
Tamu yang hadir bersorai-sorai menyebut nama Lula. Suasana semakin ricuh oleh sorakan dari tamu saat Frans justru kembali menghujani wajah wanita berkebaya merah itu dengan kecupan.
"Sirik ya, kalian!" sembur Frans, menuding para murid alumni SMA Barracuda. "halal kok dilarang! Serah gue dong mau kutelan juga enggak masalah!" hilang sudah wibawa Frans sebagai CEO Pagara Group. Dia seperti anak dua puluhan tahun yang sedang menikah.
“Dasar Lo, ya menantu laknut!” Rainer tak terima putrinya digituin oleh Frans. Apalagi, melihat wajah merona yang ditunjukan Lula. Dia tahu, putrinya malu memiliki seperti setua Frans. Yang enggak bisa kontrol naf-sunya.
Frans mencebik, lalu berbisik di depan wajah Lula, setelah suasana kembali senyap. “Nggak ada nih yang mau kamu sampaikan?” Frans menatap Lula dengan wajah kecewa yang dibuat-buat. "Sebegitu biasanya kah aku di matamu? heemmm ...."
“Dad, public speaking ku buruk nanti malah bikin malu Daddy!” Lula menolak. "Bukan karena dia tidak mencintai Frans, tapi karena takut salah bicara."
“Bilang aja, saranghaeyo, Yeobo atau Wo ai ni! Udah gitu aja, demi melegakan tamu.” Frans mengakhirinya dengan senyuman.
“Ah kelamaan, panas woy!” Ibnu yang juga hadir ikut protes. Hanya di momen seperti ini dia berani unjuk gigi. Jangan harap saat di kantor nanti dia bisa hidup dengan tenang, karena pasti akan datang perintah susulan sebelum dia menyelesaikan perintah sebelumnya.
Lula memberanikan diri, tangannya dengan gerakan ragu-ragu meraih micropon dari tangan Frans. Dia berdehem sejenak, dan pandangannya jatuh pada ayah Rainer yang ikut berdiri di antara mereka. “Cek! CEK! Tes, satu, dua, tiga, tes ... Tes! Okay baiklah ...” Lula mengawali dengan gaya polos tanpa dosa. Kakinya mundur satu langkah, sepasang matanya tertuju pada sosok pria bak manekin di depannya, satu kata untuk pria di depannya ini yaitu, sempurna.
Asal kalian tahu, Lula pernah menuliskan suasana siang ini di buku catatan kecil. Langit cerah, terang benderang, angin sepoy berhembus lembut, suara deburan ombak mengalun bak irama musik, inilah impian Lula. Dan dia sangat, sangat bahagia mendapatkan ini semua. Jadi, untuk memulai ucapan terima kasih itu, dia sampai bingung harus memulai dari mana.
“Kalau tentang Daddy ... Buat aku Daddy itu segalanya. Daddy tu ... Punya buanyak kelebihan, ganteng, putih, tinggi, cakep banget kalau pakai kaca mata hitam ... Sering banget digodain para cabe-cabean saat jemput Lula.”
"Ya, Allah! padahal sudah bangkotan loh!" salah satu dari mereka menghina. Sampai senyum yang tadi ditampilkan Frans langsung melebur diterpa oleh angin.
“Oh, jadi Lula cemburu!” suara menyebalkan itu ikut menyusul.
"Sedikit, Om! habisnya Daddy juga genit." Lula menahan mengangkat tangan, memberi peringatan supaya mereka tidak bertanya lagi. Takutnya acara tidak kunjung selesai, dan tak segera masuk ke dalam kamar. “Selain punya kelebihan usia yang jauh daripada Lula, dia yang aku kenal adalah tipe setia." Lula tertawa, sambil melirik takut ke arah Frans. "Para om dan Tante, apa kalian tahu? Dia betah jomblo hanya karena nungguin wanita, aku!"
"Beruntung nih ya—saat Lula umur 20 tahun bersedia menerimanya!" kata Lula bangga, membuat Frans menahan tawa. Karena, sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, satu pertanyaan langsung muncul; benarkah begitu? dan dia merasa itu benar. Dia menunggu jodohnya selama dua puluh tahun, dan demi mengisi kekosongan itu, dia menjalin hubungan dengan cinta pura-puranya, yaitu dengan Priscilla.
"Banyak juga yang Lula ketahui dari Daddy, dia itu bertanggungjawab, loyal. Contohnya nih ya ... dia sering banget tiba-tiba transfer uang, pasti dia langsung kasih info lewat pesan; Udah aku kirim ya bayaran semalam. Eh, dikira Lula wanita bayaran?” Lula terbahak seraya melirik Frans yang mati kutu. Dan kalimat Lula itu disambut gelak tawa dari tamu. Bukan menertawakan cerita Lula, tapi menertawakan gaya cerita Lula yang selayaknya sedang stand up comedy. “Tapi Lula batin nih, sering-sering kaya gini, meskipun nih Lula mikir, masa iya bandrol pelayanan gue segini! amazing banget! Mahal banget tarif gue ya!”
Demi menjeda antara tawa dan dan mode serius Lula menarik napas dalam-dalam. “Tapi, terlepas dari itu semua. Aku senang, setidaknya ada yang mau makan masakan ku, lelahku setelah memasak hilang saat dia bilang nambah, Yang! Tapi ada kalanya, Daddy itu nyebelin. Suka ngomel, meski Lula sadar kalau itu juga buat dan demi kebaikan Lula. Ah, pokoknya hidup dengan Daddy itu menyenangkan. Jangan sakit ya, Suamiku ... Karena kalau kamu sakit nggak ada yang cinta sama aku, nggak ada yang perhatian sama aku lagi, nggak ada yang bantuin ngerjain PR. Nggak ada yang suka ngambek-ngambek nggak jelas. Dan terakhir, kedewasaan itu tidak bisa dilihat dari seberapa banyak usia kita, Daddy masih sering kok bersikap seperti anak kecil. Dan aku merasa meskipun dia sudah tua, sifat kita itu masih sama dan itu seru.”
Kerutan di kening Frans semakin banyak dan dalam.
“Lula juga mencintai Daddy kok, Lula berharap meski aku bukan yang pertama. Tapi aku adalah orang terakhir yang menjadi pelabuhan cinta Daddy. Seperti yang dia bilang, tidak perlu mendengarkan pendapat orang, karena yang penting, kita yang menjalani pernikahan ini, bahagia. Aku akan menutup telinga, jika ada yang menghina, suamiku tua. Karena menyenangkan mereka bukan tugas kita. Seperti kebahagiaanku itupun juga bukan bagian tugas dari mereka. Tapi, jika itu adalah saran, dengan senang hati Lula akan menerima. Sekian, terima kasih.”
"Ets, satu lagi hampir lupa ... mari Dad, Lula temani! mau aku atau daddy duluan yang pergi, tapi sebelum itu, mari kita bergandengan, saling mencintai, saling menjaga, dan saling berjuang!"
Ucapan Lula memang tidak sedalam Frans, dunianya masih dalam fase polosnya percintaan. Berbeda dengan Frans yang sudah jauh berpengalaman dalam ilmu percintaan. Tapi, kalau masalah kesetiaan. Jangan lagi diadu, Lula pasti akan jadi pemenangnya.
“Enggak dicium nih!” suara itu terdengar dari pria yang berdiri paling depan.
“Tadi kan sudah!” balas Lula. Malu kalau dipaksa mencium Frans di muka umum.
“Ah, nggak seru anak Lo, Rain!”
"Biarkan jadi rahasia mereka sendiri!" Rainer membalas. "Kalian jangan ngajari anakku aneh-aneh!" ucapnya melemparkan peringatan.
“Andai Eyang masih ada ya, pasti dia bahagia melihat aku beneran cinta sama kamu.” Frans menatap jauh ke arah garis pantai yang membentang.
“Daddy kangen sama Eyang Ano?”
“Sedikit sih, dia kan yang suka ngomeli aku. Tapi sekarang udah ada gantinya.” menunjuk pipi Lula, semakin dalam.
Lula mencebikkan bibir. “Eh, Dad! Emang serius apa yang tadi ucapkan di depan mereka?”
“Apa?”
“Yang Daddy bilang kalau cinta ke Lula bukan hanya di atas kertas. Tapi, sungguh-sungguh cinta sama Lula?!”
“Astaga anaknya Rainer! Lalu apa arti kehadiranku selama ini? Hah?”
Heheheh .... Lula meringis. “Jadi beneran cinta ya? I love you too, Daddy!” Lula merangkul pinggang Frans.
“Sekarang udah percaya?”
“Iya, janji setia ya! Sama aku aja!”
Frans melirik ke arah tamu undangan yang mulai meninggalkan lokasi pesta. Karena pengertiannya begitu besar, Rainer yang kini menghantarkan mereka menuju area parkir.
“Bagaimana kalau kita sembunyi!" ajak Frans.
"Sembunyi di mana?"
"Udah naik aja ke punggung Daddy. Daddy akan bawa kamu ke surganya dunia. Tapi jangan berisik nanti ketahuan mereka!"
Dengan bodohnya Lula menuruti ucapan Frans dia naik ke punggung pria itu, sedikit kesusahan karena masih mengenakan rok kebayanya. Dia terpaksa menyingsingkan tinggi-tinggi supaya lebih mudah menaiki pundak Frans.
Frans sudah tersenyum penuh arti. Dia bersiap membawa Lula ke tempat yang tadi sudah direncanakan.
"Ayah Lula diculik!" teriak Lula, saat Frans membawa tubuhnya berlari. Melihat mertuanya mengejar, Frans pun berputar arah, dia berlari membawa Lula ke bibir pantai, menjatuhkan Lula ke air hingga kini tubuh istrinya basah semua.
"Katanya mau ke surga dunia kok di sini!"
"Emang Daddy bilang ke kamu suruh teriak, kan enggak!"
"Jangan kejam-kejam sama anakku Frans! atau kamu mau aku ambil balik Lula dari hidupmu!"
"Ampun, Tuan! Ampun! Aku mau bikin dia berkembangbiak dulu!" sambut Frans, dia langsung berlari sekuat tenaga ketika Rainer bersiap mengejarnya.
Sedangkan Lula, hanya bisa tertawa melihat keseruan suami dan ayahnya itu.
...-------TAMAT --------...