Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Lula Tahu



Lula dipaksa siap tentang apapun yang akan diputuskan suaminya, saat nanti Frans kembali ke Jakarta. Untuk saat ini, dia memilih berpura-pura tidak tahu, ke mana perginya pria itu. Lebih baik dia bersikap seperti biasa, supaya tidak memberatkan pria itu untuk mengambil keputusan.


Kini Lula sudah duduk di kursi besi, tak jauh dari kamar Bougenville. Siap mendengarkan apapun yang hendak dikatakan pria itu. “Wah, wah, wah bagus ya! setelah pergi tanpa pamit. Sekarang daddy baru ingat sama Lula!” Dia berbicara dengan intonasi merajuk, meski sebenarnya hatinya benar-benar marah dengan suaminya.


Sedangkan pria di seberang hanya bisa menahan tawa, terdengar jelas saat pria itu bersuara. “Maaf, kalau Daddy pamit kamu juga nggak bakalan ngizinin Daddy pergi. Atau yang ada kamu akan ikut dan ganggu kegiatan daddy di sini."


Frans seperti ingat tujuannya menelepon Lula. "Kamu tidak tidur di rumah? tadi Ibnu melapor, saat menjemputmu ke rumah, dia tidak bisa bertemu denganmu.”


“Memang tidak! Aku memang tidak sedang di rumah. Aku sengaja menginap di rumah kakek.” Lula menyahut dengan lembut. “Daddy!”


“Ya? kenapa? mau minta oleh-oleh?” tebak Frans.


“Emang sekarang daddy di mana?” meski Lula tahu keberadaan pria itu, tapi dia ingin tahu sejauh mana Frans mau jujur padanya.


“Banyak pekerjaan yang harus daddy selesaikan di sini. Dan semuanya mendadak, karena itu kemarin Daddy juga tidak sempat berpamitan padamu.”


Kenapa nggak nyebutin nama tempat saja? Menyebalkan sekali jawaban nya malah muter-muter. pikir Lula. “Owh, memangnya berapa lama Daddy di sana?”


Tak ada suara setelah beberapa detik terlewati. Lula pun memutuskan untuk kembali bersuara. “Untuk sementara, karena Daddy tidak ada di rumah, biarkan Lula berada di rumah Kakek Ken. Di rumah sebesar itu, Lula merasa kesepian,” ungkap Lula.


“Lula, jangan beralasan deh! di rumah itu ada anaknya bu Juned, yang aku tugaskan menemanimu. Kamu tidak akan kesepian.”


“Daddy pengin aku kembali ke rumah itu?” tanya Lula, merasa kesal saja dengan keputusan Frans yang seenak jidatnya sendiri itu.


“Ya.”


“Okay. Nanti aku akan kembali pulang.” Lula mengalah, bagaimana pun statusnya masih sebagai istri dari Frans, jadi sudah sepantasnya dia menurut dengan pria itu. “Apa sudah bicaranya, Dad?!”


“Kamu mau pergi?”


“Em, tidak juga. Di dalam banyak orang. Aku tidak mungkin bisa pergi.” Lula mengingat kondisi di dalam ruangan.


“Kalau begitu, kenapa tidak mengobrol denganku saja?”


Lula menahan tawa, dia hanya tidak ingin kehadirannya menjadi sebuah kesalahan di mata orang lain. "Kehadiranku, sepertinya tidak sepenting itu deh!" balas Lula.


“Begitu? Memangnya kamu nggak kangen sama Daddy? Aku aja kangen sama radio hidupku.”


“Bisa aja ih, Daddy!” sedikit menggelikan dengan sebutan untuknya.


“Iya, Daddy serius. Beruntung besok pagi Daddy sudah pulang. Jadi bisa deh dikit-dikit terobati.”


“Jadi besok pagi Daddy kembali ke Jakarta?”


“Iya. Mungkin besok siang Daddy yang akan menjemputmu ke sekolah.”


Lula berharap pria itu tidak akan membohonginya. “Baiklah, Lula akan menunggumu, Dad.”


Karena memang tidak ada hal penting yang ingin disampaikan. Lula pun memilih untuk mengakhiri panggilan itu, meski pria itu menahan tapi saat Lula menjelaskan jika saat ini dia menggunakan ponsel sang ayah, akhirnya Frans mengalah, dan membiarkan Lula mematikan panggilannya.


Lula tidak langsung kembali masuk ke ruangan bunda Zahira, dia memilih duduk di kursi menunggu perasaaanya tenang terlebih dahulu. Namun yang terjadi justru argumen-argumen barulah yang kini muncul di kepalanya.


“Kenapa dia tidak mengakhiri sekarang saja, sih? Kakek juga sudah tahu, tentang hubungan kami, rasanya tidak ada lagi yang perlu aku nantikan.” Lula berdecak kesal, dia sepertinya semakin tersiksa dengan spekulasi yang muncul di kepalanya. Entah akan berakhir sampai kapan, yang jelas untuk saat ini dia sudah siap untuk mengakhirinya.


Sedangkan di tempat lain, Frans yang kini berada di kamar hotel, tak mampu berkonsentrasi penuh pada layar laptopnya.


Sejak sampai di Singapura hingga saat ini. Frans belum bisa bertemu dengan Priscilla, dan rencananya nanti malam dia baru bisa menemui gadis itu. Berharap saat makan malam nanti. Priscilla datang dengan kekasih barunya, supaya tidak ada yang salah paham dengan pertemuan mereka nanti malam.


“Aneh sekali dia? Kenapa suaranya terdengar judes begitu? Marah karena aku pergi tanpa pamit? aneh!” gumam Frans, merasa tidak nyaman saat ucapan Lula seperti terngiang-ngiang dalam kepalanya.


Karena penasarannya, Frans memilih menghubungi Ibnu. Tak perlu menunggu lama, panggilannya langsung diterima oleh pria itu.


“Apa ada masalah perihal pekerjaan, Pak?” tanya Ibnu menyambut sapaan Frans.


Frans berdehem, dia tidak ingin terlihat begitu peduli dengan Lula saat ini. Tapi sayangnya, dia tidak menemukan kalimat yang pas untuk menyangkal atau bertanya kepada Ibnu.


“Bukan masalah kantor sih.” Frans menimbang lagi keputusannya, berharap Ibnu tak menghujat dirinya saat tahu jika dia mulai peduli dengan Lula. “Apa Lula tahu keberadaan ku saat ini?” pertanyaan itu akhirnya meledak dari bibir Frans.


“Ya, nona kecil tahu kalau bapak sedang berada di Singapura. Bahkan, dia tahu kalau bapak menemui nona Priscilla.”


Keterangan Ibnu membuat darah Frans mendidih. Sekarang dia cukup tahu arti sikap Lula tadi. “KAU YANG NGASIH TAU KE LULA?!” sarkasnya, wajahnya terlihat murka, dia tidak tahu apa yang dipikirkan Lula saat ini tentangnya


“A… sa—bukan saya, Pak! Saya juga kaget saat mendengar pengakuan nona kecil yang tahu keberadaan Bapak saat ini.” Pria di seberang tergagap, tahu benar kalau saat ini atasannya tengah dilanda emosi.


“Sialan? Apa Rainer yang ngasih tahu ke Lula? Jelas-jelas dia sendiri yang meminta merahasiakan ini dari Lula! kurang ngajar, Lo Rai!” setelah mengomel-ngomel tak jelas, Frans tiba-tiba saja memutus panggilannya. Tanpa menjelaskan apa yang hendak dilakukan Ibnu.


Pikiran Frans mulai carut marut, kenapa juga Lula bertanya, jika dia tahu tentang keberadaanya saat ini? Apa jangan-jangan dia sedang menguji kejujuranku? Astaga pasti dia salah paham. Pikir Frans berbagai pertanyaan mulai muncul di kepalanya.


Frans ingin menghubungi Lula lagi, tapi mengingat ponsel gadis itu tidak berada dalam genggaman, dia memutuskan untuk menghentikan niatnya. Dia tidak ingin menghubungi Lula melalui ponsel Rainer lagi. Khawatir pria itu akan curiga tentang keberadaanya saat ini.


Frans hanya bisa berharap waktu akan segera berjalan, supaya bisa menjelaskan semua ini pada Lula.