Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Pacar Baru



Lula tersentak saat seseorang menarik pergelangan tangan dan membawanya masuk ke toilet sekolah. Dari Aroma parfum yang dikenakan, Lula mampu mengenali siapa tersangka yang menarik tangannya.


"Lepas!" Lula berusaha menyentak tangannya, tapi begitu sulit terlepas karena pria itu begitu erat mencengkram pergelangan tangannya.


Hingga tiba di toilet, Elkan menyandarkan tubuh Lula dengan kasar. Lula bisa melihat raut amarah dari wajah Frans saat ini.


“Apaan sih, Lo, El!” Lula tak terima, punggungnya terasa nyeri akibat berbenturan dengan dinding.


“Kok bisa berangkat sama dia?” tanya Elkan dengan wajah penuh selidik. “Apa yang sudah kamu berikan padanya, Lul? Jangan bodoh-bodoh banget kenapa sih, Lul! Dari dia yang menolak kamu mentah-mentah, mendadak dekat denganmu dan kalian berangkat sekolah bareng. Sikap itu patut kucurigai!”


Lula tidak menjawab, tatapannya semakin kesal ke arah Elkan.


“Lula … jangan bilang kamu, su—dah?”


“Apaan sih?! Lu itu nggak tahu apa-apa, El! Ini rahasia aku sama Levin!” Lula menyentak tangan Elkan yang menahannya, lalu berjalan meninggalkan pria itu.


“Lula, jangan jadi gadis bodoh! Lu cuma dimanfaatin sama dia! Dia tidak benar-benar jatuh cinta sama, lu, Cur!” Elkan mengikuti langkah Lula, geram karena Lula tidak menjawab pertanyaannya. Dia berjalan di belakang Lula sambil mengomel tak jelas.


Hingga langkah mereka berhenti tepat di depan pintu UKS (Unit Kesehatan Sekolah). “Bilang sama pak Sandi gue izin sakit. Bilang saja ini hari pertama gue haid,” pesan Lula. Elkan masih tidak terima, dia justru ikut masuk ke UKS.


“Aku nggak akan pergi kalau kamu belum jelasin apapun sama aku! Masalah kemarin aja belum lu jelasin, ini ada lagi masalah.” Elkan berusaha mengingatkan Lula.


“Tutup gordennya!” perintah Lula. Dia menyerah karena Elkan terus mendesaknya.


Elkan merasa lega. Dia melakukan apa yang diperintahkan Lula. Hingga merasa sudah nyaman dia duduk di tepi ranjang menunggu Lula menjelaskan padanya.


“Mana dulu yang perlu gue jelasin?!" tawar Lula.


"Soal pernikahan. Lo emang udah nikah. Pernikahan dini cuma ada di novel gue harap kemarin Lo hanya keceplosan."


Lula membuang napas ke udara. Dia memilih menjelaskan tentang Levin, ingin lebih lama lagi menutupi tentang pernikahannya dengan Daddy Frans. "Gue bareng sama Levin karena semalam dia telepon gue! Dia hubungi gue duluan!”


Elkan berdecak kesal, karena Lula tak berniat menjelaskan statusnya. Meski kecewa ia tetap merespon jawaban Lula. “Alasan kamu menolaknya apa?”


“Nggak perlu juga kamu tahu, kan? Aku butuh privasi, tidak semuanya HARUS kamu ketahui, El. Yang jelas itulah alasan kenapa dia mau menjemputku di rumah Daddy.” Lula mengubah panggilannya, dia bersikap lebih sopan pada Elkan.


“Daddy? Lu tinggal di rumah Daddymu?” selidik Elkan. Lula langsung merutuki kebodohannya karena kembali keceplosan, seolah membuka sendiri setiap apa yang dialaminya sekarang ini.


Elkan tampak belum puas dengan jawaban Lula. Dalam hatinya masih bertanya-tanya, mana mungkin itu terjadi, mengingat nenek dan kakek Lula bukan cuma satu. Seharusnya mereka menitipkan Lula pada keluarga yang lain. Kenapa harus dititipkan ke rekan ayahnya. Yang bisa saja pria itu berbahaya bagi Lula.


“Okay.” Elkan menjawab singkat. Setelah ini ia berniat mencaritahu sendiri alasan Lula menginap di rumah Frans.


“Jadi, sekarang kamu pacaran sama Levin?” tanya Elkan. Membuat Lula menatap pria itu kesal. Sejak tahu sifat buruk Levin, Lula seolah ilfil dengan pria itu. Bahkan, memandangnya saja enggan.


“Bukannya kamu pacar aku? Kamu, kan yang kemarin jelasin ke Daddy kalau kamu pacar aku.” Lula membalas sembari merebahkan tubuhnya di ranjang.


Sedangkan Elkan justru termangu, dalam hatinya begitu bahagia mendengar ucapan Lula. “Kau serius?” selidiknya.


“Hm.” Lula mengangguk cepat. “Sebagai pacar yang baik, tolong pergi dari sini, aku mau tidur,” usir Lula.


“Tunggu, jadi … kemarin kita resmi jadian?” tanya Elkan, masih penasaran.


“Ya, jadian. Kita pacaran.”


“Okay. Kemarin hari kita jadian.”


Setelah memastikan hari jadian mereka berdua, Elkan berjalan keluar bilik kamar yang ditempati Lula, membawa rasa bahagia yang kini tengah melingkupi hatinya.


Sedangkan di atas brankar, Lula berusaha memejamkan matanya, menikmati aroma sitrus yang menenangkan. Entah apa yang akan terjadi di depan nanti. Ia berharap semoga hubungannya dengan Elkan tidak rusak meski mereka sudah tidak menjalin hubungan sebagai kekasih.


Lula benar-benar terlelap di ranjang UKS, meninggalkan empat jam mata pelajaran. Matanya baru terbuka saat mendengar suara langkah dari sepatu Elkan. Pria itu kembali datang mengunjunginya. Membawa air mineral, roti serta pem-balut.


“Gila lu beli di mana kaya ginian?” tanya Lula ketika membuka plastik hitam pemberian Elkan.


“Di koperasi kebetulan tadi pas lewat di sana keinget kamu.”


“Astaga, El. Aku kan pakai itu buat alasan saja. Aku ngantuk semalam begadang gara-gara nonton film yang kamu kirim.”


Elkan tersenyum hambar. “Udah makan aja, biar nggak ngantuk lagi! lain kali aku nggak mau ngirim link ke kamu. Takut pacarku bolos terus.”


Rasanya biasa saja saat Elkan mengatakan itu, hatinya tidak bergetar sama sekali, berbeda ketika tadi tangannya memeluk pinggang Levin. Dan itu artinya dia tidak jatuh cinta pada Elkan. Dia hanya menganggap Elkan sebagai sahabat prianya bukan laki-laki yang membuatnya jatuh cinta.