
Setelah menyelesaikan urusannya dengan mbak Wulan, admin keuangan rumah sakit Ramones. Lula bergegas pulang ke rumah. Dia khawatir, Frans akan lebih dulu tiba di rumah dan bertanya macam-macam padanya.
Kali ini tidak ada pilihan lain, Lula terpaksa naik angkutan umum karena sebelum baterai ponselnya habis dia tidak sempat membuat janji dengan siapapun. Alhasil, tidak ada yang menjemputnya sore ini. Dia seakan lupa dengan larangan Rainer yang tidak memperbolehkannya naik angkutan umum.
Beruntung Lula sudah hapal dengan baik arah jalanan ke rumah Frans. Dia mencari bus yang searah ke rumah pria itu, meski untuk mendapatkannya dia terpaksa harus berjalan sekitar lima ratus meter.
Di dalam bus yang ditumpangi, Lula tampak begitu senang. Di sini dia menemukan fakta baru, tidak semua pencopet di luar sana bisa masuk ke bus. Di dalam bus, ia menyaksikan sendiri, bagaimana pihak transportasi memberikan kenyamanan bagi penumpang perempuan.
Lula juga bisa tahu, bagaimana para penumpang membaur menjadi satu. Mengobrol meski tak saling mengenal. Ini pengalaman baru untuknya, terasa begitu menyenangkan. Entah kenapa melihat ini seakan menyangkal kekhawatiran sang ayah selama ini.
Sayangnya kebahagiaanya lenyap, ketika kaki Lula melangkah melewati pintu gerbang rumah Frans. Rumah mewah dengan tinggi bangunan tiga lantai itu terasa sepi.
"Sudah pulang, Nyonya?" suara itu mengejutkan Lula. Lantaran penjaga keamanan menyapa dari dalam pos.
"Ah, iya, Pak!" jawab Lula. Merasa tidak nyaman Lula lekas berjalan memasuki rumah.
Kondisi setiap ruangan tampak lebih rapi dari sebelum Lula meninggalkannya. Begitupun dengan kamar Lula, aroma levender langsung menyeruak saat tangannya mendorong pintu kamar.
"Pasti Bu Sofia yang beresin." Lula menebak, Bu Sofia adalah ART rumah lama. Rumah yang dulu digunakan untuk menggelar akad nikah.
Lula memutuskan untuk membersihkan tubuhnya, sembari menunggu suaminya pulang. Namun, sampai ia selesai mandi pun, pria itu tak kunjung memperlihatkan batang hidungnya. Lula berusaha menghubungi Frans. Menanyakan keberadaan pria itu.
“Daddy di mana?” tanya Lula saat mendengar suara Frans.
“Masih di kantor.”
“Pulang jam berapa?” tanya Lula, dia melirik ke arah jam dinding, kini sudah pukul enam sore.
“Belum tahu.”
Tanpa bertanya lagi Lula lekas mematikan sambungan teleponnya. Dia kesal, dia benci karena tidak ada siapapun di rumah itu. Tahu begini tadi pergi dulu ke rumah bunda. Setidaknya di sana tidak sesepi ini. Meski pada akhirnya dia juga akan melihat bagaimana mesranya ayah dan bunda.
Lula tidak pernah mengisi waktunya untuk belajar. Dia memilih merebahkan tubuhnya di ranjang, sambil tangannya sibuk menekan layar ponsel.
Tepat pukul 7 malam, Lula mendengar suara mesin mobil milik Frans. Ia berlari mendekat jendela, berusaha mengintip pria itu dari balik gorden. “Beda banget sama ayah. Kalau ayah pulang larut bunda pasti ngomel. Orang kaya memang sesibuk itu ya sampai harus pulang selarut ini?” gumam Lula, mengomentari perilaku Frans yang baru tiba di rumah ketika matahari sudah tenggelam.
“Lula … daddy pulang!” teriak pria itu seraya membuka pintu utama rumah mewah itu.
Bukannya menghampiri Frans, Lula justru melompat ke arah ranjang. Tangannya segera meraih selimut tebal untuk menutupi tubuhnya, memilih pura-pura tidur.
Merasa sudah tertangkap basah, Lula lekas membuka matanya. Dia mengubah posisinya dengan membelakangi Frans. Api amarah masih meracuninya.
“Daddy banyak kerjaan, Lula. Jangan ngambek gitulah!” kata Frans dia mendaratkan cubitan gemas di pipi Lula. Tidak ada respon apapun dari Lula, Frans kembali berbicara. “Ada hal penting yang ingin daddy bicarakan sama kamu. Tapi daddy mandi dulu, ya. Gerah nih! Jangan ngintip! tapi kalau mau mandiin Daddy boleh sih!”
Lula langsung memukul Frans dengan guling yang ada di tangannya. "Manusia Me-sum!"
"Udah ayo keluar, Daddy mau bicara dulu sama kamu!" bujuk Frans seraya menahan guling yang kembali dilempar Lula.
“Soal apa?” tanya Lula penasaran.
“Soal pernikahan kita. Supaya kamu tahu, apa-apa saja yang boleh kamu lakukan!”
“Ngomong aja sekarang.”
“Enggak, daddy harus mandi dulu.”
“Ya sudah, sana! kalau lama bakalan Lula tinggal tidur.”
Frans menggeleng. “Keluarlah, tadi Daddy bawa oleh-oleh untukmu!”
“Oleh-oleh apa?” tanya Lula penasaran, karena tadi ia tidak melihat Frans membawa sesuatu di tangannya.
“Nggak mau kasih tahu, mendingan kamu lihat sendiri.” Frans lekas meninggalkan kamar Lula, berniat untuk membersihkan diri, sebelum kembali menemui Lula.
Sedangkan Lula, lekas menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Dia penasaran, apa yang sudah dibawakan Frans untuknya. Ia berusaha mencari benda apa yang dibeli Frans untuknya.
Saat langkahnya tiba di meja makan, Lula hanya bisa menggeleng pelan mendapati tumpukan sayuran di atas. Tangannya meraih kertas nota di sana.
Nasi gorengmu tadi pagi enak, sayangnya tidak lengkap. Besok bikin lagi ya!
Tepat di bawah jumlah total terdapat tulisan tangan di sana. Lula tertawa remeh. “Dia kira aku asisten rumah tangga, apa?! Aku ini wanita yang harus diratukan bukan dibabukan! Ih, nyebelin!” gumam Lula mengeluarkan makian seolah-olah Frans kini berada di depannya. "Mau makan enak ya beli!" sambungnya.
Namun, ia segera menoleh ke arah Frans yang tengah menuruni anak tangga. Langkah pria itu tergesa-gesa. Wajahnya juga terlihat begitu panik.
"Tidak jadi mandi, Dad?" tanya Lula penasaran.
"Kita harus ke rumah sakit! Pak Ken kena serangan jantung." sangking paniknya Frans sampai lupa jika kini dia sudah menjadi cucu mantu dari pak Ken. Pria yang seharusnya dipanggil Kakek karena dia sudah menikahi Lula.