
Sepanjang perjalanan menuju sekolah, Lula diam tanpa kata. Pandangannya tertuju ke arah jendela samping, tepatnya ke arah lalu lintas yang ramai lancar. Bagian dadanya masih terasa nyeri ketika berpisah dengan Bunda Zahira, kata pamit yang diucapkan membuat mata wanita itu berkaca-kaca, dan itu mampu membuat pikirannya kacau. Kadang begitu, seseorang baru merasa kehilangan saat jarak harus memisahkan.
“Tumben diam?” Frans yang tengah mengemudi berusaha memecah keheningan, rasanya tidak nyaman saja melihat Lula tidak bertingkah. “Lagi enggak enak badan, kah?” sambungnya.
“Tidak.” Lula menjawab tanpa menoleh ke arah suaminya.
“Lalu?”
“Aku cuma kepikiran sama bunda, sepertinya berat kehilangan aku.” Lula berkata lirih. “Apa kita tinggal dengan mereka saja?!” tawar Lula, berusaha mencari solusi, tapi dia tidak menyadari jika itu justru akan membuat Frans tertimpa masalah.
“Emang kamu mau tidur bareng Daddy setiap malam?” tanya Frans, sebelum memberi keputusan.
“Enggak!” Bisa hilang kepera-wananku jika tidur denganmu setiap malam. pikir Lula.
“Lihat aja semalam! Kita terpaksa tidur satu kamar karena tidak ingin mereka tahu tentang kondisi pernikahan kita. Kalau Daddy sih Yes aja, tidur di manapun okay!! Kalau sampai terbongkar, daddy tinggal bilang, cuma mau nolongin kamu karena tidak ingin kakek Ken kembali terserang—
Lula yang tak ingin mendengar lagi menutup mulut Frans dengan satu tangannya. “Yang ada Lula yang jadi pengantin pengganti!” ketus Lula seakan berusaha mengingatkan Frans, tentang niat awal mereka menikah.
Frans sadar akan itu, dia juga tidak tahu bagaimana dengan Eyang Ano kalau sampai tahu dengan fakta di balik pernikahannya dengan Lula. Mungkin juga penyakit lamanya akan kambuh. Tapi dia tidak ingin sok kelihatan butuh Lula banget. Dia hanya ingin membuat keadaanya terbalik. Lula yang butuh dengan kehadirannya.
Tangan Lula sudah terlepas, dia kembali duduk dengan benar di samping kemudi. “Apa tante Priscilla belum ada kabar?” tanya Lula, pelan.
“Belum.”
“Sebenarnya dia ke mana, sih?” Lula penasaran karena dia tidak ada kabar sama sekali. “Apa Daddy sudah mencari ke rumah teman-temannya? Atau jangan-jangan selama ini Daddy tidak pernah berusaha untuk mencarinya?!”
Frans menarik napas dalam-dalam, karena Lula dia kembali diingatkan dengan kejadian di Singapura. “Sepertinya dia tidak mau menikah dengan Daddy?”
“Tapi, kan Daddy cinta.” Lula kembali mengingatkan, se-bucin apa pria itu.
“Ya. Tapi kalau cinta tanpa balas apa perlu dilanjutkan?”
“Berarti penantian Daddy sia-sia, dong!”
“Kenapa menyimpulkan seperti itu. Buat Daddy waktu menanti itu juga bisa digunakan untuk menyeleksi, sepantas apa dia untuk kita. Kalau kenyataanya tak seperti yang kita harapkan. Buat apa?”
“Tapi Daddy menantinya sudah lama! Masa iya baru sekarang mata hati Daddy terbuka?”
Mobil Maserati hitam mengkilap sudah tiba di depan pintu gerbang sekolah Lula. Jadi pria itu tidak berniat melanjutkan pembahasan mengenai Priscilla. “Sekolah yang bener! Ingat kata kakek Ken; buat suamimu bangga karena sudah memilihmu!”
“Kalau dibalik?” Lula menatap Frans intens. “Apa yang sudah diberikan suami yang tidak mencintai istrinya!” Lula menepuk pundak Frans. “Ingat daddy, 5 juta perhari. Itu bukti kalau pernikahan kita tidak serius!” Lula mengingatkan lagi, tentang fakta kalau pernikahan mereka tidaklah seserius dari yang mereka saksikan. Lula meraih punggung tangan suaminya. “Pamit, ya! Aku akan buat bangga suami yang mau mencintaiku!” seraya mengecup punggung tangan Frans.
Lula mulai menjauh dari mobil milik suaminya. Dia sudah terlambat lima menit, tapi karena pintu gerbang masih terbuka ia pun langsung masuk begitu saja.
Hari ini Lula tidak ingat sama sekali jika dia meninggalkan ponselnya di meja kerja yang ada di kantor Frans. Dia pergi ke sekolah tanpa alat komunikasi apapun. Berharap suaminya akan menjemputnya tepat waktu siang nanti.
Dia sih bisa saja hidup 12 jam tanpa ponsel. Hanya saja orang yang dikenali selalu khawatir dia akan menghilang dan sulit ditemukan.
Seperti hari ini, usai pulang sekolah, karena tidak menemukan mobil Frans di depan pintu gerbang, Lula memilih langsung menaiki angkutan umum.
Tempat yang menjadi tujuannya adalah rumah sakit Ramones, ia merasa ini adalah kesempatan baik untuknya sebelum kembali menerima tugas berat dari guru private nya nanti. Lula berniat menemui beberapa pasien di sana. Karena sudah beberapa hari ini, dia tidak berkunjung.
“Ayah di mana?” tanya Lula pada perawat yang dikenali.
“Masih di ruang operasi, Mbak.”
Lula tersenyum tulus, menerima laporan dari wanita itu. Anggap saja dia mata-mata yang dikirim Lula, tugasnya mencaritahu pasien mana saja yang pantas menerima uluran tangan darinya.
Setelah membaca sekilas laporan itu, Lula melanjutkan langkahnya menuju bangsal kelas tiga. Sesuai dengan laporan yang tadi dibaca.
Hari ini, Lula menemui gadis tiga belas tahun yang divonis gagal ginjal oleh dokter. Bayangkan saja usia 13 tahun sudah mengalami hal separah itu, Lula nyaris meledakan tangisnya saat melihat tubuhnya yang sudah kurus kering.
Lula duduk mendengarkan cerita dari kedua orang tua pasien. Mereka berkata, setiap dua minggu sekali gadis bernama Sofya itu perlu cuci darah. Jadi biaya yang dibutuhkan pun cukup banyak.
"Dia suka sekali melukis! Tapi jangankan membeli kanvas, bisa makan untuk hari ini saja, kita perlu jungkir balik!"
Lula tidak pernah berada di titik itu, tapi dia paham seberapa sedih mereka saat ini. "Saya pamit dulu, Bu!" hanya itu yang disampaikan Lula, dia tidak pernah menjanjikan apa yang pasien inginkan. Karena dia paham jika dia melakukan itu, artinya dia sudah mengucapkan janji, menuruti mereka.
Keluar dari bangsal kelas tiga, Lula tidak langsung pulang. Dia justru memasuki ruang administrasi untuk memberi uang muka pengobatan Sofya. Mungkin gadis itu adalah calon penerima bantuan tetap darinya. "Nggak bisa minta tawar untuk biayanya. Biaya cuci darah berapa sih?"
"Bilang saja sama pak Kenzo, Dik!"
"Nanti kebaikan yang dicatat atas nama Kakek Kenzo dong! Gimana sih, Mbak!" canda Lula, yang mampu menularkan senyuman pada wanita yang mungkin sudah lelah bekerja seharian.
"Baiklah, nama Lula akan tetap disamarkan di dunia! tapi akan wangi di sana nanti! udah sana pulang! udah malam, Dik!" wanita itu memperingati.
"Baiklah! Hati-hati, Mbak pulangnya! Itu dedeknya sudah bisa apa sekarang?" tanya Lula yang justru membuka topik obrolan lain.
"Udah, sana pulang, Dik!" geram wanita itu. Lula akhirnya menurut, keluar ruang administrasi dengan bibir mengerucut.
Ketika Lula berjalan keluar rumah sakit, suasana sudah berubah. Hari sudah berubah menjadi gelap, lampu-lampu jalan sudah berpijar terang. Dengan seragam yang masih melekat di tubuhnya Lula berjalan menuju halte bus. Dia duduk sendiri di sana, menunggu bus yang hendak mengantarnya lewat.
Lima belas menit menunggu, Lula tidak menemukan bus yang lewat di jalur komplek rumahnya melewati halte tersebut. Ingin sekali dia memesan ojek online. Tapi saat ingat tidak membawa ponsel, dia pun cuma bisa pasrah.
Merasa sudah jenuh menunggu, Lula mendekat ke arah pedagang asongan yang duduk tak jauh darinya. Lula berusaha tersenyum ramah kepada ibu itu, dari wajahnya, mungkin usia wanita itu sudah lebih tua dari nenek Oca. “Ibu, bus tujuan daerah Pejaten paling akhir jam berapa ya?” tanya Lula, berusaha mencari tahu.
“Aduh, Mbak! Ke Pejaten pukul 6 sudah nggak lewat lagi,” jawab ibu itu.
Lula memeriksa jam tangannya, ini sudah pukul tujuh itu artinya dia sudah terlambat satu jam. Lula menarik napas dalam, sekarang dia bingung harus bagaimana. Mau balik ke RS pun percuma karena sang ayah sudah pulang sejak pukul 5 sore tadi.
“Ibu jualan apa? Apa ada minuman dingin?” tanya Lula, berusaha mengusir kecemasannya.
“Ada ... ada, Mbak! Mau teh atau air putih biasa?”
“Air putih saja, deh, Bu!”
Wanita itu mengangsurkan sebotol minuman untuk Lula. “Aduh Mbak tidak ada kembalian. Saya baru jualan pukul 5 sore. Mbak malah pelanggan pertama saya!” kata wanita itu saat melihat selembar uang warna merah yang diberikan Lula.
“Ambil saja, Bu! tidak apa-apa.” Lula menjawab santai. Lalu meneguk minuman yang tadi disodorkan oleh wanita itu.
Pandangan Lula tertuju ke arah keranjang anyaman bambu yang digunakan untuk jualan. Banyak kue dan camilan kering di sana. Hingga pandangan Lula menemukan lolipop warna merah.
“Ibu, lolipop nya nggak ada yang bentuk kaki, ya?” tanya Lula penasaran.
“Hah, tidak ada, cuma bentuk love aja, Mbak! Mbak mau? Udah ini ambil saja semua, saja!” kata wanita itu, mengambil bungkus lolipop lalu menyerahkan semuanya kepada Lula.
Lula menolak, justru mengambil dua bungkus lalu memasukan ke saku almamaternya. Dia berniat memberikan lolipop itu pada Frans supaya tidak merokok di area rumah. Karena jujur, meski pria itu merokok di taman, tapi aroma rokoknya masih saja bisa tercium. “Saya ambil dua ya, Bu,” kata Lula.
"Padahal diambil semua, ibu juga ikhlas, Mbak!"
Gadis itu lupa dengan tujuan awal, sangking serunya bertukar cerita dengan wanita itu. Dia sampai tidak menyadari jika dia butuh transportasi untuk mengantarnya pulang.
“Ini, bawa aja uangnya, Mbak! Buat naik taksi.” kata wanita itu seraya mengembalikan uang yang tadi diberikan Lula.
“Tidak usah Bu, saya masih ada kok!” kata Lula, dia berdiri, segera pamit karena hari sudah larut malam.
“Pamit, ya, Bu. Semoga kita dipertemukan lagi!” kata Lula melangkah menjauh dari halte bus. Dia memutuskan untuk mencari taksi saja, karena mustahil dia akan menemukan taksi di halte itu.
Langkah Lula semakin menjauh dari halte bus. Dia berjingkat-jingkat tak jelas, menari, memutar tubuhnya sambil berdendang lirih nyaris dikira orang gila karena di jam segini masih saja berkeliaran di bahu jalan. Tapi bukan Lula jika dia mempedulikan ocehan pengguna jalan yang melewatinya. Dia enjoy saja, hingga langkahnya tak sengaja menganggu seseorang yang tengah terlelap di trotoar.
"Bapak kok tidur di sini?!" tanya Lula, jiwa ibanya mencuat, saat melihat pria tua itu tidur tanpa alas.
Awalnya Lula ingin menolong pria itu. Tapi karena sorot matanya menyiratkan nafsu yang begitu tinggi Lula pun segera mundur, berniat menjauh. Sayangnya, pria itu sudah terlanjur kesal dengan Lula. Dia mengejar Lula yang dianggap sudah menganggu waktu istirahatnya.