
Lula berusaha mengontrol emosi, tidak ingin membuat kericuhan di tempat pesta yang diadakan Eyang Ano. Sebenarnya, Lula sudah memperkirakan kedatangan Tante Priscilla di tempat pesta. Dan melihat itu nyata, keputusannya semakin bulat, dia harus selangkah lebih dulu dari suaminya.
“Sepertinya malam ini adalah waktu yang tepat untuk mengakhiri semuanya!” gumam Lula, pandangannya beralih ke arah Rainer. “Ayah. Eyang … boleh Lula minta waktu sebentar?”
“Acara sebentar lagi akan dimulai! Tidak bisa, Sayang. Kamu tenang saja, Eyang punya cara sendiri untuk membuat malu wanita itu!” Eyang Ano menolak, tapi dengan manis pula Lula membujuknya.
“Sebentar saja, Eyang! Sepuluh menit.”
“Apa yang ingin kamu bicarakan?” bahkan Rainer tidak paham dengan apa yang hendak dibicarakan Lula.
“Sebentar lagi ayah juga tahu!” Lula tidak ingin mengatakannya di tempat umum, dia harus menjaga privasi yang selama ini dijaga Frans dan keluarga besarnya.
“Baiklah!” Eyang Ano meminta seseorang untuk menuntunnya, membawanya ke ruangan yang cukup privasi, meminta Lula dan Rainer untuk mengikutinya.
“Zola, panggil dia untuk mengikuti kami!” perintah Lula kepada Zola, suaranya terdengar tegas. Membuat Zola tidak memiliki celah untuk menolak keinginan Lula.
Sesaat berlalu kini hanya ada tiga orang di dalam ruangan lima kali lima meter tersebut. Lula menarik napas dalam-dalam, sebelum membuka pengakuannya. Dia tidak ingin membuang-buang waktunya dengan menunggu Frans datang. Dia harus mengatakan jujur pada ayah dan Eyang.
"Apa yang ingin kamu katakan, Lula?" tanya Rainer yang sudah duduk di sofa bersama Eyang Ano. Lula yang semula berdiri tegak, tiba-tiba menjatuhkan bookongnya di karpet, duduk bersimpuh di antara eyang dan ayah Rainer.
“Ayah! Eyang …” Lula memejamkan mata erat, tidak ingin melihat kekecewaan di wajah mereka. “Maafin Lula!” mintanya dengan setengah suara. “Maafin Lula yang sudah membuat segalanya jadi rumit! maafin Lula juga yang sudah menciptakan kekacauan ini. Maafin Lula, yang sudah berpura-pura mencintai Daddy Frans, padahal di sini, posisi Lula hanyalah menggantikan sesuatu yang dulu pergi!” Lula perlahan membuka matanya, dan yang dilihat saat ini adalah raut murka dari wajah ayah dan Eyang Ano.
“Maafin Lula yang pura-pura bahagia hidup dengan Daddy! Maaf karena demi uang Lula rela menggantikan tante Priscilla yang kabur hari itu,” imbuhnya dengan suara jelas.
“LULA!” teriakan Rainer menggema di ruangan, pria itu tidak terima dengan pengakuan Lula.
“Ayah, maafin Lula! Lula tidak mencintai Daddy, sama halnya dengan perasaanya terhadap Lula. Bahkan, daddy memberiku lima juta satu hari.” Lula kembali memejamkan mata, air matanya keluar melalui sela kelopak matanya saat melihat pandangan kecewa dari ayah Rainer. “Eyang … maafin Lula sudah salah di sini. Lula sudah lelah, dan Lula tidak ingin lagi membohongi kalian!”
Pandangan dua orang itu menajam ke arah Lula, seakan tidak percaya dengan sikap Lula yang selama ini.
Frans yang baru saja menginjakan kakinya di ruangan, ikut shock mendengar pengakuan Lula. Dia heran kenapa gadis itu mengatakan jujur pada mereka.
“Maafin Lula, Eyang!” Lula sesenggukan, dia benar-benar sedih melihat kekecewaan yang timbul dari orang yang dia sayangi. "Ayah ..." panggil Lula lirih. "Maafin, Lula!"
Jika malam ini tidak ada pesta penting untuk Frans. Mungkin Rainer akan memukul kuat wajah pria yang kini berdiri di balik tubuh Lula. Dia berusaha mati-matian menahannya.
“Kenapa kamu tidak meminta uang kepada Ayah?! Ayah pikir karena kamu tidak membicarakan masalah keuangan, uang dari ayah sudah cukup untuk memenuhi kebutuhanmu, Lula! Kenapa kamu harus melakukan ini?!”
“Uang dari ayah cukup, lebih dari cukup untuk Lula! Maafin Lula, Ayah! Maaf sudah membuat ayah malu! maaf belum bisa bangga karena memiliki Lula! ayah maafin Lula!” Lula terus mengatakan maaf sampai Rainer menerima permohonan maafnya. Entah sudah berapa kali dia menyeka air matanya, tapi rasanya cairan bening itu tak kunjung mengering.
“Tidak, Lula! Bukan kepada Ayah! Tapi seharusnya kamu meminta maaf sama Allah, kalian sudah mempermainkan pernikahan!” kata Rainer, rupanya dia sudah los kontrol, memaki dengan suara keras.
“Ayah! Eyang ….” Lula menatap mereka bergantian, berharap ada kabar baik usai mengatakan jujur kepada mereka.
“Kau mikir tidak sudah merusak masa depan Lula!” Eyang Ano tampak begitu marah melihat Frans saat ini. “Dan sekarang kau justru membawa jallang itu kembali! Kau lebih memilihnya? Apa yang kau harapkan, Frans!”
“Eyang ….”
“Eyang pikir kamu sudah bisa melupakan wanita itu, eyang pikir kalian berdua sudah bahagia! Dan ternyata ini yang kalian sembunyikan dari kami!” napas wanita itu naik turun begitu cepat, menahan emosi yang hendak bermain tangan pada cucunya sendiri.
Lula hanya bisa menangis, melihat respon yang ditunjukan Eyang Ano. "Maafin, Lula sudah mengecewakan Eyang! Lula yang bodoh di sini! karena mau menikah dengan Daddy, tanpa memikirkan akibatnya."
Hening mengambil alih sejenak, hanya terisi dengan suara tangis dari Lula.
“Apa yang akan kalian putuskan setelah ini?” tanya Eyang Ano.
“Bercerai!”
“Bertahan!”
Jawaban mereka nyaris bersamaan. Membuat dua orang yang duduk di sofa, kebingungan. Frans dan Lula saling tatap, sebelum akhirnya Lula angkat bicara. “Sesuai kesepakatan, Eyang. Kita akan berpisah! Jadi Eyang jangan mengumumkan status Lula! Biarkan saja mereka tahu kalau memang tan—
“Lula!” sentak Frans.
Lula sama sekali tidak merespon panggilan Frans. Dia justru kembali berbicara sambil menatap Eyang Ano. “Daddy masih mencintai tante Priscilla! Selama ini tidak ada Lula di hatinya.” Lula menghapus air matanya, berusaha kuat untuk mengatakan kalimat selanjutnya. “Di dompet Daddy, masih ada fotonya tante Cilla, di kamar ada koleksi gaun, tas, sepatu untuk tante! Semuanya masih tentang tante Priscilla, dan mungkin, selamanya. O, ya! kepergian Daddy beberapa hari yang lalu, juga bukan karena perjalanan bisnis, tapi karena ingin menemui tante Priscilla, menjemputnya, dan membawanya ke Jakarta! jadi, Lula tetap pada keputusan Lula, berpisah!”
Eyang Ano menarik napas berulang kali mendengar penjelasan Lula, dia tidak ingin memaksa apapun yang diinginkan Lula. Mengingat selama ini, sudah banyak sekali kesalahan yang sudah dilakukan Frans.
“Lula salah paham! Tidak begitu, Eyang!” Frans berusaha menjelaskan.
“Begitu Eyang! Daddy yang berusaha membela diri! Dia buat Lula menunggu di rumah! dia pergi tanpa pamit, tanpa kabar?! Alasan apa lagi yang bisa membuat kita bertahan. Jadi, pulangkan Lula pada Ayah! Lula tidak bisa lagi, jadi istri pengganti.”
“Lula!” teriak Frans, frustasi. “Bisa diam dulu?!”
Dua orang yang menjadi hakim pengadil seakan menikmati perdebatan keduanya, mereka seperti pasrah dengan keputusan yang akan diambil keduanya.
“Aku bisa jelasin semuanya!”
“Kamu bukan menjelaskan, tapi berusaha membela diri! Udah Dad, Lula lelah! Lula lelah sedih terus!” tangis Lula pecah, dia menangis tersedu-sedu, sambil berulangkali menyeka air matanya. “Masih kurang menyakiti Lula? Daddy ngantar mantan ke salon! Sedangkan Lula sendiri diantar Zola! Lula punya saksi. Di Maya Daddy, mantan lebih berharga dari Lula! jadi jangan menahan Lula!” Lula menatap Eyang Ano. “Eyang kalau tidak percaya, bisa panggil Zola, tanya ke Zola, ucapan ini benar atau salah?” bibir Lula sampai bergetar saat mengatakan kalimat itu.
“Foto, dan gaun yang ada di kamar, memang benar ada!” aku Frans tanpa berani menatap Rainer. Di awal pernikahan, sejak Rainer tahu dia pergi menemui Priscilla hari itu, dia sudah berjanji untuk melupakan semuanya tentang Priscilla.
Tubuh Lula mendadak kehilangan tenaga, terasa begitu lemas. Belum sempat sembuh goresan luka di hatinya, Lula kembali tersakiti lagi. Dia bingung sendiri dengan mau hatinya, katanya tidak cinta tapi kenapa sesakit ini saat mendengar pengakuan suaminya.