Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Tetap Bahagia



“Ayah … pasti opa marahin ayah-nya kebangetan ya? buktinya ayah sampai menangis begitu.” Lula semakin merasa bersalah, melihat ekspresi Rainer saat ini. Jujur dia tersiksa melihat Rainer seperti itu, ingin melakukan sesuatu tapi tidak tahu apa! Dia seperti orang bodoh yang masuk ke lubang perangkap.


“Enak aja, mana ada ayah nangis, tidaklah! tadi itu bu Sukma bersih-bersih, debunya terbang ke mata ayah.” Rainer menyangkal.


“Ayah, ini Lula, bukan Ben!” Lula memeluk tubuh Rainer erat. “Lula tidak bisa dibohongi, Lula … sudah besar, Ayah! Lula bisa tahu ayah bohong.”


Rainer mengangguk paham, ia berusaha tersenyum. Kemudian membalas pelukan Lula, menepuk punggung anak gadisnya dengan lembut.


“Apa yang harus Lula lakuin untuk menebus semuanya, Yah? Supaya Lula juga tidak melulu dihantui rasa bersalah? Jujur melihat oma memaki bunda, ayah menangis diomeli opa. Itu membuat dada Lula sesak. Andai Lula kembali ke waktu kemarin, pasti Lula tidak akan memberi izin daddy yang berniat menikahi Lula,” kata Lula polos. ‘Enam bulan saja, Yah! setelah itu Lula bisa merdeka!’ batin Lula, tak berani menyuarakan isi hatinya.


“Tetaplah bahagia walau dia tidak mencintaimu. Sa ... ma ... tetap berbuat baik, disetiap ada kesempatan. Saat mati nanti, kebaikan yang sudah kamu lakukanlah yang bisa menemanimu. Ingat ucapan Ayah.”


“Lula selalu ingat ucapan Ayah yang itu.”


Rainer mengangguk. “Kamu cantik, Lula! Ayah sempat menentang keputusanmu. Tapi, mendengar penjelasannya ayah mengerti posisimu. Kamu terbaik di hidup Ayah! Orang bisa menilai sisi negatifmu tapi kamu juga perlu menunjukan kalau kamu punya sisi baik.”


“Pasti, kan Ayah selalu ngajarin Lula. Lagian aku cuma tidak naik kelas,” ucap Lula ringan, dia tidak tahu saja telah memecah rekor anggota Ramones yang tidak naik kelas.


“Kamu harus berjanji untuk selalu bahagia, setelah menikah dengan daddymu.”


“Pasti, ini kan pilihan Lula.”


“Dan kamu harus berjanji—setiap ada masalah yang tidak bisa kamu selesaikan, bahu ayah akan selalu terbuka untukmu.” Rainer menepuk bahu Lula pelan.


“Ih, ayah jangan mengucapkan kalimat yang membuat Lula sedih, kesannya Lula kaya mau mati saja!” cibir Lula, menjauhkan tangan Rainer dari tubuhnya.


“Iya, kan kamu akan pergi bersama suamimu.”


“Enggak ayah. Daddy ke Singapura ada perjalanan bisnis. Jadi—”


“Singapura?!” potong Rainer.


“Iya, jadi kita masih punya waktu banyak. Aku akan ke rumah sakit setiap hari, jalan-jalan sama Zola, sama Elkan.”


“Lula.”


Gadis itu meringis. Dia memang suka merepotkan Zola yang saat ini sudah masuk ke perguruan tinggi. Rainer yang paham berusaha mencegah, tahu jika pria itu memiliki kesibukan lain selain menemani Lula jalan-jalan. “Udah mendingan kamu di rumah saja! belajar bikin kue lagi sama bunda.”


“Baiklah, aku akan bikin ugly cake yang enak buat ayah, jangan lupa dimakan. Eh, tapi nanti aku buatnya sama Elkan. Dia bilang mau ngajak nonton series bareng, boleh, kan?”


Rainer menarik napas dalam-dalam, mengingat kue buatan Lula yang rasanya tidak keruan, jika dinilai dari satu hingga sepuluh, kue itu cuma bernilai 5. Tapi dia menghargai usaha Lula.


“Suruh Elkan datang ke rumah saja!”


Bibir Lula memberengut. “Aku akan ke apartemen Elkan saja. Di sana lebih nyaman, sepi, bersih tempatnya.”


“La, kamu anak gadis, nanti kalau minumanmu dikasih obat perangsang atau obat tidur, terus pakaianmu dilepas kamu difoto-foto terus disebarkan ke media sosial, gimana? KAMU MAU? belum nanti—” Rainer tidak melanjutkan ucapannya, merasa ngeri walau hanya membayangkan saja.


“Ih, amit-amit, Ayah! Elkan nggak seperti itu, dia itu—BAIK!”


“Sayang ... Kita ini bukan cenayang yang bisa membaca pikiran orang. Jadi lebih baik mencegah dari pada nanti terjadi.” Rainer memperingati, mendadak ia khawatir, tidak seperti biasanya. Ia takut Lula diapa-apain oleh Elkan.


Begitulah sikap ayah Rainer selalu melarang ini itu membuat Lula seperti hidup dalam penjara. Sebentar lagi setelah daddy frans membawanya keluar dari rumah ayah pasti dia akan segera bebas dari kekangan pria itu. Jadi, untuk saat ini dia lebih baik mengalah.


“Udah ayo pulang. Kemasi barang-barangmu!”


“Tapi—


“Sudah cepatlah, kita akan liburan ke puncak.”


“Bener?” tanya Lula terlihat riang.


“Ya.”


“Kok tumben?” selidik Lula mendadak merasa ada yang tidak beres.


“Mau tidak?”


“Ya, mau, Yah.”


“Ayah akan menunggumu di bawah.”


Lula mengangguk penuh semangat, mengiringi langkah Rainer yang berjalan keluar kamar. Lula sendiri tidak tahu alasan apa yang membuat sang ayah mendadak ingin membawanya liburan ke puncak.


Padahal orang hamil yang menjadi pasiennya di rumah sakit begitu banyak akhir-akhir ini. Dia tahu benar. Sebab, nyaris setiap hari ia selalu datang ke rumah sakit untuk sekedar bermain, sesekali menemani sang ayah yang tengah bekerja.


Sebenarnya Lula memang lemah di bidang akademik, tentu semua ada sebab akibatnya. Dia akan sulit diajak untuk berpikir di saat-saat tertentu. Tapi Lula sosok gadis yang rajin, suka menolong, dia akan menyerahkan apapun itu jika merasa bisa membantu.


Di saat sang ayah tengah sibuk mengurusi pasiennya, Lula selalu berkeliling di sekitar bangsal. Lalu membantu pasien yang tidak memiliki biaya, tentu semua itu tidak diketahui sang ayah, mereka tidak tahu jika Lula sering menemui pasien yang membutuhkan bantuannya.


Lula akan merasa sedih di saat uangnya tidak cukup untuk membantu mereka. Terkadang jika dia tidak mampu memberikan materi, dia hanya duduk dan mengajak mereka mengobrol, membuat mereka tersenyum di saat penyakit tengah menyerang.