
Jujur Lula merasa bosan berada di dalam kamar sendirian. Sedari pagi ia hanya bergelung dalam kesunyian. Mau pergi tidak bisa karena Zola ada kunjungan ke Bandung, dan melarangnya untuk ikut.
Sang ayah juga lagi ikut seminar ke Semarang bersama sang Bunda, dan Ben Sagara turut serta. Sedangkan Elkan, bisa pergi tapi dia bilang sore hari. Karena ada kunjungan ke rumah neneknya.
Ingin rasanya pergi menggunakan angkutan umum, datang ke rumah singgah untuk mengantarkan tumpukan pakaiannya di lemari. Tapi pesan ayah Rainer hari itu begitu berisik di kepalanya, dan Lula memutuskan mengirimnya lewat jasa antar online. Mengumpulkan pakaiannya yang jarang digunakan, memberikannya pada anak yang lebih membutuhkan.
Pukul dua siang, Lula sudah berhasil menyelesaikan pekerjaannya itu. Dia kembali menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang, bergelung dengan pemikiran-pemikiran tak masuk akal yang diimbuhi dengan kehaluan nya yang mendadak muncul. Membayangkan dirinya mengenakan seragam petugas medis, atau menjadi salah satu orang penting yang bergerak dalam anggota dinas sosial. Dirinya terlihat begitu sibuk, mondar-mandir membantu orang yang membutuhkan bantuan.
Hingga bunyi pesan masuk, memecah kehaluan Lula. Dia meraih gawainya, memeriksa pesan masuk yang dikirim oleh Elkan.
Nyaris satu jam jemari Lula sibuk menanggapi chat dengan Elkan. Akhirnya Lula bisa keluar dari tempat ini. Ya, dia akan berkencan dengan Elkan. Mereka akan bertemu di mall ternama yang tak jauh dari komplek perumahan. Elkan berjanji padanya, akan mengantarnya saat pulang nanti. Jadi dia tidak perlu cemas, kehabisan angkutan umum.
Lula begitu bersemangat berjalan mengambil handuk mandi. Namun, langkahnya terhenti saat terdengar dering panggilan masuk ke nomornya. Lula kembali menghampiri ponsel itu, memeriksa siapa yang meneleponnya hari ini.
"Tumben telepon aku? Biasanya cuma pesan singkat saja," gumam Lula, berusaha mengabaikan panggilan suara dari Frans.
Selama terjadi perang dingin antara Lula dan suaminya, dia tidak pernah membalas pesan pria itu. Frans juga tidak pernah menghubunginya langsung. Dan siang ini merasa aneh saja, ketika nama pria itu berkedip-kedip di layar ponsel.
Lula membiarkan panggilan itu terputus dengan sendirinya. Rasa bersalah yang dulu sempat hadir, kini justru mengembang menjadi rasa benci dan kesal. Bagaimana tidak? Selama ini Silvya memberinya tugas yang begitu menyulitkan. Bukannya paham, Lula justru semakin bingung saat wanita itu menerangkan.
Lebih parahnya lagi, setiap ia mengerjakan tugas yang diberikan, Silvya justru meninggalkannya, berjalan naik ke lantai dua, untuk menemui Frans. Mungkin selain mengajarinya belajar, Silvya juga punya tugas lain, memberi service pada pria itu. Pikir Lula.
Saat kembali mendengar dering panggilan itu, Lula mulai luluh, dia lekas mengangkat panggilan suara dari suaminya. Suara pria itu terdengar saat Lula meletakan ponselnya di samping telinga. Rasanya malas sekali menjawab pertanyaan pria itu, dia merasa pertanyaan itu tidaklah begitu penting. Frans hanya bertanya perihal keberadaannya saja.
Dan akhirnya Lula memutuskan panggilan itu, memilih bersiap-siap untuk kencan pertamanya dengan Elkan. Meski dia tidak jatuh cinta dengan Elkan dia harus berusaha menghormati pria itu. Dia tidak ingin Elkan meninggalkan persahabatan yang sudah terjalin baik.
Di saat Lula tengah bersiap-siap untuk pergi, terdengar suara motor berhenti di depan rumah. Dari suara motornya, Lula tahu benar siapa pemilik motor tersebut. Frans sering membawanya ke rumah sang ayah, dan dia tidak akan lupa meski sudah hampir dua bulan tidak mendengarnya lagi.
“LULA! LULA!”
Dadanya mendadak seperti dire-mas, saat mendengar teriakan itu. Rasa kesal mendadak lenyap berganti dengan ketakutan yang begitu cepat merambat masuk ke dalam hatinya. Lula berusaha memejamkan mata, dia harus bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dia tidak boleh takut dengan teriakan pria itu.
Pintu kamarnya mulai terbuka pelan. Otot saraf Lula menegang hebat saat mendengar langkah pria itu menghampirinya, jemari-jemarinya berusaha mere-mas sisir dalam genggamannya, meredam apa yang kini tengah dirasakan.
“Kamu mau ke mana?”
Lula menarik napas dalam sebelum menjawab. “A—aku, aku ada janji dengan temanku.”
“Ti—tidak perlu, aku bisa sendiri, tidak nggak perlu repot-repot!”
“Jangan membantah, aku yang akan mengantarmu!”
Lula diam, tak bisa menghalangi niatan suaminya. Tapi dia juga tidak ingin pria itu menjadi kamera CCTV di saat dia sedang berkencan dengan Elkan.
“Tolong jaga jarak, dua puluh meter dari Lula. Aku mau kencan dengan kekasihku!” kata Lula pelan, dia masih tidak berani menatap ke arah Frans.
Frans tidak menduga akan mendengar permintaan itu dari Lula. Rasanya begitu aneh, bukankah dia sendiri yang mengizinkan Lula memiliki pacar? Tapi kenapa harus ada perasaan asing dalam dirinya. Mendampingi istrinya pacaran? Apa yang akan mereka lakukan di sana? pertanyaan-pertanyaan itu mendorong Frans menyetujui aturan yang sudah dibuat Lula.
“Sesuai permintaanmu,” kata frans. Lebih baik dia memandangi Lula yang sedang pacaran dari pada mencemaskan keberadaan gadis itu.
"Keluarlah dulu, Dad! aku mau mengganti pakaianku!" perintah Lula, kini sudah mendongak, sedikit terkejut melihat penampilan suaminya dari pantulan kaca.
Setelah pria itu pergi dari kamar, Lula mulai sibuk menggunakan make up nya. Menonjolkan bibirnya yang merekah, meratakan alas bedak ke seluruh wajah. Tak lupa dia memasukan push up bra di depan dadanya. Hal ini bukan untuk menarik gai*rah pria itu. Dia hanya ingin menunjukan jika dia juga bisa tampil mempesona dari bu Silvya.
Hampir tiga puluh menit berlalu, Lula akhirnya keluar kamar. Mungkin karena make up nya terlalu berlebihan, Lula justru terlihat dewasa dari gadis umumnya.
“Mau jalan ke mana, sih?!” tanya Frans, saat Lula berdiri di depannya.
“Ke mall.”
“Kenapa make up mu seperti mau kondangan?” cibir Frans.
Lula tidak merespon, dia berlalu begitu saja melewati Frans. Kali ini dia menyembunyikan wajahnya dari pandangan pria itu, bukan karena takut tapi karena malu.
Rasanya tidak nyaman sekali dicampakkan seperti ini oleh Lula. Dia hanya bisa membututi gadis itu, ingin tahu gaya pacaran seperti apa yang akan dilakukan Lula ketika mereka berdua berjalan di mall.
“Tenang Frans, dia hanya gadis kecil yang sedang merajuk,” gumamnya. “Kita naik motor, mobil daddy di kantor.”
Lula tidak masalah dengan hal itu, toh sudah hampir seminggu ini dia pergi ke sekolah dengan Zola, naik motor.
Setelah naik ke atas motor, Lula sedikit menjaga jarak dengan punggung Frans. Dia tidak ingin busa di depan dadanya menyentuh pria itu. Hingga ketahuan jika itu adalah barang palsu.
"Lula kenapa kamu mendiamkan aku?" tanya Frans saat motor yang mereka tumpangi berhenti di lampu merah.