
Dengan seragam sekolah yang masih membalut tubuhnya, Lula turut mengantar jenazah Sofya ke tempat peristirahatan terakhir. Berdiri di barisan orang yang menangisi kepergian Sofya. Di belakang tubuhnya, kini ada Frans yang memakai pakaian serba hitam.
Pria itu sempat pulang ke rumah, mengganti motornya dengan mobil. Sebenarnya Frans membawa baju ganti untuk Lula, tapi wanita itu enggan menggunakannya.
"Jangan terlalu lama, ingat kamu sedang demam!" Frans berusaha mengingatkan, Lula hanya menjawab dengan deheman. “Aku ke makam mamaku dulu!” bisik Frans.
Sejak keluar dari area kantin, komunikasi mereka berdua sedang tidak baik-baik saja. Lula yang sibuk terlibat dengan proses pemakaman. Sedangkan dari tadi, Frans sibuk dengan argumennya sendiri.
Dan saat ini, mendengar nada lembut dari ucapan Frans, Lula terdorong untuk memperbaikinya. Telapaknya menahan lengan Frans yang hendak pergi. “Aku ikut,” ucapnya, dia ingin tahu karena selama ini belum pernah mengunjungi makam dari sang mertua.
“Kamu selesaikan dulu urusanmu di sini!” bisik Frans.
“Ini sudah selesai.” Lula berbalik, mendekati ayah dari Sofya yang turut serta menghantarkan putrinya. Berniat berpamitan terlebih dahulu.
Mereka berdua berjalan beriringan melewati makam demi makam. Jaraknya cukup jauh, butuh waktu beberapa menit untuk mencapai tujuan, dan lebih membosankan lagi, tidak ada yang berusaha memecah keheningan.
Lula menyerah, membiarkan keheningan menemani. Hingga langkah mereka tiba di salah satu makam bertuliskan nama Vania, Lula turut duduk berjongkok, melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Frans.
Terlihat jelas makam itu terawat. Rumput yang tumbuh di atasnya tampak lebih hijau dari makam lain. Pohon kecil yang tumbuh di tengah gundukan makam adalah tanda jika sampai saat ini, makam itu masih dijaga baik oleh orang-orang yang menyayanginya. Lula memikirkan, jika itu adalah ulah suaminya.
Detik demi detik terlewati, perlahan Lula bisa menyaksikan bagaimana proses rapuhnya pria itu. Tidak ada tetesan air mata, tapi jelas pancaran kesedihan yang ditunjukan Frans saat ini. Lula menepuk pundak pria itu pelan-pelan. “Mama mertua pasti bangga sama Daddy!” kata Lula menghibur. “Dia turut merasakan pencapaian Daddy saat ini.”
Frans menggeleng pelan bibirnya tersenyum masam, dia menyangkal apa yang dikatakan Lula. Mana bisa mamanya bangga dengan dirinya jika dia sudah menghancurkan perasaan orang lain. Telinganya masih terasa basah akan pesan mama waktu itu, pesan yang memintanya untuk menghargai wanita meski memiliki banyak uang untuk sekedar membeli kesenangan.
Seiring bertambahnya usia dia mulai paham makna dari ucapan mama Vania. ‘Jangan seperti papamu, mentang-mentang memiliki banyak uang segalanya dikuasai, termasuk kepuasan.’ Sayangnya Frans melakukan itu, dia sudah ditakdirkan memiliki sifat seperti papanya, dan Priscilla lah korbannya, dan rasa itu—rasa bersalahnya selalu mengiringi langkahnya. Karena apa? Karena secara tidak langsung, dia adalah penyebab perceraian Priscilla dan suaminya.
“Aku sedang merindukan mama.” Frans berkata lirih.
“Ya udah, khusus hari ini, boleh peluk Lula sepuasnya!” bujuk Lula.
Frans tersenyum miring, merasa lucu saja, ucapan Lula layaknya sedang merayu dengan bayi, yang sekali peluk langsung diam. Dia tidak begitu, butuh lainnya dulu, mungkin. Kini bukan Frans yang memeluk Lula. Justru sebaliknya, Lula yang memeluk pinggang Frans, bergelayut manja di lengan pria itu.
“Mau pulang sekarang?” tawar Frans, meski sebenarnya itu adalah pertanyaan yang seharusnya diberikan Lula padanya.
“Boleh.” Lula berjalan terlebih dahulu, menuju mobil yang terparkir di luar kawasan makam.
Mereka kembali berjalan beriringan, dengan posisi Lula berada di depan. “Dad?”
“Hm?” sahutan Frans begitu lirih, nyaris tak sampai ke telinga Lula.
“Dad, apa aku serendah itu? Sebenarnya apa yang Daddy pikirkan tentang aku? Apa menurutmu, aku adalah sosok wanita yang terlibat dalam pergaulan sek-s bebas?”
Seraya mengikuti langkah Lula Frans menjawab tegas. “Banyak alasan yang membuat Daddy punya pikiran begitu." Tisu majic, salah satunya, dari mana Lula tahu, jika belum pernah menggunakannya. Dan lebih meyakinkan lagi, ucapan Lula tadi ketika berada di kantin. Demam, tanda awal kehamilan. Semakin ditegaskan oleh pendapat Rainer. Pikir Frans. "Meski—jika dilihat ini tidak mungkin. Tapi itulah kamu, penuh rahasia. Daddy tidak tahu apa yang kamu lakukan di luar sana. Meski rasanya enggan percaya kalau kamu sudah masuk salah satu remaja di dalamnya,” kata Frans panjang lebar, berusaha menyangkal, tapi sudah banyak fakta yang memberi petunjuk.
“Kenapa Daddy berpikiran begitu?” Lula tertawa hambar. “Lula memang pernah melihat sepasang manusia telanjang bulat, di video dan satu lagi antara daddy dan tante cecil. Selebihnya tidak ada.”
Ucapan Lula membuat Frans tak berkutik, masih ingat saja gadis itu. pikirnya.
“Daddy terlalu menggemaskan! Daddy menyaksikan sendiri cara Ayah bunda mendidik ku. Mereka selalu berpesan, sebucin apapun aku dengan pacarku. Jangan sampai kehilangan barang paling berhargaku, sebelum pria itu mengucapkan kalimat sakral. Aku memang pernah menyukai seseorang, sayangnya dia tidak mencintaiku. Ada pria yang menawarkan diri menjadi kekasihku, ternyata aku hanya dimainin.” Lula menggeleng. “Seburuk itu aku di mata mereka sampai aku tidak berani untuk mencintai lagi. Tapi bersyukur sih, aku jadi sadar, jika yang perlu aku pikirkan bukanlah diriku sendiri, tapi mereka. Orang tuaku, gimana caranya aku bisa membuat mereka bangga.” Mendadak Lula berbalik, berjalan mundur, pelan-pelan, seraya memfokuskan pandangannya ke arah Frans.
“Mau bukti kalau aku masih virgin?” Lula berusaha menggoda. “Semalam. Pria pertama setelah Lula berusia berapa ya?” Lula menggantung ucapannya, berpikir, dia lupa kapan sang ayah terakhir membantunya menggantikan pakaian. “Delapan tahun mungkin. Daddy adalah pria pertama yang melihat tubuhku. Makanya pagi tadi aku cukup shock! Pasti daddy akan menghinaku karena miliku kecil! tapi tidak apa-apa, karena faktanya begitu. Katanya nanti kalau sudah terjamah, bakal gede sendiri!” Lula berkata polos seraya berbalik menyembunyikan wajah malunya. Dia sudah menurunkan egonya, membongkar semua tentang dirinya pada pria itu.
Di balik tubuhnya, Frans merasa bersalah dengan Lula. Dia sudah salah, menuduh gadis itu yang tidak-tidak. Tekadnya semakin bulat, menjaga Lula dengan baik, sampai gadis itu menemukan cinta sejatinya, menggantikan peran Rainer dengan baik.
Sedikit lagi langkah mereka tiba di parkir mobil. Frans menghentikan langkahnya, memungut bunga warna putih yang terjatuh di antara jalanan. “Lula!” seru Frans, berusaha menghentikan langkah Lula. Dia kembali mengikuti langkah istrinya.
“Hm?” Lula memutar tubuhnya, bertemu dengan tubuh Frans yang sudah berada di depannya, tanpa jarak yang cukup baik. Jantungnya berdebar lirih saat tangan Frans menyematkan bunga semboja di telinganya. Dari aromanya dia sudah bisa mengenali jenis bunga tersebut. “Bunga ini terkenal mistis, Dad! Aku bukan mbak kunti yang butuh ini!” tangan Lula hendak meraih dan memindahkan bunga itu, tapi tangan Frans mencegahnya.
“Kamu memang bukan mistis! Tapi misterius bagiku. Bagiku, bunga semboja melambangkan keabadian, udah gitu aja yang perlu kamu tahu!” kata Frans seraya melanjutkan langkahnya menuju pintu samping kemudi, meninggalkan Lula yang masih berdiri di belakang mobil.
Lula tersenyum cerah seraya meraba bunga di telinganya, mengambil bunga itu sambil membuka pintu mobil. “Keabadian untuk apa? Hubungan sebagai suami-istri atau ayah dan anak?” tanya Lula setelah berhasil duduk di bangku penumpang.