Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Reuni



“Lo, di mana sih, Nyet! Gue udah sampai nih!” Frans bertanya pada seseorang melalui sambungan telepon. Dia merasa gabut ketika merasa kesepian di tengah keramaian seperti ini.


“Gue lagi nemenin istri. Bini gue lagi nemui bestie lamanya, di kelas sebelah. Harap sabar, tebar pesona dulu sono!”


“Gila Lo, lebih mentingin istri ketimbang gue!”


“Bagiku gitu. Lebih baik nemeni istri dapat pahala, ngobrol sama elo cuma dapat petaka,” ucap Aldo disusul tawa yang terdengar keras hingga membuat Frans semakin emosi. Tanpa berkata lagi, Frans memilih menutup panggilan itu.


Frans memutuskan untuk meniknati kudapan di depannya, sembari menunggu Rainer datang. Sialnya, di tempat yang semenarik ini, yang ada dalam pikirannya hanyalah Lula, istri kecilnya.


Malam nanti, dia sudah berencana menginap di rumah Rainer. Saat ini Lula sudah berada di sana izin tidur di sana satu malam. Dan dia tidak ingin angin malam mendinginkan istrinya.


“Hai, Frans! Mana pasanganmu?” seseorang menepuk punggung Frans dengan kasar.


“Enggak ikut. Ngapain juga diajak, mau Lo embat?!” balas Frans, sinis.


“Enggak ikut atau nggak punya?!” ledek pria itu, membuat Frans menatapnya kesal. “Eh, Frans, gimana ceritanya pernikahan Lo sama Priscilla batal? Padahal udah Lo tandain sejak dia nikah pertama.”


“Itu masa lalu dan jangan dibahas!” Sela Frans. Banyak rekannya yang sudah tahu jika pernikahannya dengan Priscilla batal. Tapi tidak ada yang tahu jika Lula yang sudah menggantikan posisi Priscilla saat ini. Semua itu terjadi karena ada yang memberi pengumuman digroup alumni, tepat di saat Eyang Ano dimakamkan. “Jelas gue ada yang punya. Mau lihat?!” Frans mengeluarkan ponselnya menunjukan kontak nomor Lula yang sudah diganti nama menjadi my wife.


“Sekali lagi Lo bilang gue jomblo gue kirim ke kantor kejaksaan! Pencemaran nama baik tau nggak lo!”


“Heleh-heleh paling juga itu nomornya si Rainer. Sengaja Lo ganti jadi my wife.”


“Heh, clurut! Lo, pikir gue jelek banget ya? Gak ada yang ngalahin pesona Frans di sini! kekayaan gue nggak ada yang nandingin. asal lo tahu, gue hampir 40 tahun sendiri itu karena ada yang kunantikan dan Lo gak perlu tahu siapa wanita itu.”


“Iya, nungguin jandanya Secil, kan. Tapi sekalipun Lo tampan nggak mau tu dia!”


“Anjing, Sialan Lo, nanti ya kalau udah waktunya gue bakal tunjukkin ke Lo! Biar Lo puas gue kasih waktu Lo buat lihat dia 30 detik.”


Pria di samping Frans terbahak, memang status perkawinan menjadi hal sensitif di usia Frans yang sudah menginjak 40 tahun. Sering juga menjadi bulan-bulanan para petingginya yang sudah mendapat pasangan.


“Enggak papa, nikmatilah masa jomblomu! Mumpung belum ada yang merepotkan.”


“Gue bukan jomblo, SIALAN!” saat Frans bersiap hendak mendaratkan pukulan, pria itu justru sudah menjauh, meninggalkan Frans seorang diri.


Frans meneguk minuman di atas meja saking kesalnya, tanpa peduli jika minuman itu mengandung alkohol. Dia baru menyadari saat isi gelas itu habis.


“Sialan! Gimana panitianya ini, bisa- bisanya ngasih alkohol. Untung gue belum punya anak, bisa-bisa anak gue ikut mabuk!” keluh Frans, sekelebat bayangan dirinya memiliki bayi melintas.


Namun, lamunannya hancur setelah suara seorang wanita menyapa pendengarannya.


“Sendirian aja? Bocah itu ke mana?”


“Bocah yang mana?” tanya Frans.


“Ya, elah sapa lagi, si Frans?!” wanita duduk di samping Frans.


"Dia punya nama, Lula. Quilula Suha." Frans merasa ilfil melihat belahan dada Priscilla yang terlihat padat berisi. Sekarang Frans berpikir, kok bisa dulu dia begitu menyukai benda itu? Bahkan pernah menyebut benda kenyal kesukaan. Astagfirullah! Frans merasa ada yang salah dengan masa mudanya. Dia bergegas meninggalkan meja, tidak ingin dimarahi mertuanya karena dekat-dekat dengan Priscilla.


Suara dari MC terdengar begitu menggema mengisi ruangan, acara hampir dimulai tapi sahabatnya juga belum datang. Dan saat ini dia seperti terjebak dalam lingkaran labirin. Tak bisa keluar karena banyaknya teman yang menyapa.


Kali ini Frans menghentikan langkahnya saat mendengar suara seorang wanita yang memanggil namanya. Tentu saja Frans bisa bersikap ramah dengan wanita itu, dia masuk dalam deretan mantan pacar. Wanita itu begitu lembut, tidak seperti Priscilla yang selalu mengusik kehidupannya saat ini.


“Kamu sendirian ya? Wah cocok nih, nanti bisa jadi teman dansa.” Frans bersikap seolah -olah saat ini memang sedang bestatus jomblo. Lupa jika sudah punya istri di rumah.


“Loh, loh, emang Secil gak datang? Takutlah nanti lagi dansa tiba-tiba dilabrak sama dia.” wanita dengan rambut sepinggang itu membalas, diiringi tawa kecil dari bibirnya.


Frans terbahak, lalu menjawab, “kehidupanku tidak lagi berpusat pada Priscilla. Bosan, nah masa dia terus. Sekali-kali dengan yang lain kan tidak masalah.”


Balasan Frans mengundang tawa wanita di depannya. “Bisa deh, nanti kalau ada undangan buat dansa bisa kita maju ke depan.”


“Ya, maju—maju, ke depan, kan? Okay!” Frans seakan bingung dengan respon persetujuan mantan kekasihnya itu, sampai-sampai lidahnya kelu untuk menjawab.


Frans membiarkan wanita itu berlalu, saat dia berpamitan padanya. Kini dia sendirian, berdiri sambil menatap teman-temannya yang sudah mengalami transformasi wajah.


“Ih, Lula... Ngintilin ayah ya? Takut ayah kepincut sama cewek lain?!”


“Eh, Rain, guru biologi mana? Kok nggak keliatan, harusnya dibawa dong”


Tentu saja suara itu membuat Frans menoleh ke sumber suara. Seketika pandangannya bertemu dengan Lula yang sedang tersenyum lebar dengan teman sekelasnya dulu.


“Bunda, di rumah, Om!” Lula tersenyum lagi, kali ini lebih lebar dari saat pertama tadi. “Iya, Lula disuruh jagain ayah, takutnya kepincut lagi sama Tante donat.”


Pria di depan Rainer terbahak, sedangkan Rainer, melepas kancing jas yang dikenakan, merasa gerah. Berharap rekannya itu tidak melanjutkan pertanyaanya. “Masih ingat saja moment itu?” tanya Denis.


Melihat obrolan Lula dengan teman lelakinya dulu ada rasa tidak terima dalam diri Frans. Cemburu. Padahal katanya enggak mau datang, nyatanya ada di sini! Huft. gerutu Frans dalam hati.