
Kata aku bersedia bergaung dalam aliran darah Lula, membujuknya untuk membantu Priscilla yang tengah sakit keras. Wanita itu sama. Sama-sama membutuhkan bantuan darinya, Lula sempat berpikir untuk melakukan apa yang mereka inginkan.
Namun, saat mengkaji ulang permintaan itu, Lula tidak bisa membayangkan; alangkah sedihnya ayah dan bunda nanti ketika tahu fakta yang sebenarnya. Apalagi, jika tahu anaknya berkorban sampai sejauh ini. Mengorbankan kebahagiaanya demi Daddy dan cintanya. Akan semarah apa ayah terhadap Daddy?!
Belum lagi, ketika bayi itu lahir! Apa dia akan tega meninggalkan bayinya pada Priscilla? Bukankah itu kejam?! Lula merasa tidak sanggup membayangkan perlakuan sosok ibu tiri yang merawat anak tirinya.
“Lula! Ayo naik aku antarin kamu pulang!” Bujuk Levin yang menyusul Lula menggunakan motornya.
“Tidak, terima kasih.”
Levin pantang menyerah, dia tetap melajukan motornya pelan mendampingi motor Lula. “Aku tidak memaksamu untuk sependapat denganku! Semua keputusan ada di kamu, Lula ... Aku akan mendukungmu apapun itu. Kamu bisa percaya padaku!” bujuk Levin.
Lula langsung menghentikan langkahnya yang berjalan menelusuri trotoar. Sejenak memandangi mata Levin yang bersembunyi dalam helm.
“Aku mau ke kantor Daddy.” Lula menarik napas dalam-dalam. “Aku butuh saran darinya. Aku bingung harus berbuat apa! Aku tidak ingin salah langkah lagi. Takutnya jika aku langsung menurutimu hidupku justru semakin hancur.”
“Apa kamu akan mengatakan rahasia ini pada kak Frans?” tanya Levin, masih belum percaya jika Lula akan mengkhianati janjinya sendiri.
“Ya, dia suamiku. Dia berhak tahu!”
“Sudah kuduga, karena itulah aku kekeh ingin menyembunyikan darimu, tapi terlambat, kamu sudah tahu semuanya.” Levin kesal, menyesal karena sudah memberitahu Lula tentang rahasia yang disimpannya. Levin tidak jadi memberi tumpangan kepada Lula, dia pergi begitu saja. Tanpa peduli dengan apa Lula akan pulang saat ini.
Lula kembali mengambil duduk di trotoar, menggunakan cor-coran bendera untuk duduk, jemarinya sibuk menyentuh layar ponsel untuk memesan ojek online. Berharap tidak akan menunggu lama karena dia sudah sangat lelah.
Sepuluh menit berlalu Lula sudah berada di atas motor. Tujuan motor itu adalah ke kantor Frans yang kebetulan tidak jauh dari lokasinya saat ini.
Lula menilik ke arah jarum jam yang ada di pergelangan tangan. Masih pukul 3 sore, dia yakin Frans masih berada di balik meja kerjanya. Lula berniat langsung naik ke lantai, di mana suaminya tengah menyibukkan diri. Sayangnya seorang pegawai wanita berusaha menghentikan langkahnya.
“Maaf, Dik Lula ... Ada apa ya? Setahu saya pak Rainer tidak datang hari ini.”
Mereka tidak tahu jika Lula sekarang adalah istri dari Frans Agung Pagara. Oleh karena itu, Lula memilih mengalah. Dia tersenyum simpul, seraya mendekat ke meja tamu.
“Bilang sama Daddy, putri sahabatnya yang paling cantik ingin bertemu.” Lula berkata penuh percaya diri, membuat wanita yang berada di balik meja ikut tersenyum, memuji rasa percaya diri yang ada dalam diri Lula.
“Tapi, Mbak ... Pak Frans sedang ada tamu.” wanita itu berkata dengan nada menyesal. "Duduk dulu ya! tunggu sampai Bapak Frans selesai dulu!" rayunya seraya menunjuk ke arah sofa empuk yang terletak tak jauh dari mereka.
“Beritahu dia seperti itu! Dia tidak mungkin menolak pesona ku!” kata Lula, lupa jika belum ada satu jam yang lalu, dia terisak-isak mengetahui Elkan selingkuh. Sekarang dia sudah bisa becanda dengan pegawai suaminya.
Wanita itu membuang napas kasar, satu tangannya meraih gagang telepon untuk menghubungi sang atasan.
“Bisa sambungkan dengan Bapak?" wanita itu berbicara dengan assiten yang kini mengangkat telepon. Hingga tidak lama kemudian terdengar sapaan lembut dari ujung panggilan.
"Ada yang penting? apa kamu tidak mengerti jika ini pertemuan pentingku dengan klien?"
Wanita itu melirik ke arah Lula. "Bapak ... Mohon maaf ini ada putri dari pak Rainer, ingin bertemu dengan Bapak. Apa bisa dia naik ke atas?”
“Kamu yakin? Lula datang?!”
“Iya, Pak! Ini dik Lula ada di depan saya.”
“Antar dia ke ruanganku! Jangan lupa kawal dia sampai di atas!”
“Baik, Pak.” Wanita itu menutup gagang telepon, memandangi Lula, lalu tersenyum cerah. “Padahal pak Frans sedang ada tamu penting, loh!” godanya. “Nanti di dalam jangan bikin kacau ya, Dik!” pesan wanita itu.
Kata pengacau seakan mengelilingi kepala Lula. Kehadirannya selalu dianggap pengacau bagi semua orang di sekitarnya. “Iya. Aman saja, Mbak,” balas Lula seraya mengikuti langkah pegawai itu.
Mereka berdua berjalan memasuki lift, melewati ruang rapat, lalu berhenti di depan pintu ruang direktur utama. Lula menunggu pegawai itu membukakan pintu untuknya.
Sebenarnya, Lula bisa saja melakukan itu sendiri, tapi tubuh wanita itu menghalanginya. Seakan dia akan memporak-porandakan pertemuan Frans dengan kliennya.
“Silakan masuk! Duduk dulu, Dik!” perintahnya seraya menuntun Lula duduk di meja kerja atasannya.
“Terima kasih,” lirih Lula, seraya melirik ke arah sofa, di mana Frans tengah mengobrol dengan kliennya.
Hembusan sejuk dari Ac menerpa wajah Lula, seakan membuai Lula dalam ketenangan. Suara obrolan sepasang manusia itu bagai penghantar tidur untuk Lula. Tidak peduli jika saat ini posisinya sedang duduk. Memejam kan mata adalah solusi tepat untuk membunuh waktu yang terasa begitu lama. Perlahan Lula terlelap, meninggalkan sejenak masalah hidupnya.
Detik demi detik terlewati, sinar jingga mulai condong ke ujung barat. Frans yang baru menyelesaikan meeting-nya mendekat ke arah Lula.
Desa-han napas kasar keluar dari bibirnya saat melihat Lula terlelap di atas meja. Dia pikir, kenapa Lula tidak pindah ke kamar? Di sana ada tempat longgar yang bisa digunakan untuk tidur. Jika tidur dalam posisi seperti ini, tentu tubuhnya akan sakit semua.
Perlahan tubuh Frans membungkuk, menyingkirkan rambut yang menutupi sebagian wajah Lula. Napasnya masih teratur, gadis itu terlihat begitu nyenyak. Frans mendekatkan bibirnya di samping telinga Lula. Meniupkan udara berusaha membangunkan Lula.
Namun, Lula yang sedang berada di alam mimpi tidak merespon sama sekali. Frans menertawakan sikap Lula yang ngebo itu. Dia juga tidak kehilangan ide untuk membangunkan Lula.
“Bayaranmu Minggu ini udah Daddy transfer!” Frans berbisik di samping telinga Lula. Dan benar saja, itu berhasil membuat Lula membuka mata. Dia langsung terperanjat, mengusap matanya, sambil memfokuskan pandangannya ke arah Frans.
“Ud—dah selesai, Dad?!” tanya Lula, mencari-cari sosok wanita yang tadi duduk berhadapan dengan Frans. "Tadi, Daddy bilang apa? udah transfer uang gajiku?" tanya Lula, memastikan jika dirinya tidak salah dengar.
"Dasar anaknya Rainer gini banget! mata duitan!" ejek Frans, diiringi kekehan kecil. “Mau pulang sekarang atau makan malam dulu?”
Lula menggeleng, raut kesedihan masih tersisa di wajahnya. Lula berusaha menarik kesadarannya. Mengingat kembali kejadian sebelum dia terlelap.
"Ada apa tumben tiba-tiba datang tanpa memberi kabar? katanya mau pulang bareng Zola?!"
Ya, tadi pagi Lula berpesan kalau hendak pulang sekolah bersama Zola. Sekalian meminta oleh-oleh dari Bandung.
Lula mendongak menyelami jendela hati suaminya, menandai mata hitam milik Frans. “Apa Daddy mau punya baby sama aku?”
Frans membalas lebih tajam tatapan Lula, keningnya berkerut dalam. Dia heran dengan pertanyaan yang diajukan istrinya.
“Dad, jawab dong!? Malah melamun!” protes Lula, dia tidak menyukai sikap Frans saat ini, diam dengan kornea mata terasa mau jatuh.
“Ada apa denganmu? Kamu demam?” Frans meletakan punggung tangannya ke atas kening Lula. “Tidak juga, sebenarnya!” Frans berkata lirih.
Lula mende-sah kasar. “Siapa juga yang ingin keturunannya seperti Lula.” Tertawa geli. “Setiap pria pasti menginginkan bibit yang baik untuk mendapatkan keturunan terbaik.” Lula yakin Frans tidak akan menyetujui keinginanya itu.
“Daddy nggak mau, karena kamu anaknya Rainer. Bukan karena kondisimu! Kamu itu gadis baik, Lula! kamu berhak mendapatkan pria yang benar-benar kamu cintai, yang bisa membahagiakanmu, dan tentu itu bukan Daddy, mana mungkin kamu jatuh hati sama Daddy yang seusia ayahmu ini." Frans menertawakan ucapannya sendiri. "Ingat ya, dulu ... Daddy ikut ngurusi kamu, ganti popokmu, ikut nidurin kamu, gendong ke mana-mana saat ayah dan bundamu sedang ujian. Dari bayi hingga Segede sekarang, rasanya nggak etis saja kalau kita sampai kita punya anak.”
Lula membuang napas kasar, sepertinya ia tidak bisa melakukan apa yang diinginkan Levin. Sebaiknya dia meminta pria itu untuk mencari gadis lain. Yang seusia pria itu. Dan tentu bukan dirinya.
Lula tersenyum cerah, lalu memeluk pinggang Frans yang begitu dekat dengannya. Frans yang posisinya lebih tinggi menepuk pundak Lula lembut, layaknya seorang ayah yang menenangkan anak gadisnya. "Jadi kalau kamu bisa jadi wanita sukse, Daddy akan ikut bangga! sama seperti ayah dan bundamu!"
Lula mendongak, lalu mengusap perutnya. “Aku lapar, Dad!” keluhnya dengan suara manja.
“Mau makan malam sama Daddy?”
“Mau!” sahut Lula cepat. “Tapi jangan pizza, Lula lagi bosen makan pizza. Minggu kemarin Lula disuap pizza terus sama ayah Rainer.”
“Okay, tapi ...” Frans menarik tangan Lula, meminta istrinya untuk berdiri. “Mandi dulu, dandan yang cantik. Ini makan malam spesial, sama Eyang Ano.” Bohong, Frans sengaja membohongi Lula.
"Cantik? standar cantiknya Daddy seperti apa? apa harus seperti Tante Cecil? pakai pakaian se-xy? Teletabis nya besar?"
"Jangan sebut dia lagi! buruan keburu eyang nungguin!" Frans mengingatkan.
"Iya, iya! punya suami bawel banget sih!" Lula berjalan meninggalkan pria-nya.
"Cantik versi Lula saja, jadi diri kamu sendiri, Daddy tidak suka kepalsuan!" teriak Frans, mengingatkan. Setelah melihat Lula memasuki kamar, Frans mulai sibuk reservasi restoran untuk makan malam spesialnya bersama Lula.
"Apa ada yang mempengaruhinya, bisa-bisanya membahas bayi?" Frans tersenyum geli, bayangan memiliki bayi mendadak terlintas di kepala. "Masalahnya, siapa yang harus kuhamili? masa iya Lula?!" Frans bermonolog sendiri, sembari menunggu Lula keluar dari kamar.