
Jarum jam terus berdetak, kini sudah menunjukan pukul tujuh malam. Di luar sana hari mulai gelap, suasana semakin syahdu saat rintik hujan mulai membasahi bumi.
Lula yang merasa perutnya kosong berusaha mencari makanan di dapur. Sekaligus ingin melihat apa yang sedang dilakukan suaminya saat ini. Kebetulan Bu Juned dan Dona masih berada di rumah papa mertua, jadi dia harus menyiapkan makanan sendiri.
Tiba di dapur, Lula justru dikejutkan dengan Frans yang berdiri di depan kompor. Rupanya pria itu sedang memasak. “Emang Daddy bisa masak?!” cela Lula seraya membuka lemari pendingin, melirik ke arah Frans saat mulai meneguk air mineral yang baru saja dikeluarkan.
“Enggak. Cuma bikin mie rebus, dan aku bisa melakukannya.” Frans berucap penuh bangga.
Lula berjinjit, menilik air di dalam panci. “Mau masak mie berapa?” tanya Lula.
“Satu aja.”
“Kalau satu air nya kebanyakan.”
“Ya, sudah dua.”
"Emangnya habis?"
"Yaaaa, satu aku satu lagi buat istriku!"
Lula tersipu diperhatikan seperti itu, walau hanya mie tapi kalau yang memperhatikan itu suaminya siapapun pasti berbunga-bunga, apalagi di saat perutnya sedang dilanda kelaparan.
“Daddy minggir dulu, biar aku buatkan!” Lula berusaha mengambil alih. Tangannya kembali membuka lemari pendingin mengambil sayuran dan pelengkap lainnya.
“Nanti kamu capek?”
Lula meringis, seraya berjalan mendekati kompor. "Aku kan punya alat pijat."
“Mana? siapa yang beliin? kakek Ken?”
“Itu tangan Daddy, ada dua kan nganggur, jadi bisa kalau pundak ku pegal, terus dimanfaatin!”
Frans tersenyum masam. “Ya sudah ini kamu masakin ya! Nanti kalau pegal bilang sama aku.” pria itu tidak beranjak, dia setia berdiri di samping Lula, mengamati cara istrinya memasukan telur ke rebusan air. "Besok aku jemput Bu Juned."
“Berdua saja nggak papa kali, Dad! Lula bisa kok ngurusi Daddy!”
“Sayang tanganku, kalau harus mijitin kamu tiap hari. Sebenarnya tidak masalah kalau dapat grand prize nya yang enak-enak!” Frans kemudian meninggalkan dapur sebelum Lula melayangkan spatula ke arahnya.
Pria itu memilih duduk di meja makan, menunggu mie kuah buatan Lula, siap. Dari posisinya, Frans tak berpaling dari gerakan tubuh Lula yang tengah fokus memasak mie. “Lula!”
“Jangan manggil aku kalau tidak penting!” Lula memberi peringatan, wajahnya mulai berkeringat akibat uap panas dari air yang mendidih.
“Ini penting!”
“Kenapa?” Lula melirik ke arah suaminya.
“Kamu mbok ya, jangan panggil aku 'Daddy' Ini suamimu bukan buapakmu!”
Lula terkekeh melihat bibir Frans yang begitu dramatis mengucapkan kalimat itu. Heran, apa dia pikir usianya masih ABG. “Lantas? Daddy maunya dipanggil apa?”
“Sayang.” Frans menjawab cepat.
“Kan aku enggak sayang sama Daddy.”
“Terus aja nyangkal! kuaduin sama Rainer!”
Lula kembali terkekeh, tak ingin menanggapi ucapan suaminya, memilih fokus ke mie takut over cook. Lagian, tidak ada waktu untuk memperpanjang masalahnya, itu hanyalah masalah sepele. Lebih baik lekas menyelesaikan masakannya, kasihan kremi-kremi di perutnya, sudah semakin memberontak, tak sabar untuk menikmati makan malam.
Setelah masakannya matang sempurna Lula lekas menyajikannya di atas meja. Aroma gurih dan platting yang menarik, menggugah selera makan Frans. “Aku heran, kenapa kamu bisa pintar memasak?”
“Bakat turun temurun, Dad!” Lula mulai menggulung mie di mangkoknya. Mulai menyantap dalam diam, sama seperti biasanya, makan tanpa suara.
Berbeda dengan Frans, tangan pria itu mulai berani makan seraya bermain dengan ponsel. Mendadak jadi multitasking, berbeda saat masih ada Eyang Ano. “Papa ferdinan meminta kita untuk datang ke rumahnya, besok malam.”
“Ada acara tahlilan?” tebak Lula.
“Bisa jadi. Tapi aku nggak bisa datang?”
“Kenapa?”
“Aku sudah lebih dulu membuat janji dengan seseorang.”
“Sama siapa?” Lula semakin penasaran, meski dirinya sudah menghapus bayangan Tante Priscilla, tapi tetap saja nama itulah yang muncul dalam benaknya.
“Kepo banget! Udah habisin makanannya, aku tunggu di sofa.”
Lula kembali fokus ke arah mangkok, aliran darahnya semakin mendidih mendengar kalimat suaminya.
“Mau aku bantu?” tawar Frans yang belum beranjak dari meja makan.
“Aku mau bantu kamu habisin mie, asal kamu suapin aku!” imbuh Frans.
“Manja.”
Frans tertawa lebar, "enggak mau ya sudah!" Frans mendorong kursinya ke belakang dengan kaki, meninggalkan Lula di meja makan. Dia harus mengurusi bisnisnya terlebih dahulu sebelum berbicara dengan Lula.
Paham dirinya sedang ditunggu Lula lekas menyantap makanannya. Sedikit tergesa-gesa, karena tidak ingin Frans menunggunya terlalu lama.
“Ada apa sih, Dad?!” tanya Lula seraya melangkah mendekati sofa.
Frans itu justru memberi isyarat pada Lula untuk diam. Dia ingin menyelesaikan panggilannya terlebih dahulu.
Lula mendengkus kesal, meski begitu dia tetap menurut perintah suaminya, menunggu sampai pria itu mengakhiri panggilan.
Sialnya, bukannya cepat mengakhiri panggilan itu, Frans justru terus terusan berbicara dengan seseorang ditelepon. Lula bukan tipe gadis yang kuat untuk diajak begadang. Perlahan rasa kantuk menghampirinya suara Frans yang sedang berbicara di telepon menghantarkannya menuju alam mimpi.
Frans baru menyadari setelah merasa cukup lama menelepon rekan kerjanya. Saat menoleh ke arah sofa, dia menggelengkan kepala menyadari Lula yang sudah terlelap.
Lebih terkejut lagi saat netranya tertuju ke arah layar ponsel, mendapati jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Frans baru sadar ternyata selama itu membahas masalah pekerjaan, hingga mengabaikan Lula begitu lama.
Frans yang tidak tega membangunkan Lula, mengangkat tubuh gadis itu, membawanya memasuki kamar utama.
Padahal, dia ingin memberitahu jika dirinya tidak akan mengizinkan Lula masuk ke universitas luar negeri. Rasanya tidak rela meski tujuan Lula untuk menimba ilmu. Dia rela menjadi sopir pribadinya asalkan Lula masuk ke universitas yang ada di Jakarta.
“Tidurlah, kamu pasti lelah!” gumam Frans seraya menutupi tubuh Lula dengan selimut. Dia ikut naik ke atas ranjang, lalu mendaratkan kecupan di kening Lula, sebelum mematikan lampu utama.
“Kenapa masih kurang?” gumam Frans, dia semakin ketagihan untuk mendaratkan ciumaan di wajah Lula. Kali ini bukan lagi di kening, melainkan di bibir Lula membuat gadis itu mele-guh pelan karena Frans terlalu bernaf-su melu-mat bibirnya.
Bukannya kesal Frans justru tersenyum simpul. “Sttt ... Tidurlah, wajah polosmu sangat menggemaskan!” Kali ini Frans tidak lagi mencium Lula, tapi menggunakan tubuh Lula sebagai guling yang biasa menjadi obyek luapan kegemasan dirinya. Hebatnya saat ini gulingnya membalas pelukannya, membuatnya merasa nyaman dan hangat. "akhirnya malam-malamku enggak kedinginan lagi!" Frans terus bergumam, menikmati rasa bahagia karena bisa memiliki Lula, dia sampai lupa dengan kepergian eyang Ano.
“Lula, pinjam rahimmu buat tempat anakku boleh? Tapi setelah itu kamu jangan pernah ninggalin aku! jangan melakukan apa yang Levin perintahkan padamu!”
“Hm.” di bawah akan sadarnya Lula merespon.
“Serius?!” tanya Frans.
“Hm.” kali ini respon Lula begitu meyakinkan.
“Kamu sudah siap?” Frans mengangkat kepalanya, mengamati wajah Lula dari jarang paling dekat. Dia ingin memastikan lagi keputusan Lula. Jujur dia semakin bergai-rah saat Lula menjawab dengan anggukan kepala.
“Serius Sayang?”
“Hm, iya!” Lula memalingkan wajahnya.
“Ini bakalan sakit loh, tapi aku sebagai suami bertanggungjawab akan berusaha membuatmu nyaman.”
Frans mematikan lampu utama kamar dengan remote kontrol. Setelah itu bersiap menikmati malam pertamanya dengan Lula. “Coba buka mata dulu?!” perintah Frans sembari bermain-main dengan kelopak mata Lula.
Lula justru menangkis kasar tangan pria itu. “Apaan sih, Dad! Gangguin orang tidur aja, deh! Ngantuk nih!” responnya dengan nada kesal.
“Katanya sudah siap?!” protes Frans.
“Siap apa?” tanya Lula, kini dia benar-benar sudah bangun, dan bingung dengan apa yang dibicarakan pria itu.
“Siap mengandung bayiku!”
“Aihs, udah sana pergi! Jangan ganggu aku!”
“Eh, tadi kamu yang bilang sendiri, Lulaaa.”
“Bilang apa aku tidak ingat. Lagian Daddy ini gimana sih. Orang tidur diajak bicara!” protes Lula. "enggak ngerti apa aku ini capek!"
"Weh, mau menang sendiri! kamu mau ngerjai Daddy, pengen Daddy masuk angin karena mandi malam!"
“Salah sendiri, kenapa harus mandi malam! udah, udah aku mau tidur besok Lula sekolah.” Lula bergumam lalu menarik selimutnya semakin tinggi. Melindungi diri dari physical touch yang dilakukan suaminya.
“Terus kapan kita ihik-ihiknya?” tak ada respon dari Lula membuat Frans mengguncang tubuh istri kecilnya. “Lula! kapan kita bi—kinnya?” rengek Frans, tak sabaran.
“Tunggu weekend! Lula enggak mau diledekin teman gara-gara berjalan dengan langkah kaki yang aneh.”
Frans membuang napas kasar.“BAIKLAH. Tiga hari lagi, kan? Cepet itu!” kata Frans berusaha menyemangati dirinya sendiri.