Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Butuh Kamu



Obrolan mereka sedikit terjeda, saat seorang pramusaji meletakan makanan di atas meja. Frans tidak paham apa yang terjadi dengan Lula hari ini. Pertanyaan gadis itu bermacam-macam dan membuat otaknya bekerja lebih keras lagi. Beruntung, otaknya yang memang encer ini tidak kram, sehingga dia bisa menemukan jawaban yang tepat dan penuh makna.


“Untuk saat ini, Daddy lebih membutuhkan kamu.” Frans tersenyum simpul melihat respon yang ditunjukan Lula.


Sedangkan bagi Lula, jawaban itu justru membuka argumen baru. Untuk saat ini? berarti mungkin, jika nanti tante Priscilla kembali, dia harus rela melepas pria itu. Sesuai perjanjian yang sudah mereka sepakati. Keduanya akan tetap berpura-pura jodoh di depan keluarga! supaya mereka ikut bahagia jika perkawinan mereka terlihat baik-baik saja.


“Kenapa kamu tanya begitu? Apakah kamu, mulai jatuh cinta sama Daddy?” Frans yang hendak menikmati makanan terpaksa meletakan kembali sendok di tangannya.


Dari ekspresi yang ditampilkan Lula, dia sudah bisa menebak ke mana perasaan gadis itu akan berlabuh, mata di balik bulu lentik itu tak mampu membohonginya. “Lula, sebelum kamu semakin dalam jatuh ke pesona Daddy, lebih baik kamu stop deh! Daddy khawatir kamu bakalan kecewa. Karena Daddy tidak mampu membalas perasaanmu.” Frans berkata penuh percaya diri.


“Kaya kurang stok laki-laki saja! Lula tinggal tunjuk kalau Lula mau, tapi sementara ini, aku ingin fokus belajar dulu." Lula berdecak pelan, ada dua orang yang butuh prestasi darinya. "benar kata Daddy, Lula harus bisa bikin ayah dan bunda bangga apapun keadaan Lula saat ini.” Ya, setelah mengetahui perselingkuhan Elkan, Lula menjadi malas untuk menjalin hubungan dengan pria. Jadi, lebih baik ia fokus belajar, membuat kedua orang tuanya bangga, selain itu dia bisa fokus membantu mereka yang memang butuh bantuan darinya.


"Padahal Daddy memiliki kharisma loh! ayahmu saja tidak punya!" kesal Frans karena tebakannya salah kaprah. “Memangnya apa rencanamu setelah lulus sekolah?”


Lula masih bingung, hendak menggantungkan ke mana cita-citanya. Dia tidak ingin kehilangan kesempatan itu. “Entahlah, Dad. Isi kepalaku nggak bisa dibawa ke dunia kedokteran.” Lula menyipit, sembari membayangkan langkah apa yang akan diambil. Sayangnya tidak ketemu selain dirinya berjualan kue hasil buatannya sendiri. “Atau mungkin cocok buat jadi guru PAUD. Kalau untuk sekedar mengajari calistung, Lula juga mampu .”


Frans menggaruk pelipisnya, memang sih random banget Lula ini. Perasaan dulu Rainer tidak gini-gini banget. Bahkan, langsung menganggantungkan cita-citanya menjadi dokter kandungan, usai dikenalkan dengan rekan mertuanya.


“Enggak pengen kerja di kantor Daddy? Kalau kamu mau, kamu ambil bisnis management, atau adminstrasi keuangan, kamu tekuni di sana. Setelah itu kamu bisa bekerja di tempat Daddy.”


“Enggak. Pasti rasanya akan aneh! Tentunya hari-hari itu status kita sudah menjadi mantan. Akan sangat tidak nyaman pasti, kan.” Lula berusaha menjelaskan. “Aku ingin jadi manusia biasa saja, yang penting bisa berguna untuk orang sekitar dan yang paling penting, lagi, apa yang aku lakuin tidak menimbulkan kerugian bagi orang sekitarku.”


Frans tidak lagi merespon, memilih kembali menikmati hidangan yang sudah tersaji di atas meja. Suasana kembali tenang, tidak ada obrolan yang menemani saat keduanya menyantap hidangan.


Lula mengunyah makanannya seraya menatap Frans yang begitu fokus dengan makanan di tangannya. Dia tidak tahu apa yang sedang dipikirkan pria itu, mungkin rasa cintanya terhadap Tante Priscilla.


Sejujurnya bibir Lula sudah gatal ingin menceritakan kondisi tante Priscilla saat ini, tapi—melihat bagaimana Levin marah sebelum tadi meninggalkannya, Lula jadi tidak ada kekuatan untuk mengatakan itu. Jadi, Lula memutuskan untuk menjaga rahasia itu sendiri. Dia akan melihat sejauh mana Tante Priscilla kembali mendekati Daddy dan kalau Daddy mau, dia siap melepasnya.


“Daddy, apa biaya cerai itu mahal enggak sih?” Lula harus memikirkan biayanya dari sekarang, siapa tahu dia tidak memiliki tabungan di saat harus benar-benar melepas pria itu.


Frans kembali meletakan sendok ditangannya sebelum menjawab pertanyaan Lula. “Emang kenapa? Kamu mau cerai sekarang? Murah sih sebenarnya?”


“Lula belum berani ngomongin ini sama ayah, sama kakek Ken juga. Daddy sendiri bagaimana, apa sudah lelah mengurusi Lula?” selidiknya melemparkan tatapan curiga ke arah Frans.


“Belum, aku justru senang rumahku sedikit ramai.”


“Ugh, kirain Daddy sudah siap melepasku.”


Frans meringis, dia tidak bisa membayangkan bagaimana sepinya rumah itu jika tidak ada Lula. Pasti dia akan merasa kehilangan kegaduhan di dalam rumahnya.


“Oya, besok akan ada ART yang datang ke rumah. Jadi mulai besok ada dua orang asing yang akan menginap di rumah kita.”


Lula mengangguk sambil tersenyum cerah. “Terus?”


Lula memikirkan ulang ucapan Frans, apakah itu artinya dia akan pensiun dini dari pekerjaan ini?


“Maksud Daddy, kamu tidak usah repot-repot bangun pagi untuk menyiapkan sarapan. Kamu cukup mikirin sekolah saja, sebentar lagi juga ujian, kan?”


“Jadi Lula di PHK, nih?!”


“Bukan. Kamu bisa tinggal di rumah itu sesukamu, Lula! kalau pun kita pisah, maksud daddy bercerai, rumah itu akan Daddy berikan kepadamu."


Lula merasa senang, ada dorongan untuk pensiun dini supaya segera mendapatkan rumah itu. Tapi, sisi lain hatinya tidak tega melihat pria itu sepian di rumah. Lula kembali menikmati makannya. Segera Lula menghabiskan di suapan terakhir.


"Dad!"


"Apa lagi?"


“Apa Daddy sudah memiliki kekasih baru?” tanya Lula penasaran.


“Belum. Mungkin tidak akan pernah.”


“Kenapa begitu? hidup tanpa cinta bagai malam tanpa bintang Dad! Gelap. Kalau jodoh Daddy bukan tante Priscilla, mungkin akan ada orang lain yang akan mengisi ruang kosong itu. Apa Daddy tidak berniat mencari sosok itu.”


“Daddy tidak berniat mencarinya.”


Lula merasa Daddy Frans terlalu bucin pada Tante Priscilla, jadi susah untuk move on. “Daddy, ada pepatah hilang satu tumbuh seribu.”


“Sok banget, jangankan seribu satu aja belum ada.”


“Nah itu tante cecil! Daddy bucinnya minta ampun, sampai statusnya janda aja masih tetap ditungguin.” Ledek Lula.


Tapi Frans hanya tersenyum masam. Pikirannya diisi oleh kenangannya saat masih duduk di bangku SMA. Andai dia tidak nakal, andai saja dia tidak membeli wanita itu dengan sejumlah nominal. Mungkin dia tidak akan dihantui rasa bersalah. Dan mungkin, dia akan tetap menunggu sampai Priscilla hidup bahagia. Lula tidak pernah tahu alasan ini. Yang diketahui jika dirinya begitu mencintai Priscilla sampai enggan untuk meninggalkanya sendirian.


“Habiskan makananmu! Kita akan segera pulang setelah ini.”


Frans mengeluarkan sebatang rokok dari saku jas yang dikenakan. Lula yang melihat itu hanya diam saja. Dia benci asap rokok tapi dia juga tidak ingin menegur pria itu.


“Apa Levin menganggu mu, LA saat jam istirahat di sekolah ?” tanya Frans seraya membuang asap rokoknya ke udara.


“Tidak. Dia pria baik-baik. Dia tidak pernah mengganggu ku.”


“Katakan siapa pun yang berani menganggumu.”


Lula mengangguk. Setuju, meski tidak mungkin dia akan melapor pada suaminya tentang apa yang terjadi di sekolah.