
Ruangan itu kembali gaduh setelah mendengar ucapan Lula yang ditujukan pada Levin. Ekspresi dari penghuni kelas campur aduk; ada yang terkejut, ada yang tertawa meremehkan, bahkan ada yang bilang seperti pungguk merindukan bulan. Mereka tahu, Levin tidak akan menerima perasaan Lula.
Sedangkan pria yang tadi berada di depan Lula, semakin kesal menatap ke arah Lula. "Puas kamu?!" lalu berbalik meninggalkan Lula demi menghampiri bangku Rosiana.
"Mau ke kantin?" tawaran Levin yang ditujukan pada Rosiana, seakan menjadi pukulan berat bagi Lula. Apalagi saat melihat tangan pria itu tampak mesra menggandeng tangan Rosiana, membuat hati Lula hancur, punah sudah harapannya untuk memiliki kekasih idaman.
Yang dilakukan Levin saat ini, seakan menjadi jawaban atas ajakan Lula, pria itu tidak menjawab dengan kalimat verbal melainkan dengan perilaku yang acuh dengan ajakan Lula.
Setelah Levin berhasil keluar kelas, seisi ruangan mulai menertawakan Lula. Umpayan kasar terdengar begitu memejamkan telinga siapapun yang berada di kelas. Dan saat ini tak ada satupun yang berdiri di depan Lula, untuk melindunginya. Bahkan, untuk Elkan yang katanya cinta, pria itu hanya diam di bangkunya.
“Apa lo, nggak tahu kalau Levin deketin Rosiana?” Suara-suara sumbang mulai menusuk pendengaran Lula. Membuat nyalinya yang tadi sebesar bumi mendadak menyusut, secepat plastik yang terkena kobaran api.
“Masa iya, Lol! Kamu nggak nyadar ya? kamu dan dia itu bagai bumi dan langit.” Pita ikut menimpali, “Sekali lagi kamu dekati Levin maka kamu akan tahu akibatnya!” ancaman dari Pita semakin membuat Lula tertunduk malu. Lagi-lagi dia baru menyadari jika keputusannya sudah salah besar.
Setelah suara mereka sedikit mereda, Lula berjalan ke arah mejanya. Siapa sangka, saat tiba di sana Elkan langsung menonyor kepalanya. "Ini isinya apa sih, Lula...." Pria itu berdecak kesal lalu mendudukan tubuh lula di bangku kosong. “Kamu itu terlalu gegabah, Lula! Kamu tidak memikirkan sebab akibatnya terlebih dahulu. Di drakor yang pernah kulihat, seharusnya kamu selidiki dulu, dia beneran jomblo atau tidak. Setelah yakin kamu boleh kirim surat kecil dulu, barulah kamu mengungkapkan perasaanmu. Kalau sudah begini kamu sendiri yang bakalan repot, mereka akan semakin merendahkanmu.”
“Lagian lo berani banget mengungkapkan perasaanmu ke Levin. Dia pintar pasti juga akan memilih kekasih yang sepadan dong!”
Rasa kecewa Lula terhadap dirinya sendiri semakin besar. Padahal dia sudah diomeli bunda Zahira untuk memikirkan setiap pilihannya. Tapi tetap saja dia kembali gegabah dalam mengambil keputusan. Dan berakhir merugikan dirinya sendiri.
Padahal dia juga sudah tahu kalau sudah memiliki suami, kenapa harus memikirkan pacaran. Bukankah itu hal bodoh?!
“Aku bodoh banget ya, El?!”
“Dari dulu!” sahut Elkan lemah.
“Sama seperti kamu.”
“Tapi aku enggak gegabah seperti kamu.” Elkan berusaha membela diri.
"Aku harus apa sekarang?" tanya Lula diiringi ******* kasar. Tak lama kemudian Lula mengambil ponselnya dari di dalam tas. Sejenak ia sibuk mencari nomor seseorang dalam kontak.
Setelah mendengar suara di seberang panggilan Lula lekas bertanya pada pria itu. “Lagi di mana?” tanya Lula lirih.
“Di kampus.”
“Jemput aku, sekarang, urgent!” tanpa mendengar jawaban pria itu, Lula langsung mematikan panggilannya.
“Mau bolos lagi?”
Pertanyaan Elkan membuat gadis itu menoleh ke arah pria itu. “Aku lagi nggak semangat belajar.” Lula menyimpan ponsel di tangannya dalam saku. “Titip tas, ya! bawain nanti pas pulang, jangan lupa besok dibawa!” pesan Lula, seraya menepuk pundak Elkan.
“Padahal aku mau ikut bolos!” kaya Elkan berusaha menolak.
“Jangan, kamu itu tidak pintar jadi harus rajin belajar! bodoh tidak apa-apa tapi kamu harus rajin biar bisa."
"Serah aku, aku mau ikut kamu bolos!"
"El! tidak boleh ya! Setidaknya aku tidak membawamu masuk dalam keburukan. Biarkan aku saja, yang bodoh kamu jangan!” Lula berusaha menenangkan.
“Heleh!” Elkan mendesah kesal. Lalu membiarkan Lula pergi dari bangkunya.
Seperti biasa gadis itu akan memanjat pagar untuk meninggalkan area sekolah. Kalau ayahnya tahu pasti akan dimarahi habis-habisan. Setelah berhasil naik tembok, Lula menaikan roknya tinggi-tinggi mengambil ancang-ancang untuk melakukan pendaratan, karena ternyata lokasi pendaran di bawah sana tidak begitu baik.
Sialnya, saat selangkah lagi ia berhasil keluar dari area sekolah, ada guru yang mengetahui perilakunya. Lula lekas melompat, lalu berlari kencang, tidak peduli dengan ikatan rambut warna pink yang terjatuh. Dia langsung bersembunyi sembari menunggu Zola menjemputnya.
"Aman belum ya?" tanya Lula.
Lula sudah mengenal dekat dengan pemilik warung, dia selalu meninggalkan kembalian pada sang pemilik saat membeli es di sana. "Numpang sembunyi, Pak!" seru Lula berjalan menuju kamar, dia takut ketahuan pak Djarot dan dilaporkan ke ayah Rainer.
Ponsel Lula yang berdering keras membuat pria itu menyadari kehadirannya. Mereka langsung menoleh ke arah Lula yang berusaha meninggalkan tempat persembunyiannya. Sayangnya terlambat, pria itu menyadari jika Lula sudah melihat dan mendengar apa yang tengah mereka bicarakan. Terutama Levin, pria itu semakin kesal dengan Lula.
“Kamu di mana, sih?” tanya Lula, setiba dia di luar warung. Ia berusaha mencari keberadaan Zola tapi tak kunjung ditemuinya.
"Aku naik mobil!" kata pria di ujung panggilan.
Lula yang melihat mobil Zola terparkir tak jauh dari warung langsung menghampiri, setelah ia berhasil masuk pendengarannya disambut oleh keluhan Zola.
“Sialan, kamu Lula! Gue diputusin Tiara karena lebih mengedepankan lo!” zola memaki seraya menginjak pedal gas-nya.
“Kondisi gue lebih memprihatinkan!” kata Lula, membela diri. “nanti kalau ada apa-apa emang lo mau disalahkan opa Abhi?” Ya, Zola adalah anak paling bungsu dari keluarga Abhicandra Damanik, yang usianya terpaut beberapa bulan saja dari Lula. Itu artinya Zola adalah adik Rainer, dan om-nya Lula. Sebenarnya pria itu ditugaskan untuk menjaga Lula saat gadis itu berada di area sekolah. Sayangnya, pria itu lulus terlebih dahulu, meninggalkan Lula yang sempat tinggal kelas.
“Nanti gue bantu jelasin ke Tiara! Sekarang bawa gue ke puncak!” perintah Lula.
“Ngapain? Pulang ke rumah Ayahmu!” tolak Zola, yang enggan mengantar Lula ke puncak.
“Om Zola!” rayu Lula lembut.
“Ya sudah, ke rumah ayah Abhi!”
Lula terdiam, dia menampilkan wajah memelas, tanpa mengucapkan kalimat apapun lagi.
“Gue capek banget Lula nurutin kemauan, Lo!”
“Ya sudah, terserah Om Zola mau bawa aku kemana.”
Mendengar suara parau yang diucapkan Lula membuat Zola kesal terhadap dirinya sendiri, karena dia tidak mampu menolak permintaan Lula. Dia langsung menginjak pedal rem-nya lalu memutar arah mobilnya.
“Sebentar lagi—aku janji tidak akan mengganggumu! kamu sudah dengar, kan aku sudah punya suami. Mungkin kalau dia sedang ada di sini, aku juga tidak akan merepotkanmu.” mendadak Lula berkata sopan, tidak lagi menggunakan kalimat Lo saat menyebut Zola.
“Serah lo, deh!”
Lula berusaha memejamkan matanya, menikmati perjalanan menuju puncak. Dia tidak tahu saja kalau Zola tidak membawanya ke puncak. Melainkan ke sebuah tempat yang dia yakini Lula akan sangat menyukainya.
Saat tiba di lokasi tujuan, Zola berusaha membangunkan Lula, yang terlelap sejak dua jam yang lalu. Dia meminta keponakannya itu mengganti pakaian, tidak mungkin dia membawa Lula yang masih mengenakan seragam putih abu-abu. "Ganti bajumu!" perintah Zola.
“Baju siapa ini, Zo?”
“Tadinya, mau aku berikan Tiara, tapi aku nggak mungkin membiarkanmu mengenakan seragam sekolah! Lagian aku dan Tiara sudah putus!” Zola membuka pintu mobil bagian samping kemudi. “Buruan ganti bajumu, aku tunggu di luar!” pesannya sebelum menutup kembali pintu mobil, dia tidak tahu apa kata kakaknya nanti saat mengetahui jika dirinya turut andil dalam hal ini.
Sebuah taman yang begitu syahdu, sedikit dingin dan menyuguhkan pemandangan indah, menjadi pilihan Zola siang ini. Pria itu sengaja membawa Lula ke tempat itu, mengizinkan gadis itu berteriak sepuasnya. Meski dia tidak tahu apa yang tengah dialami gadis itu.
Dan benar, saat Lula sudah keluar mobil dia berteriak sekencang-kencangnya, seakan benar-benar mengeluarkan kekesalan yang sudah mengakar di hatinya. Zola hanya menatap lekat, bagaimana cara Lula berteriak sembari meneteskan air matanya. Sampai pada akhirnya ia tertawa lepas mendengar Lula menyebut nama Levin, diikuti cerita dramatis dari bibir tipisnya.
“Kenapa cewek lebih suka cowok seperti itu, ngeselin! Lula, sekarang kamu sudah punya suami. Lebih baik kamu fokus dengan suamimu!”
“Serah aku, weh! Orang suamiku aja, ngizinin aku pacaran kok! Aneh kamu! Nggak usah nglarang-nglarang aku, ya!” peringat Lula mulai kesal.
"Dasar ponakan! coba kalau enggak udah gue pacarin, Lul!" canda Zola, bibirnya terus mengeluarkan tawa lepas. Hingga suara dering panggilan dari ponsel Lula membuat keduanya terdiam. "Kalau kak Rainer yang telepon jangan bilang kalau kamu sedang bersamaku!" peringat Zola.
Namun, bukan Rainer yang menelepon. Membaca nama si penelpon yang tertera di layar, membuat Lula berdecak pelan. “Kenapa, Dad?” tanya Lula ketus, tumben sekali pria itu menghubunginya. Biasanya cuma mengirimkan pesan singkat.
“Udah keluar belum? Aku sudah menunggumu di depan gerbang sekolah.”
Lula mendadak bingung harus memberi alasan apa. Dia tidak akan mungkin terbang langsung dan berdiri di depan gerbang demi menemui daddy-nya yang entah sejak kapan, pria itu sudah kembali ke Jakarta.