
Lula memilih menundukan kepala setelah mendengar ucapan suaminya. Dalam hatinya masih menerka-nerka, apa itu artinya mereka tidak akan pernah bercerai? Gimana dengan ....
"Apa yang kamu pikirkan? kamu hanya boleh memikirkan aku, Lula! Kebahagian kita!"
"A—aaaa ... Apa? Dad, a—apa arti ...." Lidah Lula kesulitan untuk mengeluarkan uneg-uneg yang bersarang di kepala, saraf-sarafnya mendadak kesleo, hanya tangan yang bisa digunakan untuk menunjuk ke arah bibirnya sendiri. Apa maksud dari ciumaan yang diberikan pria itu? gitu saja kenapa susah banget sih?
"Apa?! Apanya?!" Frans seakan menikmati ekspresi cemas yang ditunjukan Lula. Pipi gembulnya bersemu merah, perlahan menyebar ke seluruh wajah, berubah bak kepiting rebus siap olah. "Mau kuciium lagi?" tawarnya, sengaja menggoda.
Mata Lula membulat sempurna. "Ti—tidak!" Merasa mendapatkan celah untuk melarikan diri, perlahan Lula merambat melalui sela yang tidak dijangkau suaminya. Dia berlari sekuat tenaga, menuju walk in closet untuk bersembunyi, menghindari pria itu.
Merasa aman karena Frans tidak mengikutinya, Lula akhirnya mengembuskan napas lega. Tapi, keterkejutannya tidak sampai di situ. Kini justru semakin terpana dengan isi lemari kamar utama milik suaminya.
Ucapan Frans hari itu seakan terngiang kembali. "Butuh waktu?" Dan sekarang Lula bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri. Benda-benda di sana bukan lagi sama dengan yang dulu dilihatnya. Bahkan, banyak koleksi tas sekolah, botol minum, kotak makan siang merk ternama, yang dibeli di Singapura.
Lula semakin penasaran dengan isi rak lemari di ruangan itu. Tangannya lekas membuka isi lemari. Dan saat ini, disuguhi dengan begitu banyaknya seragam OSIS, almamater SMA Barracuda, dan aneka barang lainnya. "Apa artinya ini, Dad?" Lula bergumam begitu lancar, berbeda ketika berada di depan pria itu.
"Lula!"
Tubuh Lula terjingkat mendengar seruan itu. Suara Frans begitu mengejutkannya, meski sebenarnya tidak begitu keras.
"Lula! Boleh aku minta tolong?" teriak Frans lagi, dari balik pintu penghubung.
"Huh, ya? A—ada apa, Dad?!" tanya Lula.
Pria itu berdehem kecil. "Apa pipimu masih merah?"
Segera Lula berlari mendekati layar kaca. Dan benar saja, kini pipinya seperti terkena sengatan listrik bertegangan rendah. Dia malu jika menemui Frans saat ini, pasti pria itu akan semakin membully-nya.
"Lula!" Panggil Frans disusul tawa yang cukup keras.
"Enggak lucu, Dad!" Kenapa juga pipiku seperti ini? Huft ... Lebay banget, perasaan dekat sama Levin kemarin tidak sepanas ini. Lula memejamkan mata, sambil menepuk nepuk pipinya, berharap rona pipinya akan segera kembali normal.
"Inhale, ekshale ..." Ucap Lula memberi aba-aba untuk menetralkan getaran jantungnya.
"Iya, deh nyerah! Tolong ambilkan baju ganti ya! Gerah banget, aku mau mandi!" perintah Frans, pria itu begitu menghormati Lula, tidak langsung nylonong masuk. Lula tidak menjawab. Hingga membuat pria di balik pintu kembali bersuara. "O, ya ... Antarin ke kamar mandi ya!" Pesan Frans, suaranya semakin menjauh dari daun pintu, menandakan pria itu sudah tidak dekat lagi dengan Lula.
Kini Lula masih membeku di depan cermin. "Tidak bisa seperti ini, aku harus menegaskan arti ciumann itu! Biar jelas, aku tidak ingin berharap pada yang bukan seharusnya!"
Lula melangkah membuka lemari, berusaha mencari pakaian ganti untuk suaminya. Setelah menemukan, ia lekas mengantar ke kamar mandi. Baru satu kali ketukan, pintu kini sudah terbuka lebar. Menampilkan sosok pria yang sudah melepaskan kausnya, menampilkan lipatan perut yang menggoda untuk disentuh.
Dalam hati Lula membatin. Kenapa berbeda dari yang dulu ku lihat dengan Elkan? pikiran Lula mulai nakal, diiringi gerakan lehernya yang bergerak naik turun. Gadis yang nyaris dua puluh tahun itu berusaha menelan saliva nya berulangkali, hanya ketika melihat perut sixpack milik suaminya.
"Apaan sih?" tanya Frans, sengaja menggoda Lula. "Mau, pegang? Boleh kok. Kan, sudah halal!"
Kalau sudah begini siapa yang seperti anak kecil? Daddy atau aku! sengaja nih laki! Lula ngedumel dalam hati.
"Daddy apaan sih, kenapa nggak pakai handuk dulu!" Lula menyerahkan dengan kasar setelan piyama ke tangan suaminya.
"Kenapa memangnya, nggak papa kan, aku ajak kamu mandi bareng?"
Mata Lula membulat sempurna, Geraman lirih mulai terdengar. "buruan! Ada hal penting yang ingin Lula tanyakan ke Daddy!"
"Sekarang saja, sekalian mandiin aku?" Frans semakin menjadi-jadi.
Lula lekas menjauh, tak ingin menanggapi ucapan suaminya. Bisa-bisa terjadi tragedi berdarah jika dirinya terus berada di sana.
"Duniaku bukan lagi tentang dia, tapi tentang kamu!" Gumamnya lagi, memantapkan arti ucapan itu. Hampir dua puluh menit kalimat itu seperti berputar-putar di atas kepalanya. Dan kabar baiknya, Lula semakin yakin kalau Frans benar-benar menyukainya. "Ciumann ini, apa tanda dia juga menyerahkan hatinya? Apa aku sudah siap dicintai pria tua seperti dia?!"
Lula, Lo tahu sendiri gimana suntuknya harimu tanpa kehadirannya. Masih saja menghina dia tua? sadar diri deh Lo! nanti galau lagi kalau pisah! Seseorang dalam hati Lula seakan mengingatkan jika hari -harinya berat tanpa Daddy Frans.
Lalu sekarang! masih mau menyangkal, jika hubungan kalian masih bisa dipertahankan? cinta, cinta aja kali, banyak kok pernikahan beda usia di luar sana! Bujukan-bujukan itu seakan membuai Lula. Meminta Lula untuk percaya apapun bisa saja terjadi jika Allah sudah menurunkan jodohnya.
Lula menggeleng pelan, berusaha menyadarkan diri. Hingga pintu kamar mandi terbuka lebar, pandangan Lula beralih ke arah Frans yang sudah mengenakan piyama yang tadi sempat diambilkan olehnya.
Pertanyaan Lula langsung menghentikan gerakan tangan Frans yang tengah mengeringkan rambut dengan handuk. Rupanya sia-sia menciumm bibir merah itu berulangkali, mengucapkan kalimat romantis, karena ternyata makna nya tak sampai di hati Lula. Harus to the point nih sepertinya! batin Frans.
"Menurutmu? Apa aku masih ingin main-main?!"
"Dad?!" Wajah Lula terlihat kesal. "Yes or no."
"Yes." Frans menjawab singkat.
"Yes, apa?"
"Yes. I'am falling in love with you."
Tubuh Lula melemah, kedua bahunya mendadak lunglai, jawaban itu tertangkap dengan jelas ke dalam gendang telinganya. "Apa ini karena pesan terakhir dari eyang?"
"Tidak." Frans melempar asal handuk basah itu ke atas ranjang, membuat Lula berdecak kesal dan lekas mengambilnya.
"Tanpa eyang berpesan pun, aku bertekad untuk tidak akan menceraikan mu! Aku akan meminta sama ayah Rainer dan keluargamu secara baik-baik." Frans berkata tegas, tidak ada alasan apapun di balik ucapannya tadi.
"Daddy nggak tanya perasaanku dulu?!" Protes Lula.
"Tidak. Aku sudah tahu!"
"Aku menolak." Lula merespon, cepat.
"Kesempatan baik tidak akan datang dua kali!" Frans seakan mengulangi kalimat Lula satu jam yang lalu.
"I—iya, iya Lula bakal nyoba cinta sama Daddy!"
"Enggak perlu mencoba, kamu udah mencintaiku!"
Respon Frans membuat Lula berdecak kesal sebab ekspresi pria itu begitu menyebalkan, penuh percaya diri. Lula membalas tatapan suaminya, sama dalam, seakan menyelami kejujuran dari kalimat yang baru dilontarkan Frans.
"Qailula, Suha, Damanik! Mau jadi ..." Kata Frans lambat seraya meraih kedua tangan Lula. Bibirnya diam sejenak, seakan sedang memikirkan kalimat yang tepat untuk disampaikan kepada Lula. "Apa kamu, Lula ... apa mau buat bayi bareng denganku?!"
"Gila!" Lula langsung menarik kedua tangannya, menjauh dari Frans. Ya, dia memang jatuh cinta pada pria itu tapi bukan langsung to the point bikin bayi seperti ini.
"Salahnya di mana?!" Protes Frans, tak menyukai respon Lula. Tangannya hendak meraih kembali tangan Lula, tapi wanita itu semakin menghindar. "Jadi istri sudah. Perasaanku ke kamu pun, kamu juga sudah tahu. Jadi, yang belum kan hanya itu? Memintamu jadi ibu dari bayi-bayiku!"
Kesal, Lula semakin kesal, ucapan itu terlalu frontal, menurutnya. "Lula mau mandi!" Pamit Lula, lekas berjalan melewati Frans.
"Mau ku mandiin enggak?!" Tawar Frans yang tidak menerima respon apapun dari Lula. Bibirnya tersenyum simpul melihat langkah Lula yang dihentak-hentak kasar ke arah lantai. "Sabar, Frans. Butuh waktu menjinakkan kucing liarmu itu! nanti kalau udah bucin, minta dimandiin sendiri!" Frans berjalan menuju meja, dengan sigap meraih ponselnya saat ide jail mulai terbesit dalam benaknya malam ini.
[Ayah mertua, mau cucu laki-laki apa perempuan?]
Ya, Frans mengirimkan pesan singkat ke nomor Rainer. Frans terkekeh pelan melihat Rainer langsung membaca pesannya. Dia sudah tidak sabar membaca respon dari sahabatnya itu.
[Asuuu- Bajiingan- Jaangkrik- Tupai- monyet! Awas Lo ya gue bedil ATM mu! Sotong goreng, Lo!]
Frans justru terbahak membaca pesan balasan dari Rainer. Terpingkal-pingkal hingga perutnya nyeri, dia membayangkan ekspresi marah Rainer saat ini. Pasti menyebalkan.
[Gajah, harimau, onta, rusa aku juga kangen dengan mereka. Besok liburan ke taman safari ya, sepertinya ayah mertua kangen hewan peliharaan di sana, Wkwkwk 🤪🤪 Eh, ATM apaan tu, Pap?]
[Alat Tembak Manual.]
[Waduh, jangan! nanti nggak bisa buat nyetak cucu! 😆😆😆]
Satu menit berlalu tidak ada balasan dari mertuanya, Frans pun kembali mengirimkan pesan untuk Rainer.
[O, ya Ayah mertua, ini aku mau ngomong serius! Besok malam siapin kudapan paling yahood ya! Gue mau minta baik-baik anak Lo, biar bisa enak bikin dedeknya!]
[Asuu Lo! Untuk Lula cinta! Kalau nggak, gue masukan paku satu kilo ke perutmu!]