
Sebagian besar siswa SMA Barracuda menantikan hari ini tiba. Hari di mana mereka akan dilepas untuk ke jenjang yang lebih tinggi. Satu di antaranya adalah QaiLula Suha Damanik, gadis 20 tahun lewat satu bulan itu sedang sibuk dengan penampilannya. Merapikan bunga yang ada di atas sanggul, kemudian memastikan belahan dadanya tidak terlihat.
Menurutnya ini ribet, kenapa harus pakai kebaya? coba unik sedikit wisuda pakai piyama. Selain hemat tidak perlu pergi ke salon dan Lula yakin, semua orang juga punya.
"Dasar nggak kereatif!" cibirnya setelah merasa penampilannya pas.
Susunan acara terasa membosankan bagi Lula, banyak sambutan yang memaksanya untuk didengarkan. Dan berakhir pada penyebutan salah satu lulusan terbaik tahun ini.
"Dan jatuh kepada ....."
"LEVIN ANGGARA DAMARIS."
Teriakan dramatis begitu membahana, diiringi tepuk tangan yang begitu meriah saat pria berparas tampan itu melangkah tegap menuju depan. Lula hanya bisa mengamati Levin yang melirik ke arahnya, bibirnya mencebik, sok acuh.
Mungkin, jika Daddy Frans tidak masuk ke dalam hidupnya, tidak memporak-porandakan hatinya pasti, saat ini Levin tetap jadi pria yang didambakan.
"Levin! Levin!" teriakan itu terus terdengar hingga Levin berdiri tegap di depan kepala sekolah.
Dulu, Lula pernah berpikir begini; saat hari wisuda, namanya dipanggil menjadi siswi terbaik angkatan tahun ini, lantas mereka yang hadir bertepuk tangan meriah, mengelu-elukan namanya. Sayang, semua itu hanya di angan. Dia hanya ingin tapi tidak mau berusaha keras. Beruntungnya, keluarga tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Mereka mendukung sepenuhnya apa yang menjadi keinginan Lula.
Di kursinya, Lula duduk menyendiri, memisah dari temannya. Masih ingat kan, Lula dijauhi temannya karena tertinggal dalam cara memikirkan materi pelajaran. Bahkan, dengan Elkan pun kini semuanya sisa kenangan.
Bersyukurnya satu, setelah pengumuman kelulusan bajunya tidak kotor sama sekali. Tidak ada tinta Pilok yang mengotori baju putih abu-abunya. Lumayan, mungkin 16 atau 17 tahun ke depan anak gadisnya bisa menggunakan itu.
Satu lagi keberuntungan Lula. Hari ini, di sampingnya ada seorang pria tampan tengah duduk bersedakep, menatap malas ke arahnya, seakan api kemarahan di kepala sudah mengeluarkan asap, siap untuk diledakkan.
“Masa iya kamu masih marah sama aku, Dad?” tanya Lula, berusaha memperbaiki mood suaminya. “Kaya gadis sedang pms aja!” celetuknya. Lula tidak tahu persis letak kesalahannya tu di mana. Masa iya pakai kebaya warna merah dia yang marah. Katanya kayak penyanyi sinden, astaga cakep begini dikatain penyanyi sinden. Dan anehnya pria itu marah-marah, meminta dia pakai dress saja.
Kalau Daddy yang jadi guruku, aku jabanin, tapi sayang aturan wisuda harus memakai kebaya, jadi sekali ini saja Lula terpaksa mbangkang dari perintahnya.
“Coba kakimu nggak retak, kan bisa terlihat perfect!” kini Frans membalas, masih setia dengan raut kesalnya.
Dan yang Lula sesalkan, kini ganti lagi alasannya. Memang sih Lula terpaksa mengenakan flat shoes, karena kakinya belum bisa pakai high heels. Pemulihan kaki Lula membutuhkan waktu 1-2 bulan. Dan ini masih 4 minggu pasca kejadian naas itu. Meski sudah bisa berjalan, tapi langkahnya belum benar-benar sempurna, dan Frans menyesalkan hal itu.
“Aku saja selow, kok daddy yang pusing.”
Raut Frans masih tampak murung, tangannya berusaha merangkul pundak Lula, menunggu nama gadis itu disebutkan. Rasanya sungguh lama sekali.
Ayah dan bunda memang datang, tapi mereka bilang mungkin akan terlambat karena bertepatan dengan acara pernikahan adiknya bunda Zahira.
Setelah nama Lula dipanggil itu artinya dia sudah dilepaskan dari SMA Barracuda. Lula akan menempuh pendidikan ilmu keguruan di universitas pilihannya, rupanya dia memilih menjadi guru sama seperti bunda Zahira dulu. Dan Lula, berniat untuk mengajar anak-anak PAUD saja. Mungkin dia tidak bisa memberikan banyak ilmu yang bermanfaat, tapi masalah hati, masalah kesabaran, dia akan memberi dan melayani dengan baik.
Semua siswa membubarkan diri saat acara wisuda sudah ditutup. Hingga detik ini, mereka—kedua orang tua Lula belum datang juga. Alhasil hanya mereka berdua yang mengambil foto. wisuda. Lula pun tidak peduli dengan cibiran temannya yang mengatakan jika dirinya adalah simpanan.
Namun, semakin lama bibir mereka semakin lancar membicarakan keburukan tentangnya. Lula yang muak, mulai berani membalas ucapan mereka. “Kenapa memangnya kalau aku simpanan om Frans? situ iri karena enggak bisa!” balasnya.
“Kamu masuk universitas mana?” Frans ikut bertanya.
“Ih kenapa om tanya-tanya gitu. Mau nawari aku jadi simpanan? seribu kali om minta enggak bakalan aku mau?!”
"Dad!"
Kini Frans mengikuti langkah Lula, yang menuntunnya ke arah tempat parkir.
“Kenapa Daddy kasih tahu ke dia?! Dia itu suka cuap-cuap! Nanti kebongkar rahasia kita loh.”
“Biar aja, aku seneng kalau semakin banyak yang tahu, kalau kamu itu istriku.”
“Dad?”
“Udah, ayo pulang!”
“Ayah sama bunda belum datang. Masa iya dia enggak mau lihat anak gadisnya diwisuda?” kata Lula menolak saat Frans membukakan pintu.
“Gadis? Kan kegadisanmu udah kurenggut!”
“Dasar bandot tua!” Lula kesal melangkah memasuki mobil suaminya, mengabaikan Frans yang hendak membantunya. Dia pun terpaksa merelakan momen wisudanya tanpa kehadiran ayah dan bunda, toh sudah ada Daddy yang menemaninya. Lagian tidak ada prestasi yang bisa dibanggakan.
Lima belas menit berlalu, keduanya fokus ke arah jalan. Lula tidak protes saat Frans melajukan mobilnya ke arah yang berbeda. Dia seolah pasrah ke mana pria itu akan membawanya pergi. Mungkin pria itu akan membawanya makan siang romantis.
Namun, perlahan rasa bosan menerpanya setelah satu jam
perjalanan tapi, mobil yang mereka tumpangi, tak kunjung berhenti.
“Kita mau ke mana sih, Dad?” tanya Lula penasaran.
“Jalan-jalan biar kamu nggak suntuk, udah satu bulan kan kamu enggak jalan-jalan?”
“Daddy lupa kalau kakiku masih dalam fase pemulihan?”
“Kalau capek nanti bisa pakai kursi roda, kan ada dibawa tu di bagasi.”
Wajah Lula tertekuk dalam, sepertinya setiap apapun yang Frans lakukan, semuanya terlihat salah.
“Kamu ini kaya gadis kurang jatah aja, bawaannya marah mulu!”
“BODO! emang iya!”
Frans terkekeh. “Tunggu kakimu sembuh dulu lah, Sayang! baru dapat jatah.” Frans melirik ke arah Lula. “Dulu aja nolak-nolak, sekarang ketagihan jadi bingung, kan?” Frans terbahak yang membuat Lula semakin kesal.
Rupanya rasa lelah menempuh perjalan dua jam tidak sia-sia, kini mereka berdua sudah tiba di bibir pantai yang indah. Sayangnya, cuaca siang ini cukup panas jadi Frans meminta Lula untuk masuk ke penginapan terlebih dahulu.
"Jangan kaget ya!"
"Kenapa aku harus kaget?"
"Pokoknya jangan kaget aja!" pesan Frans lalu, berlenggang mendahului langkah Lula.