Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Hair-Dryer



Alarm di tubuh Lula menyala otomatis, membangunkan gadis itu dari tidur lelapnya. Lula berusaha membuka matanya yang terasa begitu lengket. "Uhh." bibirnya mele-guh lirih, diiringi gerakan tangan yang berusaha membuka matanya.


Meski hatinya sedang tidak baik-baik saja, ia tidak berniat untuk bermalas-malasan. Dia harus bersemangat demi Sofya dan pasien lain yang saat ini sedang menunggu uang darinya. Jadi, dia tetap harus melakukan kewajibannya.


Lula menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Tanpa mencuci wajah terlebih dahulu, kakinya terayun menuju dapur kotor. Lula tidak peduli apakah pria itu akan menyiapkan ART untuk rumah itu atau tidak. Lula tidak berharap lebih, apa yang bisa dikerjakan sebisa mungkin ia selesaikan, segera.


Hampir empat puluh menit berlalu, dapur kotor sudah berubah bersih. Menu sarapan sudah tersaji di atas meja. Lula melakukan pekerjaannya dengan baik, kini dia tinggal menunggu hak nya masuk ke rekening.


Namun, demi menghindari pertemuannya dengan Frans, Lula memilih memasukan sarapannya ke kotak bekal. Jujur dia masih takut melihat mata berkilat amarah itu. Bahkan, dia sedang berusaha keras, membuang ingatan itu dari kepalanya.


Setelah dirasa cukup, Lula kembali lagi ke kamar, bersiap sekolah. Saat hendak mengambil seragam di lemari, Lula mendapati ponselnya kini sudah berada di atas meja. Apa pria itu masuk ke wilayahku? pikirnya seraya menatap nanar dua lolipop di samping ponselnya.


"Setidaknya hargailah usaha orang bodoh ini! mau kamu pintar, tapi kalau attitude mu minus, nggak guna! Jangan kan membahagiakan istri, menghargai saja kamu tidak bisa ...." Lula berkata lirih, seraya meraih ponselnya, berusaha menghentikan kesedihannya tentang lolipop yang kini sudah hancur.


Sejenak jemari Lula sibuk menekan layar ponselnya. Dia berniat menghubungi Zola. “Hallo, Om … posisi!?” sapa Lula, setelah melakukan dua percobaan panggilan tapi baru ini diangkat oleh sang pemilik nomor. Sayangnya, pria yang selisih usia beberapa bulan dengannya itu tidak menjawab.


“Zola! Urgent, jemput aku!” sentak Lula.


“Kamu di mana?” sembur pria itu langsung terdengar panik.


“Di rumah suamiku.” Lula tahu jika dia sudah berkata seperti itu, Zola tidak akan mengulur waktu lagi.


“Oke, aku cuci muka dulu!” kata pria itu, dan Lula langsung melangkah menuju kamar mandi, usai memutus panggilan.


Selesai dengan urusannya di dalam kamar mandi, Lula lekas bersiap-siap. Karena rambutnya masih basah, Lula memilih menggerai rambut panjangnya. Bunda Zahira Lupa membawakan hair-dryer untuknya. Dan dalam kondisi seperti ini, dia tidak mungkin mengetuk pintu kamar Frans untuk meminjam hair-dryer.


Setelah merasa siap, Lula lekas turun ke lantai bawah. Sebelum keluar, tangannya meraih kotak bekal yang diletakan di atas meja. Gerakan tangannya terhenti saat mendengar suara Frans dari arah luar rumah. Sepertinya Zola sudah tiba dan saat ini sedang mengobrol dengan pria itu.


Jantung Lula berdebar-debar, berharap pria itu tidak akan memarahinya lagi. Parahnya jangan sampai Frans memakinya di depan Zola, dia tidak ingin Zola membela dan terjadi perkelahian di sini. Ayah bisa tahu, kakek, opa, Lula belum memiliki kalimat untuk menerangkan pada mereka.


Lula memberanikan diri untuk menghampiri mereka berdua. Setelah melewati pintu utama Lula langsung mengajak Zola berangkat.


“Ayo, Om, aku keburu terlambat!” Lula berjalan lebih dulu menuju motor matic yang terletak tak jauh dari teras rumah. Netranya tak menatap sedikitpun ke arah Frans.


“Nggak mau bareng Daddy saja?” tawar Frans. "lebih enak pakai mobil! nanti atapnya dibuka biar rambutmu cepat kering!" rayunya.


“Enggak,” jawab Lula lirih, “Ayo, Zola!” ajak Lula sedikit berteriak. Rasanya sesak menjalar, saat netranya mendapati bayangan tubuh Frans dari kaca spion motor milik Zola.


“Zola antar Lula dulu ya, Kak!” Zola berpamitan. Lalu segera membawa motornya untuk mengantar Lula ke sekolah.


Di atas motor matic itu, Lula memeluk pinggang Zola erat. Kepalanya bersandar di punggung Zola yang bidang. Seolah meletakan sejenak pikiran beratnya. Dia diam, sesekali mengusap tetesan air matanya dengan lengan.


“Kenapa sih? Nanti dikira kita ada apa-apa!” Zola merasa risih juga dengan sikap Lula. Dia pria normal, takutnya sinyal yang diberikan Lula langsung terkoneksi dengan asetnya.


“Bawa aku ke apartemenmu aja, Zo!” minta Lula lirih.


“Nggak boleh gitu! Kamu harus rajin masuk sekolah. Setidaknya jika nilaimu buruk, mereka bisa menilai dari sikap dan absensi mu.” Dari spion kecil motornya, Zola mendapati mata Lula basah oleh air mata. Melihat itu, tentu saja dia kasihan. “Udah jangan nangis, cerita sama Om! O, ya ... Kemarin kamu ke mana? Kak Rainer semalam telepon aku nanyain kamu.”


Apa pria itu memberitahu jika dia pergi!? harus bilang apa aku sama ayah!


“Aku ke rumah sakit. Aku kehabisan bus. Terus—


“Kan!" Zola tampak kesal sendiri mendengar cerita Lula. "besok-besok, bisa enggak ngabari dulu!” Zola ikut protes.


“Ponselku kemarin hilang. Dan kamu tahu, saat aku pulang sekolah, tidak ada mobil yang menjemputku. Jadi, aku berniat ke rumah sakit. Aku menemui pasien di sana.”


“Jadi, kamu sedih kenapa?!” sepanjang perjalanan, Lula mencurahkan kesedihannya kepada Zola. Tapi, Lula merahasiakan sikap kasar Frans yang ditujukan padanya.


"Dia nggak mau dengar penjelasan ku!"


“Jadi lagi marahan nih mas suami?” Goda Zola, saat motor sudah berhenti di depan gerbang SMA Barracuda.


“Iya. Tapi jangan bilang siapa-siapa ya!”


“Enggak janji, deh!”


“Zola!” Lula mengancam dengan mengangkat helm hendak memukul kepala pria itu. “Nanti jemput ya!!”


“Kalau nggak ada jam kuliah.” Zola menjawab ringan.


“Aku tungguin sampai kamu datang!” kata Lula, seraya melangkah menjauh dari Zola.


Tiba di kelasnya Lula menikmati sarapan paginya. Dia sengaja mencuri waktu, memakan sambil menunduk. Tahukan kalau emosi itu menguras tenaga, jadi dia tidak bisa marah dalam kondisi lapar.


“Mata kamu sembab, ada apa sih, Ayang?” tanya Elkan, yang sedari memerhatikan Lula. Dia sama sekali tidak mendengarkan materi yang disampaikan pak Rasya.


“Kamu nanya?” reflek Lula menjawab demikian.


“Ih ditanya baik-baik kok gitu jawabannya. Kenapa?!” Elkan mendesak kekasihnya.


“Cuma salah ngasih tetes mata aja,” jawab Lula sekenanya, dengan mulut penuh bihun goreng buatannya.


“Yakin?”


“Iya, aku yang salah! Kukira insto tak tahunya alteco.” Lagi membayangkan saja, Lula bergedik ngeri, jangan sampai yang ia ucapkan benar-benar terjadi.


“Ya ampun sayang, ke UKS aja yuk diobati!”


Lula menyimpan telunjuknya di depan bibir Elkan. “Dengerin pak Rasya! Biar tambah pintar,” perintah Lula. Sejenak dia berpikir sampai kapan akan berpacaran dengan Elkan, dia ingin putus, pacaran itu nggak ada enak-enaknya!


Di tempat lain, setelah kepergian motor zola. Frans kembali masuk ke rumah. Dia begitu bersemangat mendatangi meja makan, menikmati sarapan buatan Lula. Perutnya sudah merintih meminta diisi saat mencium aroma masakan.


Frans segera mengambil duduk, mulai menyuapkan satu sendok makan ke dalam mulut. Rasanya memang nendang di lidah, tapi ketika pandangannya tertuju ke arah kursi yang biasa digunakan Lula, mendadak ia merasa kosong. Gerakan tangannya melambat, hanya menggulung-gulung bihun di piringnya.


“Besok palingan sudah duduk di situ lagi!” gumamnya berusaha menghibur diri. Meski bibirnya memancarkan senyuman, tidak dengan hatinya yang mulai mencemaskan pertemuannya dengan Lula.