
“Bagus ya … pergi nggak pamit! Maksudnya apa kaya gini tu?”
“Sudah nggak sabar ketemu sama Frans, jadi lupa sama Ayah!”
Gerutuan di ujung panggilan membuat Lula menahan tawa, sang ayah sepertinya sudah menyadari jika dirinya tidak ada di puncak. Dan sayangnya, karena sibuk membuat bubur, ia sampai lupa mengabari sang ayah.
“Lula semalam nggak bisa tidur, Yah! Mikirin kondisi Eyang. Jadi, pas kebetulan lihat paman Zian masih terjaga, dan kebetulan hari ini dia juga ada pertemuan ya, sudah sekalian, deh!” Lula menjelaskan jujur.
Helaan napas panjang terdengar dari ujung, membuat Lula ikut merasa lega. “Sekarang kamu di mana?” tanya Ayah Rainer.
“Lagi jalan, melewati koridor rumah sakit. bentar lagi sampai di ruangan Eyang.”
“Kabari ayah jika Frans berbuat aneh-aneh. Paman Aslan masih praktek di ruangan nya, ayah akan menitipkanmu padanya.” Terdengar suara Rainer begitu mengkhawatirkan Lula.
“Tidak akan terjadi apapun dengan Lula. Dia sahabat ayah, mana berani menyakiti putrimu, Ayah.”
“Buat jaga-jaga, Lula!” tukasnya.
“Hm … ya, sudah! Lula matikan dulu panggilannya. Ini Lula sudah tiba di ruangan Eyang.” Setelah mendengar persetujuan dadi ayah Rainer, Lula memutus panggilan itu.
Lula berusaha mengintip suasana dalam ruangan dari celah pintu yang terbuka sedikit. Menyadari ruangan itu sepi, Lula segera melangkah masuk, tak sabar ingin bertemu eyang Ano.
Menyadari wanita renta itu tengah terlelap, Lula berusaha meredam suara langkahnya. “Nyonya muda! Sejak kapan Anda di sini!” bu Juned yang baru saja keluar dari toilet tampak terkejut melihat kedatangan Lula.
Lula meletakan telunjuknya di depan bibirnya sendiri, memberi isyarat pada bu Juned untuk diam, supaya tidak mengganggu jam istirahat Eyang Ano.
“Maaf, Nyonya,” sesal Bu Juned. Ia membiarkan Lula mendekat ke arah ranjang.
Pandangan Lula tertuju ke arah wajah Eyang yang tampak pucat. Rambut putih yang sudah merata. Wajah putih bersih namun terdapat keriput di mana-mana, mendadak Lula merindukan sosok wanita yang selalu mengomelinya. Cerianya, tawa yang keluar dari bibirnya. Suaranya yang lembut tapi tanpa mau dibantah, Lula turut kehilangan itu semua, semenjak hubungannya dengan Frans kandas.
“Eyang tidak mau makan, Nyonya.” Bu Juned memberitahu ketika Lula meletakan rantang makanan ke atas meja.
“Aku sengaja buatin bubur untuk Eyang. Siapa tahu dia mau makan, Bu.”
“Tunggu Eyang bangun dulu, Nyonya. Kasihan kalau harus dibangunkan.” Bu Juned berkata setengah berbisik.
Lula mengangguk, seraya mendaratkan bokoongnya di kursi yang ada samping ranjang, tangannya berusaha mengenggam tangan Eyang Ano. Menggenggamnya erat sambil berkata dalam hati. Eyang, Lula sudah datang, nih! Eyang harus lekas sembuh ya! Lula kangen Eyang.
“Daddy Frans ke mana, Bu?” tanya Lula. Penasaran, sudah lima menit berlalu tapi tidak melihat bayangan pria itu di dalam ruangan.
“Em, kurang tahu Nyonya. Saya diminta menggantikan, pak Frans. Dia hanya beralasan kalau ada urusan penting.”
Lula ingin menyangkal penjelasan Bu Juned. Bisa-bisanya, pria itu mengabaikan Eyang Ano, di saat kondisi Eyang sedang butuh dampingan. Uang banyak memang bisa membuat kita bahagia, tapi apalah artinya itu, jika kita menikmati tanpa orang yang kita sayangi. Kalau sampai eyang kenapa-napa, baru deh nyesel!
“Kalau Bu Juned mau pulang. Pulang saja, biar Lula yang jagain Eyang.”
“Tidak. Tidak perlu, Nyonya! Saya harus tetap di sini sampai pak Frans datang.” Bu Juned menolak, dia tidak akan pergi, sesuai janjinya dengan sang majikan.
Lula pun tidak ingin memperpanjang lagi, memilih duduk diam karena tidak ingin menganggu istirahat Eyang Ano. Lula mengisi waktunya dengan bermain dengan ponselnya, sudah lama dia tidak melihat laman media sosial. Tepatnya, sejak Lula memutuskan hubungannya dengan Frans.
“Lu—laaaa ….”
Panggilan yang tidak begitu jelas itu membuat Lula menoleh ke arah eyang. Wanita itu terlihat kesulitan untuk sekedar membuka mata sipitnya. Setelah berhasil Eyang terlihat memaksakan senyuman ke arah Lula.
“Eyang,” respon Lula, seraya menyimpan ponselnya di saku. Dia tersenyum cerah, mencium punggung tangan eyang Ano berulang-ulang, sebagai wujud rasa hormatnya. “Lula di sini, Eyang! Eyang harus sembuh dan pulang.”
Lagi-lagi eyang Ano menampilkan senyum yang berbeda dari waktu itu, tampak jelas seperti dipaksakan. Dan itu membuat Lula paham, seberapa sakit wanita tua itu saat ini.
“Mana yang sakit, Eyang!” Lula terlihat bingung, meraba bagian tubuh mana yang terluka, tapi nihil, fisik eyang masih tampak bugar. “Lula panggilkan dokter ya, buat periksa kondisi Eyang!” meski rasanya tidak tega dan ingin menangis, tapi Lula dituntut untuk tidak melakukan itu. Dia tidak mau Eyang semakin stress. Orang yang menjaga pasien harus terlihat tegar, supaya bisa memberi semangat kepada pasien, itu yang biasa Lula lakukan.
“Eyang tidak apa-apa!” tangan keriput itu berusaha menahan gerakan tangan Lula. Meminta cucu mantunya untuk diam. “Duduk! Eyang tidak apa-apa. Kamu tampak begitu mengkhawatirkan aku! Padahal kamu jauh lebih sakit.”
Lula tercenung, pelan-pelan dia kembali duduk di samping ranjang. “Eyang sudah makan? Tadi Lula buatin bubur untuk Eyang!” tawar Lula, membuat wanita itu menunjukan rona bahagianya. “Eyang harus makan, biar bisa ngobrol di taman lagi.”
Eyang Ano meminta Lula untuk membantunya duduk bersandar. “Eyang ingin sekali makan, tapi tidak bisa,” adunya setelah berhasil duduk.
“Mau Lula suap?! Bubur Lula masih seperti dulu kok, dibuat dengan resep yang sama!”
Eyang Ano menggeleng, selera makannya menurun beberapa hari ini. Padahal dalam benaknya dia ingin sekali menikmati masakan Lula, dia merindukannya dan yang penting dia ingin menghargai usaha Lula, tapi dia takut muntah. “Nanti ya, pasti Eyang akan memakannya.”
Menurut Lula itu penolakan halus, tapi tidak apa-apa, mengingat saat ini Eyang dalam kondisi tidak sehat.
“Lula, kalau sampai terjadi sesuatu dengan Eyang. Eyang titip Frans ya!” lirih Eyang Ano.
“Tidak ada hal buruk yang akan terjadi Eyang! Setelah ini pasti eyang akan sembuh, jangan bicara aneh-aneh.”
Wanita itu menggeleng, meraih tangan Lula dan menggenggamnya erat. “Sudah satu Minggu ini, setiap malam Eyang bermimpi, bertemu suami dan putriku. Mereka tersenyum bahagia. Katanya mereka akan menjemputku.”
Meski tidak begitu peduli dengan cerita eyang, tapi ada rasa takut jika dia akan kehilangan Eyang Ano. “Hanya bunga tidur Eyang. Dokter bilang eyang hanya stress dan lelah karena kebanyakan pikiran.”
“Eyang cuma nitip Frans. Setelah kepergian mamanya, tidak ada yang peduli dengan hidupnya, selain Eyang. Bahkan, Ferdinan sendiri sibuk dengan keluarga barunya.”
Sedikit paham Lula akan hal itu, karena itulah eyang tidak ingin menyimpan kekayaannya sebagai aset bersama. Menurutnya milik adalah milik Frans.
“Tugas Eyang masih banyak, Eyang sendiri yang harus menjaga Daddy!”
“Lula, sejauh ini kehadiranmu sangat berpengaruh dengan kehidupan Frans. Contoh kecil saja, selama ini Frans tidak pernah sarapan. Biasanya dia hanya duduk di meja makan menyaksikan mereka menikmati sarapan. Dia selalu makan telat, kadang malam baru bisa makan. Pagi kopi, seharian rokok untuk menemani kerja. Dan setelah tinggal bersamamu, Eyang melihat banyak perubahan. Pagi itu, Eyang terkejut melihatnya makan bersama kita. Setelah aku tanyakan pada bu Juned. Dia memang sarapan setiap harinya.” Eyang Ano melirik ke arah bu juned yang duduk di sofa. “Eyang cuma nitip jaga Frans, kalaupun kamu tidak bisa menjadi istrinya. Pastikan dia mendapatkan wanita baik-baik. Dia butuh wanita yang bisa mengurusi hidupnya, bukan wanita yang mementingkan dirinya sendiri.”
Lula tidak ingin mengucap janji. Dia tidak ingin berjanji dengan siapapun termasuk Eyang Ano. Dia khawatir tidak bisa melunasi hutangnya.
“Apa kamu tidak mencintai Frans? Sayang sekali, kamu tidak menyukainya.”
“Lula sebenarnya takut, Eyang!”
“Takut?”
Lula mengangguk. “Lula takut kecewa. Manusia biasanya begitu, saat Lula sedang begitu mengharapkan, pasti hasilnya mengecewakan. Jadi, mulai hari itu. Lula berusaha tidak terlalu berharap, termasuk mengharapkan cinta dari siapapun.”
Lula meraih kotak buburnya, “Ya, sudah kalau Eyang tidak mau makan. Biar Lula saja yang makan!” Lula membuka rantang dua tingkat itu. Aroma gurih seketika menyeruak memenuhi ruangan. Menggugah rasa lapar dalam diri Eyang Ano, wanita itu dilema antara makan atau tidak.