Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Guru Private



Meski rasanya malas untuk beranjak dari ranjang mengingat ini adalah senin. Lula harus tetap keluar kamar untuk menyiapkan sarapan suaminya. Sesuai perjanjian yang sudah tertulis di pikiran masing-masing. Hak dan kewajiban yang mereka dapatkan harus seimbang. Jika ada yang merasa dirugikan, salah satu dari mereka bisa mengajukan perceraian. Dan Lula belum siap diceraikan oleh suaminya, mengingat sang Kakek yang masih membutuhkan perawatan.


Lula berjalan gontai menuju dapur. Mulai menyiapkan bahan makanan untuk menu sarapan. Saat potongan pertama, tiba-tiba dia merasa dirinya benar-benar dibabukan oleh pria itu. Andai ada ART pasti ada yang bantuin aku memotong sayuran, pikir Lula, meski kesal dia tetap mengerjakan tugasnya.


Tepat ketika jarum jam menunjukan pukul enam pagi, menu sarapan sudah tersaji di atas meja. Aroma masakan begitu menggiurkan ingin rasanya Lula menikmatinya dulu.


Namun, saat teringat dia harus bersiap pergi ke sekolah, ia pun memutuskan untuk masuk ke kamar. Membersihkan diri terlebih dahulu, sebelum mengundang suaminya untuk sarapan bersama.


Biasanya Zahira selalu membantu Lula menyiapkan seragam sekolah. Tapi, di sini, Lula harus menyiapkan semuanya sendiri, membuat waktunya terasa cepat berlalu.


Gadis itu segera keluar kamar meski rambut panjangnya belum sempat diikat. Tiba di meja makan, ia berdecak kesal saat mendapati kursi di sana masih terlihat kosong.


"Aku bisa terlambat sekolah kalau begini terus!" gerutu Lula, seraya menaiki anak tangga menuju lantai dua. Tangannya mengetuk pintu kamar Frans yang masih tertutup rapat. Lula semakin kesal saat pria itu tak segera membuka pintu. Padahal suaranya sudah keras, ia menebak pasti pria itu masih terlelap.


Lula nyaris ingin menyerah, tapi saat ia mulai menjauhkan tubuhnya dari pintu, terdengar engsel pintu ditarik dari dalam kamar.


“Kenapa tidak menyahut? Daddy hobi banget bikin Lula teriak-teriak!” protes Lula, saat netranya menangkap penampilan Frans yang sudah rapi. Itu artinya, pria itu mendengar panggilannya, tapi tidak mau membukakan pintu.


“Lagi males.” Frans menjawab ringan.


“Mau sarapan bareng nggak? Lula keburu telat, Dad?!” Lula berbicara sambil melangkah menjauh dari area kamar Frans.


“Berangkat sama siapa?” tanya Frans mulai mengikuti langkah Lula.


Tepat di ujung tangga, Lula kembali berbalik. Kesal dengan Frans padahal dia duluan yang sudah bertanya.


“Kalau Daddy nggak bisa mengantar, aku akan meminta kekasihku untuk menjemput.” Lula menjawab ringan, lalu melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga.


“Jangan macem-macem ya! Nanti kalau Zola atau Lionel tahu, dan mengadu pada keluargamu. Daddy harus jawab apa? Jadi, mulai hari ini, jaga sikapmu! Ke mana kamu pergi harus buat laporan dan izin dulu, supaya Daddy juga bisa memberikan alasan yang tepat saat salah satu dari mereka menelpon Daddy.”


Zola tahu, dia tahu semuanya! batin Lula, marah.


“Mulai hari ini, Daddy akan mengantarmu sekolah. Paham Lula?” pria itu melangkah mendahului Lula. Dia tergoda dengan aroma masakan yang sepertinya begitu nikmat.


“Terus pulangnya?”


“Kalau Daddy ada waktu, Daddy yang akan menjemputmu. Dan jika Daddy sedang sibuk, mungkin orang kantor.”


“Pulangnya aku naik angkutan umum saja, itu akan lebih baik.” Lula menolak, enggan dijemput dengan orang yang tidak dikenali.


“Boleh, tapi hanya saat daddy tidak bisa menjemputmu sekolah.”


Tiba di meja makan, Frans menarik kursi. Sebenarnya dia ingin menunggu Lula mengambilkan untuknya. Tapi rupanya gadis itu tidak peka. Dia langsung saja mengambil dan menyantap untuk dirinya sendiri.


Pagi ini mereka menikmati sarapan dalam diam. Lula sampai membatin, lama-lama dia bisa saja makan dalam kondisi tidur. Dia yang biasa makan sambil mendengarkan cerita ayah, bunda bahkan Ben. Tiba-tiba dihadapkan dengan pria bisu, rasanya sungguh aneh. Mungkin itu tradisi bawaan dari eyang Ano.


Setelah selesai makan, Lula benar-benar diantar Frans pergi ke sekolah. Kali ini berbeda, saat perjalanan menuju sekolah Frans lebih active bicara.


“Mulai besok Daddy akan mendatangkan guru private untukmu. Kamu pasti bisa kalau mau belajar! Masalah kamu itu cuma satu, kamu itu terlalu malas buka buku.”


“Udah, Dad! Lula tujuh jam di sekolah untuk belajar. Jadi, jangan bilang Lula malas. Daddy, perlu Daddy ketahui, ya! Setiap orang itu memiliki kelebihan dan kekurangan. Ya mungkin Lula memang lemah di akademik. Tapi, kan Lula –


“Lula juga masih menggali apa kelebihan Lula. Tapi yang jelas, Lula cantik versi ayah dan bunda.” Lula menjawab penuh percaya diri yang langsung disambut tawa remeh dari bibir Frans.


“Udah yang penting kamu nurut aja sama Daddy. Kamu pengen kan, orang tuamu bangga? Kamu ingin lihat ayah Rainer tersenyum lebar melihatmu sukses?”


“Ya." Lula mempertegas dengan anggukan kepala. "Tapi ayah selalu tertawa lebar kalau Lula gelitikin jakunnya!” kata Lula polos.


“Astagfirullah ….”


“Eh apa tadi? Tumben Daddy nyebut!”


“Baru ingat.”


"Mudah-mudahan ingat terus ya, Dad!" ucap Lula menggoda suaminya.


“Udah kamu nurut aja! nanti malam akan ada tamu, calon guru privatemu.”


“Tidak bisa, Dad! Daddy lupa nanti malam Lula harus ke rumah Kakek Ken, kan Lula udah janji mau menginap di sana.” Lula berusaha menghindari, dia malas jika waktunya hanya diisi dengan membuka buku.


“Lula itu bisa kapan-kapan.”


“Daddy, Lula kan nggak tahu besok masih hidup atau tidak. Jadi, selagi Lula masih bisa menarik dan membuang napas, tidak apa-apa, kan Lula mendapati janji Lula pada kakek? dukung aku dong!”


“Terus kewajibanmu pada Daddy gimana? Siapa yang akan membuatkan sarapan Daddy?”


“Beli dulu, lah, Dad!”


Frans bungkam, diam-diam otaknya bekerja keras memikirkan cara supaya Lula tidak pergi terlalu lama. “Berapa hari di sana?”


“Satu minggu.”


“Aku akan bilang sama kakek Ken dua hari saja cukup.”


“Terserah, lawan aja kakek Ken, kalau Daddy mampu. Nanti pulang dari sekolah Lula langsung ke rumah sakit, Lula mau jemput Kakek! dan nanti malam langsung tidur di sana.”


“Nanti Daddy yang menjemputmu pulang sekolah.”


“Tidak usah, Daddy urus kantor saja!”


“Menurutlah, sudah berapa kali kamu selalu membangkang ucapan Daddy?!” Frans mulai emosi. Tepat ketika Frans mengatakan kalimat itu, mobil yang mereka tumpangi tiba di depan pintu gerbang sekolah.


Lula mengulurkan tangannya untuk berpamitan. Gadis itu membuat gerakan singkat dengan mengecup punggung tangan Frans, membuat bekas lembab yang mampu membuat perasaan Frans menghangat. Pria itu bahkan tercenung meski Lula sudah keluar dari Maserati hitam miliknya.


“Apaan Lula ini?" terkekeh kecil. "Sepertinya dia terlalu banyak makan cabe, jadi panas di tanganku,” gumamnya, dengan mata terus mengamati langkah Lula. Dia ingin memastikan Lula benar-benar masuk ke gedung sekolah.


Tiba-tiba saja Frans turun dari mobil, saat melihat Lula menemui seorang pria yang sepertinya sudah menunggu cukup lama di balik pintu gerbang.


Semakin dekat jaraknya dengan Lula, Frans semakin yakin jika dia tidak salah melihat.


“Kamu sepupunya Priscilla, kan?”