Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Bab 97



Jarum jam yang melingkar di pergelangan tangan Lula sudah menunjukan pukul empat sore. Langit yang semula cerah, perlahan berubah petang, tertutup oleh awan kelabu. Angin hujan mulai berhembus kencang, menerbangkan dedaunan kering yang ada di lapangan Basket.


Lula tengah duduk menyendiri, memandangi beberapa pria yang terlihat begitu asyik bermain bola basket. Para anggota OSIS pun masih berkumpul di lapangan, latihan baris berbaris untuk seleksi perwakilan calon PASKIBRAKA dari sekolahnya.


Helaan napas panjang Lula lakukan, dia tidak tahu apa yang dilakukan suaminya saat ini, sampai lupa untuk menjemputnya. Padahal, Frans sendiri yang sudah berjanji, supaya menunggu di dalam sekolah.


Lula berusaha mengusir segala pikiran buruk yang hinggap di kepala. Tapi sulit. Dia perempuan biasa yang sulit menerima fakta jika sang suami terlibat hubungan dengan sang mantan. Apalagi, ucapan Priscilla malam itu, seakan niatan perempuan itu semakin kokoh dengan ingkarnya janji Frans.


"Belum dijemput?!"


Sapaan itu terasa menusuk telinga Lula. Meski niatnya tulus hanya ingin tahu, tapi dia paham jika sosok yang berdiri di belakangnya saat ini tengah bergembira di atas penderitaannya.


"Kamu nanyak?!" cetusnya. Entah kenapa rasa kesalnya pada Levin masih saja membara.


"Kenapa sih ketus begitu! perasaan aku nggak ada salah sama kamu! Aku udah jujur kalau aku nggak pernah menuruti permintaan tanteku!"


Benar juga! padahal ini kesalahan Frans! dia yang ingkar janji. Kenapa justru Levin yang jadi sasaran luapan kemarahannya. pikir Lula.


"Kalau lagi crush sama pak Tua itu, bilang aja! Biar dia juga dideketin tanteku!"


"Tante kamu di mana? Jangan-jangan, mereka berdua sedang berduaan!" Lula mulai curiga. "Nemuin Daddy?"


Levin justru terkekeh. "Lagian mau ngapain juga sih, Lula? kalau pun suamimu itu main serong sama tanteku, toh dia juga enggak bakalan ngaku-ngaku hamil. Rahimnya kan sudah diangkat!"


Memang benar yang dikatakan Levin. Tapi Lula merasa itu tidak adil untuknya. "Kamu enggak bakalan ngerti!" celetuk Lula. "Ini bukan masalah hamil atau tidak hamil. Tapi aku perlu pembuktian kalau pria itu memegang erat komitmennya." Lula beranjak dari kursi.


"Mau ke mana?" tanya Levin.


"Nyamperin suamiku! Aku curiga dia melakukan perselingkuhan dengan tantemu! kamu tahu sendiri, kasus perselingkuhan di Indonesia akhir-akhir ini meningkat drastis, kan?"


"Mana aku tahu, aku nggak pernah survei hal begituan!" sambut Levin, meski begitu dia tetap mengikuti langkah Lula. Meminta gadis itu menunggunya. "Awas, jangan pergi dulu! aku bisa mengantarmu!" pesan Levin sebelum meninggalkan Lula sendirian. Dia bergegas mengambil motornya, mengantar Lula kemanapun perempuan itu mau.


Dan kali ini, Lula meminta Levin melajukan motornya menuju kantor Pagara Group. Wajah Lula terlihat senang, rasa kecewanya hilang. Sebab sebentar lagi dia akan bertemu dengan suaminya. Lula berusaha mengusir pikiran buruknya mengenai Frans. Yang ada di bayangannya Frans akan terkejut, melihat dia datang tanpa kabar terlebih dahulu ke kantornya.


Levin pun hanya mengantar Lula di depan pintu masuk, memastikan jika gadis itu benar-benar aman. "Ati-ati telpon aku kalau sampai tanteku buat onar!" pesan Levin seiring langkah kaki Lula yang berjalan semakin jauh darinya.


Namun, belum lama Lula melangkahkan kakinya memasuki gedung. Terdengar suara hujan deras disertai gemuruh petir. Lula menoleh sejenak ke arah luar. Mendadak teringat dengan Levin. Sudah dipastikan pria itu kehujanan. "Kasihan sebenarnya, tapi salah dia sendiri nekad mau mengantarku!" lirihnya, kembali melanjutkan langkahnya.


"Apa daddy Frans ada?" tanya Lula berusaha menghentikan langkah seorang pegawai yang kebetulan berpapasan dengannya.


"Ada, Mbak. Tadi sedang ada tamu, tapi nggak tahu udah pulang atau belum."


Lula mengangguk, melangkah penuh semangat ke pintu lift, menunggu pintu lift di depannya terbuka lebar.


Cukup lama Lula menanti pintu itu terbuka. Buru-buru Lula melangkah saat lift berhenti di depannya. Sesaat kemudian, gerakan kakinya terhenti menyadari sepasang manusia yang berada di dalam lift. Lula menunduk, entah apa yang melintas di pikiran pria itu, bisa-bisanya dia melupakan janjinya, demi perempuan yang sudah berubah status menjadi mantan.


"Wah, kebetulan sekali!" wanita itu mulai angkat bicara, seakan meledek Lula. "Masuklah, lift akan berjalan ke basement!"


Lula butuh penjelasan dari Frans, atas apa yang dilihatnya saat ini. Ya, memang Tante Priscilla tidak melakukan hal aneh di depannya. Berciuman atau apapun itu. Tapi, kemeja biru langit yang dikenakan perempuan itu—bukankah itu milik Frans?


Lula melanjutkan langkahnya. Mengambil posisi di antara mereka berdua, sengaja. Hingga sebuah bisikan sedikit mengurangi ketegangan yang tercipta. "Nanti aku jelasin di rumah! Aku pergi dulu."


Lift kembali berhenti di basement. Dan lebih gilanya, Frans meninggalkan Lula, menuntun Priscilla ke arah parkir mobilnya.


Lula yang menyaksikan tak bisa berkata-kata lagi. Gemuruh di dadanya hadir kembali. Dia tidak bisa diperlakukan seperti ini. "Awas saja, kalau aku dengar cerita aneh-aneh! langsung kugugat kamu ke pengadilan!" ucapnya lirih, seiiring pintu lift yang kembali tertutup. Lula memutuskan untuk pulang. Lagian, suaminya tidak ada di kantor. Jadi, tidak mungkin dia terus menerus ada di sini.


"Lula!"


"Kamu masih di sini?!"


"Hm ... masih hujan. Jadi aku nunggu reda dulu!"


"Main hujan-hujan aja, yuk!" ajak Lula yang disambut tawa oleh Levin. Alih-alih menolak, Levin justru mengabulkan tawaran Lula.