
Dengan setelan casual yang begitu pas di tubuhnya, Frans kini sudah berdiri di depan pintu gerbang SMA Barracuda. Jika dulu dia bisa sabar menunggu Lula di depan mobil, tapi kali ini tidak. Bahkan, sebelum jam pelajaran dibubarkan, pria itu sudah berdiri menunggu istrinya. Hal yang sangat jarang dilakukan oleh pimpinan perusahaan.
Siang ini, Frans berniat membawa Lula bertamu ke rumah Ferdinan. Pria itu memaksanya datang untuk menikmati makan malam. Tapi Frans kekeh tidak bisa jika pertemuannya diadakan malam hari. Dia sudah membuat janji dengan Rainer, jadi Frans memutuskan untuk datang setelah jam makan siang. Tentunya dia akan membawa Lula menemui mereka.
Bel pulang sekolah sudah terdengar, pandangan Frans tertuju ke arah keluarnya para murid. Sesaat kemudian, Frans melihat istrinya melangkah menghampirinya. Gadis itu berjalan sendirian, sepertinya Lula memang tidak memiliki sahabat dekat dalam lingkungan sekolah.
"Semoga saja dia tidak mengalami perundungan." pandangan Frans mulai kosong, pikirannya membayangkan hal yang bukan-bukan. "Mungkin tidak masalah kalau aku mengirimkan ajudan untuk menjaga Lula," gumamnya, mendadak khawatir apa yang ada di pikirannya benar terjadi.
“Selamat siang, Daddy! Assalamu’alaikum, Imamku.” Lula menyapa ramah, dibarengi senyum simpul yang begitu menggetarkan otot-otot persendian milik Frans.
“Wa’alaikumsalam, masuk!” perintah Frans sembari memasukan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Lula menurut, dia segera memasuki mobil Maserati hitam milik suaminya. “Dad, aku butuh mbak Dona.” Lula mengungkapkan isi hatinya ketika Frans baru saja duduk di balik setir.
“Buat?”
“Buat ngajari aku. Sebentar lagi kan ujian nasional. Aku mau hasil yang bagus, setidaknya di atas angka lima,” kata Lula, menggebu-gebu, tampak jelas semangatnya berkobaran.
“Kenapa tidak minta aku saja? Aku bisa kok kalau hanya ngajari kamu.”
Lula mengubah posisi duduknya, sedikit miring menghadap Frans. “Kenapa tidak dari dulu?! kalau tahu Daddy bisa ngajari aku, uangnya bisa ditabung, atau dikasih ke orang yang lebih membutuhkan.”
Frans kesusahan menahan tawa. Wajah Lula terlihat menggemaskan saat melayangkan kalimat protes itu. “Daddy takut kamu baper! Enggak lihat materi malah lihat ketampanan Daddy!”
“Pede banget! Yang lebih ganteng dari daddy banyak!”
“Enggak ada!”
“Ada!”
“Siapa?” tanya Frans, penasaran, dia sampai menurunkan laju mobilnya.
“Cha eun woo, Jung Kyung, Lee Do Hyun, Jungkook. Daddy mah kalah saing. Nyempret aja nggak. Mereka ganteng, berkharisma, muda lagi! Sedangkan Daddy?” Lula mengakhirinya dengan tawa, dia hapal semua aktor-aktor Korea, lantaran dulu sering menonton film bersama Elkan.
“Kok kamu tega, muji-muji pria lain di depan Daddy! Kalau kamu jadi aku sakit hati enggak?” protes Frans, wajahnya terlihat begitu kesal, tidak terima.
Tawa Lula melebur menjadi sebuah rasa penyesalan. Mendadak iba dengan suaminya. Dia mengaku salah, sudah menyakiti hati suaminya dengan ketajaman lidah.
“Mereka hanya bisa dilihat tapi tidak bisa dimiliki, Dad! Kan beda sama Daddy, bisa diapa-apain!" Lula berusaha tersenyum, menghibur suaminya. "Jadi, mau mereka setampan dewa Zeus, itu nggak akan berpengaruh! meski udik begini, kan aku udah dimiliki Daddy sepenuhnya!”
Frans berusaha menahan tawa, dia merasa sedang dirayu oleh Lula, dan dia menyukai itu. Padahal mau Lula memuji pria lain dengan sebutan tampan pun dia tidak pernah mempermasalahkan itu, tadi dia hanya berpura-pura kesal. Tapi emang dasarnya anaknya Rainer ini kelewat polos, jadi ya sudah sekalian aja dikerjai.
“Kamu milikku?” wajah Frans terlihat bingung.
“Iya kan gitu! kita udah punya buku nikah. Dan kita juga sudah berada di satu kolom kartu keluarga.”
“Hm.” Lula mengangguk. “Apa aku boleh pacaran?”
Frans menoleh, berusaha melihat keseriusan dari niatan Lula. “Boleh.” Frans menjawab singkat. “Tapi sama aku!”
“Ish.”
“Pacaran halal sama Daddy aja. Takut dosa. Memang kamu mau apa kalau punya pacar? emang perhatian Daddy ke kamu masih kurang?”
“Iya kurang banyak. Aku mau jalan-jalan, kaya anak muda zaman sekarang, malam minggu ngedate nongkrong di pinggir jalan. Berpegangan tangan sambil menikmati udara malam.”
“Itu doang! padahal kita bisa melakukan lebih. Dan lagi, malam minggu kan jadwal aku buat belah duren!” Frans berusaha mengingatkan siapa tahu Lula lupa dengan ucapannya semalam. Sayangnya, Lula tidak menanggapi. Gadis itu celinguk'an heran ketika mobil yang dikemudikan Frans berhenti di depan rumah Ferdinan.
“Kita ngapain ke sini, Dad. Kita enggak bawa oleh-oleh buat mama dan Papa.”
“Enggak perlu. Orang seperti dia nggak usah dikasih oleh –oleh juga sudah senang.” setelah mengatakan itu, Frans membawa Lula turun dari mobil. Mereka berjalan memasuki rumah mewah tersebut.
Tiba di dalam rumah, Lula menyapa dengan sopan mama tiri Frans dan papa Ferdinan, yang kini tengah duduk di sofa depan layar tv.
Mereka menyambut ramah, menuntun mereka berdua untuk menikmati hidangan snack buatan mama Luisa. Dari saat mereka datang, Lula tidak bisa melihat wajah kegembiraan dari suaminya. Wajahnya selalu menyiratkan dendam yang membara.
"Ayo dimakan, Lula!" perintah Luisa yang ditanggapi anggukan kepala oleh Lula.
Suasana meja makan terasa begitu tenang, Lula sampai tidak berani untuk mengangkat sendok takut menimbulkan suara berlebihan dan akan menarik perhatian..
Setelah makanan itu habis. Papa Ferdinan mulai angkat bicara. “Frans, mumpung papa masih hidup. Papa ingin membagikan asset yang menjadi milik papa.”
Frans mengerutkan keningnya. Jadi hanya untuk ini dia dipanggil? “Bisa enggak sih, pa? kita tunggu tanah di makam eyang itu kering!” Frans melirik ke arah Luisa. Dia paham pasti gara-gara dedengkot satu ini.
“Tidak bisa, Frans! papa harus memutuskan sekarang!”
Frans menggeleng pelan, menyesal dia sudah mendatangi rumah orang tuanya. “Harta apa yang hendak papa bagi?” Frans menyeringai. “Papa lupa kalau selama ini hanya menumpang sama Eyang.
“Tutup mulut kamu, Frans! Papa hanya ingin rumah yang ditempati eyangmu dulu dialihkan ke adikmu!”
“Tidak!” tolak Frans tegas. “Itu milik mamaku, selamanya aku tidak akan melepaskan rumah itu.” Frans mulai emosi, dia tidak terima karena Ferdinan hendak memintanya untuk melupakan kenangannya bersama eyang dan sang mama.
Lula yang barada di antara mereka tidak bisa ikut campur. Dia menunduk, sembari mendengarkan obrolan.
“Punya papa hanya rumah ini. Kalaupun papa mau membagikan warisan, silakan saja, Frans juga tidak menginginkan warisan dari papa! tapi, jangan pernah mengungkit masalah keluarga a!”
“Kenapa kamu sekeras ini, Frans!” tegur Ferdinan dengan nada tinggi.
“Papa, rumah yang ditempati eyang menyimpan banyak kenangan. Jadi sampai kapanpun Frans tidak akan melepaskan rumah itu.” Frans beranjak dari bangkunya, menggenggam tangan Lula, kemudian membawanya pergi dari rumah orang tuanya. Frans tidak mau Lula melihat bagaimana bobroknya sikap ayahnya itu.