Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Si Penelepon



“Apa kamu tadi menelepon Lula?” tanya Frans pada pria di ujung panggilan.


Setelah tiba di dalam kamar pribadinya, Frans langsung menghubungi Rainer untuk menanyakan apa benar pria itu yang menghubungi Lula di jam malam seperti ini. Dia khawatir jika yang menghubungi Lula adalah kekasihnya. Bukan Rainer.


“Iya. Eh, tepatnya bukan aku. Tapi istriku, dia protes kenapa kamu membawa Lula pergi, tanpa berpamitan dulu padanya. Aku yang kena makian tau nggak!” sungut pria di seberang panggilan.


Meski begitu, Frans lega mendengar penjelasan Rainer. “Ya, sudah kalau begitu, selamat berpacaran, di rumah sepi, kan?” saat Frans hendak menutup panggilannya Rainer justru mencegahnya terlebih dahulu.


“Lula mana?”


“Sudah tidur. Lula itu berat badannya berapa sih, berat banget gendong dia!” tanya Frans seraya mengusap pundaknya yang masih terasa pegal.


“Baru berat badan aja udah ngeluh! dengar ya! kamu baru satu jam tinggal dengannya. Kalau kamu merasa tidak sanggup untuk menghadapi Lula kembalikan padaku!”


Suara makian Rainer membuat Frans menahan tawa. Ia juga heran sabar-sabarnya Rainer menghadapi Lula. “Ya sudah aku mau tidur dulu, besok aku ada rapat pagi. Jangan khawatirkan kondisi Lula, dia akan baik-baik saja saat bersamaku.” Frans kemudian menutup panggilannya, tidak menerima protes lagi dari Rainer.


Frans melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum nanti bergelung di dalam selimut. Dia sengaja menempatkan Lula di kamar lantai bawah. Tahu sendiri Lula itu suka minta, tangannya suka sekali menunjuk barang-barang mewah saat bersamanya. Jika sedang berada dalam area rumah pasti yang akan dilihatkan adalah aplikasi marketplace, menunjuk benda yang diinginkan. Gadis itu pandai sekali menguras kantongnya. Tapi, dari dulu Frans tak pernah menolak saat Lula menunjuk barang yang diminta. Kecuali mobil, karena Rainer memang tidak mengizinkan Lula membawa mobil. Dan dia tidak ingin di saat fokus bekerja tiba-tiba Lula datang dan merengek meminta dibelikan ini itu. Bisa hancur fokusnya.


Setelah selesai mandi, Frans kembali turun ke lantai lantai bawah. Dia ingin mengisi perutnya sebelum tidur. Bakalan tidak nyenyak jika tidur dalam kondisi perut tengah kosong.


Tapi, setelah Lula tinggal bersamanya, sepertinya dia harus segera menemukan ART yang pas. Takutnya gadis itu menahan lapar, dan membuat berat badannya turun. Bisa kena omel jika Rainer tahu dia tidak merawat Lula dengan baik.


Setelah selesai menikmati sebutir apel, Frans kembali memasuki kamar. Langkahnya terhenti saat mendengar suara Lula berbicara di dalam kamar.


"Belum tidurkah?" batin Frans tak lepas menatap pintu yang tertutup rapat. Karena rasa penasaran yang kian meroket, Frans berusaha menempelkan telinganya di daun pintu. Ia terkejut saat Lula sedikit meninggikan nada bicaranya.


Udah, lebih baik kamu jangan menghubungiku! Kau kan sudah mencampakkan aku, kemarin! Lagian rahasia itu bukan urusanku. Mau lo mati, mau lo idup serah, lo!


Saat telinga Frans mendengar suara langkah Lula yang berjalan ke arah pintu, dia bergegas menjauh dari pintu kamar Lula. Khawatir apa yang dia lakukan dipergoki Lula. "Malu, kan?" pikir Frans, seraya berjalan menaiki anak tangga.


Saat langkahnya tiba di tengah anak tangga, Frans berbalik menatap Lula yang berjalan menuju dapur.


“Samperin enggak?!” tanya Frans pada dirinya sendiri. 


Saat menyadari ia tidak perlu mencampuri urusan Lula, Frans memutuskan untuk masuk ke kamarnya lagi. Sialnya apa yang tadi sempat didengar begitu mengusik kepalanya. Mendadak perasaan khawatir menyergap saat teringat ucapan Lula tadi dengan seseorang di telepon. Dia hanya tidak mau Lula terkena masalah saat tinggal bersamanya.


"Baiklah! Besok aku akan mencaritahu!" Frans berusaha memejamkan mata, berharap pagi akan segera menghampiri dan ia akan bertanya pada gadis itu, tentang siapa yang malam ini meneleponnya.