Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Keputusan



“Mau Lo apa sih, Frans!” sela Rainer, merasa tersakiti saat mendengar pengakuan Frans malam ini. Sebenarnya dia sudah mencurigai, sejak kedatangannya malam itu. Tapi, kesibukan telah menyita habis waktunya, hingga melupakan segala informasi apapun tentang keadaan Lula.


“Lo bilang ke gue mau nglupain semuanya. Nyatanya apa?!” Rainer beranjak dari sofa, meraih lengan Lula. "kita pulang, Lula!" ajak Rainer. “Eyang … maafkan aku yang mengambil paksa Lula! Dia kami besarkan bukan untuk disakiti. Rasanya aku ikut tersakiti, mendengar pengakuan cucumu!” sangking kesalnya dengan Frans, Rainer sampai tak mengedepankan adab nya saat berbicara dengan Eyang Ano.


Wanita itu tak berkutik, hanya satu tarikan napas dalam tampak ia lakukan. Dia tidak berhak campur sekarang karena sikap Frans sudah salah. Dan dia tidak ingin menahan Lula untuk tinggal dengan pria yang tidak mencintainya.


“Rain!” Frans berusaha mencegah. “Aku belum selesai menjelaskan! Coba dengarkan dari sudut pandang ku! setelah itu kalian bisa memutuskannya!”


Tatapan memohon yang tunjukan Frans meruntuhkan kekesalan Rainer. Perlahan cekalan tangannya di lengan Lula mengendur. Tidak baik juga dia mendengar penjelasan hanya dari satu pihak. Lebih baik, ikut mendengarkan dari sudut pandang Frans.


"Apa yang akan Daddy katakan?! itu sama sekali tak akan merubah keputusanku!"


"Terserah!" sahut Frans.


Tiba-tiba saja, sebuah dompet melayang ke pangkuan Lula. Tidak kasar hanya saja sedikit mengejutkan Lula yang sedang menunduk memainkan jari-jarinya.


“Tunjukan, di mana kamu menemukan foto Priscilla!” Frans jauh lebih tenang dari semua orang yang berada di dalam ruangan. “Tunjukan pada mereka foto yang kamu maksud!” pesannya pada Lula.


Dengan semangat tangan Lula mencari keberadaan foto tante Priscilla, mengeluarkan isi dompet milik suaminya. Gerakan tangan Lula melambat, saat tak menemukan foto Priscilla.


Mengerti kebingungan Lula, Frans angkat suara. “Semua orang butuh waktu untuk sekedar membuang benda-benda penting di masa lalu!” kata Frans menjelaskan.


Lula mulai memahami, usia pernikahannya baru satu bulan lebih beberapa hari. Apalagi Daddy sangat mencintai tante Priscilla pasti berat meski pada akhirnya pria itu membuang selembar foto yang ada di dalam dompet.


“Termasuk juga barang-barang di lemari itu! Dulu mungkin aku menyediakannya untuk Cesil! Andai aku tahu pernikahan ku dengannya akan batal, aku tidak akan mengisi lemari itu dengan pakaian ukuran tubuhnya! Maaf kalau itu membuatmu cembur—


“TIDAK! Lula tidak cemburu!” sela Lula, tegas. Menolak cemburu dalam bentuk apapun.


“Kamu cemburu! Kamu harus nyadar perasaanmu, Lula!” Frans mengingatkan.


Lula bungkam, kepalanya menunduk, pikirannya berkeliaran, membisikan hatinya jika dia sama sekali tidak cemburu dengan perhatian Frans untuk Priscilla.


“Dan terakhir, benar! Aku memang ke Singapura. Tapi tujuanku bukan untuk membawa Priscilla kembali ke Indonesia! Aku hanya berniat sehari saja menemuinya." Frans menarik napas dalam-dalam. "Dan niatku baik, kok? Aku cuma ingin menanyakan; em, maksudku, aku hanya ingin tahu apa yang dia lakukan pada Lula! Kejadian malam itu, saat Lula dilanda demam tinggi, aku merasa itu ada yang salah, dan KAMU!” Frans menoleh ke arah Rainer. “Karena kamu tidak mau memberitahuku, aku yang berniat menanyakan sendiri pada pelakunya?”


“Sudah! sudah! Eyang tidak ingin ada perdebatan di sini!" lerai eyang Ano, saat melihat Rainer dan Frans mulai adu pandang. "Eyang merasa, dari awal hubungan pernikahan ini sudah salah! sekalipun Eyang ingin sekali melihat Frans bahagia dengan pasangannya, jika itu memang tidak bisa diwujudkan Frans, itu tidak masalah. Eyang sudah nyerah, dan Eyang tidak ingin memaksa siapapun!” raut frustasi terlihat jelas di wajah Eyang Ano saat ini. "Hati tidak bisa dipaksakan!"


“Frans, kalau kebahagiaan mu adalah dengan kembali pada Pecil! Terserah kamu!” Eyang Ano beralih menatap Lula lekat, menepuk pundak Lula berulangkali. “Maafkan tingkah Frans, Sayang. Mulai malam ini, Eyang membebaskanmu untuk menentukan pilihan.”


Lula mengangguk lemah. “Lula tetap pengen pulang, Eyang! Pulang ke rumah ayah. Ma—maaf, kalau keputusan Lula sudah final.”


Eyang Ano menggeleng pelan. “Tidak perlu minta maaf, kamu yang sudah tersakiti di sini!” Eyang Ano mengamati Frans lekat seraya mengatakan, “Frans akan mengurus perceraiannya. Kamu tinggal duduk di rumah, Eyang pastikan tidak ada yang tahu tentang statusmu, kecuali calon suamimu kelak. Eyang akan berdoa untuk kebahagiaanmu, Lula! dapat pria yang mencintaimu dengan tulus tanpa mengharapkan balasan darimu!”


“Eyang!” Frans berusaha menahan apapun rencana Eyang Ano. Sayangnya wanita itu tidak mempedulikan panggilan Frans. Dia masih terlihat marah sekali saat ini.


Sementara itu, Lula mulai beranjak dari posisinya. Dia mencium tangan Eyang Ano. “Lula pamit, Eyang. Maaf kalau Lula banyak salah sama Eyang!"


Lula menatap Rainer, memberi isyarat untuk mengantarnya pulang terlebih dahulu. Mereka meninggalkan ruangan, Rainer memutuskan untuk membawa Lula pulang ke rumahnya sendiri.


Acara peresmian jabatan tetap dilanjutkan, meski tanpa kehadiran Lula. Gadis itu pergi meninggalkan ballroom bersama sang Ayah. Bahkan, tidak peduli dengan seruan Zola yang mengejar langkahnya.


Dalam perjalanan menuju rumah, tidak ada yang berusaha memecah keheningan. Lula menutup bibirnya rapat, begitupun dengan Rainer yang menyadari perasaan Lula saat ini. Sayangnya, hanya bibirnya saja yang berhenti beraktivitas. Dia sedang memikirkan jawaban yang tepat untuk mengakui semuanya di depan Zahira


“Ayah, Lula bingung bagaimana menjelaskan semua ini sama Bunda!” bibir Lula bergetar, jari-jarinya terus bergerak, meredam gelisah. Dia tahu pasti Zahira kecewa sekali dengannya. “Maafkan Lula yang belum bisa membuat kalian bangga! Maafin Lula, Ayah!”


“Lupakan! Lebih baik kita menatap masa depan.” kata Rainer diiringi tawa kecil.


“Ayah, apa kata mereka nanti, usia Lula baru 19 tahun, tapi sudah menjadi janda! Apa akan ada laki-laki yang mau sama Lula nantinya?!” tanya Lula, mengungkapkan ketakutannya.


“Pikiranmu terlalu jauh! Jika pria itu mencintaimu, tentu mereka akan menerima semua bentuk kekurangan dan kelebihanmu!” Rainer pikir, Lula dan Frans sudah melewati malam panas, jadi pasti akan menyulitkan Lula untuk mendapatkan jodoh suami ke duanya.


“Apa hubungan Ayah dan Daddy akan rusak setelah ini?!” tanya Lula, bayangan permusuhan sudah melekat jika mereka berdua saling bertemu.


Meski tidak rusak parah, tapi yang jelas hubungan mereka berdua tidak akan seperti dulu. Tentu saja, karena dia sangat kecewa dengan sikap Frans, pria itu hanya bisa berjanji tetapi tidak ingin menepati. “Kamu tenang saja! kami akan berusaha untuk tetap seperti dulu!”


Lula menganggukkan kepala, berusaha percaya meski hati kecilnya menyangkal.