Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Aku Atau Dia



Gelembung kegembiraan meletup-letup di hati Lula saat melihat hasil polesan make up di wajahnya. Kali ini dia patut memuji hasil karyanya yang luar biasa. Meskipun nyaris satu jam Lula menggunakan waktunya untuk berias.


Masa bodoh dengan suara ketukan pintu yang sudah terdengar mulai satu jam yang lalu. Tapi, Lula enggan membuka, mengatakan jika dirinya belum mengenakan kain sehelai pun dan beralasan sebentar lagi akan keluar.


Dan lihatlah saat ini, Lula terlihat begitu menawan dengan dress sederhana tanpa lengan. Gaun dengan warna peach yang diambil dari lemari, terlihat begitu menempel di tubuhnya, layaknya pakaian itu memang didesign khusus untuk Lula.


Lula sedikit menarik rumbai di bagian depan supaya menutupi potongan dadanya yang begitu rendah. Bagian bawah gaun itu berayun-ayun saat Lula berjalan mendekati pintu. Lula mencepol rambutnya tinggi-tinggi memperlihatkan anting besar yang sengaja digunakan, logikanya berusaha mengusir pikiran jika ini hanyalah barang bekas, bekas Tante Priscilla tentunya. Yang ia pedulikan justru ucapan Frans, dandan yang cantik!


Lula tersenyum sumringah sebelum menarik tuas pintu. Ketika berhasil terbuka lebar, dia hanya menemui keheningan.


“Apa aku terlalu lama, sampai bisa membuatnya nyenyak?!” Lula bergumam seraya mendekati sofa. Di mana suaminya sedang terlelap. Dia baru menyadari jika sudah terlalu lama berada di dalam kamar.


“Dad!” lirihnya seraya menyenggol kaki Frans. “Daddy!”


Lula menatap wajah Frans yang tampak lelah, sia-sia sudah satu jam dia berdiri di depan layar kaca. Dia sudah bisa memprediksi batalnya acara makan malam ini, karena Frans tidak merespon panggilannya.


Lula berjongkok di samping sofa, menumpu tulang pipinya dengan kedua tangan. Sejenak mengeluarkan bisikan, “Daddy, aku udah siap.” Seiring Lula mengatakan itu, bibirnya semakin mendekat, hingga berhenti tepat di samping telinga Frans. “Daddy! Ayo aku udah siap?!” Seolah membalas perlakuan Frans tadi sore.


Hembusan napas hangat dari bibir Lula nyatanya bisa membangunkan Frans. Pria itu mengerjap, kemudian membuka matanya lebar-lebar. Berulangkali Frans melakukan gerakan mengucek mata, demi memastikan apakah yang dilihatnya ini benar atau salah.


“Enggak jadi dinner?” tanya Lula, sedikit menyesal karena berada di dalam kamar terlalu lama. "Aku kelamaan ya?" keluhnya.


Frans masih termenung, menilai pemandangan di depannya. Gambaran tubuh Lula saat ini, menimbulkan perasaan aneh dalam diri Frans. Bibir merah merona yang terlihat pas, dadanya yang sedikit berisi, lehernya yang diekspos semua, nyatanya mampu meresahkan **** ***** miliknya. “Astaga Lula. Daddy udah bilang jadilah diri kamu sendiri!”


“Apa aku cantik, Dad?!” Lula berdiri di depan Frans, berputar setengah lingkaran memamerkan kepiawaiannya dalam berias.


Frans yang masih terlentang hanya menggeleng bingung hendak menyikapi bagaimana. “Cantik, sih! Tapi, jomblo.” semburnya seraya mendudukan tubuhnya.


Lula seperti diingatkan kembali pada luka yang sudah ditorehkan Elkan. “Sudah ayo, kasihan eyang nungguin kita kelamaan.”


“Eyang udah nyerah, dia pulang duluan, kamu kelamaan sih!” kata Frans, beralasan.


Lula menjatuhkan tubuhnya di sofa, terlentang juga di samping Frans. Wajahnya tampak menyesal dengan apa yang sudah terjadi. Dia tidak tahu saja, jika itu adalah bohongan.


“Makan berdua saja sama Daddy! Gimana?” tawar Frans.


“Enggak.”


“Gimana sih? Emang nggak sayang tu make up dianggurin?” Frans beranjak dari sofa, dia tidak bisa berdekatan dengan Lula untuk saat ini. Inti tubuhnya sudah memberi sinyal siaga satu. Takutnya dia hilang kendali dan meledakan larva panas. “Anggap saja, kamu sedang lembur. Dan ini hadiah dari Daddy, supaya kamu semakin betah bekerja sama denganku. Atau kamu ingin naik pangkat? Dari istri bo’ongan jadi istri sungguhan. Aku lihat kamu cukup potensial.” entah kegilaan apa yang ada di pikiran Frans, sepertinya tidur di sofa melupakan perkataannya tadi sebelum terlelap, yang menganggap Lula hanya sebagai anak.


Lula tertawa lebar. “Akan kupikirkan nanti soal itu!” jawabnya asal.


“Tunggu di sini dulu! Daddy mau mandi.”


Lula mengangguk, membiarkan pria itu pergi. Lula sempat berpikir kenapa pria itu tidak masuk ke kamar yang sama dengannya, tapi setelah menyadari satu ruangan lain yang ada di lantai tiga, Lula mengerti pasti pria itu berkunjung ke sana.


Lula pikir waktu menunggunya akan cepat, rupanya sama saja. Pria itu kembali masuk setelah satu jam berlalu, membawa sebuah kotak di tangannya.


“Aku nyaris terlelap lagi, Dad!?” keluh Lula, saat pria itu melangkah mendekatinya.


“Bahkan aku sudah terlelap!” Frans tak ingin kalah, satu tangannya membuka kotak, menyodorkan ke hadapan Lula. “Aku lama karena menunggu ini datang. Ganti sepatumu! Masak atasannya sudah gaun mewah, bawahnya sepatu sekolah!”


“Aku terpaksa memenuhi permintaan suamiku,” katanya seraya meraih sepatu itu. “Begitu cantik, apa ini milik Tante Priscilla? Oh, maafkan aku Tante. Aku terpaksa meminjam sebentar.” Lula bergumam, diakhiri dengan tawa kecil.


Gadis itu tidak tahu seberapa kesalnya Frans saat dia menyebut nama wanita itu. Wanita yang sudah dianggap mengacaukan mimpi indahnya. "Jangan sebut dia lagi!" siapa juga yang tidak kecewa, setelah ditinggal nikah, menunggu menjanda dan berniat kembali memulai dari awal, menerima Priscilla apa adanya, wanita itu justru pergi meninggalkannya, dan membuat kekacauan yang menimpa mereka saat ini. "Mulai hari itu, tujuanku bukan lagi dia."


Merasa sudah siap, Frans menggenggam tangan Lula membawanya keluar dari gedung kantor menuju restoran yang sudah siap menyambutnya.


Tidak butuh waktu lama, mobil Maserati milik Frans sudah berhenti di depan restoran ternama. Frans meminta Lula berjalan di sampingnya, mengapit lengannya yang kokoh.


“Kita benar-benar seperti pasangan, Dad.” Kalimat pertama yang keluar dari bibir Lula, ketika Frans membawanya memasuki restoran mewah.


“Bukankah kita memang pasangan? Kita bahkan sudah punya buku nikah. Namamu juga sudah ada di bawah namaku dalam Kartu Keluarga.”


Lula tertawa anggun, tidak ingin menghilangkan momen elegan yang tersemat dalam dirinya malam ini. Frans sudah tampil mempesona, dasi kupu-kupu sudah melingkari lehernya, serasi dengan penampilan dirinya. Entah apa yang hendak dikatakan semua orang tentang hubungan ini. Mungkin mereka akan mengira jika Frans sudah selingkuh dari Priscilla.


“Hanya hitam di atas kertas putih, Dad!” bisik Lula. "Semua akan kembali saat aku berkata resign dari job ini! Aku jadi janda, dan Daddy resmi jadi duda."


Frans acuh, dia justru menarik satu kursi kosong, meminta Lula untuk duduk. Tidak perlu memanggil pelayan karena Frans sudah memesan menu kesukaan Lula sebelum mereka tiba.


Kali ini mereka duduk berhadapan selayaknya makan malam romantis yang disediakan untuk pasangan. Api lilin menyala terang, mengiringi obrolan basa-basi mereka yang mulai tak bertujuan.


“Lula!”


“Ya?” sahut Lula.


“Tidak jadi.”


Lula mencebikkan bibir, random banget suaminya. Rasanya aneh saja mendengar Frans berkata seperti itu. “Daddy!”


“Hm?” Frans berpikir Lula akan membalas sikapnya tadi.


“Apa Daddy masih berharap tante Priscilla kembali?” tanya Lula memulai untuk memasuki pembicaraan serius. Setelah mendapatkan jawaban dari suaminya mungkin ini akan menentukan hubungan mereka ke depannya.


“Pengen tahu jawabannya?” Frans balik bertanya, terlihat enggan membahas Priscilla.


“Jelas, karena itu menentukan jenjang karirku sebagai istrimu.”


Frans tersenyum masam. “Tidak. Daddy tidak berharap dia kembali.”


“Alasannya?”


“Tidak minat saja, kesempatan hanya ada satu kali. Dan Daddy udah memberinya dua kali. Jika dia tidak mengambil itu, apa akan ada kesempatan ke tiga?” Frans melirik ke arah Lula. “TIDAK akan ADA!” tegasnya.


“Bagaimana dengan perasaan Daddy?! Bukankah cinta bisa mengalahkan segalanya?” Lula bisa melihat perubahan wajah suaminya. "Jika dia kembali dalam waktu dekat, siapa yang akan Daddy pilih? aku atau dia?"