Pura-Pura Jodoh

Pura-Pura Jodoh
Toilet



Baju warna hijau yang biasa diperuntukan pengunjung sudah berhasil membalut tubuh Lula. Gadis itu membuka pintu kaca di depannya, berniat bertemu dengan sang Kakek.


Dari posisinya saat ini, Lula bisa melihat tubuh kakek Ken terbaring lemah di atas brankar. Dada pria itu masih terbuka lebar, banyak kabel dan selang menempel di bagian tubuhnya, alat bantu pernapasan, semuanya lengkap, menganggu pergerakan tubuh pria itu.


Lula tidak tega melihat tubuh Kakek Ken saat ini. Suara-suara yang berdengung memang tidak begitu asing baginya. Tapi dia tidak pernah membayangkan jika ini terjadi pada kakek Ken.


Lula semakin mendekat, saat pria itu menoleh ke arahnya. “Kakek …” panggil Lula membuat pria itu tampak memaksakan senyum.


Ken mengangguk, mengisyaratkan Lula untuk semakin mendekat ke arahnya. "Sini!" ucapnya dengan suara tak jelas karena tertutup oleh ventilator. Lula tidak paham kenapa dokter memasang alat itu, hingga membuat sang kakek sulit untuk komunikasi dengannya.


“Jangan banyak bicara dulu, Kek! Dokter bilang kakek harus banyak beristirahat. Supaya kondisi kakek juga segera pulih!” Lula menarik kursi di samping brankar. Tangannya dengan sigap mencegah Ken yang hendak membuka menutup mulutnya.


“Lula akan selalu di sini, Kek! Jangan khawatir, pokoknya kakek harus sembuh! Kakek nggak boleh pergi, ninggalin Lula!” rancau Lula sambil menggenggam tangan Ken. Dia berusaha memberi semangat, seperti saat ia memberikan semangat untuk orang sakit di luar sana.


“Nanti kalau kakek sembuh, Lula mau tidur di rumah kakek satu minggu. Lula bakal masakin kakek menu kesukaan kakek! Tapi kakek harus sembuh dulu. Okay, Kek?” Lula tak kuasa menahan air matanya.


“Lula ….”


“Udah, udah! Kakek jangan banyak bicara! Kakek diam saja ya, biar Lula yang ngomong , Kakek pengen dengar cerita apa?” Lula menarik napas panjang, seraya memutar kembali ingatannya hari ini. “Lula … Lula minta maaf Kek, hari ini Lula bolos lagi. Lula mengantuk, jadi Lula pergi ke UKS buat tidur.”


Pria itu tersenyum tipis yang justru membuat Lula merasa gagal sudah menjadi cucu terbaiknya. “Maafin Lula, Kek! Maaf,” ucapnya penuh penyesalan.


“Buat apa? Lula tidak salah!” Ken membantah, suaranya lemah, tidak begitu jelas. “Kita tidak bisa menentukan kepada siapa kita akan jatuh cinta.” Tangan pria itu berusaha menyentuh pipi Lula.


Lula yang paham lekas meraih tangan pria itu, menempelkan tangan keriput milik sang kakek di samping pipinya. “Anakku bilang padaku, kalau kamu mencintainya. Jangan takut, Sayang ... Kakek janji, tidak akan menghalangi hubungan kalian! Kakek justru senang ada pria yang bersedia menjagamu." Ken berbicara dengan suara bergetar. "Kakek hanya terkejut! Kesal karena kamu tidak melibatkan kakek dalam pesta pernikahan itu. Kalau kakek tahu, kakek akan menggelar pesta 7 hari 8 malam.”


“Kakek ....”


“Sepertinya, kakek harus bicara dengan suamimu, untuk membuat pesta pernikahan! Selain itu, dia juga harus berjanji pada kakek supaya tidak menyakitimu!”


Lula tidak menyahut, dia hanya duduk menunduk tidak berani menatap Ken.


“Kakek sudah berulangkali bertemu dengannya. Dia begitu dingin, em … tampan sih tapi sedikit tua! Sebenarnya dia tidak cocok untukmu. Tapi kakek paham yang namanya cinta tak bisa berhenti dalam sekejap. Kalian disatukan oleh Allah, biarkan Allah saja yang memisahkan kalian berdua! Kakek pikir Lula masih kecil, ternyata sudah besar, tidak butuh kakek lagi!”


Bibir Lula bergetar, dia menangis lagi mendengar kalimat yang diucapkan sang kakek. Padahal dia sudah merencanakan perceraian tapi kenapa justru ditahan oleh Kakek Ken?


“Lula ... kamu harus berjanji sama Kakek. Kamu harus bahagia bersamanya. Jangan seperti kakek, yang tidak pernah merasa puas. Tirulah ayah dan bundamu! Meski mereka menikah diusia muda, tapi mereka berprinsip menikah sekali untuk selamanya.”


Tanpa disadari Lula mengangguk, saat ini dia hanya ingin kakeknya sembuh dan keluar dari ruang ICU.


“Iya, Kek, Lula akan bahagia dengan pilihan Lula.”


“Kakek sudah sembuh!” ucap Ken. “Minta mereka untuk melepas alat-alat ini, risih! Kakek ingin pulang saja!”


“Nggak boleh, kakek harus dirawat dulu!” tolak Lula. “Lula akan di sini menemani kakek.”


“Apa cucu mantuku juga ikut datang ke rumah sakit?” tanya Ken penasaran.


“Yah, dia berada di luar, duduk bersama ayah dan bunda.”


“Tampaknya dia juga mencintaimu.”


“Ya. Dia mencintaiku, Kek.” Lula berbohong lagi.


“Lula, sebenarnya kakek tidak ingin cepat-cepat dipanggil buyut. Tapi kalau takdir Tuhan berkehendak lain, sepertinya tidak masalah. Kakek akan bahagia jika kamu hidup dengan pria yang kamu cintai, memiliki banyak anak.”


“Panggilkan suamimu! Kakek ingin bicara empat mata padanya.”


Lula merasa, harus memberi wejangan dulu pada daddy Frans. Jadi, dia berusaha memberi alasan yang tepat. “Kek, dari tadi Bunda menangis, bagaimana jika bunda masuk terlebih dahulu? bunda mengkhawatirkan kondisi kakek, aku tidak melihatnya.”


“Ya, boleh. Dia begitu cengeng! Jadi nurun ke kamu!” cibir pria itu.


Setelah mendapatkan persetujuan dari sang kakek, Lula lekas mengecup kening pria itu. “Lula panggilin bunda ya!”


“Hm ….”


Lula segera keluar ruangan, memanggil sang bunda yang masih setia duduk dalam dekapan sang ayah.


“Bunda, kakek ingin bicara!” ucap Lula memerintahkan sang bunda untuk lekas masuk ke ruang ICU.


Zahira langsung bangkit, dia mendekat ke arah pintu masuk. Sedangkan Lula, langsung menarik pergelangan tangan Frans, membawanya masuk  ke toilet wanita. Dia ingin memberitahu pria itu jika dia masih akan tetap melanjutkan pernikahan konyol ini.


“Ini toilet wanita Lula, Daddy bisa diseret ke pos satpam!” protes Frans yang diabaikan oleh Lula.


Lula menatap pantulan wajah Frans dari layar kaca di depannya. Dia lalu berbalik memandangi pria yang masih berstatus suaminya itu.


“Ada apa?” tanya Frans, merasa aneh ditatap Lula seperti itu.


“Lula masih ingin bekerja seperti ini. Kita tidak bisa bercerai sekarang!”


“Kenapa?”


“Kakek sudah berharap aku akan bahagia bersama Daddy. Bunda menjelaskan padanya, jika aku mencintai daddy, jadi kakek tahunya aku yang menginginkan suami seperti Daddy.”


“Emang kamu mencintai Daddy?” selidik Frans penasaran.


“Enggak. Itu kemarin, kan cuma alasan supaya ayah dan bunda mengizinkan kita menikah. Tak taunya itu jadi boomerang buatku sendiri.”


“Terus?”


“Setelah ini, kakek ingin bicara dengan Daddy. Satu pesan Lula, dan Lula mohon sama Daddy, jangan menyinggung masalah perceraian. Setidaknya sampai perjanjian awal kita terlewati, aku berharap kondisi kakek di hari itu, sudah benar-benar stabil.”


“Kalau seperti ini, berarti kita sama-sama butuh dong?!”


Lula mengangguk ragu, ya dia memang membutuhkan bantuan pria itu karena sudah terlanjur jatuh pada lubang pernikahan bersamanya.


“Gimana kalau Daddy ingin tetap melanjutkan perceraian.”


“Mungkin Lula tidak akan pernah bertemu lagi dengan kakek Ken, dan seumur hidup Lula akan terus terbayang dengan kesalahan terbesar yang pernah Lula lakuin.”


“Kamu tahu salah? kenapa masih diterusin?”


“Aku masih berharap bisa mengubah kesalahan itu menjadi sesuatu yang bisa mengubah hidupku.”


“Maksudmu?”


Lula tersenyum tipis. “Terserah daddy mau pilih yang mana. Hanya saja Daddy harus selalu ingat dengan ucapanku. Aku sudah menjelaskan semuanya pada Daddy.” Setelah itu, Lula tak berbicara lagi. Dia berjalan keluar toilet meninggalkan suaminya yang masih berdiam diri.