Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Dokter Spesialis



Lula enggan keluar kelas sebelum Zola mengabari jika pria itu sudah tiba di depan pintu gerbang sekolah. Sayangnya, lima menit usai bel pulang menggema justru pesan dari Frans yang masuk ke nomornya. Memberitahu jika pria itu sudah menunggu di depan.


Lula mengabaikan pesan itu, bahkan tidak ingin membuka lagi room-chat suaminya. Selain malas, ia masih takut kejadian semalam akan kembali terulang. Jadi lebih baik ia mengalah dulu, menjauh sampai benar-benar kondusif.


“Ayo pulang, Ayang.”


Lula menarik pandangannya dari layar ponsel, menatap Elkan yang sudah membopong tas nya. “Duluan saja, aku ada janji sama Zola.”


Tentu saja Elkan tahu siapa itu Zola. Pria yang dijuluki buaya darat, play boy cap cay, di SMA Barracuda. Dia juga tahu kalau Zola itu adik dari ayah Rainer.


“Aih, kenapa nggak bilang dari tadi, tahu gitu kan aku bisa cancel jadwalku buat nemenin kamu jalan-jalan.”


“Udah tidak apa-apa. Kamu pergi saja! Aman!” Lula akan sangat beruntung jika Elkan benar-benar menuruti ucapannya.


“Baiklah sampai jumpa besok! bilang sama Zola kalau kita pacaran. Okay, Ayang!”


Lula mengangguk, menanggapi permintaan Elkan. Tepat saat bayangan tubuh Elkan tidak terlihat lagi. Ponsel di saku Lula berdering nyaring.


“Udah di depan?” sela Lula sebelum Zola berbicara.


“Udah, ayo!” ajak pria di seberang panggilan.


“Masuk aja, aku tunggu di parkiran motor. Di depan gerbang ada daddy, kan?”


“Lula,” peringat Zola lembut, sepertinya dia keberatan dengan ide keponakannya itu.


“Nurut atau kamu keluar tanpa aku!”


“Okelah. Tunggu di tempat parkir motor! Aku OTEWE!”


Panggilan berakhir. Lula melangkah keluar kelas, tidak ingin membuat Zola menunggu terlalu lama. Kondisi sekolahan masih cukup ramai, Lula bahkan melirik ke arah Levin yang sedang bermain basket di tengah lapangan. Andai tidak ditunggu Zola, pasti dia sudah duduk di tepi, menyaksikan pria itu bermain basket.


Tiba di tempat parkir sepeda motor, Lula menangkap bayangan Zola yang menunggu di atas motor maticnya.


“Kenapa nggak naik ojol aja, sih?!” tanya Zola, menyambut tubuh Lula yang baru saja naik ke atas motornya.


“Nggak boleh sama Bunda.”


Zola mencibikan bibir, “Emang bunda kamu bolehin, setiap hari kamu gangguin Om?”


“Boleh, yang penting Om nggak ngapa-ngapain Lula.”


“Dasar!” Emang siapa juga yang mau nikahin keponakan sendiri? Segila-gilanya aku, sepertinya tidak akan menikahimu, Lula. Batin Zola.


“Udah ayo jalan!” Lula menepuk pundak Zola.


“Terus itu suamimu mau ditaruh mana? Dia nungguin kamu di depan!” kata Zola.


“Udah biar saja, kita terabas! Pura-pura tidak lihat!”


“Ye, nanti dilaporin ke ayah, aku yang kena pasal bawa kabur istri orang!”


“Zoolaaa!” mata Lula melotot tajam. Berusaha memperingati Zola supaya mau menuruti ucapannya.


“Kamu udah nikah, Lula … surgamu udah pindah, di tangan suamimu. Taat dikit sama suami, apa salahnya sih.” Zola turut menasehati, saat berada di rumah, Zola dihadapkan dengan keromantisan ayah dan bunda. Tapi sekarang dihadapkan dengan Lula yang lagi diem-dieman sama sang suami. Rasanya kok nyebelin! risih. Berharap Lula bisa seperti ayah bundanya meski pernikahan mereka diawali dengan sebuah perjanjian.


Lula memasang wajah kesal yang bisa dilihat Zola dari kaca spion motor. “Kan, aku udah bilang, kita hanya menikah di atas perjanjian. Uang lima juta, itu hasil kerja kerasku. Jadi istri penggantinya.”


“Kenapa nggak serius saja, sih, Lula ... Jangan main-main, Napa! nanti kena karma!”


“Dia ketuaan buat aku, Zola!!” hardik Lula. Kesal dengan Zola yang justru membela Frans.


“Macam-macam!” sahut Lula cepat. "Aku bisa ngapain aja asal jangan disuruh mikirin rumus matematika!"


“Lula-Lula …” sebut Zola penuh beban.


Beruntung Zola lekas menjalankan motornya, melewati gerbang depan. Dan untung saja mobil hitam mengkilap yang biasa terparkir di sisi kanan gerbang sudah menghilang. Jadi Lula bisa melancarkan agendanya siang ini.


“Ke rumah sakit ya, Zo!” minta Lula setelah motor yang mereka tumpangi bergabung dengan puluhan motor lainnya.


“Terus pulangmu gimana?” jangan sampai nanti malam Lula minta jemput lagi, lelah aku! batin Zola, nggak dituruti ini Lula, kalau dituruti lelah juga fisiknya..


“Aku pulang sama ayah. Biar dia nganterin aku!”


“Baiklah. Janji ya jangan aneh-aneh!”


“Iya-iya, Om!”


Zola tak protes lagi, dia mengemudikan motornya menuju Ramones Hospital. Setelah motor matic itu tiba di depan pintu rumah sakit Zola langsung berlalu begitu saja. Dia pusing dengan aroma obat-obatan jadi dia enggan untuk menunggu terlalu lama di sana.


Sedangkan Lula, memilih lekas memasuki gedung rumah sakit, menyapa ramah perawat yang berpapasan dengannya. Lula menitip pesan pada perawat jaga, supaya perawat itu menyampaikan pada Rainer, jika dia hendak pulang bersama.


"Jangan lupa ya, Mbak!" pesan Lula sebelum meninggalkan meja pendaftaran.


Hari ini, Lula sengaja tidak menemui Sofya, meski rasanya ingin tapi dia sungkan jika tidak membawa barang kesukaan Sofya. Dia memiliki uang, hanya saja waktunya belum sempat. Khusus hari ini Lula memilih mengunjungi teman-teman lain yang menjadi pasien di sana.


Tepat pukul 5 sore, Lula mengakhiri acara mainnya. Dia tidak ingin ayah Rainer menunggunya terlalu lama. Sayangnya saat tiba di meja pendaftaran ayah Rainer masih ada operasi. Jadi ia harus menunggu terlebih dahulu.


Lula memutuskan untuk mendatangi ruang operasi karena Rainer tak kunjung muncul. Ia menelusuri koridor rumah sakit yang cukup panjang. Jauh di depan sana, ia melihat ayah Rainer terlihat begitu sexy, maskulin, dengan pakaian dokter yang dikenakan. Andai saja aku memiliki kecerdasan seperti ayah, pasti aku akan mengikuti jejak ayah! batin Lula.


“Ayah!” seru Lula melihat sang ayah sudah selesai menjelaskan keluarga pasien.


Rainer menoleh saat mendengar panggilan putrinya, senyumnya begitu lepas, menyambut Lula. "Hai, kamu datang?"


Lula yang melihat pria itu berhenti langsung menghambur ke pelukan Rainer, memeluknya erat seakan sudah bertahun-tahun tidak bertemu, padahal kemarin pagi baru saja bertemu.


"Apa operasinya sudah selesai, Ayah?!" tanya Lula, setengah berbisik.


"Sudah."


“Aku mau makan pizza,” aku Lula, berbisik di samping telinga Rainer.


Rainer menggeleng pelan, “Kasihan Bunda nanti masakannya nggak ada yang makan. Gimana kalau kita makan di rumah saja?!” tawar Rainer, dia juga ingin tahu ke mana perginya Lula kemarin.


“Tapi aku juga tidak mau melihat tangisan Bunda, Ayah ... Bunda terlalu cengeng!” kata Lula polos.


Rainer terlihat diam sesaat. “Baiklah, demi putriku yang paling cantik. Sepertinya bohong sedikit tidak masalah! Aku akan menuruti anakku, dan aku juga akan makan di rumah. Tapi, ayah pamit dulu ke Bunda ya!”


Senyum Lula mengembang, "Iya." Lula menunggu sang ayah yang tengah menelepon Bunda Zahira. Seharusnya begitulah suami yang baik itu. Mengabari istrinya jika pulang terlambat, supaya istrinya tidak berpikiran aneh-aneh.


Melihat keromantisan sang ayah yang tengah mengabari bunda Zahira. Lula turut memeriksa ponselnya. Rupanya Frans juga mengirimkan pesan untuknya.


[Pulang sama Zola dulu ya! tiba-tiba aku ada urusan mendadak. Nanti malam jangan tidur dulu. Daddy mau bicara sama kamu!]


Lula memeriksa kapan pria itu mengiriminya pesan ternyata sudah tiga jam yang lalu. "Pantas saja tadi Daddy tidak ada di depan pagar," gumam Lula, kembali memasukan ponselnya ke dalam saku.


"Ayo! kita berangkat sekarang?!" ajak Rainer.


Lula mengangguk setuju, dia begitu senang jika sang ayah memiliki waktu banyak bersamanya. Dulu memang langka memiliki waktu berdua saja,, karena jadwal dokter itu tak tentu. Harus siaga ketika ada pasien darurat yang butuh pertolongan. Bukan cuma sekali dua kali, di kala mereka menikmati waktu bersama tiba-tiba sang ayah harus pergi. Tapi, sekarang ia cukup bangga dengan profesi sang ayah saat ini. Dokter Spesialis.