itu oleh-oleh untukmu,” timpal Rainer, menunjuk koper yang baru saja dibongkar isinya.


Lula terlihat antusias mendekati tumpukan pakaian baru yang diberikan bunda Zahira. Dia membuka satu-persatu, terlihat senang sekali karena sang bunda membelikan pakaian lebih dari sepuluh potong.


“Bunda nambah biasa bagasi pesawat dong! Ini banyak banget loh, Bun.” Lula kembali takjub saat Zahira membuka lagi koper satunya.


“Kamu pikir ayah miskin, masak bayar bagasi aja nggak mampu?” cibir Rainer melirik ke arah Frans.


Tidak ada yang merespon ucapan Rainer. Frans yang sudah duduk di kursi justru acuh, menawari Ben camilan ringan yang ada di atas meja.


“Kak, perasaan kemarin Bunda bawain kamu baju, lumayan banyak, emang ke mana aja tuh baju?”


“Kamu sobekin ya? kasar banget mainnya?!” cibir Rainer, pandangan menuduhnya semakin tajam ke arah Frans.


Sedangkan Frans merasa kesal sendiri. Pertama, tuduhan itu, dia tidak pernah menyobek pakaian Lula. Kedua, kenapa Lula tidak meminta pakaian padanya, seakan-akan menganggap dirinya pria miskin yang tidak mampu membelikan pakaian untuknya. Tidakkah dia tahu, kalau pakaian bagus termasuk salah satu kewajiban seorang suami terhadap istrinya.


“Udah pada nggak muat, Bunda. Tahu sendiri sejak pisah dari Bunda, tubuh Lula membengkak.”


“Membengkak apanya? Yang ada tambah kurus, iyah!” timpal Rainer dengan nada mengejek. Sedangkan Frans hanya menahan kesal di balik senyum palsu yang kini ditunjukan.


“Bunda sama Ayah nggak akan langsung pulang, kan? Bersantai lah dulu di sini, sekali-kali ngumpul kan tidak apa-apa.”


Ucapan Lula justru berbanding terbalik dengan Frans, pria justru ingin mereka segera pergi.


“Sepertinya begitu, Lula! Bunda capek banget. Badan bunda pegal semua.” Zahira mengeluh seraya mengambil duduk di samping Rainer. “Bunda boleh kan, numpang istirahat, setidaknya sampai lelah bunda mereda,” minta Zahira.


“Tentu saja boleh, masuk saja ke kamar tamu.” Lula menunjuk ke arah kamarnya. Sebelum membuka pintu untuk kedua orang tuanya. Dia sudah sepakat dengan Frans, untuk sementara mereka akan tidur bersama di lantai atas sampai kedua orang tuanya kembali pulang.


“Terima kasih.” Zahira mengambil paperbag bertuliskan brand ternama. Lalu menyerahkannya pada Lula. “Spesial untuk kalian!” ucap Zahira sambil tersenyum cerah. Lula yang penasaran begitu antusias meraih benda itu, lalu membukanya dengan penuh semangat, hingga gerakannya melambat saat melihat seutas tali dari pakaian yang lebih mirip dengan jaring itu.


“Ya. kamu pasti se-xy banget pakai itu.” Zahira berkata pelan seraya melirik ke arah Ben Sagara.


Lula membentangkan pakaian itu, menatapnya dengan mata menyipit sambil melirik bagaimanakah respon suaminya saat ini. Dan benar adanya, pria itu kesusahan meneguk air liurnya. Tingkah Frans saat ini memancing ide gila di kepala Lula. Dia akan membuat suaminya bertekuk lutut padanya.


“Itu baju atau jaring ikan kak? Kata bunda itu mahal. Tapi kalau mahal kenapa mirip jaring-jaring. Ben aja ogah ngelihat baju gituan, kurang bahan.”


“Ya, ini yang mahal bukan jaringnya, tapi isinya yang memakai.” Lula menjawab reaksi yang ditunjukan Ben saat melihat pakaian itu.


“Eh, tunggu. Bunda juga punya banyak baju kaya gitu. Di lemari besar! Iya, kan, Bun?”


Zahira tidak menjawab, malu dengan menantunya saat ketangkap basah mengoleksi baju dinas malamnya.


“Ya. Koleksi bunda sudah satu lemari. Setiap hari ayah membelikan untuknya. Sampai bingung mau makai yang mana.”


"Tapi Ben nggak pernah lihat bunda pakai baju gituan."


"Ben, tolong ambilkan bunda minum sayang, haus!" Zahira buru-buru menyela. Dia tidak ingin Rainer lebih dalam lagi membahas perkara baju jaring itu.


Frans yang tersindir hanya diam. Dalam hatinya terus mengumpat.


“Lebih baik kamu menyimpannya dulu ke kamar, sebelum Ben semakin protes lagi dengan pakaian-pakaian ini!” perintah Zahira setelah Ben menjauh dari ruang tengah. Dia paham sifat Ben, bocah itu tidak akan berhenti bertanya jika apa yang membuatnya penasaran belum terjawab sempurna.


“Baiklah, terima kasih sudah membelikan aku pakaian sebanyak ini,” kata Lula, sembari membawa tumpukan pakaian barunya ke pelukan.


Frans yang melihat Lula kesusahan turut membantu gadis itu, membawanya lebih dulu ke lantai dua, tepatnya di dalam kamarnya.


Kini tinggal mereka berdua yang berada di ruangan itu. Lula, terlihat kebingungan hendak meletakan pakaian itu di mana. “Enaknya taruh mana ini, Dad?” tanya Lula.


“Ikuti aku!” perintah Frans, setelah berhasil mengunci pintu kamar. Pria itu melangkah lebih dulu, menuju salah satu ruang yang ada di sudut kamar, Lula segera mengekori langkah Frans.


Saat pintu terbuka lebar, Lula mendapati sebuah ruangan yang terdapat banyak kaca. Rupanya itu bukan kaca sembarangan, jika digeser akan memperlihatkan koleksi pakaian milik Daddy Frans.


Lula pernah melihat walk in closet milik sang bunda. Tapi milik suaminya jauh lebih mewah ketimbang milik bunda. Lula menghentikan langkahnya saat mendapati koleksi tas dan sepatu di balik lemari berkaca transparan.


Pandangannya terpaku pada aneka merk tas di sana. Semuanya terlihat mahal, mungkin Lula tidak bisa menafsir berapa harga satu tas itu. Lula berusaha menghitung jumlah tas yang terlihat. Namun dalam hitungan ke sembilan panggilan Frans yang kini berada di balik lemari menggema, meminta Lula untuk mendekat.


“Letakan di sini!” perintahnya sembari membuka lemari.


Seiring Lula meletakan tumpukan pakaian itu. Frans berusaha keras meredam amarah yang menyerang, dia lekas menahan lengan Lula, saat wanita itu hendak berlalu.


“Kenapa tidak meminta Daddy?” protes Frans, jujur dia merasa harga dirinya terinjak-injak saat melihat bagaimana cara Lula menerima baju pemberian mertuanya. Seakan-akan dia tidak mampu membelikannya.


Padahal dia jauh lebih mampu hanya untuk sekedar membelikan baju. Kenapa Lula tidak jujur? Kenapa dia tidak mengatakan padanya, jika butuh pakaian? Apa sebegitu jauhnya jarak mereka hingga dia tidak tahu apa yang dibutuhkan Lula? Batasan apa ini, bukankah mereka pasangan? Tiba-tiba perasaan menuntut itu timbul dalam benak Frans dia tidak terima jika Lula terus tergantung pada Rainer. Dia tidak ingin dicap menantu tidak bertanggung jawab!