
Dari posisinya saat ini, Frans masih setia mengamati pergerakan Lula yang tengah kesusahan membawa barang bawaan.
“Apa jangan-jangan kakek Ken sakit lagi?” Frans terus bertanya-tanya, dan tidak mendapat jawaban dari siapapun. Dia mulai mencari tempat parkir saat melihat Lula memasuki gedung Ramones Hospital.
Frans melangkah cepat, mengejar Lula yang sudah melesat pergi. Namun, gadis itu sudah menghilang entah ke mana. Frans berusaha mengedarkan pandang tetap saja dia tidak menemukan keberadaan istrinya.
“Permisi, Mbak. Apa pak Ken Adhitama di rawat di rumah sakit ini?” tanya Frans, berusaha menghentikan langkah seorang perawat yang hendak melewatinya.
“Pak Ken?" Wanita itu tampak berpikir keras. "Oh, pak Ken Adhitama ... beliau tidak ada rawat inap kok, Pak! Dan sepertinya, kemarin adalah jadwal kontrol terakhir," jelas wanita itu usai paham yang dimaksud Frans.
“Oh, berarti tahu dong kalau tadi Lula lewat sini? Aku melihat dia berlarian memasuki gedung. Boleh tahu apa yang terjadi?” Frans mencoba mendesak wanita itu supaya mau menjelaskan padanya.
"Mbak Lula anaknya dokter Rainer?!"
Ya, benar, dia ... istriku! Ingin sekali Frans berkata seperti itu. Tapi sesuatu menghalanginya. Dia tidak ingin gegabah mengakui Lula sebagai istrinya. Tentu nanti akan menyulitkan posisi Lula. "Ya, Qailula Suha Damanik. Tahukan?!"
Bibir wanita itu terbuka, hendak menjawab pertanyaan Frans. Namun, terhenti saat melihat seorang wanita berdiri di balik punggung Frans.
“Mbak! Lula tadi pakai seragam sekolah. Pasti kenal, kan? Dia keluarga besar Ramones.” Frans tak ingin putus asa sebelum menemukan keberadaan Lula.
“Em, saya tidak melihat, Pak!” jawab wanita itu.
Frans tahu wanita itu berbohong, dia berniat menemui Rainer, siapa tahu sahabatnya itu sudah tiba di rumah sakit. Saat Frans membalikan tubuhnya, pandangannya justru bertemu dengan perawat yang tadi mengemudikan motor.
Frans memutuskan meminta penjelasan wanita itu. “Kamu pasti tahu di mana Lula, kan?” tanya Frans. Mendadak emosinya meningkat, saat melihat wajah polos dari perawat di depannya. Wanita yang lebih tua dari Lula itu terlihat polos, tapi kelakuannya sungguh diluar ekspetasi karena berani ngajakin Lula bolos! Dan lebih kesalnya lagi, istrinya itu mau-mau saja diajak ke tempat ini, meninggalkan jam pelajaran. “Dia ke mana?”
“Mungkin di ruang ICU, Pak!” jawab wanita itu, lirih.
Saraf Frans langsung menegang. Berpikir keras tentang siapa yang sakit saat ini. “Tunjukan di mana ruang ICU nya!” pintanya tanpa basa-basi.
“Bapak lurus saja, lalu belok kanan!”
Sangking paniknya, Frans sampai lupa mengucapkan terima kasih kepada perawat itu. Dia berlari cepat menuju ruang ICU, ingin ada di samping Lula, pasti gadis itu sedang bingung.
Frans tidak bisa membayangkan bagaimana sedihnya gadis itu saat ini. Pasti yang bisa dilakukan Lula hanyalah menangis dalam diam. Berusaha terlihat baik-baik saja di depan orang yang disayangi. Apa Rainer juga ada di sana, kenapa juga dia tidak memberitahu? sialan pria itu?! kesal Frans, menggerutu seraya melangkah mendekati ruang ICU.
Tepat ketika langkahnya tiba di ruang ICU, pintu kaca itu ditarik dari dalam ruangan. Frans melihat Lula tertunduk lesuh, berjalan gontai melewatinya. Lula tidak menyadari keberadaanya. Gadis itu menangis tanpa suara, air matanya banjir, membasahi pipinya yang lembut.
“Lula … hai?” Frans merasa canggung, dia menyapa, berusaha menarik perhatian Lula. "Lula, ada masalah?"
Kini Lula baru menyadari usai sapaan kedua dari Frans. Pandangan mereka bertemu, mata basah Lula memancarkan sorot kesedihan yang mampu menusuk relung hati Frans.
“Ada Daddy di sini?!” kata Frans lembut, sembari membenamkan kepala Lula di depan dadanya. Membiarkan tangis Lula pecah. Dia rela kausnya basah asal bisa membuat istrinya tenang.
“Semua akan baik-baik saja. Tenanglah!” hanya itu yang bisa dikatakan Frans, dia berusaha menghibur meski tidak tahu apa yang membuat istrinya menangis seperti ini. "Kita duduk dulu, cerita sama Daddy!" kata Frans menuntun Lula menuju kursi tunggu yang kebetulan tidak berpenghuni.
Lula yang tidak bisa berpikir jernih hanya bisa mengikuti saran suaminya. Dia mengambil duduk di depan ruang ICU, menunggu keluarga pasien menemuinya.
“Te—temanku, Dad. Teman kecilku tiada, Dad! Dia pergi! Allah lebih sayang padanya." Lula menarik napas dalam, berusaha melonggarkan dadanya yang terasa terhimpit beban berat. "Seharusnya semalam aku menerima panggilan mbak Dyah. Katanya, Sofya terus mencariku! Sofya menungguku membawakan canvas, canvas yang aku berikan sudah penuh semua.” Lula menyeka air matanya. Netranya sudah terasa perih, tapi tangisnya enggan untuk dihentikan. Dia menyesali panggilan suara dari mbak Dyah yang diabaikan. “Aku terlambat, Dad! a—aku ... tidak bisa menemuinya lagi, dia pergi lima belas menit yang lalu. Dokter menyatakan dia sudah meninggal!”
Frans semakin erat mendekap tubuh Lula. Jujur dia belum paham dengan penjelasan Lula. Saat dia hendak bertanya lebih detail lagi, terdengar suara pintu ruang ICU terbuka lebar. Keduanya kompak menoleh ke arah pintu.
Hingga seorang wanita paruh baya ke luar dari ruangan tersebut. Wanita itu mendekati bangku yang ditempati Lula. Berusaha tersenyum dengan kelopak mata yang terlihat basah.
“Dari Sofya, Dik." Wanita itu menyerahkan sebuah tape recorder kepada Lula. Tapi, Lula masih membiarkan benda itu menggantung. Merasa tidak berhak menerima apapun dari Sofya.
Lula memang belum lama mengenal Sofya. Tapi, biaya perawatan Sofya di Ramones Hospital juga sudah cukup banyak. Bahkan, uang dari Frans tak tersisa untuk pasien lain. Dia langsung mengirimnya ke rekening rumah sakit dan memberikan tanda buktinya pada mbak Wulan.
"Beberapa hari ini, Sofya gelisah karena Dik Lula tidak datang menemuinya. Dia justru mengkhawatirkan kondisi Dik Lula, dikiranya dik Lula sakit.” Wanita itu mulai bercerita bagaimana Sofya menanti kehadiran Lula.
Sebenarnya, baru beberapa hari saja Lula tidak datang ke rumah sakit. Itu karena dia sibuk dengan guru private-nya. Dan rencananya hari ini dia berniat menemui Sofya, menyerahkan canvas baru untuk gadis itu.
Namun, takdir berkata lain. Allah lebih menyayangi Sofya, karena tidak ingin gadis itu menahan sakit lebih lama lagi.
"Maafin Lula yang belum sempat menemui Sofya, Bu. Andai—
"Sudahlah, Dik! tidak apa-apa! Tolong maafkan kesalahan Sofya. Ibu minta doanya untuk putri ibu supaya dimudahkan jalannya."
Lula mengangguk, sembari menahan tangisnya yang meronta minta diledakan.
“Terima lah ini. Sebagai ucapan terima kasih dari Sofya!” Wanita itu meraih tangan Lula, meminta Lula untuk menerima tape recorder yang dititipkan putrinya. "Kami banyak berhutang budi pada Dik Lula. Ibu tidak tahu harus membalas dengan cara apa. Tapi ibu akan mendoakan untuk kebahagiaan Dik Lula. Biarlah tangan Allah yang membalas kebaikanmu."
Lula mengangguk, sembari menggenggam erat tape recorder itu. Dalam hatinya mengaminkan doa wanita itu. Sedangkan Frans masih dibuat bingung. Sepertinya dia tertular virus telmi bawaan Lula.
“Ibu bisa tabah banget, menerima semua ini.”
“Iya, Dik. Dengan begini Sofya tidak akan sakit lagi. Ibu tidak tega mendengar rin-tih kesakitannya.” Wanita itu menepuk punggung Lula.
Lula mengangguk lemah.
“Ibu permisi dulu, Nak. Insya Allah kami akan memakamkan Sofya pukul 4 sore.”
Lula mengangguk lagi. "Saya akan datang untuk mengantarkan teman saya, Buk."
"Terima kasih, saya permisi dulu."
Melihat wanita itu pergi dari hadapan mereka. Frans meraih tape record itu dari tangan Lula. Tangannya sudah tidak sabar untuk menekan tombol play.