Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Ucapan Terima Kasih



Mobil yang dikendalikan Frans berhasil tiba di rumah Rainer. Melihat sang bunda tengah duduk santai di kursi taman, Lula bergegas keluar, berlari kecil menghampiri wanita itu.


"Assalamualaikum, Bunda ..." sapa Lula ketika langkahnya nyaris tiba di samping Zahira.


"Wa'alaikumsalam," balasnya lalu meminta Lula duduk di sampingnya.


Wanita itu tengah sibuk mengupas buah mangga. Jadi tidak bisa menerima dengan baik ketika Lula hendak mencium punggung tangannya.


Pandangan Lula tertuju ke arah Frans yang berjalan mendekati ayah Rainer. Dari posisinya Lula bisa menyaksikan jika sang ayah tengah bermain bola basket dengan Ben.


Rainer memang sengaja membuat lapangan basket dengan ukuran kecil. Dia ingin Ben menjadi atlet pemain basket saat besar nanti.


Tidak lama kemudian, terdengar suara teriakan dari Ben Sagara yang melambaikan tangan ke arah Lula. Bocah kecil itu seakan meminta perhatian dari Lula supaya melihat dirinya yang hendak memasukan bola ke ring.


Lula mengacungkan kedua jempolnya saat melihat Ben bisa memasukan bola orange itu melewati ring.


“Kebiasaan, udah dibilangin dari dulu! Ganti baju dulu kalau mau main! Masih saja nekat, emang Frans gak menegur?!” bunda Zahira mengoceh saat menyadari Lula masih mengenakan seragam sekolah.


“Orang dia yang ngajakin aku, kok!” sahut Lula, menerima potongan mangga yang disodorkan Zahira. “Harusnya bunda marahinya ke Daddy! bukan Lula.”


Zahira justru menahan tawa mendengar Lula masih mempertahankan sebutannya untuk sang suami. “Jadi udah baikan sama suamimu?” selidiknya, penasaran.


“Kita nggak pernah bertengkar Bunda.”


“Kemarin itu apa?” Zahira berusaha mengingatkan.


“Miss komunikasi, aja! Setelah mendengar penjelasan dari Daddy, ternyata hubungan kami memang tidak seterbuka itu.” pandangan Lula sudah beralih ke arah lapangan basket. Melihat Frans yang mulai mendribel bola. “Bunda nggak keberatan kan kalau punya mantu yang usianya sama dengan ayah?”


Zahira terdiam, menatap juga ke arah Frans. “Selama dia tidak menyakitimu, dan selama kamu bisa bahagia hidup dengannya, bunda akan merestui kalian. Pendapat bunda tidaklah penting, yang tahu nyaman atau tidaknya tetap kamu.”


Lula tersenyum cerah, merangkul pundak Zahira dengan manja. Lalu memberi kecupan di pipi kanan wanita itu. “Aku akan bahagia. Siapa pula yang nggak bahagia punya suami ganteng kaya dia!” ujarnya penuh rasa bangga.


“Dasar enggak bener nih pikirannya! Ketampanan itu tidak abadi! Kalau Frans sudah keriput dan tidak tampan lagi, apa kamu masih mau mencintainya?” tanya Zahira, dia khawatir apa yang dirasakan Lula hanyalah cinta sesaat saja.


Lula terdiam, melepas pelukannya dari tubuh Zahira, beralih mengamati wajah Frans dengan lekat, lalu membayangkan pria itu berubah jadi tua, rambut yang semula hitam berubah menjadi putih, serta keriput di mana-mana. Lula bergidik ngeri meski hanya membayangkannya saja.


“Masih dong, Bun! Seiiring berjalannya waktu, pasti akan ada hal baik yang bisa Lula temukan dari dirinya. Dan akan membuat Lula semakin berat untuk melepasnya.” Lula menyaksikan bagaimana Frans tertawa lebar bersama sang ayah dan adiknya.


Padahal di dalam mobil tadi, pria itu tidak bicara sepatah kata pun padanya. Lula yang paham jika Frans sedang bersedih memilih fokus menatap jalan hingga mobil yang mereka tumpangi berhasil tiba di rumahnya.


“Lula suka daddy yang seperti ini,” Lula bergumam lirih, melihat Frans yang tertawa lepas. Zahira yang mendengarnya hanya tersenyum simpul.


“Mandi sana! kakek sama opa bentar lagi datang!”


“Kok tumben mereka barengan. Kakek Ken sama Kakek Ipam nggak lagi berantem, kan?”


“Enggak!” Zahira menjawab tegas. “Emang suamimu nggak bilang?”


“Bilang apa?” Lula justru balik bertanya.


“Ya bilang sesuatu ke kamu gitu?”


“Engga bilang apa-apa kok!”


“Baiklah.” Lula beranjak dari kursi, tubuhnya terasa lengket dan dia harus segera membersihkan diri, sebelum ayah Rainer datang dan menegurnya.


Sementara di lapangan basket mini itu, para pria semakin seru bermain bola Basket. Frans benar-benar lupa dengan ucapan papa Ferdinan yang membahas perkara warisan darinya.


“Om. Kalah! Jadi harus gendong aku keliling lapangan lima kali!” kata Ben, menuntut.


“Om am om, aku bukan om mu lagi!” kesal Frans. “Aku kakakmu Ben. Aku kan sudah nikah sama kakakmu. Jadi panggil Kakak!”


“Nikah pura-pura aja, kok! minta dipanggil kakak! Mana bisa kak Lula yang idolanya cowok tampan pindah haluan ke Om!”


“Eh, anaknya siapa sih ini! ceriwisnya minta ampun!”


“Biarin wlex!” Ben menjulurkan lidahnya, menggoda Frans, dia berlari ke arah Zahira, menghindari serbuan dari Frans.


"Ini Bun, om Frans nakal!" teriak Ben, sengaja mengadu supaya mendapat pembelaan.


"Panggil kakak jangan Om!" Frans tak ingin kalah dia terus mengejar Ben, hingga tubuh gembul itu berhasil ditangkap.


Ben tertawa renyah, ketika Frans menggelitik pinggangnya. "Panggil kakak dulu!" paksa Frans.


"Udah om Frans, udah geli!" cegah Ben tak tahan dengan rasa geli.


"Frans, udah lepas!" Zahira memperingati, tidak tega melihat putranya kegelian. Kali ini Frans melepas tubuh Ben. tak peduli jika anak itu nekad memanggilnya om.


"Awas ya, lebaran enggak Kakak kasih ampau!" ancam Frans ketika bocah kita berlari memasuki rumah.


Dengan napas memburu, Frans berjalan kembali mendekati Rainer, dia mengambil duduk tepat di samping sahabatnya itu. Mereka berdua duduk di tepi lapangan sembari menikmati udara sore.


“Lo yakin mau minta Lula?!” tanya Rainer tanpa menoleh ke arah Frans.


“Menurutmu? Apa masih kurang bukti?”


“Gue cuma khawatir ini hanya akal bulusmu saja, untuk memanfaatkan Lula mengandung bayimu! Kemarin aja kalian bisa pura-pura. Aku takut ini juga pura-pura!”


“Aku serius, Rain! Tapi—aku tidak bisa menjanjikan kebahagiaan untuk Lula. Aku sendiri saja, belum tahu gimana rasanya hidup bahagia yang sebenarnya. Atau aku yang belum paham, gimana caranya membahagiakan diri sendiri. Yang jelas, aku akan membuat Lula nyaman saat berada di sampingku. Sama seperti janjiku padamu, dulu mungkin aku berjanji akan membantumu menjaga Lula, tapi sekarang aku yang akan mengambil alih semua tanggung jawabmu padanya.”


Rainer menarik napas dalam-dalam, antara ikhlas dan tidak sebenarnya melepas Lula untuk Frans. “Apa yang akan kamu lakukan terhadap Priscilla, jika suatu hari nanti dia kembali mengusik rumah tangga kalian?! Aku bukan satu dua hari mengenalmu, Frans. aku tahu gimana rasamu untuknya. Bahkan rela menunggunya menjadi janda.”


“Begitu?” Frans tertawa remeh. “Tapi aku salah. Ternyata yang kemarin bukan cinta. Aku hanya merasa perlu bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan di masa lalu. Setelah aku mengenal pribadi Lula. Aku menemukan hal baru, sekaligus menyenangkan dan tidak bisa digantikan dengan apapun.” Frans berkata jujur. “Lo pernah nggak ngerasa di otak lo itu isinya Zahira terus, kangen, pengen cepet-cepet ketemu. Senang kalau lihat dia tertawa. Dan perasaan itu cuma bisa aku rasain saat dekat dengan putrimu.” Frans menarik napas dalam-dalam. “Aku semakin terkagum, ternyata Lula bukan gadis egois loh, dia suka menolong, kamu bisa menyelidiki apa saja yang dilakukan Lula saat berada di rumah sakit.”


Rainer merasa iri, karena Frans jadi tahu banyak tentang Lula. “Aku berharap kamu mau menerima semuanya tentang Lula. Bukan hanya kelebihannya tapi juga keku—


“Bagiku Lula tidak memiliki kekurangan. Semua yang aku butuhkan ada padanya. Aku justru mengucapkan terima kasih, karena dua puluh tahun ini, kamu sudah menjaga Lula dengan baik.”


“Bukankah kamu juga yang menjaganya?” Rainer tertawa masam, seringkali dia mengeluh kepada Frans gimana lelahnya mengurus putrinya, dan Frans selalu ada untuk sekedar menggantikannya. Berbeda dengan Aldo yang sulit karena sudah memiliki kesibukan sendiri.


“Ya, berarti aku seperti memanen apa yang aku tanam.” Kekehan kecil meluncur dari bibir Frans. "Percaya padaku, aku akan sekuat tenaga membuat Lula bahagia."


Setelah itu mereka bungkam, semakin menikmati perubahan suasana dari terang menjadi gelap.