Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Lima Minggu



Setelah melakukan USG, Rainer menyatakan tidak perlu melakukan tindak kuretase. Rahim Lula sudah bersih. Tidak ada jaringan yang ditinggalkan oleh bakal calon anak Lula dan Frans.


Pantas saja Lula tidak menyadari, sebab kehamilannya baru memasuki usia 5 Minggu. Rainer terus menghibur Lula. Meski Lula putrinya, tapi sebisa mungkin bersikap profesional, selayaknya dokter dengan pasien.


Akibat dari tindak pemeriksaan itu, kini Lula menyadari jika Frans sudah tahu—jika dirinya mengalami keguguran. Saat mencoba mencuri pandang ke arah Frans, terpancar jelas rona kesedihan di wajahnya.


Malam ini mereka terpaksa bermalam di rumah sakit. Rainer baru mengizinkan Lula pulang setelah tekanan darahnya kembali normal.


Pukul sebelas malam, Lula sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Tak lama Rainer izin untuk pulang, lantaran Zahira sejak tadi sudah menelponnya.


Kini sisa mereka berdua. Baik Lula maupun Frans, belum menjalin obrolan dengan baik. Frans masih disibukan dengan layar ponselnya. Memberi kabar Ibnu mengenai kondisi Lula. Memberi tugas supaya pria itu lekas membelikan kursi roda.


Sedangkan Lula, masih terjaga. Matanya menerawang ke arah langit-langit kamar. Apes banget hari ini—udah kaki retak, ditambah lagi kehilangan calon anak gue! Retak bisa diobati, kalau bayi? tidak bisa dibalikin. Diam-diam Lula meneteskan air matanya. Tubuhnya langsung membelakangi Frans yang kini masih sibuk dengan benda pipih di tangannya.


Hampir lima menit Lula masih pada posisi yang sama. Bantalnya sudah basah, air mata belum juga berhenti mengalir.


"Tidurlah kamu pasti lelah!" Frans mengayunkan langkahnya mendekati Lula. "Masih sakit perutnya, Sayang?"


Lula menjawab dengan gelengan kepala lemah, tanpa sedikit pun mengubah posisinya. Detik itu juga dia merasakan ranjangnya terguncang. Tak lama tubuhnya merasakan kehangatan dari tangan Frans. Pria itu memeluknya, tidak begitu erat tapi cukup membuat hatinya sedikit tenang. Perlahan rasa nyeri di dadanya tidak seheboh tadi.


Sejenak Frans membiarkan suasana seperti ini. Hening, dan semakin lama dia bisa merasakan debaran jantungnya semakin tenang, rasa takutnya seakan melebur, hanya dengan menyentuh dan membaui aroma tubuh Lula.


"Maafin aku ya ..." lirih Frans. "Aku yang enggak perhatian sama kamu. Istri hamil saja aku tidak tahu! Aku yang beberapa Minggu ini sibuk dengan pekerjaan." pelukan Frans semakin erat saat tahu Lula menangis, jemarinya bergerak membereskan rambut Lula yang menutupi wajah. "Jangan bersedih! Kita bisa bikin lagi. Yang banyak, yang lucunya sama kaya kamu."


"Emang ciri-ciri hamil itu seperti apa? Lula nggak paham, Dad? kalau paham pasti Lula akan berhati-hati!" napas Lula terdengar pendek -pendek sangking lamanya menangis. Dan itu membuat Frans setengah gila.


"Shuttt iya, udah udah! aku paham dan aku tu sangat ngerti kamu kan emang rada ceroboh jadi nggak heran kalau kurang perhatian pada dirimu sendiri."


Tangis Lula semakin menjadi. Meski ucapan Frans terdengar seperti candaan. Tapi rasanya begitu jleebb mengenai dadanya. Sejujurnya, Lula memikirkan usia pria itu yang hampir disebut lansia. Gimana kalau sudah 40 tahun tapi dirinya belum bisa berkembang biak. Pasti Lula yang akan merasa bersalah.


"Udah, nah Lula ... jangan menangis lagi! suaramu itu jelek banget!" Berusaha membalikan tubuh Lula. Tapi rasanya sungguh berat, tubuh Lula begitu kaku. "Aku bawa ke psikiater nanti kamu loh!" ancamnya.


"Emangnya aku gila!" kata Lula diiringi tangisnya.


"Bukan, kamu yang gila. Tapi aku! Aku bisa gila kalau lihat kamu begini!"


Lula berbalik, memukuli dada Frans sepuasnya. Pria itu pun seakan bersedia menjadi tempat luapan emosi Lula. Cukup lama, bahkan Frans merasakan dadanya semakin sesak sangking Lula enggan berhenti melayangkan pukulan.


"Cup, Cup! udah! Nanti cantiknya hilang."


"Emang Lula cantik?"


"Cantik lah Nyonya Frans Agung Pagara harus cantik. Seperti kamu!" rayunya sambil mengeratkan pelukannya di pinggang Lula. Kini mereka sudah berhadapan, berbagi napas dan beradu pandang. "Udah ya ... jangan sedih lagi! Malu sama perawat!" Frans membantu mengeringkan pipi Lula dengan jarinya. "Mau liburan?" tawarnya setelah merasakan Lula jauh lebih baik dari semula.


"Kakiku masih sakit."


Frans baru menyadari jika Lula belum mampu berjalan, akibat retak kakinya. "Tunggu kakimu sembuh dulu. Kamu pengen ke mana, Luar Negeri atau Dalam Negeri?"


"Pengen ke planet Mars!"


"Serius aku mau ke Mars!" ulang Lula.


"Kamu ngidam ya? eh salah—ngidam kan khusus untuk orang hamil. Kamu kan udah enggak hamil."


Lula membenci kalimat yang baru saja keluar dari bibir Frans. Dia enggan menjawab, memilih semakin dalam menyusupkan wajahnya ke dada Frans. Hingga sesaat berlalu ruangan VIP Ramones Hospital hanya terisi oleh isak tangis Lula.


Frans yang merasa bersalah memilih memejamkan mata, dia takut salah bicara lagi.


Lula terlelap karena lelah menangis. Frans yang masih terjaga semakin men cium dalam rambut Lula. Tak lama dia pun ikut terlelap menyusul Lula yang sudah lebih dulu masuk ke dunia mimpi.


--


Tepat pukul sepuluh pagi, Rainer kembali memasuki ruangan yang ditempati Lula. Dia melakukan kunjungan rutin pada seluruh pasien rawat inap. Dan kali ini, giliran kamar putrinya.


Setelah melakukan pemeriksaan. Rainer menghebuskan napas lega.


"Lula boleh pulang, kan ayah?" tanya Lula, tak mengerti dengan reaksi yang Rainer berikan.


"Boleh. Tapi tetap jaga kondisi. Jangan aktivitas berat dulu," pesannya seraya melirik ke arah Frans. Seakan memberi peringatan supaya sahabatnya itu tahu diri; jangan menyuruh Lula melayaninya.


"Apa bunda tahu kalau Lula hamil dan keguguran, Yah?"


Rainer menggeleng. "Ayah nggak ingin bunda mu stress memikirkan kondisimu."


"Syukurlah, lebih baik jangan diberitahu."


Rainer menganggukan kepala menyetujui permintaan putrinya. "Lula, tapi kamu nanti sore bisa datang ke rumah, kan? atau kamu langsung bawa Lula ke rumah aja Frans!" pinta Rainer, beralih menatap Frans yang setia duduk di sofa.


Frans menarik pandangannya ke arah Rainer. "Kenapa? Ada acara?"


"Hum, itu—mama Oca, bikin acara pengajian di rumah." Jawab Rainer, dari nada suaranya terdengar jelas pria itu ragu hendak menyampaikannya kepada Lula.


Lula menunduk dalam. Dia paham Bunda Zahira sedang hamil pasti ini acara pengajian empat bulanan.


"Tapi—tapi, kalau memang Lula masih lemas, Jangan dipaksakan."


"Lula bakalan datang kok, Yah. Tapi, Lula pulang dulu ya!" sela Lula ketika Frans hendak menjawab undangan Rainer.


"Okay. Kita bakalan datang!" Frans memperjelas lagi.


Setelah Rainer pergi, Frans memindahkan tubuh Lula ke kursi roda, berniat mengajaknya pulang ke rumah, sebelum nanti sore mengikuti acara pengajian di rumah mertuanya.


Di dalam mobil Frans merasa sudah berusaha keras menghibur Lula. Tapi istrinya, tetap saja setia dengan kebisuan. Bahkan, saat dia memutar lagu yang biasa dinyanyikan Lula. Wanita itu masih saja mengunci mulutnya rapat. Dengan pandangan tertuju ke arah luar jendela.


"Dad, kalau aku kemarin tidak lari-lari. Mungkin aku enggak bakal keguguran ya?"


Sekarang Frans tahu, jika istrinya masih dalam fase pengelasan. "Menyesal tidak ada gunanya, Lula. Karena semua sudah terjadi, yang perlu kamu lakukan adalah—gimana merubah sikap supaya hal seperti itu tidak akan pernah terjadi lagi."