Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Tuduhan



Menangis adalah cara terbaik untuk meringankan kesedihan yang tengah dialami Lula. Apa yang dihadapi saat ini, itu akan menjadikan dirinya lebih tangguh lagi ke depannya.


Bagi Lula, air mata bukan simbol kelemahan. Justru karena bibirnya tidak bisa berkata-kata untuk mengungkapkan rasa sakit itu, dia berusaha mengeluarkannya dengan cara menangis.


Lula berusaha menghangatkan diri di bawah naungan selimut tebal yang digunakan. Tangisnya masih terdengar begitu nyaring. Yakin, jika penghuni rumah tidak akan bisa mendengar tangisannya.


Lula sendiri masih dilema. Dia bingung, harus bersikap ramah atau marah saat bertemu dengan pria itu. Sepertinya, hanya dia yang terlalu berharap jika hubungan mereka akan selamanya?


"Kenapa di saat aku berharap, dia justru muncul dan merebut semuanya?! tentu Tante Priscilla akan menang!" Lula menarik napas dalam, berusaha melegakan dadanya yang terasa begitu sesak. Dia sampai kesulitan bernapas karena tangisnya masih mendominasi. "Dia pemilik hati Daddy! tentu aja itu akan lebih mudah!"


Beruntung saat tiba di rumah, eyang Ano sudah masuk kamar, dan itu membebaskan dirinya untuk segera masuk kamar. “Ternyata, menikah dengan orang yang tidak mencintaiku itu tidak enak!” gumam Lula, “Cuma ada tangisan! Enggak ada kebahagiaan.”


Tangis Lula sedikit reda, kini masalah baru muncul karena matanya terasa lengket. Sampai akhirnya, Lula memilih untuk memejamkan mata, berharap esok hari pikirannya lebih fresh, sukur-sukur dia lupa dengan kejadian di mall tadi.


Lula terbangun saat mendengar suara ketukan pintu. Kini Lula memiliki alarm berjalan, Dona selalu membangunkannya tepat pukul lima pagi. "Iya, Mbak! Lula udah bangun, kok!" sahut Lula memberi tanda jika dia merespon usaha Dona.


Beruntung jadwal pulang hari ini tidak seperti biasanya. Jadi, Lula berniat beristirahat di apartemen Zola. Setidaknya dia akan tidur seharian sebelum mendatangi acara nanti malam. Dia tidak mungkin pergi dengan kondisi lesuh seperti ini.


Setelah siap dengan seragam sekolah, Lula bergegas turun, menuju lantai satu. Langkahnya terhenti di undakan anak tangga terakhir saat mendengar suara Frans sedang berbincang dengan Eyang Ano. Pria itu pulang? kapan? batin Lula bertanya.


Dari posisinya saat ini, Lula tahu suaminya sedang berdusta, mengatakan baru saja pulang dari perjalanan bisnis. Tapi, apapun yang dikatakan pria itu, dia tidak berhak ikut campur. Apalagi ini masuk ranah kehidupan perusahaan Pagara. Posisinya di sini hanya pengganti, dan mungkin sebentar lagi akan diasingkan.


“Hai, Lula! Kenapa berdiri di sana? datanglah, ayo kita makan! Bukankah kamu ada latihan ujian hari ini?” Eyang ano menyapa saat menyadari kehadiran Lula. Jika wanita itu tidak bersuara, mungkin Frans juga tidak akan menyadari kehadirannya.


Sekilas pandangan mereka bertemu, saling mengunci walau sekejap saja, Lula tersenyum tipis tanda menyapa pria itu. Lula memutuskan untuk tetap bersikap seperti biasa, cukup semalam saja dia bersedih. Paginya dia harus baik-baik saja!


Heleh, cuma Daddy, masih banyak pria tampan di luar sana yang mungkin mau membahagiakan aku tanpa pamrih. Lula berusaha menguatkan diri, jika tidak dirinya, mau siapa lagi?


“Hai, Mas?! Kapan pulang? Kok nggak kasih kabar dulu ke Lula, kan Lula bisa jemput?” Lula mengayunkan langkahnya menuju meja makan. Jujur sulit sekali berpura-pura bahagia seperti ini. Kalimat penyemangat tadi tak sedikitpun mengobati luka di hatinya.


“Iya, sekitar sepuluh menit yang lalu.” Frans menjawab sama ramahnya, dia harus menahan segala cecaran yang sudah disiapkan untuk Lula. Harus! Karena tidak ingin Eyang menilainya buruk dalam memperlakukan Lula.


“Mas, sehat, kan? kok kurusan?! Pasti di sana makannya enggak benar nih?!” goda Lula, nada bicaranya terdengar seperti sosok istri yang tengah menjalankan perannya. Sangat baik!


Eyang Ano, terlihat begitu senang menyaksikan bagaimana cara Lula memerhatikan cucunya. Bahkan masalah berat badan saja gadis itu begitu hapal. “Sudah, sudah! ngobrolnya nanti lagi, kasihan istrimu, keburu terlambat masuk kelas!” tegur Eyang Ano, ketika Frans hendak melemparkan jawaban lagi.


Dalam diam, Lula menyesali karena menolak tawaran Zola yang berniat menjemputnya pagi ini. Dan berakhirlah, sekarang dia terperangkap satu mobil berdua dengan Frans. Tidak mungkin mereka berangkat terpisah di depan Eyang Ano. Lebih baik dia mengalah dan berbagi aroma parfum dengan Frans.


Lula berusaha bersikap seperti biasa, seolah tak pernah terdapat kesalahan yang dilakukan Frans. Dia membuka obrolan terlebih dahulu, berusaha memecah fokus Frans. “Tante Priscilla sudah kembali, Dad. Kapan? Kok Daddy enggak bilang sama Lula?” protesnya.


Frans hanya melirik kesal ke arah Lula. Bisa-bisanya gadis bau kencur itu justru menggunakan dirinya sebagai alat untuk mendapatkan cuan, dan lebih parahnya, Lula tidak sadar akan kesalahan yang sudah dilakukan.


Melihat suaminya hanya diam saja Lula kembali berbicara. “Wah, jangan-jangan, selama ini! Daddy menghabiskan waktu bersamanya?” Lula tertawa jenaka, padahal tidak ada yang lucu dari ucapannya, dia hanya menutupi sedihnya saat membayangkan apa yang tadi dikatakan. “Seharusnya Daddy bilang ke Lula. Kirim pesan kek! Lula aku menginap ke rumah mantan ya!” Lula berbicara dengan suara menggoda, berharap pria itu akan mengakui.


Aliran darah Frans semakin memanas. Tidak tahan lagi, dia ingin segera meletakkannya. Selama ini dia berusaha menenangkan diri demi bisa mengatasi kucing liarnya ini. Tapi rasanya percuma, karena kucing liarnya masih saja buas. Malah kini justru semakin menjadi-jadi, mengira dirinya tinggal bersama Priscilla.


“Daddy cerita dong! Ih, diem-diem bae! Nggak enak loh! Masak aku disuruh menerka-nerka nanti kalau salah gimana?” bujuk Lula. “Jadi benar kan? Daddy, menghabiskan waktu bersama dengan tante Priscilla! Kenapa kita nggak mengakhiri semua ini, Dad! Kakek Ken juga sudah tahu tentang kita. Tentang aku yang pura-pura bahagia dengan pernikahan ini!”


“Apa kakek Ken juga tahu, jika kamu rela melakukan apapun demi mendapatkan uang?!” tanya Frans dengan nada tinggi.


“Jelas! Dia tahu aku mendapatkan uang dari Daddy!” Lula memang sudah mengatakan jujur tentang semuanya pada kakek Ken. Karena itulah, Pemegang saham tertinggi perusahaan Adhitama itu memberi kelebihan uang kepada Lula.


Frans tertawa gamang mendengar jawaban Lula, dengan mata yang fokus ke arah jalan, dia kembali melemparkan pertanyaan. “Katakan padaku, berapa banyak uang yang kamu dapatkan dari Levin?!” tanya Frans dengan suara keras, dia begitu menuntut jawaban dari Lula, atas apa yang dilakukannya selama ini, di belakangnya.


“Maksud Daddy, apa?” Lula bertanya dengan nada penasaran, dia tak lepas menatap suaminya, bingung dengan pertanyaan yang dilemparkan Frans padanya.


“Jangan pura-pura bodoh, Lula! Kamu pandai sekali menutupi semuanya! Daddy sampai bingung sebenarnya kepribadianmu itu yang seperti apa sih?”


“Lula benar-benar enggak ngerti, maksud Daddy!” ucap Lula ikut terbawa emosi.


Kepala Frans sampai berdenyut mendengar sikap palsu dari Lula. “Kau bahkan tahu Daddy pergi ke Singapura! Kau bahkan tahu penyakit Priscilla saat ini! tapi kamu tidak pernah mengatakannya pada Daddy! Dan KAMU—


Frans sengaja menggantungkan ucapannya. Dia menoleh ke arah Lula, menatap Lula dengan tatapan mencemooh. “Kamu rela jual dirimu demi tidur denganku! Kau ingin aku melanggar perjanjian kita?! Hah! Okay aku akan mewujudkannya, kamu sendiri yang menginginkan ini! Kapan kamu siap tidur denganku! Aku akan siap menghamilimu!” sambung Frans, tidak kuat lagi menahan amarahnya.


“Dad! Bahasamu terlalu kasar! Aku tidak pernah menjual diri! Ayah selalu menjauhkan aku dari kegiatan semacam itu! Dan hamil? apa maksud Daddy?!”


“Persetan dengan ayahmu! Nyatanya itu yang kamu lakukan! Di luar sana Kamu rela melakukan apapun demi meraup uang sebanyak-banyaknya. Demi apa? Demi memenuhi kebutuhan hidupmu? Apa kurang uang di ATM, sampai-sampai kamu menerima tawaran Levin! AKU SUAMIKU! kalau memang kurang, bilang!” teriak Frans.


Saat Lula mulai paham arti ucapan suaminya, tanpa ia sadari air matanya jatuh berguguran. Rasanya menyiksa sekali mendengar suaminya melemparkan tuduhan semacam itu padanya. Beruntung mobil yang Lula tumpangi berhasil tiba di depan pintu gerbang. Tanpa berkata lagi Lula keluar dari mobil. Dia tidak ingin menoleh, dia tidak ingin tangisnya dilihat oleh Frans.