Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Malam Bersama



Demi mengusir ketegangan yang menghimpit perasaannya saat ini, Frans mengalihkan fokusnya ke layar iPad dalam genggaman. Mungkin itu akan jauh lebih baik, berpura-pura sibuk sembari menunggu Lula memasuki kamarnya.


Nyaris tiga puluh menit yang lalu, sejak Frans melangkah memasuki kamar, dan meminta Lula mengganti piyama di dalam kamarnya sendiri, jantung Frans bekerja lebih aktive. Dia harus menarik napas dalam, berulang kali ia lakukan untuk mengusir kegelisahan yang melanda.


“Semua akan baik-baik saja, Frans! Tenanglah, dia tidak akan mengenakan linge*rie atau sejenisnya yang akan membangkitkan gai*rahmu,” lirihnya berusaha menguatkan diri.


Tidak mungkin dia akan tergoda dengan tubuh Lula yang tidak ada lekuknya itu. "Tapi, Lula punya Ling*rie!" tiba-tiba saja Frans teringat dengan baju dinas yang diserahkan Zahira pada istrinya. "Jangan sampai dia mengenakan itu." hanya cemas yang bisa dirasakan Frans saat ini. Berargumen jika Lula mengenakan pakaian itu, mungkin dia akan menyerah. Beralasan ada urusan darurat. "Ya, itu mungkin akan lebih baik dari pada nanti aku khilaf." masalah selesai, irama jantungnya sedikit tenang. Ia fokus dengan angka di layar iPad nya.


Suara handle pintu yang diputar, terdengar. Frans sedikit terjingkat, nyaris mengeluarkan umpatan kasar. Meski pelan, suara itu benar-benar mengejutkannya. Atau memang saat ini jantungnya lebih sensitif.


“Dad, apa tidak masalah kalau aku tidur di sini?” tanya Lula dengan nada polos. Hanya kepalanya saja yang masuk, setengah badannya masih berada di luar kamar, tatapannya tertuju ke arah Frans yang duduk di sofa.


“Masuk dan naik ke ranjang. Ini sudah malam!” Frans berusaha tenang, lalu kembali fokus ke iPad nya lagi.


Sebenarnya ini belum malam sih, dulu sebelum ada Lula, pukul 8 dia masih sibuk di ruang kerja, ditemani rokok dan kopi. Dan sekarang, dia sekarang sudah masuk kamar siap naik ke ranjang. Ini jauh lebih menyenangkan dari pada mengurusi tumpukan file di kantor.


Mendengar itu Lula berjalan menuju ranjang. Mendekap erat botol minum yang tadi dibawa. Tanpa Lula sadari, Frans memerhatikan setiap gerakan tubuh yang dilakukan Lula. Cukup aman! Hanya wajahnya saja yang terlihat, bahkan gadis itu mengenakan kaos kaki untuk menutupi telapak kakinya. Frans tersenyum simpul, mendapati penampilan Lula saat ini, sesuai usianya.


“Dad, bekas jarum infus ku bengkak.” Setelah meletakan botol minumnya ke atas meja, Lula mendekat ke arah tempat duduk Frans, memperlihatkan tangannya yang sedikit bengkak.


“Tidak masalah, besok juga sembuh.” Respon Frans. “Mari kita tidur. Kamu harus lekas pulih! Sudah dua hari kamu membolos.”


Frans menuntun Lula naik ke atas ranjang. Gadis itu benar-benar menurut, sama sekali tidak mengeluarkan kalimat pertentangan, ketika Frans menyelimuti tubuhnya dengan kain tebal.


Mata Lula mengikuti ke mana arah kaki Frans melangkah. Hingga pria itu tiba di sisi kosong ranjang yang ia tempati, Lula berusaha memastikan lagi. “Kita beneran tidur satu ranjang, Dad?!” Lula menatap heran.


Awalnya dia biasa saja ketika pria itu memintanya supaya tidur satu kamar, toh beberapa hari yang lalu mereka juga sudah melakukannya.


Namun, setelah tahu mereka akan tidur satu ranjang, kenapa jantungnya berdebar seperti ini. Ada rasa takut, kalau-kalau Frans akan memperkaosnya.


“Iya. Kenapa? Takut?” tantang Frans, berusaha menutupi apa yang sedang dirasakannya saat ini. Padahal kalau boleh jujur, iya dia takut. Piyama sutra yang dikenakan Lula, terlihat menarik perhatiannya, seolah melambaikan tangan, meminta untuk dimusnahkan.


“Enggak takut sih, Lula pasrah saja!” Lula mengambil posisi senyaman mungkin. Supaya nanti tidak terlalu banyak bergerak dan menganggu teman ranjangnya.


Sedangkan Frans, mulai merebahkan tubuhnya, dia yakin perasaan berdebar ini hanya terjadi ketika mengawali hal baru. Selanjutnya pasti akan kembali normal. Ya, tidur dengan Lula adalah hal baru. Rasanya sedikit berbeda sebelum ia mengenal Lula dengan benar.


Satu menit berlalu semuanya masih terlihat aman. Frans mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur. Membiarkan Lula terlelap di sampingnya.


Lima menit berikutnya masih sama saja. Sayangnya, Frans jadi tidak bisa memejamkan mata karena pikirannya menggantung antara tidur atau terjaga.


Suasana malam semakin tenang. Mereka belum sama -sama tidur. Sama halnya dengan Frans, dia memikirkan ucapan Levin siang tadi. “Dad!”


Lula menahan tawa mendengar sahutan serak dari suaminya. “Belum. Apa Daddy tidak punya guling? Aku tidak biasa, tidur tidak menggunakan guling?”


Frans pikir itu adalah pertanyaan jebakan untuknya, jadi ia berusaha memikirkan jawaban yang tepat.


“Selain itu kita juga bisa menggunakan guling buat garis pembatas.” Lula berkata pelan, tanpa menoleh ke arah Frans yang sudah kebingungan.


Di dalam kamar mewah itu memang sengaja tidak menyediakan guling. Kamar itu didesign untuk pasangan pengantin, jadi jangan heran kalau tujuannya untuk saling memberikan kehangatan.


“Tidak ada. Kalau kamu tidak bisa terlelap. Sini peluk Daddy, sepertinya tidak akan jadi masalah!” Frans menepuk dadanya yang bidang. meminta Lula untuk meletakan kepalanya di sana.


Posisi Lula yang semula membelakangi Frans kini berbalik menatap pria itu lekat. “Daddy yakin? Nanti kalau tower Daddy berdiri aku nggak tanggung loh ya!?” Goda Lula.


“Nggak bakalan berdiri kok, dia sudah aku didik dengan baik. Harus tahu sopan santun, mana yang pantas dicoba dan mana yang harus dijaga!” antara ingin dan tidak ingin, Frans berniat mengambil kesempatan itu. Tapi apa Lula rela? lalu gimana hubungannya nanti.


“Percaya deh!” Lula menghadap Frans, dia tidak menolak ajakan Frans. Mendadak rasa kantuknya sirna. Dia justru mengisi waktu kosong itu dengan bertukar bercerita.


Frans dengan seksama mendengarkan cerita Lula, tak melewatkan sepatah kata pun yang dikatakan Lula. Sedikit terhibur dengan keceriaan yang dipamerkan Lula. Dia sampai lupa waktu, hingga pukul 11 malam dia memaksa Lula untuk tidur.


“Rupanya sejak tadi kamu menahan kantuk?” bisik Frans di depan wajah istrinya. Tidak perlu memakan waktu lama Lula sudah terlelap.


“Terima kasih sudah berjuang sampai detik ini. Ke depannya biarkan kebahagiaan yang akan menemanimu! Andai kamu benar-benar istriku, status kita bukan pura-pura, aku pastikan, akan bangga memiliki Qailula.” Frans berkata panjang lebar, tanpa bisa dijawab oleh lawan bicaranya.


Frans kehabisan kata-kata untuk memuji setiap kebaikan yang dilakukan Lula. Dia berusaha memejamkan mata, meninggalkan dunia nyata, kali ini lebih mudah, aroma shampo dari rambut Lula, seakan menenangkan pikirannya yang semrawut.


Hingga pagi datang, Frans mencegah gerakan kaki Lula yang hendak turun dari ranjang, dia mengapit kaki Lula dengan kakinya. Gadis itu menyadari jika dia harus menyajikan sarapan untuk suaminya. Tubuhnya sudah sehat dan dia harus kembali bekerja.


“Sudah ada Bu Juned, jangan ke mana-mana dulu!” cegah Frans justru mengeratkan pelukan di tubuh Lula.


“Tapi ... Tangan dan kaki Daddy jangan di sini!” Lula berusaha menyingkirkan lengan Frans yang menghimpit dadanya. Sedikit menganggu pernapasan Lula karena Frans melakukannya dengan erat.


“Biarkan dulu, lima menit saja.”


“Baiklah. Lima menit.” demi kenyamanan keduanya, Lula mengubah posisinya membelakangi Frans. Gadis itu tidak tahu saja jika posisi itu justru membuat Frans semakin tergoda. Dan Frans mulai menjauh ketika sinyal-sinyal kecil itu menguat.


“Tuh, kan? Tuh kan!” ledek Lula, sembari tertawa penuh kemenangan. “masih sanggup tidur sama Lula, atau mau pisah ranjang? Daddy di sofa aku di sini!” olokan Lula semakin menjadi, Frans yang kesal lekas beranjak lalu berlari menuju kamar mandi.


Terpaksa Frans mandi lebih awal dari biasanya, demi meredakan gai*rah yang kini mulai menangkap sinyal berbahaya dari Lula.