
“Opa! Bagaimana kalau Lula ambil cuti sekolah?!” Lula berusaha meminta pendapat pada sosok pria yang duduk tak jauh darinya.
Tentu saja ucapan Lula membuat Abhi tergelak. Pria itu merasa lucu saja dengan permintaan cucunya. "Mau home schooling?"
Lula menggeleng, membantah tebakan sang opa.
“Buat apa?! Harus cuti?” kerutan di kening Abhi semakin ketara ketika Lula terlihat begitu sedih.
“Masih pengen liburan, Opa!” Lula menjawab pelan, seraya meletakan kepalanya di lengan Abhi. Dia kehilangan semangat untuk belajar, padahal sang bunda sudah setiap waktu mengajarinya.
“Sekolah sisa tiga bulan lagi kok mau cuti! Kamu lihat Lionel sama Zola, dia sudah di bangku kuliah, loh! Emang nggak sayang, kalau harus ngulang lagi? usiamu tahun depan sudah 20 tahun.”
Jelas saja beda, Zola dan Lion punya otak encer. Sedangkan aku!? aku memiliki otak yang sulit dipakai untuk berpikir keras, ibarat anak, otakku ini sangat manja.
“Semangat, ya, Lula! Tiga bulan lagi, wisuda SMA! Katakan sama Opa apa yang menyulitkan mu! Sebisa mungkin opa akan membantu Lula!”
Mereka belum tahu kabar hubungan Lula dan Frans. Ayah Rainer memintanya untuk merahasiakan terlebih dahulu, sampai semuanya benar-benar berakhir. Meski bibirnya sudah gatal ingin mengatakan perihal pernikahannya. Tapi Lula enggan mengingkari janjinya pada ayah Rainer.
“Setelah tamat di SMA kamu mau ambil kuliah di mana? Nggak mungkin kan, ambil ke luar negeri, nanti siapa yang mengurus suamimu? Yah, meski opa tahu, mudah saja untuknya mengunjungimu, tapi saran opa lebih baik kamu kuliah di sini saja! Pasangan suami istri tidak baik hidup berjauhan. Apalagi kamu masih labil begini! Bisa kepincut sama pria lain!” pesan Abhi, ditutup dengan tawa kecil.
Lula merasa angan-angan opa Abhi terhadap dirinya terlampau jauh. Dia justru khawatir pria itu akan kecewa ketika mengetahui rahasia pernikahannya. Sejauh ini, Lula belum berniat mendaftarkan diri menjadi calon mahasiswa. Dia justru ingin menghabiskan waktunya di dalam kamarnya. Ambil rehat dulu, sampai tahun depan baru ambil kuliah.
“Ayah sama Bundamu tadi ke mana? Katanya mau beli jagung, tapi kenapa lama sekali?!” tanya Abhi.
Lula menggedikkan bahunya, dia tidak tahu ke mana mereka pergi. Ia juga tak berniat untuk ikut, membiarkan mereka mengulang masa muda dulu, pacaran halal. Kata kakek Ken, rumah di puncak ini memiliki banyak kenangan untuk mereka berdua.
Bibir Lula tersenyum cerah saat teringat bagaimana dirinya bisa sampai di sini tiba hari yang lalu. Setelah latihan ujian sekolah Lula selesai, ayah Rainer membawa Lula pergi berlibur, tidak jauh, hanya ke puncak. Tentu saja, Lula yang lebih suka dekat dengan alam, dia tidak menolaknya.
Rencana awal Rainer hanya ingin membawa keluarga kecilnya saja. Tapi saat mereka menjemput Ben di rumah Abhi, mereka turut serta untuk meramaikan liburan.
“Setelah lulus SMA kamu mau ambil kuliah apa?” tanya Abhi, setelah sekian detik terlewati.
“Yang jelas bukan hukum, Opa. Lula nggak mau jadi pengacara, lagian mikir masalah sendiri aja rumit, apalagi mikir masalah orang,” jawab Lula begitu jujur, seakan menyinggung profesi opanya.
“Dokter?!”
Lula menggeleng, terlampau jauh menggantungkan keinginannya untuk menjadi dokter. Khawatir akan berhenti ditengah jalan saat otaknya tidak bisa menerima materi.
"Lalu apa? jangan bilang jadi ibu!" goda Abhi.
Lula tampak berpikir. “Lula mau jadi guru TK.”
Abhi langsung menoleh ke arah Lula, bisa dilihat binar kebahagiaan saat Lula menjatuhkan pilihannya. Jawaban Lula memang terdengar sepele. Tidak begitu menguras pikiran, tapi membutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk mendidik anak Tk. Selain itu, dia juga mengerti, mungkin jiwa sosial Lula turun dari bundanya yang memang suka menjadi guru pengajar.
"Bagus, lanjutkan!"
"Tapi—" Lula menggantungkan ucapannya, menarik perhatian Abhi yang mendadak penasaran dengan ucapan Lula berikutnya. "Tapi untuk anak Lula sendiri." tawa Lula meluncur bebas. Sedangkan pria paruh baya itu hanya bisa diam sambil menikmati tawa Lula.
“Dipanggil pada nggak menyahut, rupanya di sini!” celetuk seorang pria yang baru saja datang. “Jagung bakarnya udah jadi, ayo ke belakang!” ajak Rainer, saat melihat Lula menoleh ke arahnya.
“Punya Lula, pedas banget, Yah!”
“Zola yang ngasih bumbu!”
“Baiklah, aku yakin pasti dia ngasih yang manis.” Lula beranjak dari kursi, berjalan mendekati sang ayah yang masih berdiri tegak di pintu penghubung.
Sedangkan Abhi mendahului mereka, berjalan menuju taman untuk menyusul istrinya.
“Lula!” seru Rainer.
“Hm.”
“Berhenti dulu! Ada yang ingin ayah sampaikan sama kamu.”
Lula menahan ayunan langkahnya, sedikit menoleh ke arah belakang, di mana Rainer tengah berjalan mengikutinya.
“Kenapa, Yah?” tanya Lula.
“Eyang Ano—tadi pagi dibawa ke ICU. Dia jatuh sakit, ada seseorang yang melaporkan kepada ayah. Meski sekarang kondisinya sudah mulai membaik. Ayah sarankan, kamu untuk menjenguk Eyang,” jelas Rainer. “Kalau kamu tidak ingin bertemu Frans, tidak apa-apa, ayah akan mengaturnya untukmu!”
Lula kembali melangkah, menuju area taman tempat keluarga besarnya berkumpul, langkahnya sedikit lesuh. “Jadi kapan kita akan kembali ke Jakarta?”
“Terserah kamu saja. Ayah akan menemanimu. Ayah tahu kamu sedang butuh teman. Dan selama ini cuma keluarga yang menjadi teman terbaikmu.”
Itu memang benar, cuma keluarga yang Lula miliki dari dulu hingga sekarang. Mereka menghentikan obrolan saat tiba di area taman, ikut bergabung dengan mereka yang sedang membakar sate-satean.
Obrolan mereka seolah dibuat selalu menyenangkan. Meski Frans tidak ikut, mereka semua paham, berusaha tidak menanyakan Frans pada Lula.
Tawa dan canda menghiasi suasana malam itu, semakin malam, udara di area taman semakin dingin. Hingga menjelang dini hari, saat Lula merasa tak sanggup lagi menahan kantuknya, ia memutuskan untuk memasuki kamar.
Sayangnya, setelah berada di atas ranjang kamar, Lula justru kesulitan tidur. Dia melihat jam di ponselnya yang sudah melebihi pukul satu dini hari. Beberapa hari ini, Lula memang mengidap gangguan tidur, dia memikirkan satu persatu apa yang akan terjadi jika perceraian itu sudah resmi.
Jemari Lula justru membuka room chat milik suaminya. Terlihat jelas pria itu masih bermain ponselnya.
“Apa terjadi sesuatu dengan Eyang? Kenapa jam segini belum juga tidur?!” Lula bergumam di sela tawa yang masih terdengar di taman belakang. Sepertinya Zian dan Zola masih berada di taman, melanjutkan acara membakar jagung.
Tangan Lula sudah menyentuh layar, hendak mengirimkan pesan pada suaminya. Tapi sekali lagi dia bertanya pada hatinya, untuk apa?
“Lula, kamu belum resmi bercerai, dia eyangmu! Ada istilah mantan suami, tapi nggak akan ada yang namanya mantan Eyang!” Lula berbicara lirih, berusaha menyadarkan dirinya. "Eyang sakit apa sih? Apa nanti kalau aku ke sana bertemu juga dengan Tante Priscilla? Lula nggak mau!"
[Dad, aku dengar Eyang sakit?] hanya tinggal menekan tombol kirim, tapi kenapa rasanya berat sekali. “Demi Eyang, Lula! Kamu harus tahu kondisinya!” Lula memberitahu, berusaha menyadarkan kembali dirinya. Hingga akhirnya, kalimat tanya itu berhasil terkirim ke nomor suaminya.
Pada akhirnya, kini Lula terlihat gelisah karena Frans tidak lekas membalas pesan itu. Sepertinya dia sangat sibuk sampai-sampai tidak sempat membaca pesan darinya.
“Lagi berduaan mungkin, ya! makanya takut mau balas pesanku.” Lula menggerutu. Dia cemburu, tapi enggan mengakui kalau api cemburu sudah berhasil menguasainya.
Saat lula hendak membatalkan pesan yang sudah terkirim, Pria di seberang justru sedang mengetik balasan untuknya. Lula pun menunggu pesan itu terkirim.
[Iya, tapi ini udah mendingan. Salah Eyang juga sih, dia nggak mau makan, jadi lemas tubuhnya. Doain yang terbaik buat Eyang.] Daddy Kesayangan.
[Eyang sakit apa?] Lula mengetikan balasan lagi.
Lagi-lagi Lula dibuat menunggu dengan jawaban frans. Hampir lima menit berlalu, Lula baru mendapatkan balasan dari pria itu.
[Penyakit tua. Doain aja ya, Eyang sudah mendingan kok, dia minta pulang terus, tapi dokter belum mengizinkan.]
Lula membayangkan kondisi Eyang Ano saat ini. Memang sih usianya sudah tua, tapi wanita itu begitu energik. Masih kuat jalan- jalan ke salon untuk sekedar mempercantik diri.
Lula tidak membalas, dia justru mengirimkan pesan pada Zola.
[Balik Jakarta, yuk, Zol!]
Tida ada jawaban, sepertinya Zola tidak membawa ponselnya. Jadi, mau tidak mau, Lula terpaksa turun lagi, berniat mengajak Zola kembali ke Jakarta. Dia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri, tentang kondisi eyang Ano. Dia hilang kepercayaan t
dengan Frans.
"Om!" Lula mengejutkan Zola yang tengah duduk bersama Zian. Pria yang ada di seberang bangku heran dengan tingkah Lula. "Paman Zi, pulang ke Jakarta yok!"
Zola justru yang merespon. "Udah malam! tidur sana!"
"Zola, Eyang sakit. Ayo anterin aku pulang!" kata Lula to the point. "lagian aku GK bisa tidur, mikirin kondisi Eyang!" jelas Lula. "Ayolah, Paman. Nanti kalau ada apa-apa sama Eyang, Lula bakal nggak bisa maafin diri Lula," bujuk Lula, saat Zian tak merespon.
"Izin dulu sama Ayahmu!" bukan maksud menolak tapi Zian berusaha mencari aman, takutnya mereka akan mencari-cari keberadaan Lula.
"Nanti aja kalau sudah di jalan! ini darurat, pasti ayah mengerti." Lula lega melihat Zian mulai beranjak dari kursi, dia yakin pasti mereka mau mengantarnya ke Jakarta.
Dan benar saja, beberapa menit berlalu, mereka sudah dalam perjalanan menuju Jakarta. Sepanjang perjalanan, Lula memilih memejamkan mata, membiarkan Zola yang menemani Zian terjaga.
Lula terbangun saat mobil yang dikemudikan Zian sudah tiba di area Jakarta. Ketika pria itu ingin langsung mengantarnya ke rumah sakit, Lula justru menolak, beralasan ingin membuatkan bubur untuk Eyang Ano terlebih dahulu.
"Kamu naik taksi aja ya! Paman ngantuk nih?!"
"Ya. Kalau sudah sampai Jakarta, tidak perlu mikirin Lula lagi!" Dia tidak mungkin memaksa Zola untuk mengantarnya, karena pria itu baru saja terlelap.
Meski tubuh Lula terasa lemas karena kurang tidur, dia tetap berjuang membuatkan bubur kesukaan Eyang. Lula berharap eyang masih menyukai bubur buatannya.