Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Penjelasan



“Levin! Bisa kita bicara empat mata?!”


Suara ajakan Lula disambut sorakan mengejek dari rekan-rekan Levin yang berada di pinggir lapangan basket. Sedangkan pria yang disebut namanya hanya menatap malas ke arah Lula, seakan tidak menyukai jika ketenangannya diganggu.


“Ini masih pagi, LOL! Udah gatel aja!” hujat seorang pria yang berdiri tepat di samping Levin.


“Sana, Vin! Lumayan sak kecrutan!” timpal seorang lagi.


“Apaan sih, Lo!” hardik Levin menatap kesal ke arah pria yang baru saja berbicara, namanya Sutris.


Levin memang terkenal dingin di SMA Barracuda, sangking dinginnya ia sering kali dijuluki bunga salju. Herannya, banyak sekali wanita yang tertarik padanya. Termasuk Lula, ets, dia sadar sekarang, kalau dia cuma kagum aja bukan jatuh cinta. Dan beruntung nama Lula belum terdaftar di deretan barisan para mantan yang pernah hadir dalam hidup Levin.


“Kenapa?” tanya Levin, terdengar dingin, membekukan pikiran Lula, hingga dia melupakan maksud memanggil Levin. Pikiran Lula masih bekerja, berusaha mengingat niat awalnya tadi. Sedangkan satu tangannya, berusaha menarik lengan Levin kuat, persetan dengan mereka yang semakin riuh menyorakinya.


Lula terus saja membawa Levin ke tempat yang lebih sepi, lebih privasi tentunya, yang tidak ada seorang pun mampu mendengarkan.


“Vin, lo bisa minta apa saja ke gue, tapi please, kasih tahu gue di mana tante Priscilla!” Lula sudah ingat, dia langsung menyerbu Levin dengan permohonan.


“Buat apa? Lo emang mau menemuinya?” respon Levin, datar.


“Mungkin iya. Memintanya untuk kembali sama ... daddy.”


“Kamu udah siap dengan risikonya?” Levin tersenyum miring, kepalanya menggeleng, dia tidak yakin Lula akan mengatkan 'ya' dia pasti ingin melihat kakeknya berumur panjang. “Lula, aku akan memberitahumu, saat kamu sudah merasa siap! Katakan padaku jika kamu sudah benar yakin dengan keputusanmu.”


Lula merenung, menyandarkan punggungnya ke dinginnya tembok samping toilet. Kepalanya menunduk, dia harus memastikan kondisi kakek Ken stabil dulu. Barulah dia memberitahu Levin, kalau dia sudah siap dengan resikonya. Dia tidak tega, membiarkan Daddy hidup tanpa cinta.


“Masuk, sana! Bentar lagi guru datang!” titah Levin. Baru kali ini dia bicara baik-baik dengan Lula, di saat tidak ada orang yang melihat mereka berdua.


“Dikit saja, beri aku klue-nya!”


“Enggak Lula! Nikmatilah hidupmu sekarang, sebelum tante Cilla kembali. Kamu bakal kehilangan semuanya jika dia sudah di Jakarta,” saran Levin. "Tapi, kamu jangan khawatir. Suatu saat nanti, meskipun kamu kehilangan sesuatu yang berharga dalam hidupmu. Akan ada hal baik sebagai gantinya."


"Super!" Lula memberi aplouse pelan. Bahkan tak sampai menimbulkan bunyi yang menggema di koridor sekolah. Lula membuang napas kasar, menyerah, Levin tidak akan mungkin memberitahu posisi tante Priscilla saat ini. Besok, mungkin dia akan mencoba lagi. Pikir Lula.


Tiba di kelas, Lula melihat Elkan tengah menatap fokus ke arah ponselnya. Bibir pria itu tersenyum cerah, seakan ada hal lucu yang tengah disaksikannya saat ini. Lula pikir, pria itu tengah menonton drakor terbaru, tapi rupanya dia sedang membalas chat entah ke nomor siapa.


“Eh, Ayang udah datang!” sapa Elkan ramah, seakan lupa dengan kejadian weekend kemarin. “Maaf ya, kemarin sabtu ponselku disita mami. Jadi nggak bisa ngasih kabar ke kamu.”


Lula memejamkan mata mendengar laporan singkat itu. Teganya Elkan membodohi dia seperti ini.  “Bukan masalah besar!” jawab Lula acuh. Mulai mengambil duduk saat guru pengajar memasuki kelasnya.


Hari ini, Lula mengikuti pelajaran dengan baik. Entah karena pesan semangat yang dikirim daddy Frans atau memang dia lebih mudah menjawab soal yang pasti hari ini IQ nya sedikit ada peningkatan. Mungkin juga gara-gara ibu Silvya yang menggoda itu yang sudah payah mengajarinya matematika. Kali ini ia merasa lebih unggul dari Elkan.


Meski pria itu sudah selingkuh di belakangnya, tapi Lula tidak memiliki bukti kuat untuk menuduh jika pria itu selingkuh. Jadi hingga detik ini Lula masih berpura-pura bodoh. Berusaha mengikuti kemauan Elkan. Mungkin, sampai dia memiliki cukup bukti untuk membongkar sikap buruk Elkan.


“Pinjam ponselmu dong, El!” Lula sudah bersiap mengambil ponsel pria itu, tapi buru-buru, Elkan mencegahnya.


“Ih, jangan. Buat apa juga? Kamu pakai punyamu sendiri saja!”


“Please lah, punyaku kuotanya habis, aku mau minta Zola buat jemput.” Lula berusaha mencari alasan supaya dia bisa membuktikan dengan benar kalau pria itu benar-benar selingkuh darinya.


“Aku tethering deh.” Elkan mengotak-atik ponselnya, menyalakan sinyal hotspot pribadi. "Lima menit satu kecupan pipi kanan. Satu jam kecupan bibir!" tutup Elkan dengan candaan.


Lula tidak menanggapi, dia justru semakin curiga. Tidak biasanya si Elkan melarang dia memegang ponselnya. “Pelit!” Lula mencibir, mengalah. Dia tidak menggunakan sinyal hotspot yang ditawarkan Elkan, karena sebenarnya, tadi hanyalah alasan supaya dia bisa menyelidiki ada apa dengan pria itu?


Bel pulang sekolah baru saja melantun merdu. Elkan langsung beranjak dari bangkunya di saat Lula tengah memasukan buku. “Gue duluan ya, Ayang! Kamu dijemput Zola, kan?”


Pria itu langsung saja melesat pergi, Lula yang penasaran segera mengikuti langkah Elkan. Dia ingin tahu, ke mana perginya pria itu. Syukur-syukur kali ini dia bisa membongkar perselingkuhan Elkan.


Namun, gerakannya ditahan oleh Levin yang turut mengejarnya. Pria itu menahan lengannya, meminta berhenti mengejar Elkan. “Udah jangan dikejar!”


Lula berdecak pelan. “Tahu apa sih, lo, Vin!” ujarnya seraya menyentak kasar tangan Levin. Dia tidak ingin ketinggalan jejak Elkan. Setelah terbebas dari cekalan tangan Levin, Lula melesat pergi menuju pintu gerbang, berharap pria itu belum keluar dari area sekolah.


Tepat saat langkahnya melewati pintu gerbang, Lula melihat Elkan menaiki motornya keluar dari area sekolah. Pria itu sepertinya tidak menyadari kehadirannya yang berdiri di samping gapura sebelah kiri.


Lula menatap arah kepergian Elkan. Suatu keberuntungan baginya, saat itu juga ada tukang ojek yang sedang menurunkan penumpang. Lula langsung naik, meminta sang pengemudi supaya melajukan motornya. “Kejar motor itu, Pak!” perintahnya yang langsung diikuti si tukang ojek.


Lima menit berada di atas motor, sembari menatap bayangan Elkan yang melakukan motornya. Akhirnya motor pria itu berhenti di depan gedung sekolah. Elkan berkunjung ke SMA Cendrawasih, entah untuk apa pria itu berdiri di bawah pohon ketapang.


“Terima kasih ya, Pak!” kata Lula seraya memberikan selembar uang kertas pada sopir ojek. Pandangan Lula terus memantau keadaan, dia ingin tahu apa yang dilakukan Elkan di sini, berdiri di antara para siswa yang baru saja keluar.


Hingga tak lama kemudian seorang gadis berlari kecil menghampiri Elkan. Wanita dengan wajah sama, dengan gadis yang dilihatnya hari itu, gadis yang memeluk Elkan erat saat mereka berdua sama-sama berada di atas motor.


Lula hanya kecewa, karena Elkan tidak jujur padanya. Andai pria itu mau berkata jujur, dia akan ikhlas melepaskan pria itu untuk wanita lain. Lula melangkah berusaha menyapa Elkan. Pas sekali, saat ini gadis itu memeluk pinggang Elkan, hendak pergi. Lula menahan motor Elkan yang siap melaju.


Elkan langsung membeku, mendapati Lula berdiri di depannya. “Turun dulu, aku butuh penjelasan!” titah Lula, tegas.


Wajah Elkan tampak menegang, entah kenapa melihat sikap Elkan seperti ini membuat ketampanannya memudar drastis. Seolah sikap buruknya sudah menutup sikap baiknya selama ini.


“Jelaskan padaku dia siapa?!” ulang Lula saat dua orang itu sudah turun dari motor. Dia tidak bisa diginiin, kalau memang putus ya sudah putus saja.