Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Ketahuan



Sepertinya, takdir tak memberi ruang antara Frans dan Ken berbicara secara empat mata. Baru saja beberapa menit Lula meninggalkan bangsal yang digunakan Ken. Pintu ruangan kembali terbuka lebar, mereka kedatangan seorang wanita paruh baya, dengan penampilan elegan yang justru menambah kecantikannya. Ya, dia mantan istri Ken. Lula biasa memanggilnya nenek Oca.


“Kenapa bisa begini? Bukankah sudah lama penyakit jantungmu tidak kambuh? Ada-ada saja kamu, Kak!” wanita itu mengomeli Ken dari A sampai Z. "Coba makannya dijaga!"


“Aku sudah baik-baik saja! jangan begitu perhatian padaku nanti suamimu marah.” Ken tertawa kecil. "jangan merusak hubunganku dengan dokter Pampam. Bisa-bisa dia tidak mengizinkan aku bertemu cucuku."


Oca membuang napas ke udara, kedua tangannya berada di pinggang kembali ingin memakai pria itu. “Aku datang karena suamiku yang meminta jadi jangan berpikiran aneh-aneh.”


Frans yang mendengar perdebatan antara si mantan suami dan mantan istri itu mulai menjaih. Dia ingin mencari Lula, melapor, sebelum peperangan terjadi dan mengguncang se-isi bangsal.


Tanpa berucap kata, permisi Frans lekas meninggalkan ruangan, berjalan menuju kantin untuk mencari Lula.


Ini bukan pertama kali Frans mendatangi Ramones Hospital. Ini hari kesekian dia datang, jujur saja dia sering berkunjung untuk menemui Rainer, berkonsultasi tentang alat kontrasepsi yang cocok untuk Priscilla.


Saat langkahnya tiba di kantin, Frans tidak mendapati Lula di sana. Ia berjalan mendekat ke arah penjaga toko yang kebetulan sedang melayani pembeli. “Lihat Lula?” tanya Frans tapi enggan ditanggapi oleh penjaga karena memang sedang ramai pengunjung.


“Kamu nyari Lula?” Aslan yang masih berada di sana berusaha menanyakan maksud kehadiran Frans di kantin.


“Kak Aslan, yah. Hai Kak, apa kabar?”


"Seperti yang kamu lihat." Aslan menjawab singkat.


"Apa kakak melihat Lula?"


“Sudah lima menit dia meninggalkan kantin. Aku sempat berpapasan dengan gadis itu.”


Jika sekitar lima menit yang lalu, seharusnya Lula sudah tiba di bangsal. Lalu ke mana gadis itu pergi? Pikir Frans. “Okay terima kasih.” Frans kemudian berlalu. Dia ingin mencari keberadaan Lula.


“Cari saja di lantai atas!”


Suara teriakan Aslan membuat Frans kembali menghentikan langkahnya. “Kakak tahu?” selidik Frans.


“Hanya menebak,” jawab Aslan diiringi senyum simpul.


“Terima kasih, lagi.” tak ingin Lula kabur semakin jauh, Frans sedikit berlari untuk mendekati pintu lift yang kebetulan terbuka lebar. untung dia masih berhasil memasuki lift tersebut.


Saat tiba di lantai tiga Frans tidak menemukan keberadaan Lula. Dia berusaha melewati setiap koridor yang ada di lantai tiga. Namun, tetap saja ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Lula.


“Perlu dikasih pelajaran hadiah nih, supaya tidak kabur-kaburan seperti ini,” gumam Frans, sejenak menghentikan langkah kakinya untuk mengatur napas.


Hingga sesaat kemudian, ia menemukan bayangan tubuh Lula, yang baru saja keluar dari salah satu bangsal. Frans membuang napas kasar, bersiap memaki Lula.


Diam-diam ia melangkah lebar mengikuti langkah Lula yang berjalan menuju tangga tangga darurat. Entah alasan apa yang membuat Lula enggan turun menggunakan Lift.


“Kena kamu ya!” seru Frans, yang mampu mengejutkan Lula, satu tangannya menjewer telinga kiri Lula, membuat gadis itu meringis karena sakit sekaligus terkejut dengan kehadiran suaminya.


“Daddy tadi nyuruh kamu apa?!” Frans berkata lantang.


“Ini rumah sakit loh, Dad! jangan teriak-teriak nanti dimarahin ayah!” Lula berusaha membalikan tubuhnya menatap Frans yang sepuluh centi lebih tinggi darinya. “Suuuth!” perintahnya seraya meletakan telunjuknya di depan bibir. “Ngapain Daddy di sini?” tanya Lula, berharap Frans tidak curiga dengan apa yang baru saja dilakukan.


“Bukan urusan Daddy!” jawab Lula, kekeh merahasiakan sikapnya.


Frans tertawa hambar, “jangan-jangan kamu mau melepas infus, dan membuat pasien kejang-kejang!” tuduh Frans mendadak ingin menggoda Lula.


“Pasti ini jebakan! Jangan-jangan Daddy yang sudah ngelakuin itu ke Kakek! Lalu Daddy kabur, mencari ku, meminta aku segera kembali ke bangsal, dan nanti saat mereka masuk bangsal menuduhku yang bukan-bukan!” Lula mengumpulkan barang bawaannya di tangan kanan. “Iya, kan?” selidiknya, entah hasutan dari siapa dia bisa berpikir seperti itu..


“Bu—bukan! Kalau kamu tiba di bangsal dan menemukan kakekmu tinggal nama saja! berarti itu ulang nenekmu!” Frans memberitahu.


“Daddy!” sentak Lula menyangkal tuduhan Frans.


“Itu, di bawah ada nenek Oca. Dia datang berkunjung, dan sendirian. Makanya buruan kembali ke bangsal sebelum kakak Ken tinggal nama!” kata Frans, berkata dengan nada mengancam, layaknya mafia yang bersiap menghabisi lawan.


Sedangkan Lula membawa wajah paniknya pergi menuruni anak tangga, tanpa peduli jika Frans kini tengah menahan tawa sembari memegang perutnya dengan tangan. Pria itu terpingkal-pingkal tanpa suara.


“Lucu juga wajah Lula kalau sedang panik,” ucap Frans. Dia berniat menyusul Lula ke lantai bawah, tapi enggan menggunakan tangga, dia memilih kembali berjalan menuju pintu lift.


Saat tubuhnya melewati ruangan di mana tadi Lula keluar, Frans berusaha menahan langkahnya. Tiba-tiba saja dia memikirkan tentang apa yang dilakukan Lula di ruangan itu? Ada keinginan untuk mencari tahu. Tapi sejenak Frans ragu.


"Daddy akan membereskan kekacauan yang sudah kamu lakukan Lula?" gumam Frans seraya mendorong pintu bertuliskan nama kencana. Dia yakin Lula melakukan hal yang tidak masuk akal termasuk membuat gaduh setiap bangsal.


Namun yang terjadi, ia dibuat dengan empat pasien yang berbaring di atas ranjang. Pasien mana yang ditemui Lula?


“Mencari siapa?” seorang bertanya pada Frans, dan sialnya itu membuat pria itu gugup. Ini bukan hal asing ketika seseorang menyapanya, tapi ia tidak paham kenapa bisa segugup ini. Mungkin, karena tebakannya terhadap Lula, salah.


“A—pa Lula tadi dari sini?” tanya Frans dengan suara lambat, mendadak ragu jika mereka akan berkata jujur padanya.


“Lula? Dia baru memberiku sebutir apel!” salah satu dari mereka menjawab.


“Sebutir?” tanya Frans, memastikan jika dia tidak salah mendengar. Saat hendak melontarkan pertanyaan ke dua, pintu ruangan terbuka lebar, seorang perawat masuk ke bangsal tersebut, menatap Frans tajam.


“Ini bukan jam besuk mohon meninggalkan ruangan ini!” usir wanita itu tegas.


“Ugh, iya. Aku akan segera pergi.” Frans melangkah keluar sebelum melihat wanita itu semakin marah dan menganggu waktu istirahat pasien.


Frans mengusir pikirannya tentang Lula. Dia lekas memasuki lift, berniat kembali ke bangsal Kakek Ken. Saat tiba di depan pintu bangsal, Frans sengaja menahan langkahnya, dia berdiri di depan pintu, ingin mendengar obrolan mereka bertiga.


“Emang siapa yang bilang nenek melepas jarum infus kakekmu?"


Mendengar itu, tubuh Frans menegang, dia yakin pasti Lula akan mengatakan pada keluarganya jika dialah tersangka yang sudah menuduh nenek Oca melakukan kejahatan.


“Enggak tahu lah, Nek! tadi ada pria tak jelas berseragam perawat yang mengatakan itu pada Lula, sepertinya baru kali ini Lula melihatnya..”


Di balik pintu bangsal Frans merasa lega saat Lula tidak langsung menyebut namanya. “Jangan-jangan dia cinta beneran sama aku.? Makanya, Lula terus melindungiku.”


“Lula, ingat baik-baik ucapan kakek. Hal itu bisa saja terjadi, mungkin dia suruhan lawan bisnis kakek yang menjelma menjadi perawat. Lula … kakek pesan sama kamu, kalau di dunia ini kamu sudah tidak menemukan orang baik. Kamu bisa menjadi salah satunya. Supaya populasi manusia baik itu tidak punah. Paham?!”


“Ya, Lula akan selalu ingat ucapan kakek.” Lula mengacungkan jempolnya di depan wajah Ken, senyumnya begitu lebar, menularkan kebahagian.