
Guyuran air hujan berhasil membasahi tubuh Lula dan Levin. Double L itu benar-benar membelah derasnya hujan sore ini, seakan tidak lagi khawatir mengenai kondisi fisik mereka yang bisa saja sakit.
Levin yang melihat Lula bahagia ikut lega. Entah apa yang gadis itu saksikan di dalam sana, dia pun tak berani untuk sekedar bertanya. Memang wanita itu tidak tahu malu, sudah membuang masak memungut kembali, dan sialnya Tante Priscilla masih masuk anggota keluarganya. Sebelum Lula keluar Levin melihat dua orang itu berjalan berdampingan jadi bisa menebak kenapa Lula langsung keluar dari gedung perusahaan.
"Lula!"
"Hum?"
"Kamu beneran cinta sama Om Frans?" selidiknya, penasaran.
Lula menatap Levin dari spion kecil. "Kenapa memangnya?"
"Mendadak aku ragu kisah cinta kalian akan langgeng. Suamimu nggak bisa tegas sama tanteku! Sudah tahu ular berbisa masih saja dideketin! aku cuma khawatir dengan mentalmu yang terus menerus dirusak oleh suamimu sendiri."
Wajah Lula berubah muram. Teringat akan kemeja biru langit yang tadi dikenakan Tante Priscilla. Semoga saja mereka berdua tidak melakukan hal aneh-aneh di belakangnya. Semoga saja, pakaian Tante Priscilla hanya terkena tumpahan kopi atau teh, layaknya adegan beberapa drama yang dia tonton. "Aku was-was, setelah memutuskan pisah tiba-tiba aku hamil."
"Kalian udah ngelakuinnya?"
Lula menyadari kesalahannya. Tidak seharusnya perkara seperti itu, dibicarakan dengan Levin. "Sudah lupakan! enggak penting!"
Levin menelan ludahnya kasar.
"Anterin aku ke rumah ayah Rainer ya. Aku mau bermalam di sana saja!"
Levin tidak menolak. Dia melajukan motornya menuju rumah ayah Rainer.
Tentu saja sampai di rumah, Lula disambut ceramah dari sang bunda. Kalau dijabarkan kalimatnya, itu dari pintu utama hingga tembok taman. Panjang sekali, dan bunda Zahira menceramahinya di depan Levin. Pria itu pun hanya menahan tawa. Sama sekali tak membela Lula.
"Terima kasih, Levin," ucap bunda Zahira. Ketika pemuda itu berpamitan pulang. Padahal dia sudah menawarkan baju ganti, tapi Levin justru menolak.
"Kok bisa diantar sama Levin?!" selidiknya mengikuti langkah Lula yang berjalan menuju kamar.
"Serius atau kamu yang mengada-ada?!"
Lula terdiam, tak ingin juga bunda dan ayah langsung membenci Frans. Meski sebenarnya pria itu menyebalkan sekali. Lula menghadap Zahira, tersenyum palsu. "Dia mendadak meeting, Bunda ... Lula kesal karena sebelumnya Daddy janji mau jemput."
"Ow, begitu ...." Zahira menahan langkahnya ketika Lula hendak masuk ke dalam kamar, "buruan mandi, bunda buatin mie kuah buatmu!"
Lula semangat sekali mendengar ucapan Zahira. Mie kuah memang paling cocok dimakan di situasi dingin seperti ini, untuk sekedar menghangat tubuhnya bukan hatinya. Dia bergegas masuk ke dalam kamar mandi, untuk sekedar membersihkan diri.
Kebetulan, malam ini ayah Rainer pulang terlambat, karena ada operasi dadakan di rumah sakit. Lula yang sudah menyelesaikan memakan mie pun lekas kembali ke kamarnya. Ingin segera memejamkan mata dari pada terus menerus memikirkan Frans.
Sayangnya kecemburuan yang kini menguncup membuatnya tidak bisa tidur. Entah kenapa dia merasa dirugikan. Setelah dinikmati, pria itu meninggalkannya. Bagaimana jika selama ini, Frans yang pura-pura cinta di depannya. Padahal aslinya pria itu masih mencintai Priscilla? Lula menangis, takut apa yang dipikirkan adalah fakta yang selama ini disembunyikan Frans.
"Awas saja! Awas, awas kamu, Dad!" lirihnya, sembari menyeka air matanya. Matanya kini sudah perih, di saat dia nyaris terlelap. Justru terdengar suara mobil yang dia kenali berhenti di halaman rumah.
Lebih baik aku pura-pura tidur saja! pikirnya seraya menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Sialnya, begitu wajahnya tertutup rapat Lula justru bersin-bersin. Scenario yang disusun pun buyar. Karena tepat ketika Frans membuka pintu kamar bersinnya semakin menjadi.
"Aku nggak mau pulang!" Lula sudah mengambil star lebih dahulu. Tidak ingin dipaksa oleh suaminya. "Kamu pulang sendiri sana!"
Frans berniat duduk di tepi ranjang. Tapi segera kaki Lula menahan pan-tat Frans yang hendak mendarat, hingga kini kaki Lula lah yang diduduki Frans.
"Jangan tidur di sini!" peringatnya.
Frans acuh, dia berusaha meraba kening Lula, tapi segera ditangkis oleh Lula.
"Sudah ingkar janji! Berduaan lagi sama mantan! Nggak mikirin banget perasaan Lula! terus kalau sudah begini, gimana? Jangan-jangan Daddy mau ninggalin Lula setelah aku hamil?"
Pria itu mengunci mulutnya rapat-rapat. Tak ada kalimat keluar dari bibirnya.