
Tidak semua laki-laki bisa tenang saat mendengar kabar bahwa istrinya berada di ruang UKS. Frans sangat paham ruang UKS adalah tempat orang sakit sama hal nya dengan UGD. Hanya saja ruangan itu dibangun di area gedung sekolah.
Tanpa mendengar penjelasan Lula lagi, Frans lekas meninggalkan gedung Pagara. Melesat pergi, mengendarai Maserati hitam miliknya menuju SMA Barracuda.
Jarak tempuh yang biasanya 20 menit kini jauh lebih cepat. Frans hanya butuh dua belas menit untuk tiba di SMA Barracuda.
Dengan penuh rasa percaya diri, Frans tunggang langgang menuju ruang UKS. Kedua kakinya melangkah dengan mantap, membelah lapangan basket yang tengah digunakan para siswa.
Tentu saja, apa yang kini dilakukan saat ini, menarik perhatian siswa siswi yang tengah menikmati jam istirahat. Terutama para siswi yang duduk di pinggir lapangan, mereka justru beralih menatap Frans menatapnya bak singa lapar yang sedang mengintai mangsa.
Frans masa bodoh, meski menyadari akan hal itu. Dia justru ingin lekas melewati lapangan basket supaya bisa segera bertemu dengan Lula.
Letak UKS masih sama seperti 20 tahun yang lalu. Saat tiba di tujuan, Frans langsung masuk begitu saja.
"Ahwww, pelan -pelan sakit!"
"Iya, Iya nggak usah banyak gerak. Bentar lagi ini juga kelar kok!"
Suara itu menghentikan gerakan kaki Frans. Dia curiga dengan sepasang manusia yang berada di balik tirai. Jangan sampai dia yang justru mendapatkan kejutan wow setelah tirai terbuka lebar.
"Lula, tahan jangan dijepit!"
"Siapa yang jepit punyamu aja yang kebesaran!"
Dialog itu membuat amarah Frans merayap naik, dia langsung saja menarik kain tirai di depannya. Dan seketika membuat dua orang yang berada di balik tirai serempak menatapnya.
Tentu saja kaget, Levin langsung menjauhkan tangannya dari tubuh Lula.
"KALIAN NGAPAIN DI SINI?" tanya Frans dengan nada tinggi. Tidak rela melihat istrinya berduaan dengan Levin, terlebih mendapati jarak mereka begitu dekat. Rasanya ingin sekali menelan Levin idup-idup.
"Daddy ...." Lula merengek seraya merentangkan tangannya, seakan mengadu jika dia kesakitan. Sialnya, Frans mengacuhkannya. Pandangannya justru menghunus tajam ke arah Levin.
Meski lega melihat mereka berdua tidak dalam posisi telan Jang tapi Frans tetap saja cemburu melihat pemuda satu itu berbagi ruangan dengan istrinya. Dan apa tadi yang dia lakukan? seenaknya pegang-pegang jari Lula?! dalam hati Frans merutuki sikap Levin yang sok perhatian dengan istrinya.
"PERGILAH!" usir Frans.
"Enak aja, Om. Aku akan diminta pak Samsudin buat jagain Lula!" Levin menolak, memegang teguh amanah pak Samsudin yang sedang menjemput dokter untuk Lula.
Sekejap kemudian, Frans baru ingat maksud kedatangannya ke UKS. "Mana yang sakit?" tanya Frans, sambil menelisik setiap inchi tubuh Lula. Tak ada luka sedikitpun, apa yang sedang direncanakan Lula?
"Kaki kanan." Lula menunjuk ke arah kakinya. Membuat pandangan Frans langsung tertuju ke arah yang ditunjuk.
"Masih bisa jalan, kan?"
Jelas saja Lula menggeleng. "Sakit, Dad."
"Ya udah sini naik! kita ke rumah sakit aja!" pinta Frans, sudah berjongkok di samping ranjang yang ditempati Lula.
"Dad, pak Samsudin udah manggil dokter, nanti diurut urat nya juga udah sembuh. Ini cuma terkilir kok."
Frans mengkhawatirkan kondisi Lula. Dia tidak suka menerima bantahan. Dengan cepat dia meminta Lula supaya naik ke punggungnya. "Ayo! kamu itu memang ya, suka banget di paksa begini!" Frans kesal, menarik tangan Lula supaya mengalung di lehernya. Dengan sigap dia membawa Lula keluar dari UKS.
"Mau dibawa ke mana Lula nya, Om! tunggu pak Samsudin dulu!" cegah Levin, dia khawatir Lula dicari oleh pak Samsudin.
Sepanjang perjalanan, Frans terus mengunci mulutnya rapat. Dia hanya mendengar Lula bercerita mengenai aksi kejar-kejarannya bersama Levin. Dalam hatinya Frans menyayangkan sikap Lula yang ceroboh. Dia membayangkan bagaimana kekanak-kanakannya sikap Lula di sekolah.
"Daddy kenapa diem aja?!"
Frans masih setia mengunci mulutnya, kesal. Jadi, dia merasa perlu memberi hukuman pada Lula.
"Dad?"
Berhubung mobil sudah tiba di rumah sakit terdekat. Frans langsung keluar dari mobil untuk mengambil kursi roda, meninggalkan Lula yang masih setia menggerutu.
"Kaya anak kecil aja pakai ngambek!" gumam Lula, saat melihat tingkah suaminya seperti ini. "Salahku di mana coba? yang lari aku, yang jatuh aku, yang sakit juga aku, kok bisa ... yang marah dia! Dunia terbalik."
"Lebih baik aku ikutan bungkam aja! kita lihat siapa yang paling betah, heh!" ujarnya dengan raut mengancam. Lula benar-benar melakukan aksi mogok bicara. Bahkan di dalam ruang pemeriksaan pun dia hanya mendengarkan penjelasan yang disampaikan dokter.
"Jadi kita perban aja, biar sementara tidak terjadi pergeseran." Dokter kembali menjelaskan. Ada retak ringan di tulang punggung kaki Lula. Jadi, Lula dilarang melakukan aktivitas berlebihan.
"Jangan lupa lusa kontrol ya!" pesan sang dokter sebelum Frans mendorong kursi roda istrinya.
Sebelum pulang, mereka masih harus menunggu obat di apotek. Meski sedang diem-dieman Frans masih saja perhatian terhadap Lula. Dia membelikan minuman segar untuk istrinya.
Saat hendak pulang ke rumah Frans terpaksa menggendong Lula. Meski butuh, tapi kursi roda itu milik rumah sakit. Frans tidak ingin disangka pencuri. Jadi, lebih baik dia meminta Ibnu untuk membelikannya nanti, usai dia tiba di rumah.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, di dalam mobil Lula merasa bosan. Segala upaya, kecuali menggunakan bibirnya dia gunakan untuk menarik perhatian Frans. Tapi pria itu masih kekeh dengan kebisuan.
Sampai rumah pun masih sama, bahkan Frans menyuapinya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Lula semakin kesal, dia pun ikut kekeh menutup mulutnya rapat. Kalau seperti ini, dia seperti ingin kabur dan pulang ke rumah ayah.
Tapi sayang, karena keterbatasannya dia tidak bisa pergi ke mana pun. Sangat disesalkan, bahkan untuk pergi ke kamar mandi saja. Dia harus meminta bantuan Frans melalui bahasa isyarat. Keduanya sama-sama keras kepala. Merasa sudah benar pada posisi masing -masing.
Hingga saat malam tiba, ketika mereka bersiap pergi tidur. Lula merasakan perutnya melilit. Rasa mulas disertai kram hebat tiba -tiba menyerang perutnya, bunyi air bergerak dari dalam perut terdengar sangat jelas di pendengarannya.
Lula mengaduh kesakitan, sialnya Frans justru sibuk dengan ponselnya. Dia malah ketawa-ketiwi saat membaca pesan masuk.
"Makanya, jadi cewek itu yang kalem dikit! sekarang tau sendiri kan akibatnya!" Frans mulai bersuara, tapi kalimat yang dilemparkan justru membuat kemarahan Lula naik level.
Pria itu terus menggerutu, menasehati Lula habis-habisan sampai tak menyadari perubahan wajah Lula yang pucat pasi. Hampir satu jam Lula berguling-guling di atas kasur sesekali menggigit bibir bawahnya saat merasakan mulas yang tak tertahan. "Dad, sakit banget perutku!" lirihnya sambil memegangi perut, kini peluh sudah membasahi wajah.
"Janji nggak ulangin lagi! aku nggak suka kamu jadi cewek bar-bar!"
Alih-alih merespon ucapan suaminya Lula justru menepuk pundak Frans. "Anterin aku ke kamar mandi!" pekik Lula, sembari menahan rasa sakit.
"Ya sana! coba pergi sendiri!" ledek Frans, meski begitu dia tetap menggendong Lula dan membawanya ke kamar mandi.
Belum juga Frans menutup pintu kamar mandi, Lula sudah memekik kesakitan sembari memegangi perutnya. Dia memutuskan menunggu Lula di dalam saja.
Sedangkan Lula, dia lekas berjongkok, saat merasakan ingin buang air kecil. Dan apa yang dilihat Lula saat ini, membuat tubuhnya bergetar, dia ketakutan saat melihat gumpalan darah keluar dari intinya.
"Kamu pendarahan?"
Lula sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya. Dia hanya merasakan sakit di bagian perutnya.
Belum sempat mendengar jawaban dari Lula, Frans langsung menggendong tubuh Lula. Untuk hari ini, Frans terpaksa melarikan Lula ke rumah sakit sebanyak dua kali.